Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
160. Meminta Warisan


__ADS_3

Mahendra, Ghina dan Radeva duduk di ruang tamu apartemen yang disewa oleh Radeva.Mereka bertiga bahkan sudah selesai makan malam, tapi Trisha belum juga pulang.


"Kemana Trisha? Kenapa jam segini belum juga pulang?"gerutu Mahendra.


"Menurut orang suruhan ku, setelah meninggalkan Bramantyo Group, Trisha berbelanja di mall sampai sore. Setelah itu Trisha pergi ke spa melakukan berbagai macam treatment, kemudian ke salon, pa,"sahut Radeva.


"Dia pasti menghabiskan banyak uang jika sudah pergi berbelanja dan ke spa," celetuk Ghina.


"Dan setelah itu, pasti dia minta uang pada ku atau pada papa,"timpal Radeva.


"Anak itu selalu saja menghambur- hamburkan uang,"gerutu Mahendra.


"Apakah putri kita hidup dengan layak?" celetuk Ghina tiba-tiba yang membuat Radeva dan Mahendra ikut merasa sedih.


Radeva mengingat bagaimana dia dan pengasuhnya keluar dari kebakaran itu dan bersembunyi dari orang-orang yang melenyapkan siapa saja yang keluar dari villa itu.


"Kita doakan saja, ma. Jika dia masih hidup, semoga dia hidup bahagia dan kita segera menemukan dia,"ucap Mahendra.


"Kenapa para perampok itu sampai harus melenyapkan seluruh penghuni villa, pa?" tanya Ghina.


"Papa juga tidak tahu. Semua penjaga dirumah kita dilenyapkan dengan sadis. Bahkan para pelayan yang berusaha melarikan diri pun dilenyapkan oleh mereka. Radeva beruntung karena pengasuhnya berhasil menyelamatkan Radeva dari kebakaran dan dari para perampok itu karena Radeva menunjukkan pintu keluar rahasia di villa kita itu,"sahut Mahendra.


"Mama berharap dia masih hidup, pa," sahut Ghina.


"Semoga saja, ma,"ucap Mahendra mengelus punggung wanita yang sudah menemaninya selama 33 tahun itu seraya menghela nafas panjang.


"Semua surat menyurat untuk pernikahan Trisha sudah diurus kan, Dev?"tanya Mahendra mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, pa. Besok mereka tinggal datang ke kantor catatan sipil untuk menandatangani semua berkas untuk pernikahan.Setelah itu mereka akan resmi menjadi sepasang suami-istri,"sahut Radeva.


"Baguslah kalau semuanya sudah beres," ucap Mahendra.


"Pa, soal rencana pernikahan di atas kertas itu, apa tidak sebaiknya papa batalkan?"tanya Radeva hati-hati.


"Kenapa, Dev? Apa kamu punya pemikiran lain soal pernikahan Trisha ini?"tanya Mahendra.

__ADS_1


"Iya, pa. Menurut aku, biarkan saja pernikahan Trisha ini menjadi pernikahan biasa seperti pada umumnya. Mereka berdua sama-sama melakukan hal yang membuat orang tua mereka susah bahkan marah. Biarkan mereka hidup dan tinggal bersama agar mereka belajar menghargai uang dan juga menghargai orang lain,"


"Selama ini mereka sama-sama sombong dengan harta yang dimiliki oleh orang tua mereka yang kenyataannya bukan orang tua kandung mereka. Mereka sama-sama hanya anak angkat. Jadi biarkan mereka merasakan bagaimana susahnya berjuang mencari uang untuk hidup mandiri,"


"Selama ini mereka selalu bergelimang harta dan itu malah membuat mereka sombong, berbuat semau mereka dan tidak mau menghargai serta menghormati orang lain,"ujar Radeva panjang lebar.


"Iya, papa rasa kamu benar, Dev. Papa sebaiknya mengubah keputusan papa itu. Sepertinya kita juga harus mengikuti cara Tuan Darmawan dalam mendidik Hery. Mereka berdua harus merasakan bagaimana susahnya mencari uang agar mereka bisa menghargai uang,"timpal Mahendra.


"Mama tidak menyangka mereka sama- sama anak angkat yang sombong dan suka menghamburkan uang.Anak yang susah dididik dan diatur. Mereka juga sama-sama ingin merebut pasangan orang lain. Teryata kata pepatah yang mengatakan jodoh kita adalah cerminan dari diri kita itu adalah benar,"sahut Ghina.


"Mama benar,"sahut Mahendra dan Radeva bersamaan.


Pandangan ketiga orang itu pun beralih ke pintu masuk saat mendengar ada yang memencet kode akses masuk. Sudah bisa dipastikan bahwa yang akan masuk ke unit apartemen itu adalah Trisha. Dan benar saja, Trisha masuk dengan membawa banyak barang belanjaan.


"Ma, pa, kakak? Kalian semua berkumpul disini untuk menunggu aku pulang?"tanya Trisha dengan wajah yang nampak bahagia menghampiri ketiga orang itu.


