
"Kalian sudah pulang?"tanya Bramantyo saat melihat Mahendra, Ghina dan Radeva masuk ke dalam rumah.
"Iya,"sahut Mahendra nampak kusut.
"Ayo kita duduk dulu!"ajak Bramantyo menggiring Mahendra dan keluarganya ke ruang keluarga.
"Kenapa wajahmu kusut begitu?"tanya Bramantyo saat menatap Mahendra.
"Aku tidak tahu manusia macam apa yang akan ku nikahkan dengan putri ku,"celetuk Mahendra seraya mengusap wajahnya yang nampak kusut.
"Jadi kalian memutuskan untuk menikahkan putri kalian dengan putra Darmawan?"tanya Bramantyo.
"Iya. Kami tidak punya jalan lain selain itu. Tapi kami hanya ingin pernikahan mereka sebatas pernikahan di atas kertas saja. Aku tidak ingin putri ku hidup dengan orang seperti Hery. Kami hanya berjaga-jaga, jika sampai Trisha hamil karena kejadian kemarin,"ucap Mahendra.
"Dalam masalah pekerjaan memang anak itu lumayan, namun dalam masalah hubungan dengan wanita dia memang di cap buruk. Dan semua itu terjadi karena dia mengejar-ngejar menantu ku,"ucap Bramantyo kemudian menghela nafas panjang.
"Saya dengar Hery itu pacar Disha sewaktu SMP dan SMA, Om,"sahut Radeva.
"Iya. Dia sempat memposting foto-foto nya bersama menantu ku saat mereka SMP dan SMA dengan berbagai caption dan mengedit foto-foto Disha dengan pose sedang berciuman dengan dia yang membuat Alva marah. Namun tak lama dia menghapus postingan nya itu dan membuat video permintaan maaf pada Alva dan Disha serta para netizen. Dia mengaku bahwa foto-foto yang dia upload adalah editan,"
"Sejak saat itu dia tidak berani menganggu Alva dan Disha lagi. Dan aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia berhenti mengejar Disha. Cuma aku dengar sebelum dia membuat video permintaan maaf itu Alva menemuinya," ujar Bramantyo.
"Aku rasa Alva pasti mengancam Hery. Namun melihat sifat Hery yang tidak takut dengan siapapun, aku rasa Alva punya kartu As Hery,"sahut Radeva.
"Om rasa juga begitu. Tapi Om tidak tahu rahasia apa yang diketahui Alva soal Hery yang membuat Hery berhenti mengejar Disha,"jelas Bramantyo.
"Sudahlah, pa! Jangan terlalu dipikirkan! Semua sudah terjadi dan mau tidak mau kita harus menjalaninya.Kita lakukan saja apa yang baik menurut kita,"ucap Ghina menenangkan suaminya.
"Benar kata mama, pa. Kita sudah berusaha sebaik mungkin, apapun hasilnya kita serahkan saja kepada Tuhan.
"Benar kata Ghina dan Radeva, Hen. Jangan terlalu dipikirkan! Sudah malam, sebaiknya kalian istirahat,"tukas Bramantyo.Dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Di kamar Alva, nampak Disha yang berada di dalam dekapan Alva menggeliat kemudian perlahan membuka matanya. Tubuhnya yang polos menempel pada tubuh suaminya yang sama polosnya. Mereka terlelap tanpa sempat mengenakan pakaian mereka lagi usai pergulatan panas mereka beberapa jam yang lalu. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
Perlahan Disha melepaskan pelukan Alva, beranjak bangun memunguti pakaiannya dan pakaian Alva yang berceceran di atas ranjang dan ada pula yang berada di samping ranjang.
"Masih jam dua malam. Aku haus sekali," gumam Disha.
Disha kemudian memakai pakaiannya, dan perlahan keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu menuju dapur. Di dapur itu hanya ada lampu dinding hingga cahaya nya pun hanya temaram.
Disha membuka lemari es kemudian mengambil air dingin dan menuangkan air ke dalam gelas. Disha meneguk air itu hingga habis.
"Astaga!!"pekik Disha saat tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya, memeluknya dari belakang.
"Aku mencari mu, sayang,"bisik Alva di telinga Disha kemudian menggosok- gosokkan hidungnya di leher Disha dan mencium puncak kepala Disha.
