Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
92. Takut


__ADS_3

"Tidak ada yang aku sembunyikan, ma,"sahut Alva.


"Mama tidak percaya. Walaupun mama bukan ibu kandung mu, mama adalah wanita yang telah merawat dan membesarkan kamu. Mama menyusui kamu selama dua tahun, hingga golongan darah kita sama. Golongan darah kita langka, jarang orang yang memiliki golongan darah seperti kita. Sedikit banyak mama bisa membaca gelagat dan pikiran kamu,"ujar Ratih.


Alva menghela nafas berat kemudian menatap Disha sekilas lalu menatap Kaivan yang hampir terlelap dalam pelukan Ratih.


"Sebenarnya, Disha adalah wanita dari kalangan menengah ke bawah. Semua aset yang dimiliki oleh Disha sekarang adalah pemberian dari ku. Aku memberikan semua aset yang aku miliki kepada Disha. Aset ku yang tidak mama dan papa ketahui,"


"Aku juga berusaha menjadikan Disha pemegang saham terbesar di perusahaan papa dan juga perusahaan Adiguna agar papa dan Adiguna tidak berani menganggu Disha. Semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintai Disha,"


"Aku tidak ingin papa memisahkan aku dengan Disha. Apalagi saat aku tahu Disha sedang mengandung anakku, aku semakin takut kehilangan Disha, ma,"jelas Alva jujur.


Disha yang mendengar pengakuan Alva itu pun menghambur memeluk Alva dengan rasa haru dan bahagia. Disha merasa beruntung mendapatkan cinta yang begitu besar dari Alva.


'Terimakasih, Al. Terimakasih karena telah memberikan aku cinta yang begitu besar dan mau menerima aku dengan segala kekurangan ku. Terimakasih,"ucap Disha memegang kedua pipi Alva dengan kedua tangannya kemudian menghujani Alva dengan ciuman di seluruh bagian wajah Alva.


"I love you,"ucap Alva memeluk Disha.


"I love you more,"balas Disha dan Alva pun memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Disha hingga hembusan nafas Alva terasa di wajah Disha sampai jarak bibir keduanya tinggal dua senti lagi namun....


"Eh..eh.. Stop.!! Stop!! Jangan melakukan adegan 21 plus di sini. Kalau mama kepengen, mama nggak punya lawan. Papa kalian belum pulang dari luar negeri,"cegah Ratih yang membuat sepasang suami-isteri itu menyengir kuda kemudian melepaskan pelukan mereka. Sedangkan Bik Inah hanya bisa menahan tawa melihat interaksi ketiga majikannya itu.


"Tapi apa benar hanya itu alasan kamu menyembunyikan Disha selama hampir dua tahun?"tanya Ratih menyelidik.


"Sebentar, ma. Bik, tolong belikan beberapa kebutuhan Kaivan yang sudah habis! Dan juga susu untuk istri saya, susu untuk ibu menyusui ya, Bik?!"ucap Alva kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Bik Inah.


"Iya, Tuan,"sahut Bik Inah.


"Sisa uangnya bibi pakai saja buat membeli kebutuhan bibi,"ucap Alva lagi.


"Terimakasih, Tuan,"ucap Bik Inah dengan wajah berseri segera bergegas menjalankan perintah majikannya.


"Jadi apa alasan kamu yang lainnya?"tanya Ratih setelah Bik Inah pergi.

__ADS_1


"Papa pernah mengancam teman perempuan ku di sekolah waktu SMU, gara-gara aku dekat dengan siswi itu. Aku dekat dengan siswi itu karena dia pintar tapi kekurangan biaya. Walaupun dia mendapatkan beasiswa tapi tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolahnya,"


"Karena itu aku membantu dia karena kasihan. Tapi papa menyangka aku pacaran dengan dia dan aku lihat sendiri papa mengancam teman ku itu untuk menjauhi aku. Bahkan papa memberikan sejumlah uang pada keluarga teman ku itu dan menyuruh keluarga mereka pindah ke kota lain,"


"Bukan cuma itu yang membuat aku takut kehilangan Disha, ma. Mama ingat tidak gudang kita yang terbakar saat aku berumur 12 tahun?"tanya Alva.


"Iya, mama ingat. Memangnya kenapa?"tanya Ratih yang merasa heran dengan pertanyaan Alva.


"Gudang itu sengaja di bakar papa. Papa menangkap orang yang telah membakar rumah kita dulu yang menyebabkan kakek dan nenek meninggal. Papa mengikat orang itu di kursi kemudian membakar gudang itu,"jelas Alva.


"Apa?! Itu tidak mungkin, Al!!"ucap Ratih tidak percaya.


