
"Disha..!!"pekik Alva dan Riky, begitu pula dengan Icha dan Yessie yang berada di dalam taksi.
Alva dan Riky bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah mobil Disha yang bergeser ke arah samping beberapa meter karena tabrakan dari samping sangat kencang hingga mobil Disha menghantam beberapa kendaraan lain yang sedang melaju.
Icha dan Yessie pun bergegas keluar dari taksi yang mereka tumpangi ingin melihat keadaan Disha.
"Eh..neng tunggu dulu! Mau kemana? Ongkos taksinya belum dibayar!!"ujar sang supir taksi.
"Ini, kembaliannya ambil saja!"ucap Icha sambil mengulurkan uang seratus ribuan kemudian bergegas menyusul Yessie yang sudah lari terlebih dahulu.
"Disha?? Apa yang mengalami kecelakaan di depan itu mobil yang ditumpangi oleh Disha, sekretaris Alva, pa?"tanya Ratih yang nampak terkejut dengan kecelakaan yang terjadi dan juga terkejut dengan reaksi Alva dan Riky yang secara bersamaan keluar dari dalam mobil dan berlari kearah terjadinya kecelakaan.
"Nggak tahu, ma,"sahut Bramantyo kemudian keluar dari dalam mobil. Ratih dan Anjani pun ikut keluar dari mobil menyusul Alva dan Riky.
"Disha.!! Disha..!!"pekik Alva berusaha membuka pintu mobil dengan wajah yang sangat panik.Dengan bantuan Riky menarik pintu mobil Disha berkali-kali akhirnya Alva bisa membuka pintu mobil itu dan langsung meraih tubuh Disha, membawanya keluar dari dalam mobil.
Disha nampak masih membuka matanya walaupun nampak dipaksakan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, matanya menatap wajah Alva yang bercucuran air mata, nampak sangat panik, khawatir dan entah apalagi yang dirasakan pria itu.
Sedangkan Riky dibantu beberapa orang yang datang berusaha mengeluarkan Ferdi dan supir yang masih sadar tapi tidak bisa keluar dari dalam mobil.
"Disha..!! Sayang.. bertahanlah sayang..!! Kamu dan anak kita harus bertahan, sayang!! Aku mohon, bertahanlah sayang!! Aku tidak mau kehilangan kalian,"ucap Alva yang sudah berurai air mata memeluk tubuh Disha dalam pangkuannya.
Bramantyo, Ratih dan Anjani hanya bisa melihat Alva dari jauh karena banyaknya orang yang berkerumun. Hingga ambulans datang dan mereka melihat Alva yang ikut masuk kedalam ambulans yang membawa Disha. Sedangkan Yessie dan Icha pun ikut menyusul ke rumah sakit.
"Pa, Alva ikut ke mobil ambulans itu. Mama ingin tahu apa benar yang mengalami kecelakaan itu Disha. Mama ingin menyusul Alva, pa,"ucap Ratih yang terlihat gusar.
"Baiklah kita ikuti mobil ambulans itu,"ucap Bramantyo.
"Aku ikut,"ucap Anjani mengikuti langkah kaki kedua mertuanya itu.
"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐧𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐚𝐰𝐚𝐭𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚?"batin Bramantyo.
"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐤𝐞𝐤𝐡𝐚𝐰𝐚𝐭𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧? 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐠𝐞𝐬𝐭𝐮𝐫𝐞 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐧𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐩𝐚𝐧𝐢𝐤, 𝐤𝐡𝐚𝐰𝐚𝐭𝐢𝐫, 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐡𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐟𝐫𝐮𝐬𝐭𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥,"batin Ratih.
"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐫𝐝𝐮𝐥𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚, 𝐲𝐚? 𝐀𝐤𝐮 𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐞𝐫𝐝𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐭𝐚𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐰𝐚𝐡𝐚𝐧,"batin Anjani.
__ADS_1
Akhirnya Bramantyo, Ratih, dan Anjani mengikuti ambulans yang membawa Disha dan Alva dalam diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Sementara di dalam ambulans, Alva tidak bisa membendung air matanya, hanya bisa melihat istrinya sedang ditangani oleh tenaga medis.
"𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠, 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐨𝐡𝐨𝐧!! 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐚𝐟𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐝𝐮𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐩 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐝𝐮𝐚,"
"𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐨𝐝𝐨𝐡, 𝐚𝐤𝐮 𝐞𝐠𝐨𝐢𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐫𝐞𝐧𝐠𝐬𝐞𝐞𝐤, 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐳𝐢𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢. 𝐒𝐞𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬 𝐤𝐮 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐳𝐢𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢,"
"𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚𝐦𝐮, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚,"
gumam Alva dalam hati dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Sesampainya di rumah sakit, Disha langsung dibawa ke IGD diikuti oleh Alva. Sedangkan Riky langsung mengurus administrasi untuk Disha, Ferdi dan supir Disha. Setelah itu Riky menyusul Alva.
