Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
222. Kenapa Harus Mereka?


__ADS_3

Di kediaman Darmawan.


"Sayang, kemungkinan, lusa aku akan keluar kota,"ucap Sandy seraya berdiri di belakang Anjani yang sedang duduk di kursi meja riasnya, menatap Anjani melalui cermin yang menempel di meja rias itu.


Anjani yang sedang mengoleskan losion di lengannya pun menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap Sandy melalui cermin di depannya,"Mungkin? Maksud kakak belum tentu akan pergi ke luar kota?"tanyanya masih menatap Sandy yang juga sedang menatap nya melalui cermin.


"Hum, ada sedikit masalah dengan perusahaan cabang papa Adiguna di luar kota. Jika besok papa bisa menyelesaikan pekerjaannya yang ada disini, maka papa sendiri yang akan pergi ke luar kota. Tapi jika pekerjaan papa yang disini belum selesai, maka aku yang akan pergi ke luar kota,"sahut Sandy seraya memegang kedua pundak Anjani dari belakang.


Anjani bangkit dari duduknya kemudian berdiri menatap suaminya,"Maaf, kakak jadi sibuk dengan dua perusahaan sekaligus karena papa sering meminta tolong pada kakak,"ucap Anjani dengan wajah sendu.


"Hey, kenap jadi minta maaf seperti ini?" ucap Sandy seraya tersenyum,kemudian memeluk pinggang Anjani,"Sebelum aku bertemu dengan papa Darmawan, aku sudah menganggap papa Adiguna seperti orang tuaku sendiri. Aku sama sekali tidak keberatan jika papa meminta bantuan padaku. Apalagi sekarang putri kesayangannya sudah menjadi istri ku, aku tidak mau dipecat dari jabatan sebagai menantu, aku tidak mau menjadi duren," ujar Sandy kemudian terkekeh.


"Menjadi duren? Duda keren maksudnya?"tanya Anjani seraya mengernyitkan keningnya.


"Iya, duren sawit. Duda keren sarang duit. Banyak yang nyari, kan? Buat dijadiin suami,"sahut Sandy kemudian terkekeh.


"Narsis!"cibir Anjani mengerucutkan bibirnya kemudian mendorong dada Sandy hingga pelukan Sandy yang tidak terlalu erat itu terlepas.


Anjani berjalan menuju ranjang kemudian berbaring membelakangi sisi ranjang disebelah nya, tempat Sandy biasa berbaring. Sandy tersenyum melihat tingkah Anjani, kemudian menyusul Anjani naik ke atas ranjang dan ikut berbaring menghadap Anjani yang sedang memunggunginya.


Sandy memeluk Anjani dari belakang, kemudian berbisik di telinga Anjani,"Jangan marah! Aku cuma bercanda. Aku mencintai mu,, sangat mencintai mu,"ucap Sandy kemudian mengecup puncak kepala Anjani, namun tidak mendapatkan respon dari Anjani.


Anjani mengulum senyum mendengar kata-kata Sandy, namun tidak bisa dilihat Sandy karena posisi Anjani yang memunggungi Sandy. Perlahan sepasang suami-isteri itu pun terlelap merangkak ke alam mimpi.


Pagi harinya, Sandy dan Anjani pun turun untuk sarapan bersama. Sedangkan Hery, Trisha dan Darmawan sudah ada di meja makan itu. Anjani melayani Sandy mengambilkan makanan untuk Sandy dan Darmawan, sedangkan Trisha dan Hery mengambil makanan sendiri-sendiri. Pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi, walaupun Darmawan sudah seringkali menasehati Trisha agar melayani Hery di meja makan, seperti Anjani yang selalu melayani Sandy, tapi Trisha tidak pernah mau mendengarkan nya. Karena tidak juga didengarkan oleh Trisha, akhirnya Darmawan pun membiarkan Trisha yang tidak mau melayani Hery di meja makan.


Hery melirik Anjani yang sedang mengambilkan makanan untuk Sandy dan Darmawan. Sedangkan Hery harus mengambil makanan sendiri.

__ADS_1


"𝙇𝙞𝙝𝙖𝙩𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙞𝙣𝙞, 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙮𝙖𝙣𝙞𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙙𝙪𝙧𝙝𝙖𝙠𝙖!"gerutu Hery dalam hati, melirik sinis ke arah Trisha.


"San, mertua kamu bilang, kamu dimintai tolong untuk pergi ke luar kota. Apa ada masalah di sana?"tanya Darmawan menatap Sandy.


"Iya, pa. Papa Adiguna mencium ada beberapa orang yang bersekongkol melakukan korupsi," jawab Sandy.


