Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
44. Bekal


__ADS_3

Di sebuah private room sebuah restoran, nampak Anjani yang baru saja duduk di sebelah Adiguna. Anjani terpaksa datang memenuhi permintaan papanya jika tidak ingin papanya memblokir kartu kredit-nya dan berhenti mentransfer uang ke ATM- nya.


Walaupun akhir-akhir ini Anjani mendapatkan banyak job, tapi gaya hidupnya yang glamor, perawatan tubuh dan skin care yang sangat mahal ditambah suka berpesta bersama teman-teman nya membuat berapapun pendapatan Anjani sebagai seorang model tidak bisa mencukupi gaya hidupnya itu.


Alva hanya memberi nya uang seratus juta perbulan dan bagaimana pun Anjani membujuk serta mengancamnya, pria itu tidak pernah terpengaruh untuk memberikan uang lebih kepadanya.


Karena itu, Anjani tidak bisa menolak saat Adiguna memintanya makan malam bersama Adiguna yang pastinya akan dipertemukan dengan seorang pria pilihan Adiguna.


Pernikahan Anjani dan Alva yang tidak banyak diketahui oleh khalayak ramai atas permintaan Alva dan perlakuan Alva yang tidak pernah menganggap Anjani sebagai istrinya benar-benar membuat Adiguna sakit hati.


"Sayang, jika papa cocok dengan anak rekan bisnis papa ini, papa harap kamu mau menerima pilihan papa. Setelah itu, papa akan segera mengurus perceraian kamu dengan Alva dan menarik seluruh saham papa di Bramantyo Group,"ucap Adiguna pada Anjani.


"Tapi pa, tidak ada pria yang sesempurna Alva pa,"sahut Anjani.


"Masih banyak pria lain yang tampan, kaya dan bertubuh proposional selain Alva, sayang,"ucap Adiguna.


"Tapi selama ini belum ada pria yang papa kenalkan kepadaku yang tampannya melebihi Alva, pa,"sahut Anjani.


"Buat apa fisiknya sempurna jika dia tidak mencintai kamu, sayang? Apa ketampanan dan kesempurnaan tubuh Alva bisa membuat kamu bahagia? Tidak bukan?"skak Adiguna.


"Papa tidak mengerti perasaan ku,"ucap Anjani dengan wajah ditekuk.


"Kamu yang tidak mau mengerti papa. Papa sudah cukup bersabar dengan Alva. Alva melarikan diri di hari pernikahan kalian yang membuat papa sangat malu. Apalagi selama kalian menikah kamu bilang dia tidak pernah mau tidur seranjang dengan mu apalagi menyentuh kamu,"


"Alva bahkan sama sekali tidak pernah menggubris teguran dari papa. Sudah papa marahi dan papa ancam pun Alva sama sekali tidak berubah. Sadarlah Anjani, Alva sudah menginjak-injak harga diri kamu dan juga harga diri papa," ujar Adiguna kesal.


"Tapi aku mencintai Alva, pa,"kilah Anjani.


"Jika kamu masih kekeuh ingin bersama Alva, papa tidak akan mengakui kamu sebagai putri papa lagi,"ketus Adiguna.


"Pa .!!"pekik Anjani.


"Tok..tok..tok.."suara ketukan pintu itu membuat pembicaraan ayah dan anak itu terhenti.


"Masuk!"ucap Adiguna.


"Tuan Adiguna, maaf kami agak terlambat,"ucap Hirawan.


"Oh tidak kok Tuan, kami saja yang terlalu cepat datang,"ucap Adiguna.


"Perkenalkan, ini putra saya," ucap Hirawan menepuk pundak putranya.


"Perkenalkan nama saya Ardiya,"ucap pria tampan yang tumbuhnya tampak proposional itu mengulurkan tangannya pada Adiguna.

__ADS_1


"Saya Adiguna, dan ini putri saya, Anjani,"ucap Adiguna merangkul pundak Anjani.


"Ardiya," ucap Ardiya mengulurkan tangannya pada Anjani, menatap Anjani yang memakai mini dress tanpa lengan yang panjangnya lima jari diatas lutut dan begitu pas melekat ditubuh Anjani sehingga terlihat jelas lekuk tubuh Anjani.


"Anjani,"ucap Anjani menyambut uluran tangan Ardiya dan merasa agak risih dengan tatapan mata Ardiya.


"Mari kita duduk,"ucap Adiguna.


Akhirnya mereka pun duduk. Adiguna bersebelahan dengan Hirawan, sedangkan Anjani duduk bersebelahan dengan Ardiya. Setelah memesan makanan mereka pun mengobrol santai sampai makanan pesanan mereka datang. Mereka makan tanpa bicara, hingga hanya terdengar suara sendok dan garpu di ruangan itu.


Anjani merasa sangat risih dengan tatapan mata Ardiya yang mencuri-curi pandang menatap pahanya yang terekspos. Dress ketat yang panjangnya lima jari di atas lutut itu semakin naik mendekati pang kal paha saat Anjani duduk.


"𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐬𝐚𝐣𝐚, 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐩𝐚𝐩𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐨𝐝𝐨𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐬𝐮𝐦 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐝𝐢𝐚,"batin Anjani yang merasa tidak nyaman.