Riky merasa sangat prihatin melihat Alva yang nampak sangat khawatir dengan penampilan yang terlihat sangat kacau, bahkan Alva tidak bisa duduk dengan tenang.
Beberapa menit kemudian dari kejauhan nampak Bramantyo, Ratih dan Anjani yang berjalan menuju ke arah Alva. Tak lama kemudian Yessie dan Icha pun berada di tempat itu tapi tidak berani terlalu dekat dengan keluarga itu.
Alva duduk dengan kedua siku yang bertumpu pada kedua pahanya, tangan yang memegang kepala, kemudian berdiri dan berjalan mondar mandir di depan IGD. Sesaat kemudian Alva kembali duduk dengan kaki yang terus bergerak-gerak, tidak bisa diam membuat Riky jadi pusing dan ikut frustasi melihat Tuan nya itu.
"Keluarga Nyonya Ayudisha?"tanya dokter itu pada kelima orang yang berjalan mendekatinya.
"Saya dokter,"ucap Alva.
"Saya ingin bicara dengan suaminya,"ucap dokter lagi.
"Saya suaminya, dok,"ucap Alva yang spontan membuat mata Bramantyo, Ratih dan Anjani terbelalak begitu pula dengan Yessie dan Icha yang tidak jauh dari tempat mereka.
"Benturan yang terjadi pada tubuh istri anda sangat keras hingga membuat istri Anda mengalami pendarahan dan kami harus segera mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungannya,"jelas dokter.
"Lakukan apa saja yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa anak dan istri saya, dok,"ucap Alva cepat dan tegas.
"Baiklah, kamu akan langsung memindahkan Nyonya Ayudisha ke ruang bersalin,"ucap Dokter itu kemudian kembali masuk kedalam ruangan IGD.
"Al, kenapa kamu mengaku menjadi suami Disha?"protes Anjani tidak terima.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menghubungi suaminya?"tanya Ratih.
"Al, jangan sembarangan memberikan keputusan untuk Disha! Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Disha dan suaminya tidak terima?"ujar Bramantyo.
"Kenapa papa berkata seperti itu? Tidak akan terjadi apapun pada Disha, karena aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Disha!!"pekik Alva membuat Bramantyo, Ratih dan Anjani sangat terkejut dengan reaksi Alva itu hingga semua mata tertuju pada Alva karena suara Alva yang cukup keras, termasuk Yessie dan Icha.
"Tuan, tolong jangan membuat keributan di sini, atau kami akan mengusir anda dari sini,"tegur seorang tenaga medis pada Alva.
"Tuan, tenangkan diri anda Tuan. Sebaiknya Tuan membersihkan diri terlebih dahulu,"ucap Riky berusaha menenangkan.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku tahu keadaan Disha,"tolak Alva
"Tuan, anda tidak akan bisa menemui Nyonya jika keadaan Tuan seperti ini. Lihatlah!! Pakaian anda penuh dengan darah,"ucap Riky berusaha membujuk Alva.
Bramantyo, Ratih, Anjani, Yessie dan Icha kembali terkejut saat Riky mengatakan kata 'Nyonya'. Semakin banyak tanda tanya yang ada di kepala mereka.
Alva yang melihat penampilannya begitu menakutkan dengan noda merah yang melekat dipakainya pun akhirnya menuruti saran Riky. Dengan terburu-buru Alva membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Riky.
Tak lama kemudian Alva dan Riky sudah berada di ruang bersalin, tempat Disha ditangani. Mereka menunggu lumayan lama di depan ruang bersalin itu dengan keheningan yang melanda ditempat itu dan Alva yang nampak sangat gelisah, sebentar duduk kemudian berjalan mondar mandir tidak tentu arah kemudian duduk lagi membuat Riky, Bramantyo, Ratih dan Anjani pusing dibuatnya.
Bramantyo, Ratih dan Anjani nampak merasa heran dengan tingkah Alva, namun tak berani lagi bertanya karena Alva nampak sulit untuk diajak berkomunikasi. Walaupun sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan pada Alva.
Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan bersalin itu yang membuat Alva semakin gusar dan beberapa menit kemudian pintu ruangan bersalin terbuka dan Alva langsung menghampirinya dokter yang baru saja keluar itu.
"Dokter, bagaimana keadaan anak dan istri saya?"tanya Alva tidak sabar.
"Selamat, putra anda lahir dengan selamat dan sehat. Tapi...."ucap dokter itu menggantung kata-katanya.
"Tapi apa dok?!"tanya Alva sambil mengguncang kedua pundak Dokter itu.
...🌟"Masalah dan musibah adalah tamu yang tak diundang dalam kehidupan yang akan menguji iman serta kesabaran ."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1