
Dengan langkah kaki yang gontai tanpa semangat, Icha meninggalkan perusahaan Bramantyo Group. Hari ini papanya cuti untuk check up ke dokter, jadi Icha berangkat dan pulang sendiri. Icha pulang dengan menggunakan taksi online, tidak seperti tadi pagi yang menaiki ojek online. Sepanjang perjalanan Icha hanya diam dengan tatapan kosong. Entah mengapa kali ini dadanya terasa sesak dan tidak bersemangat untuk menjalani hari.
Ingatan nya tentang Radeva yang tersenyum cerah dan memanggil seorang perempuan dengan panggilan 'sayang' lalu mengecup puncak kepalanya dan merangkulnya, membuat dada Icha benar-benar terasa sesak.
"Neng, sudah sampai, neng!"ucap sang supir taksi saat sudah tiba di depan rumah Icha sesuai aplikasi. Namun gadis itu tetap diam, bergeming di tempatnya dan tidak keluar dari dalam taksi dengan pandangan yang kosong.
"Neng! Neng!"panggil sang supir taksi itu agak keras hingga membuat Icha tersadar dari lamunannya.
"Ah, iya. Ada apa, Pak?"tanya Icha terkejut.
"Kita sudah sampai,"sahut supir taksi itu.
Icha menatap keluar jendela mobil dan benar saja, dia sudah sampai di depan rumahnya. Icha segera membuka pintu mobil itu dan segera keluar. Sebelum menutup pintu mobil itu, Icha mengucapkan terima kasih pada sang supir. Taksi itupun segera melaju meninggalkan rumah Icha karena Icha sudah membayar taksi itu melalui aplikasi.
Icha menghela napas panjang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Namun saat memasuki kamarnya, mata Icha membulat saat kamarnya penuh dengan susunan hadiah yang hampir memenuhi kamarnya.
"A..apa ini?"gumam Icha melihat barang-barang yang tersusun rapi di dalam kamarnya itu,"Ini..ini seperti... hadiah lamaran... jangan-jangan... tidak... tidak mungkin!"gumam Icha langsung keluar dari kamarnya dan mencari kedua orang tuanya. Setelah berkeliling mencari kedua orang tuanya, akhirnya Icha menemukan kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di teras belakang rumah.
"Pa, ma!"panggil Icha setelah berada di depan kedua orang tuanya.
"Eh..anak mama sudah pulang,"ucap mama Icha dengan wajah yang sumringah.
"Pa, ma, barang-barang yang ada di kamar aku itu apa?"tanya Icha dengan hati yang berdebar kencang seolah dia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari bibir orang tuanya. Icha menduga, pasti jawabannya adalah jawaban yang sangat ditakutkan olehnya.
"Oh, itu. Itu hadiah lamaran buat kamu, Cha,"sahut papa Icha santai kemudian meminum tehnya dan terlihat sangat menikmati teh itu.
__ADS_1
"DUARR"seolah bagai disambar petir di siang bolong, mata Icha langsung membulat menatap papanya dan tubuhnya tiba-tiba terasa kaku.
"A..apa..apa maksud papa?"tanya Icha dengan bibir yang bergetar, mata yang sudah berembun dan dada yang terasa sesak.
"Maksudnya, kamu sudah dilamar orang dan papa, mama sudah menerimanya, karena itu hadiah-hadiah lamaran itu ada di kamarmu,"ucap papa Icha santai.
Icha terduduk di kursi yang ada di belakangnya dan air matanya pun langsung meluncur begitu saja. "Kenapa... kenapa papa dan mama menerima lamaran untuk ku tanpa meminta persetujuan dari ku? Kenapa, pa, ma?"tanya Icha yang sekarang sudah terisak.
Mama Icha bangkit dari duduknya kemudian duduk di sebelah Icha dan memegang tangan putri semata wayangnya itu, merapikan rambut Icha yang tergerai dan menyelipkannya di telinga Icha.
"Maaf jika mama dan papa tidak meminta pendapat dari mu. Mama dan papa menerima lamaran putra Pak Mahendra karena yakin, putra Pak Mahendra bisa membuat mu bahagia. Dia gagah, tampan, tubuhnya tegap dan proporsional, orangnya baik dan sopan. Dia juga berasal dari keluarga yang berada, mama yakin kamu tidak akan kekurangan apapun jika hidup bersamanya,"ujar mama Icha seraya mengusap air mata Icha.
