
"Apa maksud kamu?"tanya Alva yang benar-benar bingung dengan kata-kata Disha.
"Maafkan aku, Al. Sebenarnya... selama ini aku mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Jadi tidak mungkin jika sekarang aku sedang mengandung,"jelas Disha tidak berani menatap wajah Alva.
Alva menghela nafas panjang kemudian bertanya kepada Disha," Kenapa kamu melakukan itu? Kamu tidak mau mengandung benih cinta ku. Apa karena kamu tidak bisa mencintai aku dan masih mencintai Hery?"
"Aku tidak pernah mencintai Hery, Al,"sanggah Disha menatap wajah Alva.
"Kamu tidak pernah mencintainya? Apa aku tidak salah dengar? Kamu melindungi dia saat aku menghajarnya waktu itu. Kalian berpacaran sejak SMP dan bahkan baru putus beberapa Minggu yang lalu. Dan sekarang kamu bilang kamu tidak pernah mencintainya?"cecar Alva.
"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi yang pasti aku menerima dia menjadi pacarku karena dia seperti lintah yang menempel padaku, karena itu aku terpaksa menerimanya sebagai pacarku,"
"Selain itu, aku tidak yakin dia mencintai aku dengan tulus, aku takut dia mencintai aku hanya karena wajah ku. Dia sudah melihat wajah asliku sebelum aku menggunakan kacamata dan kawat gigi. Kemungkinan dia penasaran dengan wajah ku yang sekarang," jelas Disha.
"Jadi karena dia tahu bahwa kamu sebenarnya cantik mangkanya dia mati-matian mengejar kamu?"tanya Alva.
"Aku rasa begitu. Selama kami pacaran dia sudah berulang kali memintaku menunjukkan wajah asli ku tanpa kacamata dan kawat gigi, tapi aku tidak pernah mau,"jawab Disha.
"Lalu, bagaimana dengan perasaan kamu kepadaku? Apa juga karena terpaksa? Kamu terpaksa hidup denganku karena kita menikah gara-gara digerebek warga? Apa tidak sedikit pun cinta, kasih sayang dan perhatian yang kuberikan kepadamu mengetuk pintu hatimu? Tidak adakah sedikit saja rasa cintamu untukku?"cecar Alva.
"Bukannya aku tidak mau mencintaimu, tapi... aku takut jatuh cinta padamu. Aku takut tidak bisa hidup tanpamu jika suatu hari nanti kamu meninggalkan aku. Karena aku sadar siapa diriku, aku hanya pungguk yang merindukan bulan. Kita tidak sebanding apalagi sepadan,"
"Kita terlalu jauh berbeda.Aku tidak mau terbang terlalu tinggi, karena saat aku terjatuh, aku tidak akan bisa terbang lagi. Aku terlalu takut untuk mencintaimu karena aku takut akan terluka saat aku kehilanganmu. Walaupun kenyataannya aku tidak bisa menutup hati ku untuk mu,"
"Aku mencintaimu, bahkan sangat mencintai mu. Maafkan aku!"ucap Disha dengan berderai air mata.
Mendengar kata-kata Disha itu, Alva pun langsung memeluk Disha dengan rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan. Menghujani wajah Disha dengan ciuman.
"Katakan sekali lagi jika kamu mencintai ku!"ucap Alva sambil menghapus air mata Disha dengan kedua ibu jarinya.
"Aku mencintaimu,"ucap Disha dan Alva pun langsung mencium bibir Disha dengan lembut dan dibalas oleh Disha.
"Apa kamu tidak yakin dengan cinta ku hingga kamu takut aku akan meninggalkan kamu?"tanya Alva setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Aku hanya takut terluka,"sahut Disha.
"Percayalah, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, terkecuali jika nyawaku tidak ada lagi di dalam raga ku,"
"Aku tahu kamu meragukan aku karena aku tidak mengakui kamu sebagai istri ku di depan umum kan? Aku akan mengumumkan pada dunia bahwa kamu adalah istriku setelah aku berhasil melakukan sesuatu,"ucap Alva sambil mengecup telapak tangan Disha.
"Sesuatu? Sesuatu apa maksudmu?"tanya Disha tidak mengerti.
"Sesuatu yang akan membuat mereka berpikir seribu kali untuk menyingkirkan kamu dan hidupku. Aku mohon agar kamu mau bersabar sampai hari itu tiba. Aku janji itu tidak akan lama lagi,"ucap Alva kembali mengecup telapak tangan Disha.
"Maafkan aku karena telah mengecewakan kamu,"ucap Disha menatap wajah Alva.
"Kamu tidak mengecewakan aku, kamu malah sudah membuat aku bahagia. Apalagi dengan kehadiran buah hati kita," ucap Alva seraya mengusap perut Disha kemudian mengecup perut yang masih rata itu dengan lembut.
"Apa kamu serius? Aku benar-benar sedang mengandung?"tanya Disha yang masih belum percaya jika dirinya sedang mengandung.
"Jika kamu tidak percaya, besok kita akan melakukan USG,"ucap Alva.
__ADS_1
"Tapi bagaimana bisa? Setiap hari aku mengkonsumsi obat pencegah kehamilan,"gumam Disha yang masih terdengar di telinga Alva.
