Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
58. Perdebatan Istri


__ADS_3

"Eh kamu?? Kamu masih bekerja dengan perutmu yang besar itu? Al, apa kamu tidak memberikan dia cuti?"tanya Ratih yang tiba-tiba muncul bersama Anjani dibelakangnya.


"Aku sudah memberikan Disha cuti ma, tapi dia nya saja yang tidak mau cuti,"ucap Alva.


"Kenapa kamu tidak mengambil cuti mu, Dis?"tanya Ratih beralih menatap Disha.


"Jika saya tidak bekerja, saya akan merasa bosan di rumah sendirian Nyonya," jawab Disha.


"Aku rasa bukan karena kamu merasa bosan di rumah tapi karena kamu harus mencari uang yang banyak buat lahiran kamu kan?!"cibir Anjani yang entah mengapa merasa tidak suka dengan Disha sejak pertama kali bertemu dengan Disha.


Alva yang mendengar itupun menggenggam erat pena di tangan kananya dan mengepalkan tangan kirinya yang berada di atas pahanya.


"Jaga bicaramu, Anjani!"bentak Alva.


"Ish..kamu selalu saja membelanya,"ketus Anjani.


"Saya tidak se-miskin itu hingga harus banting tulang siang dan malam untuk mencari uang seperti Nona,"ucap Disha sambil tersenyum mengejek dan Alva pun merasa senang dengan jawaban Disha.


"Aku mencari uang hanya untuk bersenang-senang, tidak seperti mu yang mati-matian mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mu,"balas Anjani tidak mau kalah.


"Saya bekerja hanya karena saya menyukainya. Lagian suami saya memberikan saya banyak uang untuk kebutuhan saya, bahkan dia memberikan saya black card untuk berbelanja. Tidak seperti anda yang hanya diberikan uang seratus juta perbulan,"balas Disha.


"๐˜๐š, ๐ฌ๐š๐ฒ๐š๐ง๐ . ๐’๐ž๐ค๐š๐ฅ๐ข-๐ค๐š๐ฅ๐ข ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฌ๐จ๐ฆ๐›๐จ๐ง๐  ๐๐ข๐๐ž๐ฉ๐š๐ง ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐ฆ๐š๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ซ๐ ๐š๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง,"batin Alva sedangkan Ratih hanya menjadi pendengar setia.


"Apa?? Kamu diberi black card oleh suamimu, ha..ha .ha... nggak lucu tau? Kalau bohong itu mikir-mikir dulu, orang kayak kamu mana mungkin punya black card, penampilan saja katrok kayak gitu,"cibir Anjani.


"Anda lihat Ini! Ini adalah cincin pemberian suami saya karena saya sudah mengandung anaknya. Anda seorang model bukan, jadi anda pasti tahu berapa harga cincin yang saya pakai ini,"ucap Disha sambil mengulurkan tangannya pada Anjani.


"Ini cincin berlian asli, dan saya yakin harganya sekitar tujuh puluh milyar. Dan gelang jam kamu ini, harganya sekitar tujuh ratus juta,"ucap Ratih yang memang suka mengoleksi perhiasan.


Anjani membulatkan matanya mendengar kata-kata Ratih,"Mama bercanda kan? Mana mungkin dia memakai perhiasan semahal itu?"sanggah Anjani tidak percaya.


"Mama suka mengoleksi perhiasan, jadi mama tahu mana yang asli dan mana yang palsu, serta berapa kisaran harganya pun mama tahu,"jelas Ratih.


"Ya, anda benar sekali Nyonya, tebakan anda tidak salah,"ucap Disha.


"Jadi Nona Anjani, anda jangan suka merendahkan orang lain. Jika saya mau, saya cukup duduk manis di rumah dan suami saya akan tetap mencukupi kebutuhan saya. Saya tidak perlu memperlihatkan tubuh saya kepada seluruh dunia untuk mendapatkan uang demi membeli perhiasan mahal,"cibir Disha.


"Kamu..."ucap Anjani menahan amarahnya.

__ADS_1


"Suami saya selalu memberikan apapun untuk saya bahkan sebelum saya memintanya. Saya tidak perlu mengemis-ngemis untuk minta uang tambahan untuk berbelanja,"ucap Disha menyombong.


"Kamu menyindir aku?!"tanya Anjani dengan wajah geram.


"Saya tidak menyindir anda. Apa anda merasa tersindir dengan ucapan saya?!"tanya Disha tanpa merasa berdosa.


"Al, kenapa kamu memperkerjakan orang yang tidak tahu sopan santun seperti dia?! Ma, lihatlah karyawan Alva ini, sungguh tidak sopan,"adu Anjani membuat Alva memutar bola matanya malas sedangkan Ratih memijit batang hidungnya.


"Ish...anda ini sudah besar, tapi masih suka mengadu seperti anak-anak,"cibir Disha.


"Kamu benar-benar tidak sopan. Mulai besok kamu jangan bekerja lagi di sini, kamu saya pecat!"seru Anjani emosi yang malah membuat Disha malah tertawa tanpa suara.


"Jika anda sopan, saya pun segan. Tapi jika anda tidak sopan, saya pun tidak akan segan. Terus, siapa anda? Apa anda atasan saya hingga anda berani memecat saya? Anda bukan atasan saya,"ucap Disha tersenyum sinis.


