
Di kediaman Nalendra.
Niko nampak pulang kerumahnya setelah satu Minggu tidak pulang, tepatnya empat hari sebelum pesta pernikahan Radeva dan tiga hari sesudah pesta pernikahan Radeva. Niko memang sengaja tidak pulang untuk menghindari papanya.
"Dari mana saja kamu? Sudah satu Minggu tidak pulang. Mana janjimu untuk menggagalkan pernikahan Radeva? Bahkan kita tidak tahu jika Radeva sudah menikah. Apa saja yang kamu kerjakan selama ini?"cecar Nalendra saat Niko baru saja menginjakkan kakinya di rumah itu.
Niko membuang napas kasar, menatap papanya,"Aku pergi untuk bersenang-senang. Aku bosan berada di rumah ini. Dan soal Radeva... jujur aku sudah muak menjadi boneka papa untuk menghancurkan Radeva. Aku tidak mau lagi mengurusi kehidupan Radeva,"ujar Niko nampak kesal.
"Dasar pecundang! Kamu tidak berani bersaing dengan Radeva. Pengecut!"cibir Nalendra memandang rendah pada putranya sendiri.
"Aku bukan pecundang! Bukan pengecut!"sergah Niko yang tidak terima direndahkan oleh papanya.
"Kalau bukan pecundang dan pengecut, apa namanya? Kamu menyerah untuk menghancurkan hidup Radeva,"sergah Nalendra emosi.
"Cukup, pa! Aku sudah muak dengan semua ini! Dari kecil, papa selalu mengatur hidup ku. Papa menyuruh ku belajar mati-matian agar nilai ku lebih tinggi dari Radeva, tapi apa kenyataannya? Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak pernah bisa melampaui Radeva yang selalu rangking pertama. Aku bahkan hanya bisa meraih rangking ke tiga,"
"Saat kuliah, papa pun memaksa aku mengambil jurusan yang sama dengan Radeva, walaupun papa tahu aku tidak berminat dan tidak suka dengan jurusan itu. Papa selalu menyuruhku memacari semua wanita yang disukai Radeva, walaupun aku tidak menyukainya,"
"Aku tidak mau lagi menjadi boneka papa untuk menghancurkan orang lain. Aku ingin hidup sesuai dengan yang aku inginkan,. Aku ingin menjadi diriku sendiri!"ujar Niko menggebu-gebu.
"Hidup sesuai yang kamu inginkan?"tanya Nalendra dengan senyum miring mengejek Niko,"Hidup dengan cita-cita konyol mu itu? Kamu pikir, kamu bisa kaya jika hidup sesuai cita-cita mu?"ucap Nalendra masih menampilkan senyuman meremehkan.
"Apa dengan hidup sesuai keinginan papa, aku bisa kaya? Tidak kan?"tukas Niko juga menampilkan senyuman mengejek pada Nalendra.
"Itu hanya karena kita belum berhasil. Jika kamu melanjutkan rencana kita, kita pasti akan berhasil,"sahut Nalendra yang tidak ingin putranya menghentikan rencana mereka untuk menguasai harta keluarga Mahendra.
__ADS_1
"Aku tidak mau melanjutkan semua ini. Jika papa ingin melanjutkan nya, lanjutkan saja sendiri. Aku tidak mau lagi menjadi boneka papa, atau pun bagian dari rencana papa lagi. Aku sudah muak dengan semua ini. Apa papa tahu? Semenjak keluarga Mahendra kembali ke negara ini, mereka sudah jauh berubah. Sekarang mereka itu sangat sulit di dekati dan tidak segan-segan mengambil tindakan jika mereka merasa terancam,"
"Menantu Om Mahendra yang bernama Alva itu orang yang sangat berbahaya. Dia tidak akan membiarkan orang-orang yang dia sayangi atau pun disayangi anggota keluarganya disakiti oleh siapapun. Papa ingat kan saat kita masih tinggal bersama keluarga Mahendra, waktu itu ada seorang wanita yang ingin menculik Disha, dan papa ingat apa yang dilakukan oleh Alva dan anak buahnya? Mereka menggilir perempuan itu dengan sepuluh orang pria, lalu melemparkan mereka semua ke balik jeruji besi,"ujar Niko berusaha mengingatkan Nalendra.
