Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
185. Alva Pergi


__ADS_3

Setelah kembali dari toilet, Radeva melihat Disha sudah mendapatkan antrian ketiga untuk membayar barang belanjaannya. Radeva pun mendekati adiknya itu.


"Pakai ini saja, sayang!"ucap Radeva menyodorkan kartu miliknya.


"Makasih kakakku, sayang!"ucap Disha seraya tersenyum manis kepada Radeva. Ini pertama kalinya Radeva memberikan sesuatu pada Disha, dan Disha tidak ingin menolaknya karena takut membuat Radeva kecewa.


"Sama-sama, sayang!"ucap Radeva dengan senyum manis pula seraya mengacak-acak rambut Disha.


"Ish..kakak! Rambut ku jadi berantakan ini,"gerutu Disha sambil merapikan rambutnya yang diacak-acak Radeva. Sedangkan sang pelaku malah tertawa.


"Kalian ini kakak adik?"tanya ibu-ibu dibelakang Disha.


"Ah iya, Bu,"sahut Disha seraya tersenyum.


"Ibu kira pasangan kekasih. Habisnya kelihatan mesra, sich! Mana kakaknya manggilnya sayang, lagi. Jangan-jangan brother kompleks,"celetuk ibu itu sambil nyengir.


"Ibu bisa saja. Suaminya cemburuan, Bu," celetuk Radeva sambil tersenyum.


"Oh, udah punya suami?"sahut ibu itu.


"Sudah Bu, malah sudah punya anak,"sahut Disha


Pembicaraan mereka pun terhenti saat Disha sudah mendapatkan giliran untuk membayar barang belanjaannya.


"Kak, ini kartunya,"ucap Disha setelah mereka berada di dalam mobil. Disha menyulurkan kartu yang diberikan Radeva tadi.


"Kamu simpan saja. Itu untuk kamu. Kakak tahu, kamu tidak kekurangan uang, tapi selama ini kamu belum pernah mendapatkan apapun dari kami. Dan jangan pernah sungkan untuk meminta apapun dari kami,"ucap Radeva seraya mengelus kepala Disha.


"Aku tidak butuh apa-apa lagi, kak. Aku sudah sangat bahagia bisa bertemu dengan kalian,"ucap Disha dengan senyum di bibirnya dan di balas Radeva dengan mengelus kepala Disha.


Karena tidak ada keperluan lain lagi, mereka pun langsung pulang. Setengah jam kemudian mereka pun telah memasuki kediaman Bramantyo.


"Sudah, kamu masuk saja, sayang! Biar kakak yang membawa barang belanjaan nya,"ucap Radeva saat Disha akan membawa barang belanjaan nya.


"Makasih, kak!"sahut Disha tersenyum manis kemudian berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Radeva di bantu beberapa Art untuk memasukkan barang belanjaan Disha.


Disha segera naik ke lantai dua, menuju kamarnya untuk meletakkan Sling bag yang dipakainya. Namun saat masuk ke dalam kamar, Disha melihat Alva sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.

__ADS_1


"Kamu baru pulang, sayang?"tanya Alva saat melihat Disha masuk ke dalam kamar itu.


"Iya. Biar aku bantu mengemasnya,"tawar Disha.


"Nggak usah, sayang. Ini sudah mau selesai, kok,"ucap Alva masih fokus pada kopernya.


Biasanya, Alva selalu meminta Disha untuk mengemasi kopernya, jika Alva hendak bepergian. Namun entah mengapa kali ini Alva tidak meminta bantuan dari Disha.


"Kau akan pergi lama?"tanya Disha seraya meletakkan Sling bag nya, kemudian berjalan mendekati Alva yang baru saja selesai mengemasi pakaiannya ke dalam koper.


"Aku tidak tahu pastinya. Tapi mungkin sekitar seminggu,"ucap Alva tanpa menatap Disha dan malah berjalan ke arah pintu.


'Kau mau kemana?"tanya Disha membuat Alva yang sudah memegang handle pintu itu berhenti.


"Aku akan ke ruang kerjaku. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum aku pergi,"sahut Alva menoleh sebentar ke arah Disha kemudian keluar dari kamar itu.


"Apa dia tidak rindu memelukku? Sudah tiga hari dia sama sekali tidak menyentuh ku. Apa dia tidak mau membujukku agar aku mau di peluk? Dasar tidak peka!" umpat Disha seraya memukuli bantal yang tidak bersalah.


Disha tidak sadar diri, jika dirinya lah yang memberi Alva hukuman agar tidak menyentuh dirinya.Namun nampaknya dia yang malah gelisah karena tidak mendapat pelukan dari Alva. Tiga malam ini Disha tidak dapat tidur nyenyak dan sering terbangun di malam hari, karena tidak ada Alva yang mendekap tubuhnya. Bahkan Alva memilih tidur di sofa ruang kerjanya dari pada tidur di kamar mereka.


