Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
218. Gagal


__ADS_3

Di sebuah toko kue.


Icha sedang memilih beberapa macam kue untuk arisan yang diadakan setiap minggu di rumahnya. Setiap kali membeli kue, mama Icha selalu menyuruh Icha. Menurut mama Icha, kue-kue pilihan Icha selalu cocok dengan lidah para ibu-ibu yang arisan bersamanya. Icha nampak masih fokus memilih kue hingga tidak menyadari jika ada seseorang yang sekarang berdiri di sebelahnya.


"Mbak, lima varian cake dan delapan macam kue kering tadi, ya? Kue keringnya dua kilo per kuenya. Untuk cake nya, masing-masing dua loyang. Dan yang ini saya pesan untuk dimakan disini, ya! Untuk minuman nya, jus jeruk," ucap Icha pada pelayan toko kemudian menunjuk kue yang ditaburi keju.


"Saya juga mau yang ini, mbak. Saya juga mau dimakan di sini, minuman nya juga sama,"ucap seorang pria yang berdiri di sebelah Icha. Spontan Icha menoleh kemudian mendongak menatap pria yang lebih tinggi dari nya itu.


"Hai, tidak ku sangka kita bertemu di sini,"ucap pria yang tidak lain adalah Niko, tersenyum mempesona dengan wajah tampannya, membuat para gadis yang berada di toko kue itu menatapnya kagum. Icha hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan pria itu kemudian melangkah menuju salah satu meja yang kosong.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙧𝙚𝙨𝙥𝙤𝙣 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙞𝙣𝙞 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪? 𝘽𝙞𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙥𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙖....𝙙𝙞𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢 𝙩𝙞𝙥𝙞𝙨. 𝙈𝙚𝙣𝙖𝙧𝙞𝙠,"batin Niko. Niko pun segera menyusul Icha yang sudah lebih dulu duduk di salah satu kursi.


"Boleh aku duduk di sini?"tanya Niko seraya berdiri di hadapan Icha.


"Silahkan!"ucap Icha kembali tersenyum tipis untuk menghargai orang lain.


Niko menarik kursi, kemudian duduk di depan Icha,"Ngomong -ngomong, berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Radeva hingga kalian sampai di titik ini?"tanya Niko menyelidik.


"Memangnya kenapa?"tanya Icha tanpa menjawab pertanyaan Niko.


"Ah itu, hanya ingin tahu saja,"ucap Niko menatap lekat wajah Icha.


"𝙂𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙘𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠 𝙎𝙝𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙣𝙞𝙨. 𝙋𝙖𝙣𝙩𝙖𝙨 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙠𝙖𝙞𝙣𝙮𝙖,"gumam Niko dalam hati.


"Jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"tanya Niko masih gigih untuk mencari tau.


"Kenapa anda begitu penasaran?"tanya Icha tanpa menatap Niko, malah sibuk dengan gadget nya.


"𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝘿𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧? 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣-𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝘿𝙞𝙨𝙝𝙖, 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝙆𝙖𝙠 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖, 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙠 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖-𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪, 𝙩𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙪? 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙞𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣!"batin Icha tiba-tiba merasa geram dengan pria yang ada di depannya itu.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙚𝙣𝙜𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙪? 𝘼𝙥𝙖 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪?"batin Niko menatap Icha yang nampak tidak begitu memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Jangan terlalu formal seperti itu, tidak enak di dengarnya. Panggil saja kakak seperti kamu memanggil Radeva,"ucap Niko.


"Permisi, ini pesanan anda berdua,"ucap pelayan toko seraya meletakkan pesanan Icha dan Niko.


"Terimakasih,"ucap Icha tersenyum ramah pada pelayan itu dan pelayan itu pun mengangguk kemudian mencuri pandang menatap Niko yang memang tampan.


"Silahkan dinikmati,"ucap pelayan toko itu kemudian meninggalkan meja kedua orang itu.


Icha segera menyantap kue yang sudah dipesannya, sambil menatap jalanan dari kaca toko kue itu, kebetulan mereka duduk di dekat kaca yang menjadi dinding toko itu, sehingga bisa melihat suasana di luar toko kue.


"Apa pandangan di luar sana lebih menarik dari pada pria tampan di depan mu ini?"tanya Niko yang dari tadi merasa tidak diperhatikan sama sekali oleh Icha.


"Iya. Hulu hilir kendaraan di jalan sana lebih menarik dari pada melihat anda. Ada banyak macam kendaraan dan ada banyak orang dengan penampilan yang berbeda-beda di jalan itu. Tidak membosankan, bahkan bisa membuat tertawa saat melihat ada beberapa pengguna jalan yang berpenampilan aneh,"ucap Icha tersenyum tipis tetap melihat ke arah jalan.