"Al?"suara seorang pria memanggil Alva membuat Alva yang bertelanjang dada itu menoleh ke belakang. Sedangkan Disha yang dipeluk Alva tidak terlihat karena tertutup tubuh Alva yang lebih besar dari tubuh Disha.
Kamu sedang apa?"tanya orang itu mendekati Alva namun tidak dapat melihat Disha yang tertutup tubuh Alva.
Disha menyalakan lampu hingga Radeva bisa melihat keberadaan Disha dan dada bidang Alva dan juga barisan roti sobek milik Alva yang tercetak sempurna namun di tubuh yang nampak proposional itu terdapat bercak-bercak sisa percintaan yang membuat Radeva memalingkan wajahnya.
"Oh, aku kira kamu tadi sendirian,"sahut Radeva berjalan menuju lemari es dan mengambil botol air putih dingin kemudian meneguk nya langsung dari botol nya.
"Sayang, minumlah!"ucap Disha menyodorkan segelas air putih pada Alva dan Alva pun langsung meminumnya sampai habis.
"Al, bisakah aku minta waktu mu sebentar? Ada yang ingin aku tanyakan padamu,"pinta Radeva.
"Sayang, kembali lah ke kamar lebih dulu!" titah Alva kemudian mengecup bibir Disha sekilas dan mengusap lembut kepala Disha.
Disha tersenyum dan mengangguk pada Alva kemudian keluar dari dapur itu dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
"Ada apa?"tanya Alva pada Radeva yang dari tadi memperhatikan Alva dan Disha yang begitu mesra.
__ADS_1
Radeva pun duduk di salah satu kursi meja makan disusul Alva yang juga ikut duduk di salah satu kursi meja makan itu.
"Ada apa?"tanya Alva lagi menatap Radeva.
"Ancaman apa yang kamu gunakan hingga Hery tidak lagi menganggu Disha?"tanya Radeva to the point tampak serius.
"Apa maksud mu?"tanya Alva seraya mengernyitkan keningnya.
"Aku yakin kamu punya kartu As Hery hingga Hery tidak lagi menganggu rumah tangga kalian. Ya walaupun kemarin dia kembali menganggu kalian lagi,"ucap Radeva.
Alva menarik sebelah bibirnya menatap Radeva,"Kenapa kamu menanyakan soal itu? Itu persoalan pribadi ku,"sahut Alva.
"Aku hanya ingin mempunyai senjata untuk melawan Hery jika sewaktu-waktu dia berbuat ulah,"sahut Radeva.
"Aku mempunyai video panas Hery dan mantan istri Hery, yaitu Anjani,"ucap Alva santai.
"Kamu juga menjebak mereka seperti kamu menjebak Trisha?"tanya Radeva menatap Alva tajam.
"Kenapa kamu suka sekali menuduhku? Aku tidak menjebak Hery, baik dengan Anjani maupun dengan adikmu. Anak buah ku membeli Vidio panas Hery bersama Anjani dari seorang pencari berita dengan harga yang mahal,"
"Dan soal Trisha, sudah aku katakan bahwa itu adalah kerjaan anak buah ku. Aku tidak pernah memerintahkan mereka untuk menjebak adikmu.Tapi aku rasa adikmu memang pantas mendapatkan itu. Dia sangat berambisi untuk menghancurkan keluarga ku,"
"Jika saja anak buah ku tidak mengetahui siasat adikmu itu, pasti sekarang kamu sudah merasa bahagia karena bisa meniduri istri ku.Iya, kan?!"tuduh Alva.
"Jangan menuduhku sembarangan! Aku tidak tahu menahu tentang rencana Trisha itu,"tukas Radeva.
"Kalau begitu kamu juga jangan menuduh ku sembarangan! Aku juga tidak tahu jika anak buah ku menjebak balik adikmu. Jika Disha sampai disentuh oleh pria lain selain aku dan itu karena ulah adikmu, aku tidak akan pernah mengampuni adikmu,"
"Masih beruntung dia cuma berakhir tidur dengan pria brengseek. Jika adikmu itu berani mengusik keluarga ku lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan dia. Ingat itu! Aku punya kartu As untuk menghancurkan dia," ancam Alva kemudian meninggalkan Radeva dengan perasaan yang kesal.
"Kartu As? Kartu As apa maksud mu?" tanya Radeva namun tidak dihiraukan oleh Alva. Alva tetap berjalan meninggalkan Radeva dan kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1
To be continued