
Di rumah keluarga Icha.
"Ayo Cha, cepetan! Kita akan segera ke spa, udah itu ke salon. Mumpung kita dikasih uang sama papamu untuk memanjakan diri. Mama pengen nanti kamu cantik dan glowing pas ketemu sama calon suamimu,"ucap mama Icha sangat bersemangat.
"Ke.. ketemu calon suamiku? Maksud mama?"tanya Icha yang entah kenapa hatinya selalu dak dik duk setiap mendengar kata calon suami.
"Iya, calon suamimu bilang, kalian akan ketemu di sana dan memberikan mu kejutan yang tidak akan pernah kamu lupakan sepanjang hidupmu,"ujar mama Icha segera menarik tangan Icha yang masih bengong, keluar dari dalam kamarnya.
Hari ini Icha benar-benar mendapatkan perawatan terbaik di sebuah spa yang ternama di kota itu, setelah itu langsung masuk salon. Mama Icha menyerahkan sebuah kotak yang berisi gaun, pada Icha dan Icha pun langsung mengganti pakaiannya dengan gaun itu.
"Wahh.. cantik sekali! Calon menantu mama memang orang yang berkelas. Gaun pemberian nya cocok sekali dengan mu, Cha,"ucap mama Icha seraya memutari tubuh Icha.
"Maksud mama, gaun ini pemberian calon suamiku?"tanya Icha yang sebenarnya sangat menyukai dan juga kagum dengan keindahan gaun yang sedang dipakainya sekarang. Gaun berwarna putih tulang yang terlihat simpel tapi elegan.
"Iya Cha, dan ini, lihat! Gaun ini sudah lengkap dengan sepatu, kalung, gelang dan juga antingnya, bagus kan?"tanya mama Icha menunjukkan semua yang barusan dia katakan kepada Icha.
"Apa ini semua ini asli, ma? Memangnya sekaya apa calon suami ku?"tanya Icha yang terpaku melihat semua barang yang ditunjukkan oleh mamanya terlihat mewah dan berkelas.
"Nanti juga tahu,"sahut mama Icha dengan senyum yang mengembang.
Setelah selesai menghias diri di salon, Icha dikejutkan dengan sebuah mobil mewah dan seorang supir yang mengaku orang suruhan calon suami Icha untuk menjemput Icha. Setelah setengah jam mobil itu melaju, akhirnya mereka memasuki sebuah rumah yang begitu besar dan megah. Icha dan mamanya pun terkagum -kagum dengan keindahan rumah itu dan langsung disambut oleh papa Icha yang tadi berangkat lebih dulu.
"Kamu sudah datang, Cha! Wahh..kamu cantik sekali Cha!"ucap Disha yang muncul dengan wajah sumringah.
"Kamu juga cantik banget, Dis,"sahut Icha memuji Disha.
"Iya dong! Aku tidak boleh kalah cantik dari calon kakak ipar ku,"ucap Disha, kemudian menatap kedua orang tua Icha,"Om, Tante, mari masuk!"ucap Disha ramah. Akhirnya mereka pun masuk ke rumah itu. Rumah megah itu sudah ramai dengan para tamu yang hadir. Icha pun langsung menghampiri Yessie saat melihat Yessie, karena Disha nampak sibuk dengan para tamu.
"Wuih.. cantik banget nich calon pengantin,"goda Yessie pada Icha namun hanya ditanggapi dengan seulas senyum yang nampak dipaksakan.
"Orang tua Disha ternyata sangat kaya, ya?"celetuk Icha.
"Iya, aku jadi penasaran, pengen tahu mana kakak Disha,"ucap Yessie.
"Pak Riky, mana?"tanya Icha yang tidak melihat Riky bersama Yessie.
"Dimintai tolong sama Disha tadi,"sahut Yessie.
"Degh"tubuh Icha seakan mematung saat melihat Radeva yang memakai tuksedo yang warnanya serupa dengan gaun yang dikenakan nya sedang berbincang dengan beberapa orang.
__ADS_1
"𝘿𝙞..𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖?"gumam Icha dalam hati, tanpa sadar matanya menatap lekat pada Radeva. Dimata Icha, malam ini Radeva terlihat berlipat-lipat lebih tampan dari biasanya, hingga membuat Icha tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Cha! Kamu lihat apa, sich?"tanya Yessie yang melihat Icha diam mematung menatap ke satu arah. Yessie akhirnya mengikuti arah pandang Icha dan ikut terkejut saat melihat pria yang pernah dibicarakan oleh Icha.
"Dia pria yang membuat kamu patah hati itu, kan?"tanya Yessie pada Icha namun tidak mendapatkan sahutan dari Icha.
Icha terus menatap ke arah Radeva hingga akhirnya Radeva pun melihat Icha. Icha deg degan saat Radeva terlihat berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yang begitu mempesona hingga membuat Icha nampak gugup. Radeva berhenti tepat di sebelah Icha, lalu dia pun berbisik,"Malam ini kamu terlihat semakin cantik, sayang!"ucap Radeva membuat Icha langsung menatap Radeva dengan mata yang membulat, sedangkan Radeva malah tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Icha.
Seketika Icha terhuyung dan hampir saja terjatuh jika Yessie tidak memegangi nya," Kamu kenapa? Apa yang pria itu katakan?"tanya Yessie saat melihat Icha begitu shock setelah Radeva berbisik pada Icha.
"Di..dia..."Icha tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena rasanya dia belum percaya dan merasa berhalusinasi, saat mendengar Radeva memanggilnya dengan sebutan 'sayang' dan bersikap genit padanya seperti tadi.
"Jangan dipikirkan lagi! Bukankah kamu sudah punya calon suami?"ucap Yessie menatap Icha yang terlihat masih shock.
"A..aku..."Icha tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Ikhlas kan! Sebesar apapun kamu mencintai nya, kamu tidak akan pernah bisa bersamanya jika dia tidak ditakdirkan untuk mu. Sebaliknya, jika dia ditakdirkan untuk mu, sekeras apapun kamu menghindarinya dan menjauhinya, dia akan tetap menjadi pendamping hidup mu,"ujar Yessie mencoba menenangkan Icha tanpa mengetahui apa yang membuat Icha shock.
Tak lama kemudian Trisha, Hery, Sandy, Anjani, Darmawan dan Adiguna pun datang. Mahendra pun menyambut mereka dan menyuruh mereka masuk. Trisha pun berjalan lebih masuk lagi ke dalam rumah itu dengan mata yang nampak berpendar mencari Radeva dan juga Ghina.
Tak lama kemudian Kristian pun juga sudah sampai di tempat itu. Jiwa Casanova nya pun meronta-ronta melihat banyak wanita cantik yang berada di rumah itu. Matanya tajam mencari mangsa, menyapu ke seluruh ruangan hingga berhenti saat melihat Disha yang begitu cantik dimata nya, lalu menghampirinya.
"Aku Shahira,"jawab Disha menyambut uluran tangan Kristian dengan sedikit menundukkan kepalanya dan langsung menarik kembali tangannya setelah bersentuhan sebentar dengan tangan Kristian.
"Cantik sekali, namamu cantik, secantik orangnya,"ucap Kristian dengan senyum yang begitu mempesona, tubuh yang terlihat proposional, wajah tampan, dan mata berwarna biru yang menambah pesonanya begitu menguar hingga memikat para wanita, terkecuali Disha yang hanya mencintai Alva.
"Terimakasih,"sahut Disha, tersenyum tipis"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝘾𝙖𝙨𝙖𝙣𝙤𝙫𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝙋𝙖𝙣𝙩𝙚𝙨𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙞𝙡𝙖-𝙜𝙞𝙡𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖. 𝙒𝙖𝙟𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣, 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙗𝙞𝙧𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪...𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙠𝙡𝙚𝙥𝙚𝙠-𝙠𝙡𝙚𝙥𝙚𝙠. 𝙆𝙚𝙘𝙪𝙖𝙡𝙞 𝙖𝙠𝙪,"gumam Disha dalam hati. Disha tau soal Kristian dari Alva karena Alva sudah mewanti-wanti Disha agar menjauh jika bertemu dengan pria yang bernama Kristian.
"Boleh kah, jika saya mengenal anda lebih jauh?"tanya Kristian masih menebarkan pesonanya.
Radeva yang tidak sengaja melihat adiknya didekati seorang pria pun langsung mendekati Disha. Radeva tidak ingin adik iparnya yang cemburuan itu nanti mengacaukan pesta yang bahkan belum di mulai,"Sayang!"ucap Radeva yang tiba-tiba merangkul pinggang Disha,"Pergilah? Biar kakak yang mengurus pria ini,"bisik Radeva di telinga Disha, terlihat begitu mesra di mata Kristian.
"Oh, iya kak, makasih!' ucap Disha tersenyum manis dan Radeva pun mengecup sayang puncak kepala Disha sebelum Disha pergi dari tempat itu setelah berpamitan pada Kristian yang terlihat kecewa dengan kepergian Disha.