"Papa dan mama tidak mungkin menikahkan kamu dengan sembarang pria. Kamu adalah putri kami satu- satunya, tidak mungkin kami akan menjerumuskan kamu dengan menikahkan kamu dengan pria yang tidak baik. Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan kami juga,"imbuh papa Icha.
"Tapi aku belum melihat pria pilihan papa itu, pa,"sahut Icha masih terisak.
"Lagian sampai kapan kamu akan melajang? Umurmu sekarang sudah 26 tahun, teman-teman mu juga sudah pada menikah semua, masa iya, kamu masih betah melajang,"ujar papa Icha.
"Sudah, jangan menangis lagi! Mama jamin 100% kamu bakalan suka sama pilihan mama dan papa. Kalau sampai kamu tidak suka dengan pria pilihan papa dan mama, kamu boleh mengganti nama papa jadi Paijo dan nama mama menjadi Painah,"ujar mama Icha.
"Mama kalau ngomong asal saja,"ucap papa Icha.
"Apaan sich, ma!"ketus Icha, mendengar kata-kata mamanya.
"Oh ya, Cha. Malam Minggu nanti, kita diundang ke acara pesta keluarga Bu Disha yang baru ketemu. Sebelum ke acara pesta itu, kamu pergi dulu ke spa bersama mamamu, biar nanti tambah cantik dan glo..glo...apa itu ma?"tanya papa Icha yang kurang paham bahasa yang digunakan seputar kecantikan.
__ADS_1
"Glowing, pa!"sahut mama Icha.
"Ah iya, itu maksud papa,"sahut papa Icha sambil nyengir. Papa Icha sebenarnya orang yang hangat, papa Icha hanya galak jika berhubungan dengan pria yang menurutnya tidak baik untuk putrinya. Semua aturan yang dibuat untuk Icha semata-mata hanya untuk menjaga putri semata wayangnya dari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Ya sudah, istirahat sana dulu!"titah mama Icha.Icha bangkit dan beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya dengan hati yang galau. Icha langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Setelah makan malam bersama orang tuanya, Icha menghempaskan tubuhnya di atas ranjang,"Apa aku harus menerima nasib, dijodohkan dengan orang yang tidak aku kenal? Tapi benar apa kata mama dan papa, mereka tidak mungkin menikahkan aku dengan pria yang tidak baik. Apa aku harus menerimanya dengan lapang dada? Kak Radeva juga sudah mempunyai pasangan dan nampak bahagia, aku sudah tidak mungkin lagi mengharapkan Kak Radeva. Apalagi sekarang aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku,"gumam Icha berkali kali menghela nafas panjang.
Icha masih berbaring di atas ranjang nya dengan hati yang diselimuti rasa galau. Suara dering handphone Icha membuat Icha terhenyak. Icha meraih handphone nya yang masih berada di Sling bag nya, namun Icha mengernyitkan keningnya saat melihat ada panggilan masuk yang nomornya tidak tersimpan di ponselnya.
"Halo!"sahut Icha setelah menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, calon istriku!"sahut suara bariton seorang pria yang terdengar melalui sambungan telepon.
"Si..siapa kamu?"tanya Icha tiba-tiba merasa gugup.
"Tentu saja calon suamimu, sayang!" sahut suara terdengar genit membuat Icha bergidik.
"Eh, jangan sembarangan,ya! Jangan mengaku-ngaku!"sergah Icha.
"Aku tidak mengaku-ngaku, sayang! Kamu memang calon istri ku dan aku adalah calon suamimu,"sahut suara bariton itu terdengar lembut.
"Tidak usah manggil manggil 'sayang', geli telingaku mendengar nya. Sejak kapan kamu jadi calon suamiku dan aku menjadi calon istrimu? Kenal saja enggak. Jangan mengaku- ngaku, dech!" ketus Icha.
"Sejak tadi siang sayang, setelah papa dan mamamu menerima lamaran ku,"
__ADS_1
"Degh"Icha terdiam mendengar jawaban itu.
To be continued