Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
108. Anting


__ADS_3

Di perusahaan Bramantyo.


"Sayang, aku ingin mengajak mu makan siang di sebuah restoran bersama klien kita. Dia katanya mau membawa istrinya, jadi nggak enak dong, kalau aku sendirian. Aku nggak mau jadi obat nyamuk untuk mereka,"ucap Alva seraya menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


"Oke, nggak masalah,"ucap Disha seraya menyusun kan berkas di lemari.


"Satu jam lagi kita berangkat,"ucap Alva menoleh pada istrinya.


"Oke, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu,"ucap Disha kemudian keluar dari ruangan Alva.


Satu jam kemudian Alva dan Disha pun pergi ke restoran tempat mereka janjian dengan klien mereka. Setelah makan dan membicarakan tentang perkejaan, mereka pun keluar dari private room di restoran itu.


"Sayang, kamu duluan ya, masuk mobil? Aku mau ke toilet dulu,"ucap Alva sambil mengelus kepala Disha.


"Iya,"sahut Disha kemudian berjalan keluar dari restoran itu, sedangkan Alva menuju toilet.


Saat Disha berada di pintu masuk restoran itu tiba-tiba seseorang yang berlari keluar dari restoran itu menabrak bahu Disha hingga Disha terhuyung dan berakhir jatuh ke dalam pelukan seorang pria yang akan masuk ke dalam restoran itu.


Kepada Disha membentur dada pria itu, dan pria itu pun spontan memegang kedua bahu Disha.


"Maaf!"ucap Disha, segera melepaskan diri dari pria itu, takut Alva melihatnya dipegang oleh pria lain dan jadi salah paham.


"Tidak apa-apa!"ucap pria yang menolong Disha.


"Permisi,"ucap Disha langsung berjalan meninggalkan laki-laki itu.


Pria itu merapikan jas yang dipakai sambil menatap Disha hingga tangannya menemukan sesuatu yang tidak semestinya menyangkut di jasnya.


"Anting?!"gumam nya dan matanya langsung mencari keberadaan Disha.


"Tunggu Nona!"ucap pria itu ingin mengejar Disha.


"Tuan ,Radeva!" panggil seorang pria menghentikan niat Radeva untuk mengejar Disha.


"Senang sekali bertemu dengan anda disini,"ucap seorang pria paruh baya.


"Saya juga merasa senang bertemu anda di sini,"ucap Radeva.


"Mampir ke rumah saya, Tuan. Rumah saya tidak jauh dari sini,"ucap pria paruh baya itu.


"Oh iya Tuan, lain waktu saya akan mampir ke rumah anda,"jawab Radeva.


"Kak, ayo cepetan! Sudah ditunggu dari tadi, ternyata masih di sini! Udah laper nich!"ucap seorang gadis menghampiri pria yang bernama Radeva itu.


Radeva menatap sekilas gadis yang memanggil nya itu kemudian kembali menatap pria paruh baya di depannya.


"Maaf Tuan, saya permisi dulu,"ucap Radeva pada pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Oh, silahkan, Tuan!"sahut pria paruh baya itu.


"Ayo kak, lama banget sich!"protes si gadis.


"Sabar, Sha,"ucap Radeva pada gadis yang tak lain adalah Trisha.


Setelah duduk di tempat yang Trisha pesan sebelumnya, mereka berdua pun memesan makanan. Radeva yang dari tadi menggenggam anting Disha pun berniat menaruh anting itu di dompetnya.


"Kak, apa itu? " tanya Trisha saat melihat Radeva ingin memasukkan anting itu ke dalam dompetnya.


"Ini anting gadis yang menabrak kakak di pintu masuk restoran tadi. Ternyata antingnya nyangkut di jas kakak,"ucap Radeva menatap anting di tangannya.


"Coba lihat,"ucap Trisha mengulurkan tangannya pada Radeva dan Radeva pun memberikan anting itu pada Trisha.


"Cantik sekali antingnya, kak,"ucap Trish seraya menatap anting di tangannya. Anting yang terlihat simpel tapi elegan.


"Orang yang memakainya juga cantik,"ucap Radeva sambil mengingat wajah Disha.


"Kakak menyukainya?"tanya Trisha penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh kakaknya.


"Iya, entah kenapa baru sekali bertemu aku langsung menyukainya,"sahut Radeva jujur.


"Aku juga kak. Waktu aku baru datang ke sini aku juga bertemu seorang pria yang mampu menggetarkan hati ku dan aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama,"ucap Trisha berbunga-bunga.