"Sayang sekali, ada pria tampan di depan mata malah disia-siakan dan dibilang membosankan,"ucap Niko menghela napas panjang menunjukkan raut wajah kecewa, namun sama sekali tidak dilirik oleh Icha.


"Ada banyak pria tampan di dunia ini, dan biasanya pria-pria tampan yang suka mendekati perempuan itu hanya ingin mempermainkan perempuan. Tidak serius dalam menjalin hubungan, hanya serius untuk mencari keuntungan dari kelemahan perempuan,"ucap Icha kemudian kembali menyuapkan kue ke mulutnya tanpa menatap Niko.


"Itu masalah pribadi saya, dan tidak perlu saya bicarakan dengan orang asing,"sahut Icha membuat Niko kembali menghela napas.


"Kamu tidak mau menatap ku. Apa kamu takut jatuh cinta padaku?"tanya Niko narsis.


Icha tersenyum seakan meremehkan. "Saya tidak akan jatuh cinta pada Anda hanya karena anda tampan,"sahut Icha.


"Oh ya? Lalu karena apa kamu suka pada Radeva? Karena dia tampan atau karena dia kaya?"tanya Niko tersenyum miring.


"Dua-duanya," sahut Icha santai.


"Kamu jujur sekali,"cetus Niko.


"Semua perempuan memang suka dengan pria kaya. Munafik jika saya tidak menyukai pria kaya, bukan karena saya materialistis, tapi karena saya realistis. Tidak dapat dipungkiri, hidup memang butuh uang. Dan soal tampan, saya juga akan menjadi perempuan munafik jika saya tidak menyukai pria tampan. Jadi kalau ada pria yang tampan dan mapan, why not? Perempuan mana yang tidak menyukai pria tampan dan mapan?"ujar Icha nampak cuek.

__ADS_1


"Wow...kamu terus terang sekali,"ucap Niko yang memang belum pernah bertemu dengan perempuan seperti Icha yang blak-blakan.


"Saya tidak berterus-terang, saya hanya mengatakan kenyataan yang sebenarnya,"ucap Icha santai.


"Apa kamu tidak ingin tahu, kenapa Radeva yang tampan dan kaya itu sampai usia 32 tahun belum menikah?"tanya Niko mencoba mencari celah untuk menjelek-jelekkan Radeva.


"Jika saya ingin tahu, saya akan bertanya langsung pada calon suami saya, bukan pada orang asing seperti anda,"ucap Icha menatap Niko dengan tatapan yang tidak bisa Niko artikan.


"Haha..haha..jangan terlalu serius seperti itu! Aku hanya mengajak kamu mengobrol saja. Apa kamu begitu mencintai Radeva? Kamu sepertinya sensitif sekali kalau soal Radeva,"ujar Niko mencoba mencairkan suasana.


"𝘽𝙪𝙨𝙚𝙩 𝙙𝙖𝙝, 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙞𝙣𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙖𝙨𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙖,"gumam Niko dalam hati.


"Tentu saja saya mencintai Kak Radeva, jika saya tidak mencintainya, buat apa saya menerima lamaran Kak Radeva," cetus Icha.


"Mungkin karena dia tampan dan mapan seperti kata kamu tadi,"sahut Niko.


"Tampan dan mapan hanyalah bonus saja. Yang penting bagi saya adalah Kak Radeva selalu bisa membuat saya nyaman,"ucap Icha jujur.


"Nyaman dalam artian yang seperti apa?"tanya Niko.


"Sepertinya anda penasaran sekali dengan hubungan kami. Apa anda berniat menjadi orang ketiga dalam hubungan kami? Kalau iya, sebaiknya anda gunakan waktu anda untuk hal lain yang lebih bermanfaat dan bermartabat. Jangan menghina wajah tampan yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk mempermainkan hati perempuan, apalagi untuk merusak hubungan saudara anda sendiri. Maaf saya permisi,"ucap Icha langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri pelayan toko. Sedangkan Niko nampak tercengang mendengar kata-kata Icha tadi.


Setelah membayar semua kue dan minuman yang sudah dipesannya, Icha pun segera meninggalkan toko itu. Sedangkan Niko masih nampak tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Icha. Kata-kata Icha benar-benar menohok di hati Niko. Saat tersadar, Niko sudah tidak melihat Icha lagi di toko kue itu.


"Shitt!! Belum pernah ada perempuan yang berkata seperti itu padaku. Dan dia satu-satunya perempuan yang nampak tidak tertarik padaku,"umpat Niko dengan wajah kesal dan kecewa. Sebelumnya tidak pernah dia gagal mendekati wanita.


...🌟 Cinta itu tentang perasaan dan rasa nyaman, tidak bisa ditawar, apalagi dijual belikan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2