"Itu hanya omong kosong! Aku meragukan hal itu, aku rasa itu hanya bualan menantu Mahendra itu,"ucap Nalendra seraya mengibaskan tangannya tidak percaya.
"Itu, bukan bualan semata, pa! Alva itu benar-benar berbahaya. Sebenarnya waktu itu aku sudah berhasil mengelabui tunangan Radeva, si Icha itu. Aku membawanya ke kamar hotel untuk aku lecehkan karena dia tidak bisa aku dekati dan aku rayu. Tapi, apakah papa tahu apa yang terjadi waktu itu? Aku membaringkan perempuan itu di sebuah kamar hotel dengan keadaan tidak sadarkan diri, lalu aku tinggalkan untuk membersihkan diri, namun setelah aku keluar dari kamar mandi, aku tidak menemukan perempuan itu, tapi aku malah menemukan perempuan lain,"
"Bahkan saat aku baru menyadari bahwa perempuan itu bukan Icha, tiba-tiba ada empat orang perempuan dan dua orang pria masuk ke dalam kamar itu. Dua orang pria itu mengikat tangan dan kaki ku pada ranjang, kemudian memaksaku meminum obat perang sang dan obat kuat. Semalaman sampai pagi aku digilir oleh lima orang perempuan berwajah standar berbeda usia. Dari usia dua puluh tiga tahunan sampai usia empat puluh tahunan,"
"Aku dijadikan mereka sebagai pemuas nap su mereka, pa.Itu benar-benar penghinaan bagi ku. Selama ini aku bisa mendapatkan wanita cantik yang aku mau, bahkan tanpa aku minta, mereka bersedia naik ke atas ranjang ku untuk melayani ku. Tapi aku benar-benar merasa sangat direndahkan dan terhina saat aku digilir oleh lima perempuan berbeda usia dengan wajah standar yang sama sekali bukan tipeku. Mereka mengge rayangi tubuhku dan meniduri ku sepuas hati mereka. Aku benar-benar merasa terhina, pa! Aku dilecehkan oleh lima perempuan sekali dalam semalam. Dan aku yakin, semua itu karena menantu Om Mahendra yang bernama Alva itu,"ujar Niko menggebu-gebu dan ekspresi wajah frustasi.
Nalendra membulatkan matanya mendengar penuturan Niko,"Kamu benar-benar digilir perempuan berbeda usia dengan wajah standar dalam satu malam, dan semua itu yang melakukan adalah menantu Mahendra yang bernama Alva itu?"tanya Nalendra tidak percaya.
"Apa maksudmu?"tanya Nalendra semakin terkejut.
"Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, saat aku mengikuti Alva, aku melihat anak buah Alva sedang menarik Disha yang nampaknya terjatuh dari roof top. Aku melihat Trisha menghujamkan sebilah pisau ke punggung anak buah Alva yang berusaha mengangkat tubuh Disha dari samping roof top. Merasa sakit karena punggungnya di hujan pisau oleh Trisha, anak buah Alva itu reflek mendorong Trisha, hingga Trisha terjatuh dari roof top hotel, tapi masih bergantung pada tepian roof top. Disha hampir saja jatuh, tapi tangannya langsung diraih Alva dan diangkat naik. Tapi nahas, akhirnya malah Trisha yang jatuh dari roof top itu,"
"Tapi apa papa mendengar berita seperti yang aku ceritakan? Tidak, kan? Polisi malah mengatakan bahwa Trisha sedang mabuk karena frustasi suaminya meninggal, hingga akhirnya dia menjatuhkan diri dari roof top hotel itu. Bahkan berita itu tidak banyak diketahui orang, dan aku yakin itu karena Alva, menantu Om Mahendra itu,"jelas Niko panjang lebar.
