Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
179. Cari Jodoh


__ADS_3

Di apartemen Radeva.


Keluarga Mahendra akan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Bramantyo. Mereka akan makan malam bersama dengan keluarga Bramantyo. Semenjak mereka mengetahui bahwa Disha adalah putri Mahendra, hubungan keluarga Mahendra dan Bramantyo pun semakin dekat.


"Apa sudah siap semua?"tanya Mahendra menatap semua orang yang sudah berkumpul di ruang tamu.


"Sudah, pa. Ini Bik Anah tadinya ingin ikut, tapi nggak jadi karena sedang tidak enak badan," sahut Ghina.


"Sebenarnya saya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nona Muda. Tapi dengan keadaan saya seperti ini, saya tidak mungkin ikut. Saya tidak mau menularkan penyakit saya, apalagi ada Tuan Muda kecil,"ucap Bik Anah dengan wajah yang nampak sedih tidak bisa ikut karena sedang flu.


"Ya sudah, nggak apa-apa, An. Kamu bisa bertemu dengan Disha lain kali,"ujar Ghina.


"Oke, kita berangkat sekarang,", ucap Radeva.


"Sebentar, Dev. Ada yang menelpon,"ucap Mahendra kemudian merogoh handphone nya yang bergetar dari dalam saku celananya.


"Halo!"ucap Mahendra menempel benda pipih itu ditelinga nya.


"Hen, apa benar kalian akan pindah ke negara asal kita?"tanya suara di ujung telepon.


"Iya, kami akan kembali menetap di negara asal kita,"sahut Mahendra.


"Bagaimana dengan perusahaan kamu yang ada di sini?"


"Aku menyuruh Radeva untuk memindahkan perusahaan induk kembali ke negara ini,"sahut Mahendra.


"Bagaimana jika perusahaan kamu yang ada di sini aku dan putraku yang memegangnya? Kami kan keluarga mu, masa iya kami hanya kamu beri posisi yang rendah di perusahaan kamu?!"


"Bukan masalah keluarga apa bukan, tapi masalah kemampuan. Kami sudah menyerahkan perusahaan kami yang ada di sana pada orang kepercayaan kami, yang kami anggap mampu menghandle nya, "sahut Mahendra nampak malas meladeni penelpon itu.


"Jadi kamu tidak percaya pada kemampuan kami? Masa kamu lebih percaya pada orang lain dari pada pada adik dan keponakan mu sendiri?"


"Sayangnya aku memang lebih percaya pada mereka dari pada kamu. Maaf, aku harus pergi. Kita sambung di lain waktu saja,"ucap Mahendra kemudian menutup telponnya.


"Shitt.!!! Susah sekali mendapatkan harta Mahendra. Haruskah aku lenyap kan mereka semua agar aku bisa memiliki harta nya?!"ucap seorang pria yang baru saja menelpon Mahendra yang sekarang berada di negara yang berbeda dengan negara tempat Mahendra berada saat ini.


"Siapa, pa?"tanya Ghina pada Mahendra.

__ADS_1


"Nalendra,"jawab Mahendra.


"Apa paman meminta posisi yang lebih tinggi di perusahaan kita?"tanya Radeva yang sudah menebak keinginan pamannya itu.


"Iya. Pamanmu ingin memegang perusahaan kita yang ada di sana,"sahut Mahendra menghela nafas panjang.


"Apa paman ingin menguasai harta yang kita miliki? Selama ini aku merasa Paman dan Nando selalu berusaha mencari celah untuk mengambil harta kita,"ujar Radeva.


"Semenjak usaha mereka hancur 27 tahun yang lalu, papa sudah dua kali memberinya modal, tapi tidak ada hasil. Papa beri kepercayaan untuk memegang salah satu perusahaan kita, namun perusahaan kita malah tidak ada peningkatannya di bawah kepemimpinan paman mu. Malah perusahaan yang papa percayakan kepada paman mu nyaris gulung tikar karena paman mu itu," ujar Mahendra.


"Sudah lah, pa! Tidak usah membahas mereka, lebih baik kita segera pergi ke rumah Bramantyo untuk makan malam bersama,"tukas Ghina.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!"ajak Mahendra.


"Bik, kami tinggal, ya?!"pamit Ghina.


"Iya, Nyah. Hati-hati di jalan,"ucap Bik Anah.


Akhirnya keluarga Mahendra pun pergi ke rumah keluarga Bramantyo. Nampak kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka semua. Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di kediaman keluarga Bramantyo.


"Kalian sudah datang? Ayo masuk!"ajak Bramantyo yang membukakan pintu.


"Tadi bersama dengan Disha di ruang bermain Kaivan,"sahut Bramantyo.


