Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
232. Ke Luar Negeri


__ADS_3

Pagi menyapa, mentari nampak bersinar terang setelah hujan deras yang mengguyur semalaman. Disha menggeliat dalam dekapan hangat suaminya. Saat mengingat kejadian semalam, Disha pun secara perlahan melepaskan diri dari dekapan Alva agar Alva tidak terbangun. Setelah berhasil melepaskan pelukan Alva, Disha pun segera membersihkan diri.


"Kenapa tidurnya nyenyak sekali? Biasanya Alva akan terbangun dan memeluk ku erat jika aku melepaskan pelukannya. Apa yang dia lakukan semalam hingga dia tidur nyenyak seperti itu?"gumam Disha dalam kamar mandi. Tiba-tiba mata Disha membulat saat mengingat kata-kata Alva sebelum pergi semalam.


"Semalam dia bilang akan mencari kesenangan di luar. Apa...apa dia benar-benar tidur dengan perempuan lain? Tapi kalau dia tidur dengan perempuan lain, dia pasti tidak akan pulang, kan? Atau setelah tidur dengan perempuan lain dia pulang? A..aku harus memeriksa pakaian nya semalam dan juga memeriksa tubuhnya. Awas saja ke jika dia berani berselingkuh dari ku,"gumam Disha dengan kilatan di matanya.


Selesai mandi dan memakai pakaian, Disha memeriksa pakaian Alva, mencari jika ada noda lipstik atau aroma parfum wanita. Tapi Disha tidak menemukan hal yang aneh di pakaian suaminya itu. Setelah selesai memeriksa pakaian Alva, Disha langsung melihat tubuh Alva yang bertelanjang dada dan memperhatikan apakah ada jejak percintaan.


"Nihil. Tidak ada tanda-tanda dia berselingkuh dari ku,"gumam Disha seraya bernapas lega.


"Sayang, bangun!"ucap Disha seraya mengusap lengan Alva lembut.


"Em.."sahut Alva perlahan beranjak bangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi.


Disha membuang napas kasar,"Dia marah padaku? Bahkan dia tidak mencium ku seperti biasanya,"gumam Disha menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Disha kemudian menyiapkan pakaian kerja Alva seperti biasanya. Saat Alva keluar dari kamar mandi, Disha membantu Alva untuk mengenakan pakaian Alva seperti biasanya.


Namun kali ini Alva nampak berbeda. Alva hanya diam tidak memeluk atau pun mencium Disha seperti biasanya. Hingga Disha selesai membantunya memakai pakaian dan dasi pun, Alva sama sekali tidak bicara atau menyentuh Disha seperti biasanya. Setelah selesai merekapun sarapan bersama dengan Bramantyo dan Ratih.


"Al, kapan kamu berangkat ke luar negeri untuk mengecek perusahaan kita?"tanya Bramantyo.


"Nanti sore aku akan berangkat,pa,"ucap Alva membuat Disha terkejut.


"Nanti sore kamu akan pergi ke luar negeri? Kok, kamu nggak ada bilang sama aku, sich, sayang?"celetuk Disha, dengan raut wajah kecewa.

__ADS_1


"Maaf, aku lupa,"jawab Alva singkat, menatap Disha sekilas, membuat Disha menghela napas panjang.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙙𝙬𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙠𝙨𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙣𝙚𝙜𝙚𝙧𝙞? 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙚𝙗𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞!"gerutu Disha dalam hati.


"Kok, mukanya jadi masam gitu!"celetuk Ratih tersenyum tipis menatap Disha.


"Siapa, ma?"tanya Disha pura-pura tidak tahu.


"Yang mau ditinggal pergi. Kayaknya udah badmood duluan,"sahut Ratih mengulum senyum.


'Ach..mama bisa aja,"sahut Disha dengan wajah memerah karena apa yang dikatakan oleh Ratih adalah benar. Sedangkan Alva hanya melirik sekilas ke arah Disha.


***


"Kak, handphone Kakak berbunyi,"ucap Icha dengan suara serak khas bangun tidur, masih memeluk tubuh Radeva dalam keadaan sama-sama polos tanpa sehelai benang, dan hanya sebuah selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.


"Hemm,"sahut Radeva membuka matanya mengambil handphonenya yang berada di atas nakas. Masih memeluk Icha dengan sebelah tangannya yang lain. Radeva mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang menelponnya," Halo, ada apa?"tanya Radeva pada si penelepon.


Radeva nampak mendengarkan penjelasan orang yang sedang menelepon nya, kemudian membuang napas kasar,"Kenapa bisa terjadi seperti itu? Sudahlah, aku akan ke sana untuk membereskan masalah itu. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apa yang bukan hak mereka. Berani sekali mereka melakukan itu. Cari bukti yang berkaitan dengan mereka. Sore ini aku akan berangkat ke sana,"ucap Radeva tegas, kemudian memutuskan sambungan telepon.


"Ada apa, kak?"tanya Icha yang dari tadi memperhatikan ekspresi Radeva yang sedang melakukan panggilan telepon.


"Ada sedikit masalah di perusahaan," ucap Radeva menatap Icha yang mendongak menatapnya,"Aku harus pergi sore ini juga,"ucap Radeva mengusap pipi Icha yang masih berada dalam pelukannya.

__ADS_1


"Pergi kemana?"tanya Icha.


"Keluar negeri. Tempat tinggal ku dulu," sahut Radeva membuat ekspresi wajah Icha tiba-tiba menjadi suram,"Aku akan segera pulang jika masalahnya sudah selesai,"ucap seraya membelai rambut Icha.


"Apa kakak akan lama beranda di sana?"tanya Icha.


"Aku tidak tahu. Aku sebenarnya juga tidak ingin meninggalkan kamu, tapi kalau aku mengajak mu, aku takut kamu akan bosan sendirian di sana tanpa ada orang yang kamu kenal,"jelas Radeva.


"Iya, aku mengerti,"ucap Icha seraya tersenyum, senyum yang dipaksakan.


"Maaf!"ucap Radeva tidak enak hati, pasalnya baru dua hari mereka menikah, tapi harus berpisah untuk sementara waktu.


"Tidak apa-apa,"sahut Icha tersenyum tipis.


"Hari ini aku akan ke perusahaan induk terlebih dahulu, dan sorenya langsung berangkat,"ucap Radeva mulai beranjak dari ranjang dan memakai bathrobe nya.


"Bolehkah hari ini aku berkerja, kak?" tanya Icha ikut memakai bathrobe nya.


"Terserah kamu. Kamu berhenti bekerja pun, aku tidak masalah,"sahut Radeva.


"Aku tidak ingin berhenti bekerja, kak. Terimakasih kakak mengijinkan aku bekerja! Aku akan bosan jika berdiam diri di rumah, Kak,"sahut Icha.


"I'll give you everything, as long as you are happy,"ucap Radeva kemudian mengecup bibir Icha sekilas membuat Icha tersipu dan Radeva menjadi gemas.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2