"Tapi kita tidak perlu takut dengan menantu Mahendra itu. Kita harus tetap melanjutkan rencana kita untuk mengambil alih harta Mahendra,"ujar Nalendra masih kekeuh dengan ambisinya.
"Aku tidak mau melanjutkannya lagi. Jika papa masih ingin melanjutkannya , lanjutkan saja sendiri.Aku sudah muak dengan semua ini. Aku akan menjalani hidupku sendiri, aku tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Mahendra, apalagi berurusan dengan orang yang bernama Alva itu,"tukas Niko menentukan pilihannya.
Niko benar-benar sudah muak dengan rencana papanya itu. Dari kecil, hidupnya selalu disetir oleh Nalendra. Tidak boleh menentukan keinginan dan kehidupannya sendiri. Selain karena sudah bertahun-tahun usaha mereka untuk menguasai harta Nalendra tidak berhasil, tapi juga karena Niko sudah tidak tahan lagi hidupnya diatur oleh papanya. Belum lagi setelah mengetahui bahwa sekarang keluarga Mahendra menjadi sangat berbahaya karena menantu Mahendra yang bernam Alva. Niko benar-benar ingin berhenti menjadi boneka papanya dan menjalani hidup seperti keinginannya.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh melakukan itu! Kita harus melanjutkan rencana kita!"teriak Nalendra pada Niko, tapi tidak dihiraukan oleh Niko.
Niko berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengemasi semua barang-barang nya. Niko sudah bertekad untuk pergi menjauh dari papanya yang selalu memanfaatkan dirinya dan memulai hidup baru sesuai dengan keinginan nya. Tak lama kemudian, Niko keluar dari kamarnya dengan menarik sebuah koper besar.
"Kamu mau kemana?"tanya Nalendra dengan suara agak ditinggikan.
"Aku akan pergi dari papa. Jangan pernah mencari ku! Karena aku tidak akan pernah kembali pada papa untuk melanjutkan rencana papa itu,"ucap Niko seraya keluar dari rumah itu dengan langkah lebar.
"Niko! Kembali! Kamu jangan nekat!Dasar anak durhaka! Kamu tidak boleh pergi! Dasar anak sialan!"umpat Nalendra kesal, karena tidak bisa mencegah Niko pergi, mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa frustasi.
Sedangkan di dalam kamar, Neda dari tadi mendengarkan pembicaraan serta perdebatan Nalendra dan Niko. Neda merasa tercengang setelah mengetahui tentang Alva dari cerita Niko. Neda tidak menyangka, anak yang dilahirkannya itu benar-benar menjadi sosok yang begitu berkarisma, berwibawa, cerdas dan juga tangguh hingga tidak bisa di pandang remeh oleh siapapun.
Ada rasa bangga yang menyeruak di hatinya tapi juga ada rasa sesal karena telah meninggalkan Bramantyo yang sudah menjadi suami yang terbaik untuknya untuk Nalendra yang dianggapnya tidak lebih dari sampah yang tidak berguna. Dan juga menyesal karena meninggalkan anak kandung nya yang kini menjadi pria yang sangat luar biasa dimata semua orang, termasuk dimatanya sendiri. Tapi sayang anak itu bahkan mengatakan jika bisa memilih, dia ingin dilahirkan dari rahim seorang Ratih, bukan rahimnya.
Mengingat semua itu, Neda hanya bisa tertunduk lesu. Menyesal pun tidak ada gunanya dan tidak akan bisa merubah segalanya. Karena waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali.
...π"Jangan menjadi seperti apa yang orang lain inginkan, tapi jadilah seperti apa yang kamu inginkan....
...Be your self!"π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued
__ADS_1