"Jadi besok kamu akan ke luar kota?"tanya Darmawan lagi.


"Masih belum pasti, pa. Kalau papa Adiguna bisa menyelesaikan pekerjaannya yang ada di sini, maka papa Adiguna sendiri yang akan pergi ke luar kota,"sahut Sandy.


"Mobil kamu, harusnya kan besok diservis untuk pemeliharaan, San,"ucap Darmawan.


"Nanti saja setelah pulang dari luar kota, pa. Rasanya nggak masalah kalau di bawa ke luar kota. Nanti setelah pulang dari luar kota akan aku servis"sahut Sandy.


"Oke, terserah kamu saja,"ucap Darmawan.


"𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙚 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙠𝙤𝙩𝙖? 𝘼𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙜𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙣𝙮𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙎𝙖𝙣𝙙𝙮? 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙣𝙮𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙎𝙖𝙣𝙙𝙮 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠,"batin Hery. Otaknya yang jarang digunakan untuk berpikir yang baik-baik itu pun mulai merencanakan perbuatan jahatnya.


***


Hery nampak berdiri di balkon kamarnya sendirian, sedangkan Trisha sudah tidur dengan pulas. Langit malam nampak suram, bulan dan bintang pun tidak terlihat. Mendung yang menutupi sinar sang rembulan, membuat alam terlihat gelap. Hembusan angin di balkon kamar itu terasa begitu dingin menusuk tulang. Nampaknya sebentar lagi, hujan akan turun membasahi bumi.


"Sepertinya malam ini akan turun hujan. Aku akan merusak mobil Sandy, agar besok ketika dia pergi, dia akan mengalami kecelakaan dan tidak akan pernah kembali lagi. Kenapa tidak terpikirkan oleh ku dari dulu, ya? Seharusnya aku melakukan itu sejak lama,"gumam Hery.


Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang dan petir pun menyambar- nyambar. Alam semakin gelap seiring hujan yang turun semakin lebat. Perlahan Hery mengendap-endap keluar dari kamarnya, memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya. Hery pergi ke garasi mobil dan mulai mungutak-atik mobil Sandy.


Setelah selesai merusak mobil Sandy, Hery pun kembali ke kamarnya dengan cara yang sama, yaitu mengendap- endap. Tak lama setelah masuk ke dalam kamarnya, Hery pun membaringkan tubuhnya dengan senyum jahat yang menghiasi bibirnya.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Karena semalam tidur agak larut malam, Hery pun bangun kesiangan, dengan cepat Hery membersihkan diri. Hery mengenakan kemejanya, namun saat baru saja ingin mengancingkan kemejanya, Hery mendengar suara deru mobil. Hery segera berlari ke balkon kamarnya, bibirnya menyunggingkan senyuman jahat saat melihat mobil Sandy keluar dari pekarangan rumah mereka.


"Hari ini, tamatlah riwayat mu, Sandy.,"gumam Hery tersenyum miring seraya mengancingkan kemejanya.


Beberapa menit kemudian, Hery pun keluar dari kamarnya, namun matanya terbelalak saat melihat Sandy yang berjalan menuju ruangan kerja. Dengan langkah cepat Hery menghampiri Sandy.


"Kamu belum berangkat?"tanya Hery pada Sandy berusaha bersikap sewajarnya. Ingin tahu siapa yang mengendarai mobil Sandy yang dirusaknya.


"Tidak, aku tidak pergi ke kantor. Aku akan meeting online dengan beberapa klien,"jawab Sandy.


"Lalu siapa yang memakai mobilmu tadi?"tanya Hery nampak serius.


"Anjani dan Ruzian,"sahut Sandy.


"Apa? Kemana mereka akan pergi?"tanya Hery yang wajahnya seketika menjadi pucat pasi.


"Anjani ingin pergi ke taman kota bertemu dengan teman lamanya, kenapa?"tanya Sandy nampak heran dengan pertanyaan Hery..


Tanpa berkata apa-apa lagi, Hery langsung berlari menuju mobilnya yang ada di garasi dan bergegas menyusul Anjani.


"Shitt! Kenapa harus mereka yang mengendarai mobil itu? Sial! Sial! Sial!!"umpat Hery seraya melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Sandy nampak tertegun untuk beberapa saat, merasa ada yang aneh dengan Hery,"Ada apa dengan Hery? Kenapa wajahnya menjadi pucat pasi saat aku mengatakan yang mengendarai mobilku adalah Anjani dan Ruzian? Jangan- jangan Hery telah melakukan sesuatu," duga Sandy, kemudian langsung berlari keluar dari rumah dan segera menyusul Hery.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2