Sedangkan Alva yang berada di ruangan kerjanya, ternyata tidak mengerjakan apapun. Alva hanya menyandarkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya, sesekali menghela nafas kasar.


Malam hari selesai makan malam, Alva pun bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Alva masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kopernya. Ditatapnya Disha yang sedang duduk di kursi meja riasnya. Ingin rasanya dia memeluk dan mencium bibir wanita itu. Wanita yang selama ini sudah membuatnya tergila-gila. Namun dia ingat jika dirinya sedang menjalani masa hukuman.


"Sayang, aku akan berangkat sekarang," ucap Alva tanpa mau mendekati istrinya, takut jika dia tidak bisa mengontrol diri untuk memeluk dan mencium wanita yang telah melahirkan seorang anak yang lucu dan menggemaskan untuknya itu.


"Iya,"ucap Disha tanpa menoleh pada Alva. Dan Alva pun melangkah meninggalkan kamarnya dengan dada yang terasa sesak karena istrinya sama sekali tidak menoleh apalagi menghampirinya saat dia berpamitan.


Sedangkan Disha merasa kecewa karena Alva berpamitan padanya tanpa mau mendekati dirinya. Karena itulah Disha sama sekali tidak mau menoleh pada Alva. Perlahan air matanya jatuh begitu saja setelah Alva keluar dari kamar mereka. Entah kenapa hatinya merasa begitu sedih saat Alva pergi tanpa mau mendekatinya, apalagi memeluk dan menciumnya. Tapi bukankah ini yang dia perintahkan pada Alva?


"Al, kamu akan ke bandara, kan?"tanya Radeva yang sedang menggendong Kaivan.


"Iya,"sahut Alva sambil menghampiri Radeva.


"Papa pergi dulu, ya sayang! Jangan nakal ya!"ucap Alva mengambil alih Kaivan dari Radeva dan menciuminya.


"Papa!"ucap Kaivan yang sudah bisa bicara walaupun kadang masih kurang jelas dalam mengucapkan beberapa kata. Kaivan memeluk leher Alva erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher papanya. Alva pun mengelus punggung putra pertamanya itu.

__ADS_1


"Biar aku antar ke bandara, Al. Sekalian aku mau pulang,"tawar Radeva seraya melihat ke arah tangga tapi tidak melihat adiknya keluar dari kamar untuk mengantarkan kepergian suaminya.


"Oke,"sahut Alva.


"Bik Inah, tolong bawa Kaivan ke kamarnya,"titah Alva menoleh pada Bik Inah.


"Iya, Tuan,"sahut Bik Inah.


"Sama Bik Inah ya, sayang?!"ucap Alva kemudian mencium Kaivan beberapa kali.


Kaivan menatap sendu papanya yang keluar dari rumah bersama pamannya, seolah tahu jika papanya akan pergi agak lama. Kemudian Bik Inah pun membawa Kaivan ke dalam kamarnya.


Alva memasukkan kopernya ke bagasi mobil Radeva, kemudian langsung masuk ke dalam mobil di bangku sebelah kemudi. Radeva nampak sudah siap di belakang kemudiannya.


"Kamu ada masalah dengan Disha, Al?" tanya Radeva melirik Alva sekilas, setelah mobilnya melaju meninggalkan kediaman Bramantyo.


"Tidak,"sahut Alva datar dengan mata menatap lurus ke arah jalan.


"Jangan bohong! Kalau kalian tidak ada masalah, dia pasti keluar dari kamar untuk mengantarkan kamu pergi. Walaupun tidak ke bandara, setidaknya di depan rumah tadi,"sambar Radeva.


Alva menghela nafas panjang, menatap Radeva sekilas,"Dia sedang menghukum ku,"cetus Alva.


"Menghukum mu? Memangnya kamu melakukan apa sampai-sampai adikku menghukum mu?"tanya Radeva kembali melirik Alva sekilas.


"Kau ingat perempuan yang berdebat dengan Disha di restoran waktu itu?"tanya Alva menatap Radeva sekilas.


"Yang ingin menampar Disha?"tanya Radeva dengan mata fokus ke jalanan.


"Iya,"sahut Alva singkat.


"Memangnya kenapa dengan perempuan itu?"tanya Radeva menghentikan laju mobilnya karena traffic light menunjukkan warna merah.


"Disha melihat perempuan itu memelukku. Dan sebagai hukuman atas kesalahan ku karena membiarkan perempuan itu memelukku, aku dihukum Disha tidak boleh menyentuh nya sama sekali selama satu bulan,"ucap Alva dengan wajah tanpa semangat namun langsung membuat tawa Radeva meledak.


"Kasihan sekali kamu!"ucap Radeva di sela-sela tawanya.


"Sialan kau!!"umpat Alva yang merasa bercerita pada orang yang salah.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2