"Oh ya? Apa dia tampan?"tanya Radeva.


"Sangat tampan,"sahut Trisha.


"Emm...sama tampannya,"ucap Trisha sambil tersenyum.


"Kakak jadi penasaran dengan pria yang kamu suka,"ucap Radeva.


"Aku juga penasaran dengan gadis yang kakak suka itu,"balas Trisha.


"Kakak tidak tahu siapa gadis itu,"ucap Radeva menghembuskan nafas kasar," Laki-laki yang kamu suka...apa kamu tahu siapa nama dan tempat tinggal nya di mana?" tanya Radeva.


"Tentu saja, bahkan aku pernah datang ke kantornya. Dia adalah anak dari teman lama mama,"sahut Trisha.


"Kakak jadi penasaran,"ucap Radeva.


"Dia punya resort yang bagus, nanti aku ingin mengadakan acara ulang tahun ku di sana, sekalian ngundang dia,"ucap Trisha antusias.


"Oke, kakak akan mengundang beberapa klien kita yang ada di negara ini biar acara ulang tahun kamu ramai,"ucap Radeva.


***


Di perusahaan Bramantyo Group.

__ADS_1


"Sayang, kok anting ku nggak ada, ya?" ucap Disha yang merasa kehilangan sebelah antingnya.


"Anting kamu hilang?"tanya Alva menatap telinga Disha yang hanya memakai sebelah anting.


"Iya, sayang. Aku tidak tahu jatuh dimana anting-anting ku,"ucap Disha lesu mendekat kearah Alva yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Ya sudah, mau gimana lagi kalau sudah hilang,"ucap Alva santai.


"Tapi itu kan kamu yang membelikan, sayang,"ucap Disha tidak enak hati.


"Nggak apa-apa. Nanti aku belikan yang baru dan yang lebih bagus lagi,"ucap Alva kemudian menarik Disha yang sudah berdiri disampingnya agar duduk di pangkuannya.


"Maaf, ya?! Aku telah menghilangkan anting pemberian mu!"ucap Disha mendongak menatap suaminya yang lebih tinggi darinya.


"Aku maafkan, jika kamu meminta maaf dengan benar,"ucap Alva dengan senyum misterius.


Disha memicingkan matanya menatap Alva,"Jangan macam-macam! Ini di kantor!"ucap Disha yang bisa menebak ke arah mana pembicaraan Alva.


"Memangnya aku mau apa?"tanya Alva masih dengan senyum misteriusnya.


"Nggak... nggak apa-apa,"ucap Disha seraya berusaha turun dari pangkuan Alva.


"Mau kemana hemm?"tanya Alva seraya menahan pinggang Disha agar tetap duduk di pangkuannya.


"Mau kerja, ini kan di kantor?!"ucap Disha kembali berusaha turun dari pangkuan Alva.


"Minta maaf yang benar dulu!"ucap Alva yang sama sekali tidak mau melepaskan Disha dan malah memeluk Disha.


"Maaf sayang, karena aku telah menghilangkan anting pemberian dari mu,"ucap Disha seraya tersenyum manis.


"Tidak diterima, minta maaf yang benar!"perintah Alva semakin mengeratkan pelukannya.


Disha menghela nafas panjang, dia tahu apa yang diinginkan oleh suaminya. Agar suaminya berhenti mengganggunya, maka Disha pun berniat mencium bibir Alva sekilas. Namun saat Disha mencium Alva, Alva langsung memegang dan menekan tengkuk Disha agar bisa memperdalam ciuman mereka. Namun baru saja Alva memulai aksinya...


"Tok. !! Tok..!! Tok.!"pintu ruangan itu diketuk oleh seorang.


Dengan terpaksa Alva melepaskan tautan bibir mereka. Disha langsung turun dari pangkuan Alva, kemudian merapikan rambut dan pakaiannya yang jadi berantakan karena ulah Alva.


"Masuk!"ucap Alva dan pintu ruangan itu pun terbuka.


"Tuan, ini berkas yang anda inginkan,"ucap Riky sambil meletakkan beberapa berkas di meja Alva.


"Iya, terimakasih. Oh ya, besok pagi kita akan bertemu dengan klien baru. Kalian sudah menyiapkan proposal nya, kan?"tanya Alva menatap pada Disha dan Riky bergantian.


"Sudah, Tuan. Klien kita ini bernama Radeva,"ucap Riky.


"Kamu tidak usah ikut, sayang. Kamu handle yang disini saja,"ucap Alva.

__ADS_1


"Iya,"sahut Disha.


To be continued


__ADS_2