Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
280. Makan Bersama


__ADS_3

Radeva pulang sebelum waktu makan siang tiba,"Sayang!"panggil Radeva saat masuk ke dalam kamarnya, menghampiri Icha yang sedang memangku laptopnya.


"Ada apa?"tanya Icha heran, karena tiba-tiba saja Radeva pulang.


"Ganti pakaian kamu! Kita makan siang dengan Alva dan Disha, Riky dan Yessie juga ada,"ujar Radeva dengan wajah yang bersemangat.


"Benarkah?"tanya Icha langsung terlihat bahagia saat mendengar kedua sahabatnya ikut makan siang bersama. Sudah lama mereka tidak berkumpul.


"Iya, ayo, cepat ganti pakaian kamu,"ucap Radeva tersenyum manis.


Dengan cepat Icha mengganti pakaiannya. Untuk sesaat melupakan tentang testpack tadi pagi dan pertengkaran nya dengan Radeva. Mereka pun ke rumah makan tradisional yang menyediakan ayam bakar dan ikan bakar. Dan semua itu karena Disha yang merayu Alva agar mereka makan di tempat itu dengan mengajak para sahabatnya. Disha sudah rindu berkumpul bersama mereka.


Tak lama kemudian, Radeva dan Icha pun sampai di rumah makan itu. Rumah makan berbentuk saung, yang disekelilingnya adalah kolam ikan dan juga pepohonan, hingga udara terasa segar dan sejuk. Suasana alam yang asri begitu kental terasa.


Dalam sebuah saung, Alva,. Disha, Riky dan Yessie sudah menunggu. Mereka nampak tersenyum lebar saat melihat kedatangan Radeva dan Icha.


"Wahh..bakal seru nich, makan siangnya,"ujar Disha dengan wajah yang nampak bahagia. Setelah semua duduk, mereka pun segera memesan makanan. Setiap pasangan memesan seporsi ikan bakar dan seporsi ayam bakar. Saat baru saja selesai memesan makanan tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Radeva.


"Kak Dev!"seorang gadis cantik melambaikan tangannya pada Radeva. Seketika itu juga wajah ke tiga wanita di saung itu pun menjadi suram. Alva nampak mengernyitkan keningnya karena tidak mengenali gadis yang menyapa Radeva, sedangkan Riky langsung menghela napas panjang setelah mengingat siapa gadis itu. Dan Radeva nampak salah tingkah, seraya menoleh pada istrinya.


"Kakak makan di sini juga? Kayaknya ramai banget. Boleh gabung nggak?"tanya gadis yang tak lain adalah Jessi itu.


Melihat semua orang dalam saung terdiam, Alva pun segera bersuara."Silahkan?" ucap Alva mempersilahkan. Alva sangat penasaran pada gadis itu, karena kehadirannya membuat ekspresi wajah semua orang berubah.


"Terimakasih! Tapi.. kalian semua ini, siapanya Kak Dev?"tanya Jessi penasaran.


"Aku adik ipar, Kak Dev. Dan sepasang suami-isteri ini adalah sahabat ku,"ucap Alva seraya menunjuk pada Riky dan Yessie sedangkan tangannya memegang tangan Disha di atas pahanya.


"Adik ipar kak Dev? Kamu suaminya Trisha?"tanya Jessi nampak penasaran.

__ADS_1


"Trisha? Wanita tidak tahu malu itu? Lebih baik aku tidak terlahir di dunia ini dari pada harus berjodoh dengan perempuan itu. Dia itu hanya anak pungut yang tidak tahu diuntung,"ujar Alva datar, karena sangat kesal jika mengingat Trisha yang hampir membunuh istrinya.


"Tapi buktinya kamu menikahinya,"sahut Jessi.


"Siapa bilang? Aku tidak pernah menikahinya,"sahut Alva terlihat tidak suka.


"Kata kamu tadi, kamu adalah adik ipar Kak Dev, berarti kamu suaminya Trisha, kan?"tanya Jessi yang bingung dengan jawaban Alva.


"Aku memang adik ipar Kak Dev, tapi bukan adik ipar dari adik angkatnya melainkan dari adik kandungnya,"ucap Alva menegaskan, kemudian mengecupi bibir Disha.


Jessi terkejut mendengar jawaban Alva, apalagi saat melihat Alva mengecup bibir Disha,"Adik kandung? Kak Dev punya adik kandung?"tanya Jessi menatap Radeva.


"Iya, itu adalah adik kandung ku,"ucap Radeva menunjuk pada Disha, kemudian merangkul Icha yang duduk di sampingnya,"Dan ini adalah istri ku,"ucap Radeva tersenyum manis pada Icha yang nampak datar.


"Jadi kakak sudah menikah?"tanya Jessi lesu menatap kearah Icha.


"Padahal dari dulu aku menyukai kakak, tapi kakak selalu menolak ku, dan ternyata sekarang sudah menikah. Selamat ya, Kak! Semoga bahagia!"ucap Jessi tersenyum tipis, atau lebih tepatnya terpaksa tersenyum.


