
Di ruangan Alva.
"Halo!"ucap Alva saat mengangkat panggilan interkom di mejanya.
"Maaf Pak, dibawah ada Nona Trisha yang ingin bertemu dengan anda,"ucap seorang karyawan yang biasa mengangkat panggilan interkom yang ada dimeja Disha, jika Disha tidak ada di meja kerjanya.
"Suruh ke ruangan saya! Oh ya, dimana istri saya?"tanya Alva pada karyawan itu.
"Bu Disha ada di ruangan Pak Riky, Pak,"sahut karyawan itu.
"Oh ya sudah, terimakasih,"ucap Alva.
"Sama-sama, Pak,"ucap karyawan itu dan panggilan pun diakhiri. Karyawan itu kemudian menghubungi resepsionis di bawah untuk mengijinkan Trisha bertemu dengan Alva.
"Silahkan Nona! Pak Rendra bersedia menemui anda,"ucap seorang resepsionis yang standby di meja kerjanya.
"Terimakasih,"ucap Trisha kemudian berjalan menuju lift dan memencet nomor lantai dimana ruangan Alva berada.
Trisha keluar dari lift kemudian dengan percaya diri berjalan menuju ruangan Alva. Setelah tiba di depan ruangan Alva, Trisha pun mengetuk pintu. Para karyawan yang sudah tiga kali ini melihat Trisha pun tidak menghalangi gadis itu karena sudah mendapatkan izin dari Alva. Untuk sesaat mereka kagum dengan kecantikan Trisha.
"Masuk!"seru Alva dari dalam ruangannya.
"Ceklek" Trisha dengan gaun berwarna krem yang panjangnya selutut tanpa lengan ditambah aksesoris kalung dari emas putih dengan liontin berbentuk hati, gelang jam mungil, cincin berlian dan gelang serta sepatu high heels nampak begitu cantik dan anggun.
Alva masih fokus pada laptopnya tanpa melirik apalagi melihat Trisha yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Kak,"sapa Trisha dan Alva pun mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arah Trisha.
"Silahkan duduk!"ucap Alva seraya memberi isyarat kepada Trisha untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya tepat berhadapan dengan Alva,"Ada perlu apa dengan saya?"tanya Alva dengan bahasa formal dan wajah serta nada suara yang datar.
"Em..aku ke sini ingin memberikan undangan untuk kakak. Aku ingin kakak hadir di acara ulang tahun ku yang ke 22 tahun. Acaranya akan di adakan di resort milik Kakak. Kakak boleh membawa teman atau saudara kakak, agar acaranya tambah ramai,"ujar Trisha.
"Oh iya, terimakasih. Akan saya usahakan untuk datang,"ucap Alva.
"Terimakasih, Kak. Aku berharap kakak bisa datang. Aku akan sangat senang jika kakak datang,"ucap Trisha penuh pengharapan.
"Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan pada saya?"tanya Alva.
"Emm ..maukah kakak makan siang bareng sama aku?"tanya Trisha memberanikan diri berharap Alva mau menerima ajakan makan siangnya sehingga mereka bisa lebih dekat.
"Maaf, saya ada janji makan siang bersama dengan klien,"ucap Alva.
"Oh begitu ya?! Sayang sekali. Em..kakak akan makan siang di restoran mana?"tanya Trisha.
__ADS_1
"Di restoran yang ada di jalan xx,"jawab Alva masih dengan nada datarnya.
"Menu apa saja yang ada di restoran itu,kak?"tanya Trisha sengaja ingin bersama dengan Alva lebih lama.
"Menu makanan tradisional,"sahut Alva.
"Aku juga ingin makan di restoran itu. Aku belum pernah mencoba makanan tradisional di negara ini. Boleh ya aku ikut kakak ke restoran itu?!"ucap Trisha memohon.
"Oke,"sahut Alva singkat.
"Boleh aku nebeng di mobil kakak? Aku tadi kesini naik taksi. Boleh, ya?!"tanya Trisha memohon.
"Oke," ucap Alva kemudian Alva menghubungi Riky melalui panggilan interkom.
"Rik, kita berangkat sekarang menuju restoran tempat kita janjian dengan klien kita yang baru itu"ucap Alva.
"Baik, Tuan,"sahut Riky.
"Apa Disha ada di ruangan mu?"tanya Alva.
"Iya, Tuan. Nyonya ada di ruangan saya,"jawab Riky.
"Oke, kita berangkat sekarang,"ucap Alva kemudian mengakhiri panggilan.
Alva menutup laptopnya kemudian memasukkan laptop itu kedalam tas,"Silahkan keluar lebih dulu!"ucap Alva kemudian bangkit dari duduknya dan menjinjing tas laptopnya.
Riky sudah menunggu di lorong dan segera berjalan mengikuti Trisha dan Alva menuju ke arah lift.
Di dalam lift Alva sengaja berdiri di belakang Trisha bersama Riky. Alva meraih handphone yang ada di saku celananya kemudian menghubungi Disha.