"Tentu saja bisa, karena selama ini kamu setiap hari selalu minum susu untuk program kehamilan dan..."Alva menggantung kata-katanya.
"Dan apa?"tanya Disha penasaran.
"Dan selama ini... obat yang kamu minum setiap hari itu bukan obat pencegah kehamilan, melainkan obat penyubur kandungan,"ucap Alva.
"Kamu bercanda kan? Aku sendiri yang membelinya,"ujar Disha.
"Aku tidak bercanda. Memang kamu sendiri yang membeli obat itu, tapi aku selalu menukarnya dengan obat penyubur kandungan,"ucap Alva menahan tawa karena tingkahnya sendiri yang selalu menukar obat yang diminum oleh Disha.
"Alien licik..!!! Kamu sama liciknya dengan asisten mu.!!"pekik Disha hendak memukuli Alva yang sedang duduk di sampingnya.
"Sayang, kamu akan membuat anak kita kaget,"ucap Alva langsung memegang kedua tangan Disha agar Disha tidak bisa memukulnya.
Mendengar itu pun Disha mengerucutkan bibirnya. Namun Alva malah mencium bibir Disha.
"Al...!!!"
"Ssttt...."ucap Alva sambil menutup bibir Disha dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan agar Disha diam.
"Istirahatlah, agar kamu bisa cepat pulih dan kita bisa bercinta lagi,"ucap Alva tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Alien mesuum..!!!"geram Disha menggertakkan giginya. Namun Alva malah terkekeh.
***
"Yes, kamu dengar nggak kalau kemarin Disha jatuh di toilet?"tanya Icha pada Yessie.
"Iya, Cha. Aku dengar Pak Rendra dan Pak Riky yang membawanya ke rumah sakit," sahut Yessie.
"Menurut cleaning servis yang bersama Disha, Disha terpeleset dan mengeluhkan sakit perut. Apa Disha sedang mengandung ya, Yes?"tanya Icha.
"Uhuk.. uhuk.... uhuk..."Yessie yang sedang minum seketika tersedak saat mendengar kata-kata Icha.
"Me... mengandung?" tanya Yessie setelah merasa lebih baik.
"Iya, kamu curiga nggak sich, kalau Disha itu akhir -akhir ini makannya banyak sekali?"ujar Icha.
"Memang kenapa kalau dia makan banyak?"tanya Yessie polos.
"Aku rasa dia sedang mengandung, apa lagi kata cleaning servis itu Disha jatuh dan yang sakit kan perutnya,"jelas Icha.
"Iya, ya Cha?!"sahut Yessie.
"Aku pengen tahu keadaannya, tapi aku nggak tahu Disha ada di mana. Aku hubungi handphonenya juga nggak aktif,"keluh Icha.
"Aku juga pengen nengok Disha, Cha. Dan sama kayak kamu, aku juga tidak bisa menghubungi Disha,"timpal Yessie.
"Coba deh, aku hubungi lagi, siapa tahu sudah aktif,"ucap Icha.
__ADS_1
"Iya dech, coba lagi gih!"pinta Yessie.
"Tersambung, Yes,"ucap Icha dengan wajah senang.
"Halo, Cha?"sahut Disha dalam sambungan telepon.
"Gimana keadaan kamu, Dis?"tanya Icha.
"Udah baikan kok, Cha,"sahut Disha.
"Aku sama Yessie mau nengok kamu, kamu sekarang ada di mana, Dis?"tanya Icha.
"Aku sekarang ada di rumah sakit xx, ruang anggrek nomor 1,Cha,"sahut Disha.
"Oke, pulang kerja kami ke sana,"ucap Icha.
***
Sore harinya.
"Kalian mau menjenguk Nyonya Disha?" tanya Ferdi saat melihat Icha dan Yessie.
"Iya, Tuan,"sahut Icha.
"Silahkan!"ucap Ferdi membuka pintu untuk Icha dan Yessie.
"Terimakasih, Tuan,"ucap Icha dan Yessie bersamaan, dan dibalas anggukan kecil oleh Ferdi.
"Disha..!!!"pekik Icha dan Yessie menghambur kearah Disha.
"Bagaimana keadaan kamu?"tanya Yessie.
"Udah baikan kok. Aku sudah pengen pulang tapi belum boleh sama PakSu,"keluh Disha.
"Dis, apa mungkin kamu sedang mengandung?"tanya Icha.
"Iya,"sahut Disha tersenyum tipis.
"Wahh.. selamat ya!!"ucap Yessie dan Icha bersamaan dan langsung memeluk Disha.
"Ceklek"
"Oke..Sayang...
Spontan Disha, Yessie, dan Icha menoleh ke arah pintu saat ada suara bariton seorang pria masuk ruangan itu dengan menyebut kata 'sayang'.
...🌟Love is not about how much and how often you say love, but about how much you can prove that you really love....
...Cinta itu bukan tentang seberapa banyak dan seberapa sering kamu mengatakan cinta, tapi tentang seberapa banyak kamu bisa membuktikan bahwa benar-benar mencintai. 🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued