Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
51. Terus Mengejar


__ADS_3

Setelah Ferdi pergi, Alva beranjak menuju kamarnya. Alva melihat Disha yang sedang duduk di depan kaca rias, namun tidak menyapa Disha dan langsung berlalu menuju kamar mandi.


"Ada apa dengannya? Kenapa diam saja dan tidak menyapa aku seperti biasanya?"gumam Disha.


Sedangkan Alva nampak berendam di dalam bathtub sambil memejamkan matanya. Hampir satu jam Alva berendam dan hal itu membuat Disha merasa aneh dengan sikap Alva.


"Al, aku tadi sudah memesan makanan, pakai lah bajumu! Aku tunggu di meja makan,"ucap Disha sambil menyodorkan baju kepada Alva.


"Hemm,"sahut Alva hanya berdehem membuat Disha semakin merasa penasaran dengan sikap Alva yang tiba-tiba berubah. Selama mereka menikah Alva tidak pernah bersikap seperti itu.


Setelah makan malam, Alva langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Tidak ada pembicaraan apapun antara Disha dengan Alva, membuat Disha bingung dengan sikap Alva.


"Ada apa dengan Alva? Apa aku membuat kesalahan? Tapi aku merasa tidak membuat kesalahan apapun,"gumam Disha berusaha mengingat kesalahan apa yang diperbuatnya hingga Alva mendiamkannya.


Sudah dua jam sejak mereka makan malam tapi Alva belum juga menyusul Disha ke dalam kamar, membuat Disha semakin gelisah.


"Auw... kenapa perutku tiba-tiba terasa kram?"gumam Disha meringis menahan sakit di perutnya.


"Kamu kenapa?"tanya Alva yang tiba-tiba masuk dan terkejut saat melihat Disha meringis menahan sakit di perutnya.


Alva meletakkan segelas susu yang dibawanya di atas nakas, kemudian duduk di sebelah Disha.


"Kamu kenapa, sayang?"tanya Alva lagi, dengan wajah yang sangat khawatir.


"Perutku kram, Al,"sahut Disha dengan suara lirih.


"Berbaringlah.!"ucap Alva kemudian membantu Disha berbaring. Alva kemudian mengusap perut Disha dengan lembut hingga Disha merasa lebih baik.


"Kita ke dokter saja, ya?!"ucap Alva.


"Tidak perlu, Al. Sekarang sudah mendingan, kok. Mungkin karena mau datang bulan,"sahut Disha yang membuat raut wajah Alva yang semula khawatir menjadi masam.


"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐫𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐭𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐬𝐮𝐫 𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐬𝐚𝐩-𝐮𝐬𝐚𝐩𝐧𝐲𝐚? 𝐃𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐫𝐚𝐮𝐭 𝐰𝐚𝐣𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐥𝐚 𝐤𝐡𝐚𝐰𝐚𝐭𝐢𝐫 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐦 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐭𝐤𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 ? 𝐀𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐚𝐧𝐚𝐤?"batin Disha.


"Minum susu dulu, ya?!"ucap Alva saat melihat Disha sudah agak rileks.


"Iya,"sahut Disha menurut.


Setelah meletakkan gelas yang sudah kosong dan atas nakas, Alva melepaskan bajunya dan hanya menyisakan boxer nya seperti biasa. Alva kemudian berbaring di sebelah Disha.


"Kemari lah.!"ucap Alva merengkuh Disha ke dalam pelukannya.


"Al, apa aku membuat kesalahan?"tanya Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva seraya mengelus rahang kokoh Alva.


"Tidak," ucap Alva menatap balik wajah Disha kemudian mengecup bibir ranum Disha beberapa saat.


"Lalu kenapa sejak sore tadi kamu diam saja?"tanya Disha sambil meraba-raba dada bidang Alva .


"Tidak apa-apa,"ucap Alva seraya memejamkan matanya, jantungnya berdetak lebih kencang dan tubuhnya terasa meremang karena sentuhan Disha.


"Kamu pasti bohong, tidak biasanya kamu diam seperti tadi," ucap Disha yang sekarang tangannya malah sudah meraba perut Alva.

__ADS_1


"Sudah, tidurlah, atau kamu ingin aku menerkam mu?"ucap Alva menatap Disha dengan senyum smirk sambil mengusap bibir Disha dengan ibu jarinya.


"Aku mau tidur,"sahut Disha langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alva.


"Apa kamu lelah?"tanya Alva sambil membelai rambut hitam Disha.


'"Kenapa memangnya?"tanya Disha masih setia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kamu telah membuatnya bangun, aku tidak akan bisa tidur jika kamu tidak mau menidurkannya,"ucap Alva sambil menggesekkan benda pusaka nya yang sudah mengeras tepat di daerah inti Disha membuat mata Disha membulat sempurna.


"Al.!!"pekik Disha berusaha mendorong tubuh Alva tapi tidak bisa karena Alva mendekapnya erat.


"Boleh ya?!"pinta Alva dengan wajah memelas.


Disha hanya bisa menghela nafas, merasakan milik Alva yang mengganjal di bawah sana semakin berdenyut-denyut. Akhirnya Disha pun pasrah saat Alva sudah memulai aksinya.


***


Suatu pagi di depan pintu utama perusahaan Bramantyo Group. Disha nampak keluar dari mobil yang ditumpanginya. Seorang supir dan Ferdi yang duduk di samping kursi kemudi selalu mengantar dan menjemput Disha semenjak Hery bekerja sama dengan Bramantyo Group.


"Ayu!"panggil Hery yang tiba-tiba muncul dan menarik Disha ke samping gedung itu.


"Tuan, lepaskan Bu Disha.!" teriak seorang security langsung mengejar Disha saat melihat Disha ditarik paksa oleh Hery.


"Lepaskan aku.!!"pekik Disha berusaha melepaskan cengkeraman tangan Hery.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kita bicara,"sergah Hery.


"Lepaskan Nyonya Disha, atau saya akan berbuat kasar pada anda!"ucap Ferdi yang tiba-tiba muncul dengan suara tegas dan dingin.


"Kau.!! Tidak usah ikut campur urusan orang lain!!"sergah Hery.


"Tuan, tolong lepaskan Bu Disha! Jika anda tidak melepaskannya, anda akan membuat saya kehilangan pekerjaan saya,"mohon sang security.


"Apa urusannya dengan ku?!"ketus Hery pada security itu.


"Bugh,"tanpa aba-aba Ferdi langsung mendaratkan bogem mentah di wajah Hery hingga Hery terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk.


Ferdi benar-benar tidak bisa bersabar menghadapi Hery yang begitu agresif mengejar-ngejar Disha yang notabene adalah istri dari majikannya.


Disha yang melihat Ferdi memukul wajah Hery pun langsung menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangannya dari pegangan tangan Hery yang mengendor.


"Nyonya, sebaiknya Nyonya segera masuk," ucap Ferdi menatap Disha sekilas kemudian kembali menatap Hery dengan tajam.


"Mari Bu Disha.!"ucap security tadi.


"Iya,"sahut Disha kemudian berjalan meninggalkan Hery dan Ferdi.


"Ayu..!!"teriak Hery ingin mengejar Disha tapi langsung dihadang oleh Ferdi.


"Sebaiknya anda jauhi Nyonya Disha jika anda tidak ingin berurusan dengan Tuan saya,"ucap Ferdi dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Siapa Tuan mu?"tanya Hery sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena bogeman mentah dari Ferdi.


"Itu bukan urusan anda,"sahut Ferdi langsung berjalan meninggalkan Hery.


"Hey.. tunggu.!!"teriak Hery yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Ferdi.


"Shiitt...!! Siapa sebenarnya suami Ayu,"umpat Hery.


***


"Dis!"panggil Riky saat melihat Disha yang sedang berjalan ke toilet.


"Iya, Pak,"sahut Disha menghentikan langkahnya.


"Sudah kamu periksa file yang aku kirimkan kemarin?"tanya Riky.


"Sudah Pak, saya sudah memeriksa dan merevisinya. Tadi baru saya kirim lagi ke Bapak,"sahut Disha.


"Oh ya sudah. Nanti saya lihat,"ucap Riky kemudian keduanya berjalan beriringan karena ternyata mereka sama-sama akan ke toilet.


Disha masuk ke toilet wanita dan Riky masuk ke toilet pria yang ada di sebelahnya. Disha langsung masuk ke salah satu bilik untuk menuntaskan hajatnya.


"Brakk" seorang cleaning servis dalam toilet itu tidak sengaja menabrak ember berisi air untuk mengepel hingga airnya tumpah walaupun tidak semua. Dan sebelum cleaning servis itu membersihkan air yang tumpah itu, tiba-tiba Disha keluar dari salah satu bilik di toilet itu.


"Bu, awas lantainya ba...."Cleaning servis itu tidak melanjutkan kata-katanya lagi saat....


"Ahkk....!!!"pekik Disha.


"Brugh.!!" Disha terjatuh karena terpeleset.


"Bu...!!"pekik cleaning servis itu mendekati Disha yang sedang meringis menahan sakit sambil memegang perutnya.


"Tolong, perut saya sakit sekali,"ucap Disha nampak kesakitan.


Cleaning servis itu segera berlari keluar dari toilet itu mencari pertolongan. Sambil berlari menengok ke kanan dan kiri untuk mencari orang yang bisa dimintai tolong.


"Pak Rendra... tolong... tolong Bu Disha, Pak,"ucap cleaning servis itu saat melihat Alva, dia berlari mendekati Alva dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ada apa?!"tanya Alva yang seketika menjadi panik saat cleaning servis itu menyebut nama Disha.


"Bu Disha jatuh di toilet, Pak,"sahut cleaning servis itu sambil mengatur nafasnya.


"Apa?!"


...🌟"Berhentilah mengejar seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain, jika tidak ingin harga dirimu jatuh dan di rendahkan oleh orang lain."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


.

__ADS_1


__ADS_2