"Halo sayang, ada apa?"suara Disha saat panggilan Alva diangkat.
"Aku akan makan di restoran yang ada di jalan xx, apa kamu ingin ku belikan sesuatu?"tanya Alva lembut.
"Enggak,"sahut Disha.
"Kamu jangan lupa makan siang, ya?!"ucap Alva sedangkan Riky dan Trisha hanya diam dan jadi pendengar.
"Iya, sayang,"
"Jangan makan makanan yang terlalu pedas dan berminyak!"
"Iya, sayaanngg,"sahut Disha.
__ADS_1
"Ya, sudah aku tutup dulu,"
"Iya,"sahut Disha dan panggilan telepon pun diakhiri.
"𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐭𝐞𝐥𝐞𝐩𝐨𝐧 𝐤𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚? 𝐒𝐮𝐚𝐫𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫 𝐥𝐞𝐦𝐛𝐮𝐭 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢𝐭𝐞𝐥𝐞𝐩𝐨𝐧. 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐫,"batin Trisha.
Sesampainya di parkiran khusus, Riky langsung duduk di belakang kemudi. Sedangkan Alva membukakan pintu untuk Trisha.
"Terimakasih, kak!"ucap Trisha tersenyum manis sedangkan Alva masih tetap terlihat datar.
"𝐘𝐚 𝐚𝐦𝐩𝐮𝐧𝐧𝐧 𝐬𝐨 𝐬𝐰𝐞𝐞𝐭 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐞𝐭 𝐬𝐢𝐜𝐡!"batin Trisha yang merasa senang saat Alva membukakan pintu untuknya.
Setelah menutup pintu mobil bagian belakang, Alva membuka pintu penumpang di samping kursi kemudi membuat Trisha yang tadinya merasa bahagia sekarang menjadi lesu.
"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐮𝐝𝐮𝐤 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐢𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐜𝐡?! 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐮𝐝𝐮𝐤 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢. 𝐀𝐤𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐫𝐨𝐥 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚,"gerutu Trisha dalam hati.
Dalam perjalanan Trisha benar-benar tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Alva. Karena semenjak mobil di lajukan Riky, kedua pria itu tidak berhenti membahas soal pekerjaan membuat Trisha menjadi lesu karena tidak punya kesempatan untuk berbicara sama sekali.
"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢, 𝐬𝐢𝐜𝐡?! 𝐁𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚.𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐢𝐚𝐜𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧,"batin Trisha sedih.
Sesampainya di restoran, Alva kembali membukakan pintu untuk Trisha dan Trisha kembali merasa senang.
"Emm..kak, aku nggak tahu menu apa yang ada di restoran ini. Boleh aku makan bersama kalian?"tanya Trisha.
"Maaf, saya kesini bukan untuk sekedar makan siang, tapi saya kesini untuk bicara soal bisnis,"tolak Alva secara halus.
"Aku janji nggak bakal menganggu kak. Please, boleh ya?! Masa kalian tega membiarkan seorang gadis yang cantik seperti aku makan sendirian? Nanti kalau ada cowok yang godain aku gimana,"mohon Trisha.
"𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐤𝐚𝐢 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐌𝐮𝐝𝐚. 𝐌𝐚𝐧𝐚 𝐦𝐚𝐮 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐌𝐮𝐝𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐢𝐚? 𝐒𝐚𝐦𝐚 𝐍𝐲𝐨𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐦𝐚𝐭𝐢, 𝐛𝐮𝐜𝐢𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐰𝐚, 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧? 𝐌𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐬𝐢𝐜𝐡 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐢𝐧𝐢, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐧𝐝𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐣𝐚𝐫-𝐧𝐠𝐞𝐣𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐫𝐢𝐚, 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢. 𝐈𝐥𝐟𝐢𝐥 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐢𝐧𝐢. 𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐭𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐌𝐮𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐧𝐠𝐞𝐲𝐞𝐥 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧 𝐢𝐤𝐮𝐭. 𝐏𝐞𝐩𝐞𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬𝐬𝐬!"batin Riky.
"Oke,"sahut Alva membuang nafas kasar.
Mereka bertiga pun akhirnya masuk ke dalam restoran itu dan masuk ke private room dan di sana sudah menunggu seseorang pria yang kira-kira berusia sekitar 35 tahun dan seorang wanita cantik.
"Silahkan duduk Tuan Rendra!"ucap pria itu, sedangkan wanita yang bersamanya memandang wajah Alva lekat.
"Terimakasih Tuan,"ucap Alva.
"Ini sekretaris saya," ucap pria itu lagi dan Alva hanya mengangguk kecil pada perempuan itu tanpa tersenyum dan hanya menatap sekilas.
"Ini asisten saya!"ucap Alva menepuk pundak Riky dan Riky mengangguk kecil pada pria itu.
"Dan wanita cantik ini? Apa dia istri anda?"tanya pria itu.
__ADS_1
𝐁𝐮𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐭 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐝𝐨𝐧𝐝𝐨𝐧𝐠, 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐨𝐧𝐠!🤗🤗🙏🙏🙏
To be continued