"Saya adalah istri atasan kamu!"seru Anjani.


"Oh ya? Benarkah anda istri Tuan Alvarendra Bramantyo?"tanya Disha.


"Apa maksud kamu?!"bentak Anjani.


"Anda mengerti apa yang saya maksud. Sebaiknya jaga lidah anda agar kata-kata anda tidak menyinggung apalagi menyakiti hati orang lain,"ucap Disha.


"Kamu..!!"geram Anjani.


"๐€๐ค๐ฎ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐š ๐œ๐š๐ซ๐š๐ฆ๐ฎ ๐ฌ๐š๐ฒ๐š๐ง๐ , ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ก๐š๐ง๐ฒ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐ข๐ค๐š๐ฉ ๐ฌ๐จ๐ฆ๐›๐จ๐ง๐  ๐ฉ๐š๐๐š ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ฉ๐š๐ญ,"


batin Alva.


"Dasar sekretaris sialan!!"umpat Anjani tapi tidak dihiraukan oleh Disha.


"Jaga bicaramu Anjani!!"bentak Alva yang merasa tidak suka mendengar Anjani mengumpat Disha.


"Apa yang dikatakan Disha itu benar Anjani,"ucap Ratih.


"Ma..."


"Sudahlah Anjani!"seru Ratih.


"Ada perlu apa mama kesini?"tanya Alva to the point.

__ADS_1


"Mama kesini ingin mengajak kamu untuk menemani kami membeli gaun,"ucap Ratih.


"Aku tidak mengerti soal gaun, ma,"sahut Alva berbohong, padahal selama ini yang membelikan Disha pakaian adalah dirinya.


"Al, malam ini kita di undang di acara resepsi pernikahan temanku yang mamanya adalah teman mama. Iya kan ma?"tanya Anjani pada Ratih.


"Iya,"sahut Ratih singkat.Sebenarnya Ratih datang ke kantor Alva juga atas permintaan Anjani.


"Lalu?!"tanya Alva.


"Aku ingin kita memakai baju couple untuk menghadiri acara resepsi pernikahan itu, Al,"ucap Anjani bersemangat.


"Maaf aku tidak punya waktu untuk pergi menemani kalian pergi ke butik, apalagi pergi ke pesta resepsi pernikahan teman kamu itu. Malam ini ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan,"ucap Alva.


"Apa pekerjaan kamu itu begitu penting hingga harus diselesaikan malam ini juga?"tanya Anjani dengan wajah cemberut.


"Tentu saja, ini sangat penting dan urgent,"ucap Alva.


"๐“๐ž๐ง๐ญ๐ฎ ๐ฌ๐š๐ฃ๐š ๐ข๐ง๐ข ๐ฌ๐š๐ง๐ ๐š๐ญ ๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐๐š๐ง ๐ฎ๐ซ๐ ๐ž๐ง๐ญ. ๐Œ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ข๐ง๐ข ๐š๐ค๐ฎ ๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฆ๐ž๐ง๐๐š๐ฉ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ฃ๐š๐ญ๐š๐ก๐ค๐ฎ, ๐›๐š๐ญ๐ž๐ซ๐š๐ข ๐ค๐ฎ ๐ฌ๐ฎ๐๐š๐ก ๐ฅ๐จ๐ฐ๐›๐š๐ญ ๐ ๐š๐ซ๐š-๐ ๐š๐ซ๐š ๐ฌ๐ž๐ฆ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ƒ๐ข๐ฌ๐ก๐š ๐ฌ๐ฎ๐๐š๐ก ๐ญ๐ข๐๐ฎ๐ซ ๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐š๐ง. ๐Œ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ข๐ง๐ข ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐›๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ ๐š๐ ๐š๐ฅ ๐ฅ๐š๐ ๐ข,"batin Alva.


"Kalau begitu, aku minta uang untuk membeli gaun,"ucap Anjani tanpa ragu membuat Ratih menghela nafas panjang.


"Aku sudah katakan padamu, aku tidak akan memberikan uang lebih padamu dengan alasan apapun,"ucap Alva.


"Tapi aku ini istri kamu, Al!"seru Anjani.


"Tapi sayangnya aku tidak pernah menganggap kamu sebagai istriku. Kamu hanya parasit yang menumpang hidup padaku,"tegas Alva.


"Kamu..!! Jangan sombong kamu!! Jika papaku menarik seluruh sahamnya dari perusahaan kamu, kamu akan bangkrut dan menjadi gembel!"ucap Anjani berapi-api.


"Suruh saja papamu menarik semua sahamnya, aku tidak takut, dan detik itu juga aku pastikan akan menceraikan kamu,"ucap Alva dengan suara dingin menusuk dan tatapan yang begitu tajam kepada Anjani.


"Kamu..!!!"teriak Anjani tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Apa?!"tantang Alva.


"Sudah cukup!! Mama mau pulang saja , kepala mama pusing karena mendengar perdebatan kalian,"sergah Ratih yang merasa jengah dengan perdebatan anak dan menantunya itu. Dari tadi Ratih hanya diam, tapi lama-lama jengkel juga.


...๐ŸŒŸJangan sombong dengan apa yang kita miliki di dunia ini, karena semua hanya titipan-Nya semata, bisa diambil-Nya sewaktu-waktu hanya dengan sekedipan mata."๐ŸŒŸ...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2