
Setelah Disha naik ke atas ranjang dan tidur membelakangi dirinya, Alva meletakkan handphone nya ke atas nakas lalu duduk bersila menghadap istrinya yang sedang berbaring memunggunginya.
"Kenapa kamu menemui Radeva tanpa izin dari ku?"tanya Alva tiba-tiba.
"Degh"
Disha terkejut mendengar pertanyaan dari Alva itu,"𝙊𝙝 𝙮𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙣...𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙜𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙤𝙙𝙮𝙜𝙪𝙖𝙧𝙙 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖𝙠𝙪!! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙡𝙪𝙥𝙖?? 𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪?!"batin Disha yang baru sadar akan kesalahannya.
"Jawab pertanyaan ku! Aku tahu kamu belum tidur,"ucap Alva dingin karena Disha tidak menjawab pertanyaan nya.
"Aku hanya mengatakan supaya dia menjaga adiknya agar tidak menganggu kita lagi,"sahut Disha ketus tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Alva.
"Lihat aku jika aku sedang bicara dengan mu! Dimana rasa hormat mu pada suamimu?"ucap Alva penuh penekanan, menatap tajam pada Disha yang masih memunggungi nya.
Disha berdecak mendengar kata-kata Alva,"Aku masih marah sama kamu!"ketus Disha tetap pada posisinya membelakangi Alva.
Alva meraup wajahnya kasar kemudian kembali menatap Disha yang masih setia memunggungi nya.
"Aku tahu kamu marah padaku, kesal padaku, tapi bukan berarti kamu bisa menemui laki-laki lain tanpa izin dari ku!! Aku ini suamimu, dan aku yang bertanggung jawab atas hidup mu,"ucap Alva mencoba melembutkan suaranya.
"Nggak usah lebay lah! Aku tahu kamu selalu menjagaku kemanapun aku pergi. Lagian aku juga tidak berbuat yang macam-macam." ketus Disha.
"Lebay kamu bilang? Aku tidak suka jika kamu menemui laki-laki lain tanpa sepengetahuan ku, Dis!!"ketus Alva
"Cukup, Al!! Kamu marah padaku seolah-olah aku berselingkuh dari mu!!" pekik Disha langsung duduk di depan Alva.
"Cemburu mu itu berlebihan, Al! Tahu nggak, sich! Apa tidak sedikit pun kamu mempercayai ku? Untuk apa kita bersama sekian lama jika kamu tidak sedikit pun menaruh kepercayaan padaku? Kamu memberiku harta yang berlimpah tapi kamu juga mengurungku! Kamu mengekang ku!"cetus Disha dengan wajah cemberut.
Alva meraup wajahnya kasar kemudian menarik nafas dalam-dalam, mencoba menurunkan emosinya.
"Oke, aku memang salah. Aku minta maaf jika selama ini kamu merasa terkekang hidup bersama ku! Itu semua karena aku terlalu mencintaimu. Tapi bukankah salah jika kamu diam-diam menemui laki-laki lain di belakang ku?!" ucap Alva berusaha menekan amarahnya.
"Oke, kalau begitu mulai besok aku akan diam saja di rumah dan tidak akan bertemu dengan siapapun lagi. Dan kamu bisa bertemu dengan perempuan manapun yang kamu mau atau melihat perempuan penggoda tanpa busana manapun yang kamu suka, sesuka hati mu tanpa harus aku ketahui, puas?!"ketus Disha kemudian kembali berbaring membelakangi Alva.
Alva kembali menghela nafas panjang. "Bukan begitu maksudku, sayang!!"ucap Alva menurunkan emosinya seraya mengusap lengan Disha, tapi langsung ditepis oleh Disha.
__ADS_1
"Sayang..!!!"keluh Alva yang tangannya di tepis oleh Disha.
"Jangan berisik! Aku mau tidur!"ucap Disha masih saja ketus dan malah menutupi seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan selimut.
Alva menghela nafas panjang menatap istrinya yang hilang dibawah selimut. Sesaat kemudian sudut bibir Alva tertarik keatas. Alva meraih remote AC dan mengatur suhunya agar udara di kamar itu terasa lebih dingin kemudian menyembunyikan remote itu.
Alva turun dari ranjang kemudian memakai kaos oblong dan menggendong Kaivan yang sedang tidur dengan lelap. Alva memindahkan Kaivan ke dalam kamarnya sendiri kemudian berjalan menuju kamar Bik Inah agar Bik Inah tidur di kamar Kaivan dan bisa menjaga bayi montok dan lucu itu.
Disha yang merasa kedinginan membuka selimutnya dan mencari remote AC tapi tidak juga menemukan remote AC itu.
"Dia membawa Kaivan?"gumam Disha saat melihat box bayi Kaivan kosong. "Apa dia tidur di kamar Kaivan? Iiihhh...dasar tidak peka! Bukannya di bujuk, malah pergi meninggalkan aku! Mana bawa Kaivan lagi!"gerutu Disha kemudian kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Tok.!! Tok..!! Tok.!!"Alva mengetuk pintu kamar Bik Inah.