"Itu kenyataan nya, ma. Buat apa aku berbohong?! Aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri saat gudang itu dibakar oleh papa. Saat itu juga aku mendengar bahwa papa tidak akan membiarkan kalangan menengah ke bawah menjadi anggota keluarganya,"


"Karena itulah aku memberikan semua harta yang aku miliki pada Disha dan memasukkan Disha sebagai pemenang saham terbesar di perusahaan papa juga perusahaan mama yang ada di luar negeri. Aku tidak ingin papa menyingkirkan Disha dari hidupku,"jelas Alva.


Ratih nampak shock mendengar apa yang dikatakan oleh Alva.


Di rumah sakit.


Hery langsung membawa Anjani ke UGD. Hery, dan Adiguna nampak gelisah menunggu di depan UGD. Sedangkan Darmawan yang diberi tahu oleh Adiguna saat dalam perjalanan ke rumah sakit nampak berjalan di lorong rumah sakit tak jauh dari tempat Hery dan Adiguna menunggu.


"Bagaimana keadaan Anjani?"tanya Darmawan dengan wajah khawatir, menatap Hery dan Adiguna bergantian.


"Kami belum tahu, Wan,"sahut Adiguna yang juga terlihat cemas.


Darmawan berjalan mendekati Hery, kemudian memegangi kerah kemeja yang dikenakan Hery,"Apa yang kamu lakukan pada Anjani? Jika sampai terjadi sesuatu pada cucu papa, papa tidak akan pernah memaafkan mu! Dan jangan harap kamu bisa menginjakkan kakimu ke rumah papa lagi!"ucap kemudian melepaskan pegangan tangannya pada kemeja Hery dengan sedikit mendorong Hery ke belakang hingga Hery terhuyung mundur beberapa langkah.


"Pa, kenapa papa selalu berpikir buruk seperti itu padaku?"protes Hery.


"Karena papa tidak percaya lagi padamu. Bisa saja kamu sengaja membuat Anjani keguguran agar bisa menceraikan Anjani dan mengejar mantanmu itu,"tuduh Darmawan dengan wajah kesal.


"Huff.. terserah papa lah!" ucap Hery membuang nafas kasar, sedangkan Adiguna hanya diam mendengar perdebatan ayah dan anak itu.

__ADS_1


"𝐘𝐚, 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧.. 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐤𝐮. 𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭, 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧,"batin Hery.


"Keluarga Nyonya Anjani,"ucap dokter wanita yang baru keluar dari ruang UGD.


"Saya suaminya, dok,"sahut Hery.


"Bagaimana keadaan putri saya, dok?"tanya Adiguna.


"Nyonya Anjani sudah baikan dan akan dipindahkan di ruang rawat. Kita bicara di ruangan saya saja,"ucap dokter paruh baya yang masih terlihat cantik itu, berjalan ke arah ruangannya diikuti Hery, Adiguna dan Darmawan yang merasa sedikit lega mendengar kata-kata dokter tadi.


Setelah masuk ke ruangan dokter yang menangani Anjani, ketiga pria itupun duduk dengan tenang menunggu penjelasan dari dokter.


"Kandungan Nyonya Anjani sedikit lemah. Kalian harus menjaga agar Nyonya Anjani tetap bahagia dan tidak stres, karena stres bisa mempengaruhi kandungannya. Nyonya Anjani bisa mengalami kram perut jika mengalami stress dan itu tidak baik bagi kesehatan ibu dan janinnya. Jadi tolong dijaga agar Nyonya Anjani tidak stres,"jelas dokter.


"Iya, dok,"sahut ke-tiga pria itu bersamaan.


Setelah keluar dari ruangan dokter, ketiga pria itu pun menuju ruang rawat inap yang ditempati oleh Anjani.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu,"tanya Adiguna setelah masuk ke dalam ruang rawat Anjani.


"Sudah mendingan, pa,"sahut Anjani.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba perutmu menjadi kram? Apa Hery melakukan sesuatu pada mu?"tanya Adiguna seraya melirik Hery sekilas membuat Hery jadi was-was.


"𝐌𝐚𝐦𝐩𝐮𝐬 𝐚𝐤𝐮!! 𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐫𝐢𝐰𝐚𝐲𝐚𝐭𝐤𝐮 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐀𝐧𝐣𝐚𝐧𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐣𝐮𝐣𝐮𝐫 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐚𝐝𝐢,"batin Hery berusaha bersikap biasa untuk menutupi ketakutannya.


"Sebenarnya..."


...🌟"Semua orang mempunyai rasa takut dengan alasan dan penyebab yang berbeda-beda, namun jangan pernah merasa takut jika kita merasa tidak bersalah."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2