Mendengar hal itu, Radeva pun bergegas ke ruang bermain yang penuh dengan mainan untuk bayi seusia Kaivan. Dan bibirnya langsung melengkung ke atas saat melihat Disha sedang menemani Kaivan bermain.


"Jagoan Om!"seru Radeva yang membuat Disha dan Kaivan yang sedang duduk di karpet bulu menoleh ke arah Radeva. Kaivan pun tersenyum melihat Om nya itu, dan merangkak menghampiri Radeva. Radeva pun langsung menggendong dan menciumi keponakan satu-satunya itu.


"Mama dan papa mana, kak?"tanya Disha.


"Ada di ruangan keluarga,"sahut Radeva yang langsung duduk di dekat Disha dan mengecup kening Disha sekilas, sedangkan Kaivan duduk di depan Radeva kembali bermain ditemani Radeva.


"Kakak sudah pantas punya anak,"celetuk Disha.


"Gimana mau punya anak, jodoh aja belum ketemu,"sahut Radeva tersenyum tipis sambil menemani Kaivan bermain.


"Standard Kakak dalam mencari jodoh terlalu tinggi kali,"celetuk Disha.

__ADS_1


"Enggak lah. Kakak belum ketemu yang cocok aja. Apa kamu punya teman atau kenalan yang kira-kira bisa kakak jadikan istri? Kakak nggak mau pacaran terlalu lama. Umur kakak sudah matang untuk berkeluarga,"ujar Radeva.


"Sebentar lagi busuk kalau nggak laku juga,"celetuk Alva yang tiba-tiba muncul dan duduk menyela diantara Disha dan Radeva kemudian mengecup bibir Disha sekilas.


"Sayang.!!"seru Disha menghela nafas panjang.


"Issh.. tidak bisakah bicara mu itu lebih sopan sedikit pada kakak ipar mu ini? Aku pecat jadi adik ipar baru tahu rasa kau nanti,"ancam Radeva.


"Jangan menjadikan alasan sebagai seorang kakak kamu nempel-nempel sama istri aku,"ketus Alva.


"Issh..dasar posesif! Aku cuma duduk di dekat adikku saja, masa tidak boleh?" protes Radeva.


"Kamu tidak hanya duduk di dekat istri ku saja, tapi kamu juga mencium istriku!" ketus Alva yang melihat Radeva mencium kening Disha dari cctv yang ada di dalam ruangan kerjanya. Karena itu, Alva segera menghentikan pekerjaannya dan meninggalkan ruangan kerjanya untuk menghampiri istrinya.


"Issh..aku hanya mencium keningnya, dasar pelit!"protes Radeva.


"Dasar perjaka tua,"balas Alva tidak mau kalah.


"Ish, kalian ini nggak bisa akur apa kalau ketemu,"sergah Disha yang merasa kesal karena suami dan kakak nya selalu ribut seperti Tom and Jerry.


"Mangkanya suruh kakak mu ini untuk menikah. Biar dia nyium istrinya dan nggak nyium kamu lagi,"ketus Alva.


"Ini aku lagi minta cariin jodoh sama Disha, kamu nya aja yang menggangu," ketus Radeva dalam hati tertawa. Sebenarnya Radeva tidak membenci Alva. Radeva memang sengaja membuat Alva cemburu, karena Radeva sangat suka saat melihat Alva sedang cemburu pada adiknya.


"Sayang, carikan kakakmu itu jodoh agar tidak melampiaskan keinginan nya untuk mencium seorang gadis kepada mu,"ucap Alva membuat Radeva mengulum senyum karena kebucinan adik iparnya itu.


"Ada sich temanku, sahabat ku tepatnya. Dia juga sedang cari jodoh dan pengen cepat-cepat menikah. Tapi mantannya bejibun gara-gara bapaknya galak, jadi nggak ada yang betah pacaran sama dia," sahut Disha yang teringat pada Icha.


"Siapa, sayang?"tanya Alva yang selalu menempel pada Disha, bahkan sekarang tangannya sudah melingkar dengan manisnya di pinggang Disha.


"Icha, sahabat aku, karyawan kita yang bekerja di divisi keuangan. Anaknya Pak Rudi, manager Pemasaran,"sahut Disha.


"Oke, beri kakak informasi tentang dia yang kamu ketahui, agar kakak bisa menyelidikinya,"sahut Radeva.


"Oke,"sahut Disha tersenyum manis pada Radeva yang sedang menemani Kaivan bermain.


"Jangan tersenyum manis pada orang lain selain aku, sayang,"ucap Alva langsung menenggelamkan kepala Disha di dada bidangnya, membuat Disha menghela nafas panjang dalam dekapan Alva, sedangkan Radeva memutar bola matanya malas.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2