"Silahkan nikmati pestanya, Tuan!"ucap Radeva setelah mengobrol beberapa saat dengan Kristian. Radeva kemudian meninggalkan Kristian setelah Kristian mengangguk dan tersenyum ramah pada Radeva.
"Apa pria tadi kekasih Shahira? Sayang sekali,"gumam Kristian. Mata Kristian kembali tertuju pada Disha dan tidak sengaja melihat Disha di peluk dan di cium pipinya oleh seorang pria paruh baya,"Apa dia wanita yang bisa diajak kencan oleh siapa saja? Menarik!" gumam Kristian dengan bibir yang tertarik ke atas. Melihat Disha dicium dua pria berbeda dengan usia yang berbeda pula, Kristian menyangka jika Disha adalah wanita bayaran.
Kristian kemudian mengikuti pergerakan Disha hingga Disha berjalan di tempat yang tidak terlalu ramai dan tiba-tiba Disha nampak ditarik oleh seseorang ke tempat yang sepi. Melihat hal itu pun, diam-diam Kristian kembali mengikuti Disha dan bersembunyi seraya mengintip Disha dari tempat yang lumayan dekat. Dan mata Kristian langsung terbelalak saat melihat pria yang menarik Disha itu ternyata adalah Alva.
__ADS_1
"Sayang, kenapa membawa ku ke sini? Aku masih harus membantu mama,"ujar Disha yang pinggangnya sudah di peluk oleh Alva.
"Aku tidak rela melihat mu dilihat para pria yang ada di ruangan ini, sayang. Mereka seperti akan memangsamu, aku tidak suka itu,"ucap Alva seraya mengusap lembut pipi Disha.
"Sayang, aku sudah memakai pakaian tertutup yang kamu pilihkan, aku juga tidak memakai makeup yang berlebihan. Lagian, aku tidak tertarik dengan lelaki manapun selain kamu,"ucap Disha seraya memegang kedua pipi Alva untuk menenangkan hati pria yang mudah cemburu itu.
Alva merapatkan tubuh mereka, meraih tengkuk Disha kemudian menunduk, memiringkan kepalanya dan melum matt bibir Disha lembut. Disha pun mengalungkan tangannya di leher Alva dan membalas pungutan bibir suaminya itu. Disha akan melakukan apapun agar bisa membuat hati Alva tenang. Alva melepaskan pangutan bibir mereka saat Disha mulai kesulitan untuk bernapas.
"Jangan terlalu dekat dengan pria lain!' ucap Alva memperingatkan.
"Iya, sayang. Sekarang aku harus pergi untuk membantu mama mengarahkan para pelayan. Nanti malam kita bisa menghabiskan malam bersama, oke?" bujuk Disha seraya mengedipkan sebelah matanya, sengaja menggoda Alva, agar Alva mengijinkan nya pergi, jari jempolnya membersihkan sisa lipstik yang menempel di bibir Alva. Alva pun membersihkan lipstik Disha yang belepotan karena ulahnya dengan jari jempolnya.
"Oke,"sahut Alva dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Disha mengecup pipi Alva sekilas kemudian meninggalkan Alva.
Setelah Disha menjauh, Kristian pun keluar dari tempat persembunyiannya kemudian menghampiri Alva yang masih menatap Disha yang sudah menjauh, "Halo, bro!"sapa Kristian membuat Alva terkejut.
"Eh.. Kris! Kamu di sini?"tanya Alva yang merasa heran saat Kristian ada di tempat yang agak sepi seperti itu.
"Iya, aku tertarik dengan wanita yang tadi bersamamu, jadi aku mengikutinya. Dia wanita yang sangat cantik. Kelihatan nya, kamu sangat mengenalnya,"ujar Kristian menatap wajah Alva.
"Tentu saja, aku sangat mengenalnya," sahut Alva.
"Boleh bagi-bagi informasi tentang wanita itu?"tanya Kristian tersenyum tipis.
"Maksud kamu?"tanya Alva yang kedua tangannya kini mengepal di kedua sisi pahanya.
"Sepertinya aku tertarik pada wanita yang bersamamu tadi. Kira-kira berapa banyak aku harus mentransfer uang ke rekening nya agar aku bisa bermalam dengan nya?"tanya Kristian dengan sebelah tangan kiri yang dimasukkan ke dalam saku celananya, menatap Alva dengan senyuman.
'Kau..."geram Alva tiba-tiba langsung memegang leher Kristian dan mencekiknya.
"Dia bukan wanita bayaran! Dia adalah istriku!"
"Kendalikan emosi anda Tuan, apa anda ingin merusak pesta, ini?"
...🌟"Saat orang yang kita sayangi direndahkan, hati kita tidak akan pernah menerimanya."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1