
Dalam sebuah kamar, nampak pakaian pria dan wanita berceceran dimana-mana. Radeva yang akhir-akhir ini susah tidur, saat ini nampak terlelap dengan pulas dan damai. Terlihat begitu nyaman memeluk guling hidupnya. Mungkin selama ini, pria itu sulit tidur karena hatinya selalu gelisah memikirkan istrinya yang tidak kunjung di temukan nya, dan juga karena kebutuhan biologisnya yang sudah lama tidak terpenuhi. Namun saat sudah menemukan istrinya dan kebutuhan biologisnya pun terpenuhi, Radeva pun dapat tidur dengan nyenyak dan damai.
Sedangkan Icha nampak menggeliatkan tubuhnya dan kembali mencari posisi yang nyaman. Walaupun sudah mulai terbangun dari tidurnya, tapi Icha masih enggan untuk membuka matanya. Masih memejamkan matanya, Icha mencoba mengingat-ingat. Semalam dirinya bermimpi sedang bercinta dengan suaminya, dan rasanya mimpinya begitu nyata.
Setiap kecupan, sesapan dan ***** tan itu terasa begitu nyata. Namun sesaat kemudian Icha merasa malu sendiri karena telah bermimpi mesum seperti itu. Mungkin karena sudah lama dirinya tidak disentuh oleh suaminya, dan juga karena terlalu merindukan suaminya, maka dia bermimpi seperti itu.
Nyatanya dia tidak bisa menghilangkan rasa cinta dalam hatinya untuk suaminya itu, walaupun Radeva telah membuat sakit hatinya. Ditengah lamunannya itu, tiba-tiba Icha merasa ada yang terasa aneh.Ada sesuatu yang terasa keras dan berdenyut di pahanya.
Perlahan Icha membuka matanya dan seketika matanya langsung membulat saat menyadari sesuatu,"Akkhh!"pekik Icha mencoba melepaskan diri saat menyadari bahwa dirinya sedang dalam pelukan seorang pria. Spontan Icha langsung mendorong tubuh yang ada di depannya itu.
"Sayang..ada apa? Apa kamu bermimpi buruk?"tanya Radeva dengan wajah cemas dan rambut acak-acakan, memegang pundak Icha yang polos. Radeva terbangun karena terkejut mendengar teriakkan Icha.
Icha tertegun saat melihat siapa yang saat ini ada dihadapannya. Seolah tidak percaya bahwa saat ini dia sedang melihat suaminya, Icha mengedip- ngedipkan matanya agar bisa melihat dengan jelas. Dan benar, pria di depannya ini adalah suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?"tanya Radeva dengan wajah khawatirnya, memegang pipi istrinya.
Setelah sadar bahwa pria di depannya memang benar suaminya, Icha langsung menepis tangan Radeva dari pipinya, memalingkan wajahnya tidak mau menatap Radeva, seketika wajahnya menjadi suram. Sedangkan Radeva menghela napas panjang, menyadari jika istrinya masih marah padanya. Icha beranjak bangun dari tempat tidurnya dan kembali terkejut saat selimut yang menutupi tubuhnya melorot dan menampilkan tubuhnya yang polos penuh dengan bercak-bercak kemerahan dan juga tanda merah keunguan.
Dengan cepat Icha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kembali dan berbalik menatap Radeva dengan tatapan tajam. Siapa lagi pelaku yang membuat tubuhnya polos dan menjadi macan tutul seperti itu jika bukan pria yang ada di sebelahnya itu. "Kamu! Berani-beraninya meniduri ku! Dasar brengseek! Buaya darat! Bajingan!"pekik Icha seraya memukuli dada bidang suaminya. Kini Icha baru sadar, bahwa semalam dirinya tidak lah bermimpi bercinta dengan suaminya, tapi memang semalam benar-benar bercinta dengan suaminya. Semua sentuhan dan kenikmatan yang dirasakannya semalam bukanlah mimpi, tapi nyata.
__ADS_1
"Sayang! Tenanglah!"ucap Radeva kemudian menangkap tangan Icha yang sedang memukulinya, dan langsung menarik Icha ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku! Aku benci kamu! Aku benci! Pergi kamu! Pergi!"pekik Icha memberontak dalam pelukan Radeva, namun Radeva sama sekali tidak membiarkannya melepaskan diri dari dekapan pria itu.
"Maaf! Aku salah, jangan tinggalkan aku lagi! Aku sangat mencintai mu, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Tolong, maafkan aku!"ucap Radeva dengan suara lembut, mendekap Icha yang terisak.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar yang bertubi-tubi bersama suara seorang wanita.