"Anjani , saya dengar kamu seorang model ya?"tanya Ardiya sambil mendekatkan kakinya ke kaki Anjani.


"Iya, ucap Anjani menjauhkan kakinya dari kaki Ardiya, sedangkan Adiguna dan Hirawan tidak melihat apa yang terjadi di bawah meja kayu itu.


"Bagaimana jika setelah ini kita jalan-jalan?"tanya Ardiya yang tiba-tiba tangannya sudah berada di atas paha Anjani yang terekspos dan merayap naik ke pang kal paha Anjani hingga...


"Plakk,"tiba-tiba Anjani bangkit dari duduknya dan langsung menampar Ardiya dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas lima jari di pipi Ardiya.


"Anjani..!!"pekik Adiguna yang terkejut dengan perbuatan Anjani.


Hirawan masih shock dengan kejadian barusan sedangkan Ardiya memegang pipinya yang memerah karena tamparan dari Anjani.


"Kamu memperlihatkan paha kamu kan untuk disentuh,"ucap Ardiya tanpa dosa.


"Kurang ajar.!!


"Bugh.!" Adiguna langsung melayangkan bogem mentah pada Ardiya.


"Saya harap saya tidak akan bertemu dengan kalian lagi.!"sarkas Adiguna kemudian membawa Anjani keluar dari ruangan itu.


"Kamu ini bodoh sekali Ar!! Apa kamu tidak bisa bersabar sedikit untuk menyentuhnya?!"hardik Hirawan.


"Pa, mana tahan aku untuk tidak menyentuhnya. Pahanya yang putih mulus terpampang di depan mata, tangan ku reflek menyentuhnya, pa,"ucap Ardiya membela diri.


"Kau..!! Dasar buaya darat!!"umpat Hirawan kemudian langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Di apartemen Alva dan Disha.

__ADS_1


"Sayang, minum dulu susunya,"ucap Alva sambil menyodorkan segelas susu kepada Disha.


"Al, aku bosan minum susu setiap hari,"ucap Disha hanya menatap segelas susu yang disodorkan oleh Alva.


"Sayang, ini demi kesehatan kamu. Apa kamu sudah bosan dengan rasa vanilla? Kamu ingin rasa apa? Nanti biar aku belikan,"ucap Alva kemudian duduk di sebelah Disha, mengelus kepala Disha kemudian mengecup kening Disha dengan lembut.


"Aku bosan minum susu Al,"rengek Disha.


"Jika kamu tidak mau meminumnya sendiri, aku akan membantumu untuk meminumnya,"ucap Alva sambil tersenyum dan menaik turunkan sebelah alisnya.


Disha menghela nafas panjang, meraih segelas susu di tangan Alva kemudian meminumnya. Disha ingat betul, jika dia menolak untuk meminum susu, Alva akan meminumkan susu itu dengan mulutnya. Setiap pagi dan malam Alva tidak pernah absen untuk membuatkan Disha susu.


"Al, aku besok pergi sama teman-teman ku, ya?"ucap Disha meminta izin kepada Alva.


"Untuk besok jangan dulu ya sayang?!"ucap Alva sambil meletakkan gelas susu yang sudah kosong di atas nakas.


"Kenapa?"tanya Disha.


"Kemari lah !" ucap Alva berbaring di ranjang dan menepuk lengan kanannya sebagai isyarat agar Disha berbaring dengan berbantalkan lengan nya.


Disha yang mengerti isyarat yang diberikan Alva pun langsung merebahkan tubuhnya di samping Alva dengan memakai lengan Alva sebagai bantal.


"Seharian besok aku ingin menghabiskan waktu bersama mu. Karena sorenya aku harus pergi ke luar negeri untuk memeriksa perusahaan papa di sana,"jelas Alva sambil mendekap tubuh Disha.


"Berapa lama kamu di sana?"tanya Disha sambil mendongak menatap wajah Alva.


"Belum tentu, mungkin empat sampai lima hari,"ucap Alva sambil membelai pipi mulus Disha.


"Ohh.."ucap Disha.


"Aku akan sangat merindukan kamu,"ucap Alva kemudian menundukkan kepalanya untuk mencium bibir Disha beberapa saat dengan lembut," Beri aku bekal ya?"ucap Alva setelah melepaskan ciumannya.


"Bekal? Bekal apa? Biar nanti aku masakin,"sahut Disha.


"Bekalnya tidak perlu dimasak, cukup di isi sampai full,"ucap Alva sambil tersenyum, menaik turunkan sebelah alisnya.


"Jangan bilang kamu mau minta jatah dobel?"tanya Disha sambil memicingkan matanya.


"Kamu memang istriku yang paling pintar,"ucap Alva sambil mencubit dagu Disha gemas.


"Malam ini charger baterai dulu, besok charger power bank nya,"bisik Alva di telinga Disha kemudian memulai aksinya.


...🌟"Jika memang cinta mu tulus kepada dia, kamu akan tetap bahagia saat melihat dia bahagia, walaupun bukan kamu yang membuatnya bahagia,"🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2