"Trisha, tadi kakak sudah mengurus semua surat-surat untuk pernikahan mu. Besok kamu akan menikah dengan Hery secara resmi,"ucap Radeva membuat wajah Trisha yang tadinya bersinar menjadi mendung.


"Bisakah aku tidak menikah dengan Hery?"tanya Trisha seraya meletakkan semua barang belanjaannya lalu duduk di salah satu sofa.


"Papa dan kakak kompak sekali,"cetus Trisha,"Gimana kalau nunggu sampai satu bulan dulu, pa? Kalau aku hamil aku bakalan nikah sama Hery, tapi kalau nggak, aku nggak usah nikah. Ya, pa?! Please!!"mohon Trisha.


"Keputusan papa tidak akan berubah meskipun kamu memohon. Kali ini kamu harus belajar mempertanggung jawabkan perbuatan mu,"ucap Mahendra tegas.


"Tapi ini semua karena Kak Alva,.pa?"kilah Trisha.


"Jangan selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padamu. Kamu yang memulai semua ini. Menganggu kebahagiaan orang lain,"ketus Radeva.


"Kenapa semakin lama kakak semakin ketus padaku, sich? Apa kakak patah hati karena Disha sudah menikah dengan kak Alva? Sudah aku bilang, kita bisa memisahkan mereka, kakak bersama Disha dan aku bersama kak Alva,"cerocos Trisha.


"Cukup Trisha!! Kakak sudah muak dengan mu. Kakak sudah capek membereskan semua masalah yang kamu buat. Mulai besok kamu akan menjadi istri Hery dan dia yang akan bertanggung jawab atas hidup mu. Kami akan menyerahkan seluruh tanggung jawab atas dirimu pada Hery,"ujar Radeva.


"Kakak mu benar, mulai besok kamu bukan tanggung jawab kami lagi,"sahut Mahendra.


"Belajarlah menjadi istri yang baik untuk suamimu nanti. Buang sifat manja dan boros mu itu,"imbuh Ghina.

__ADS_1


"Tapi mama dan papa akan tetap memberikan aku uang bulanan kan?" tanya Trisha.


"Tidak!"jawab Mahendra tegas.


'Loh..kok enggak sich, pa? Aku dengar Hery itu bukan anak kandung Tuan Darmawan, Hery hanya keponakan Tuan Darmawan. Dia juga tidak lagi menjadi CEO dan hanya karyawan biasa yang bekerja di divisi umum. Lalu bagaimana dia bisa mencukupi semua kebutuhan ku, pa?!" keluh Trisha.


"Bukankah papa memberikan kamu uang bulanan yang banyak, bahkan Radeva juga sering memberimu uang. Masa sudah habis semua?!"ujar Mahendra.


"Semua uang yang papa dan kakak berikan itu pas-pasan untuk kebutuhan ku, pa,"sahut Trisha.


"Mama kan sudah bilang, kamu harus menabung untuk masa depan mu dan jangan menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting,"sahut Ghina yang dari tadi diam.


"Uang papa, mama, dan kakak kan banyak, buat apa kalau tidak untuk di belanjakan?"celetuk Trisha.


"Sudah lah, ma! Percuma menasehati Trisha,"tukas Radeva.


"Jika kalian tidak lagi memberikan uang bulanan lagi kepada ku, aku minta warisan ku sekarang. Kami hanya dua bersaudara, jadi papa harus membagi kekayaan papa secara adil dengan membaginya menjadi dua,"ucap Trisha dengan entengnya.


"Papa dan mama masih hidup dan kamu sudah meminta warisan?"tanya Radeva tidak percaya.


"Memangnya kenapa jika aku meminta warisan bagian ku? Apa kalian tega melihat aku hidup serba kekurangan dengan Hery?"tanya Trisha dengan yang membuat Mahendra, Ghina dan Radeva menarik nafas panjang.


"Sebenarnya papa ingin kalian belajar menghargai uang dan juga menghargai orang lain. Berusaha menghidupi diri kalian sendiri dengan usaha kalian sendiri. Namun jika kamu ingin meminta bagian kamu sekarang, maka papa akan memberikannya,"ujar Mahendra.


"Nah, gitu dong, pa!"sahut Trisha dengan wajah yang berbinar.


"Papa akan memberikan bagian mu, dan setelah itu, papa tidak akan memberikan apapun lagi padamu dan sejak saat itu pula, kamu bukan lagi tanggungan papa, mama, atau pun kakak kamu,"ujar Mahendra.


"Oke, jadi apa saja bagian ku?"tanya Trisha antusias.


...🌟"Terkadang kita baru bisa menghargai sesuatu, saat sesuatu itu sangat sulit untuk kita dapatkan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


Like, coment, hadiah dan vote-nya ya, kak! Biar dibongkar siapa Trisha. Terimakasiih! 🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


To be continued


__ADS_2