"Non! Non Icha! Apa yang terjadi? Apa Non Icha baik-baik saja? Kenapa Non Icha berteriak-teriak?"suara itu terdengar sangat khawatir. Wanita paruh baya yang menjaga rumah itu terkejut saat baru saja masuk ke dalam rumah dan mendengar suara teriakan Icha.
Anak buah Alva yang masih berada di dalam mobil yang terparkir di depan rumah itu pun mendengar kegaduhan yang terjadi di dalam rumah itu,"Wah.. ternyata Tuan Dev belum bisa menjinakkan macan betina nya,"gumam pria itu, kepalanya menggeleng pelan, tertawa tanpa suara, bermain game di handphonenya. Mata dan jemarinya masih fokus pada layar yang menyala terang itu, tanpa berniat keluar dari dalam mobil.
Sementara di dalam rumah, Radeva terdiam mendengar ketukan pintu, sedangkan Icha terlihat panik. Belum sempat berpikir apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba terdengar...
"Brakk"pintu kamar yang lupa dikunci oleh Icha semalam itu pun terbuka lebar.
'Non...."wanita paruh baya yang menerobos masuk itu tidak dapat lagi melanjutkan kata-katanya, matanya membulat, mulutnya terbuka, tubuhnya membantu di tengah pintu. Wanita itu terkejut bukan main melihat seorang pria yang terlihat bertelanjang dada mendekap tubuh Icha yang berada di balik selimut, menatap padanya dengan tatapan tajam dan dingin.
"Ada apa, Bu?"tanya suami dari wanita itu, datang tergopoh-gopoh karena mendengar suara istrinya mengetuk- ngetuk pintu dan memanggil-manggil Icha. Napas pria itu nampak terengah-engah, tanpa sengaja menatap pakaian yang berserakan di lantai, kemudian tatapan matanya naik ke atas nakas, di sana juga ada pakaian yang teronggok, bahkan ada pakaian dalam yang tersangkut di lampu tidur di atas nakas itu, terakhir tatapannya jatuh pada dua insan yang sedang berpelukan di atas ranjang.
__ADS_1
"Keluar kalian dari sini! Sungguh tidak sopan menerobos masuk ke dalam kamar orang lain,"bentak Radeva masih dengan tatapan tajam dan dingin, menatap tidak suka pada dua orang paruh baya yang berdiri di depan pintu kamar itu.
"'Ma.. maaf! Kami permisi?"ucap sang pria paruh baya seraya menarik tangan istrinya yang masih tertegun, diam membatu di tengah pintu. Pria paruh itu terus menarik lengan istrinya agar keluar dari kamar itu. Setelah nya dia langsung menutup kembali pintu kamar Icha.
'Siapa pria itu, Pak? Dia sangat tampan, tapi tatapannya terlihat tajam dan dingin sekali. Aku benar-benar takut saat melihatnya,"ujar wanita paruh baya itu setelah bisa menguasai diri dari rasa terkejutnya.
"Tidak usah di pikirkan dan tidak usah mencari tahu siapa pria itu, Bu. Yang pastinya, pria itu bukan pria biasa,"sahut sang pria paruh baya itu.
"Iya, Pak. Ibu juga merasa pria itu bukan pria biasa, auranya sangat berwibawa. Tapi ibu sangat penasaran dengan pria itu. Sepertinya, Non Icha dan pria itu.." wanita itu menjeda kata-katanya,"Seperti nya, semalam habis kikuk kikuk,"ucap wanita paruh baya itu dengan wajah bersemu merah, menyengir bodoh pada suaminya.
"Itu bukan urusan kita, Bu,"sahut sang pria paruh baya,"Apa mobil yang ada di depan rumah itu adalah mobil pria itu, ya, Bu?"tebak sang pria paruh baya itu seraya mengerutkan dahinya.
"Mungkin saja, Pak. Eh...tapi, mobil itu tadi sempat pergi dari depan rumah ini, tapi sekarang sudah kembali lagi di depan rumah ini, Pak,"ujar sang wanita paruh baya yang mengingat mobil itu tadi sempat tidak ada di depan rumah yang mereka tempati itu.
"Iya, ya,"sahut sang pria membenarkan.
"Tapi, kapan pria itu masuk ke dalam rumah ini, ya, Pak?"tanya sang wanita paruh baya nampak berpikir keras.
"Mana bapak tahu. Kalau bapak tahu, bapak tidak akan terkejut melihat pemandangan di dalam kamar Non Icha tadi,"sahut sang pria paruh baya kembali teringat pakaian yang berceceran dimana-mana di dalam kamar Icha tadi.
__ADS_1
...🌸❤️🌸...
To be continued