'Ceklek" Bik Inah muncul dari balik pintu.
"Tuan, apa Tuan memerlukan sesuatu?" tanya Bik Inah.
"Aku ingin meminta tolong pada bibi agar bibi tidur di kamar Kaivan dan menjaga nya,"jawab Alva.
"Terimakasih, Bik!"ucap Alva.
"Sama-sama, Tuan,"sahut Bik Inah.
Alva kemudian kembali ke dalam kamarnya dan mendapati Disha yang masih menyembunyikan diri di dalam selimut. Alva perlahan naik ke atas ranjang dan melepaskan kaos oblong yang dikenakannya.
"𝘿𝙞𝙖 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞?"batin Disha yang merasakan pergerakan ranjang seperti ada orang yang naik ke atas ranjang dan Disha yakin itu adalah Alva.
Alva masuk ke dalam selimut kemudian memeluk Disha dari belakang,"Sayang, jangan marah! Aku minta maaf!"ucap Alva kemudian mengecup puncak kepala Disha yang berada di balik selimut berkali-kali.
"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙞𝙫𝙖𝙣 𝙠𝙚 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙪𝙧 𝙨𝙪𝙝𝙪 𝙧𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙙𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣? 𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙡𝙞𝙘𝙞𝙠!!"batin Disha yang baru menyadari akal bulus Alva.
Disha membuka selimut yang menutupi tubuhnya, berniat akan turun dari ranjang itu," Mau kemana, sayang?'tanya Alva langsung menahan tubuh Disha agar tidak beranjak dari tempatnya.
"Lepaskan!! Aku ingin tidur di kamar Kaivan,"ucap Disha berusaha melepaskan tangan Alva yang melingkar di perut nya.
__ADS_1
"Apa kamu ingin Bik Inah tahu kalau kita sedang berantem? Sekarang Bik Inah sedang tidur di kamar Kaivan,"tukas Alva.
"Lepaskan aku!! Dimana kamu menyembunyikan remote AC? Kamu sengaja kan mengatur suhu nya menjadi sedingin ini?!"tuduh Disha.
"Iya, aku sengaja mengatur suhunya agar dingin, karena hati mu sedang panas," sahut Alva.
"Lepaskan!!"ucap Disha masih berusaha melepaskan tangan Alva yang membelit di perutnya.
"Aku tidak akan melepaskan kamu! Kamu belum ku hukum karena menemui pria lain tanpa izin dari ku,"ucap Alva yang tiba-tiba sudah membalikkan tubuh Disha dan mengungkung nya.
"Kamu mau apa?"tanya Disha mencoba melepaskan diri dari kungkungan Alva, walaupun dia tahu bahwa usahanya tidak akan membuahkan hasil. Tubuh Alva lebih besar dan tenaganya juga sudah dapat dipastikan lebih besar dari tenaga Disha. Tidak mungkin Disha bisa lepas dari Alva.
"Tentu saja ingin menghukum istri ku yang pergi tanpa pamit dan menemui laki-laki lain ini,"ucap Alva seraya mengusap bibir Disha dengan ibu jarinya namun langsung ditepis Disha.
"Aku tidak menemuinya di ruangan tertutup ataupun berduaan dengan dia. Aku menemuinya di tepat umum yang terbuka dan banyak orang, para bodyguard mu juga selalu ada untuk mengawasi ku. Jadi jangan membesar besarkan masalah itu,"ujar Disha dengan wajah yang cemberut.
"Aku tidak ingin nanti kamu kebiasaan pergi tanpa pamit padaku,"tukas Alva.
"Oh.. ayolah, Al! Baru sekali ini aku pergi tanpa pamit dan kamu....emmpp...."Disha tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat Alva dengan cepat menciumnya.
"Alva melum mat bibir Disha bahkan menekan tengkuk Disha untuk memperdalam ciumannya. Dengan lembut Alva menyapu permukaan bibir Disha kemudian menggigit kecil bibir Disha agar Disha membuka mulutnya hingga mempermudah Alva untuk mengakses bagian dalam mulut Disha dan membelit lidah Disha dengan leluasa.
Disha memukul mukul dada Alva saat dirinya sudah mulai kesulitan untuk bernafas.
Alva merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya,"Kamu tahu, sayang? Aku sangat mencintaimu. Aku ingin hanya namaku yang ada di dalam hati mu.Maaf jika rasa cinta ku berlebihan dan membuat mu merasa tidak nyaman,"ucap Alva kemudian mengecup kening Disha.
...🌟"Sebuah hubungan tanpa kepercayaan tidak akan membawa ketenangan....
...Tanpa kepercayaan,...
...hati mu hanya akan dipenuhi keraguan yang akan mengurangi bahkan menghilangkan kebahagiaan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1