Akhirnya tujuh orang itu makan bersama, ketiga pria itu sibuk menyingkirkan tulang ikan untuk istri mereka masing-masing yang terlihat manis di mata Jessi, tapi begitu sakit di dalam hatinya. Sejak ditolong Radeva, Jessi menyukai Radeva, tapi sayang, Radeva selalu menolak ungkapan cintanya, dan kini harus menerima kenyataan bahwa Radeva telah menikah dan bahagia bersama wanita lain.


Selesai makan siang, Alva, Disha, Riky dan Yessie kembali ke kantor, sedangkan Radeva mengantar Icha pulang,"Sayang, hari ini aku akan pulang malam lagi, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,"ucap Radeva saat Icha akan turun dari mobil.


"Hum,"sahut Icha singkat.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Radeva tak kunjung pulang. Icha masih bingung, bagaimana dirinya akan memberi tahu pada Radeva kabar tentang kehamilan nya. Icha tidak bisa menebak reaksi Radeva nanti seperti apa. Apakah Radeva akan sedih ataukah bahagia dengan kabar ini. Pasalnya, dirinya sudah meninggalkan Radeva selama tiga Minggu, apa Radeva akan percaya jika bayi yang sedang dikandung nya saat ini adalah janin Radeva. Memikirkan hal itu, membuat Icha semakin gelisah.


Tengah malam, Radeva nampak pulang, dan Icha memilih berpura-pura tidur, belum berani memberitahu Radeva tentang kehamilan nya. Setelah selesai membersihkan diri, Radeva berjalan pelan ke arah istrinya. Dengan hati-hati Radeva mengusap kepala Icha dan mengecup lembut kening Icha.

__ADS_1


"Aku mencintaimu!"ucap Radeva, kemudian melangkah ke arah sofa dan berbaring di sana.


Setelah beberapa menit, Icha membuka matanya dan menatap suaminya yang sudah memejamkan mata, berbaring di sofa. Pagi harinya, Icha kembali merasakan mual dan muntah. Radeva yang mendengar itu pun terbangun dan segera menghampiri Icha.


"Sayang, kamu muntah-muntah lagi,"ucap Radeva seraya membersihkan bibir Icha, lalu menggendongnya ke ranjang karena Icha kembali terlihat lemas.


"Kita, ke dokter ya? Atau aku panggilkan saja dokternya ke sini?"tawar Radeva nampak cemas melihat wajah Icha yang sangat pucat setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku.."Icha tidak melanjutkan kata-katanya,, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan tentang kehamilannya.


"Kamu kenapa? Katakanlah!"pinta Radeva nampak khawatir.


Icha menarik laci nakas, kemudian mengambil tiga testpack dan memberikannya pada Radeva tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Radeva mengernyitkan keningnya menerima benda yang diberikan oleh Icha dan seketika wajah khawatirnya berganti dengan wajah bahagia.


"Kamu hamil?"tanya Radeva dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Icha mengangguk dan Radeva pun langsung memeluk Icha dengan erat,"Aku bahagia sekali. Terimakasih, sayang!"ucap Radeva kemudian menciumi wajah Icha. Menyatukan kening mereka dan menatap lekat manik mata istrinya. Icha merasa lega melihat reaksi suaminya, yang artinya Radeva percaya bahwa janin yang dikandungnya adalah benihnya.


Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba Icha mencium bibir Radeva dengan lembut, Radeva sempat terkejut dengan aksi Icha itu, namun sesaat kemudian langsung membalas ciuman Icha. Entah kenapa Icha sangat ingin disentuh oleh Radeva, apa mungkin bawaan janin dalam kandungannya?


Radeva yang memang sudah sangat merindukan momen seperti ini pun menjadi sangat bergairah pada Icha. Apalagi Icha membalas ciumannya dan menyusupkan tangannya di balik kaos oblong yang dipakainya, meraba otot-otot di dada dan perutnya, membuat aliran darah Radeva mengalir lebih cepat.


"Sayang, aku ingin. Boleh, ya?"tanya Radeva penuh harap dengan mata'yang sudah berkabut hassrat dan tubuh yang mulai terasa panas. Icha mengangguk pelan dengan senyuman di bibirnya.


Radeva tersenyum,"Aku akan melakukannya dengan lembut, agar tidak menyakiti anak kita,"ucap Radeva mengelus perut Icha, kemudian kembali mencium bibir Icha. Melakukannya dengan lembut? Memang benar, tapi sayangnya hanya di awal percintaan mereka saja.


Radeva tidak bisa mengendalikan dirinya saat sudah berada di atas tubuh istrinya. Apalagi saat ini Icha nampak berbeda, wanita itu nampak lebih bergairah dan agresif dari biasanya, membuat Radeva benar-benar tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri. Pagi itu pun mereka habiskan dengan memadu kasih di atas ranjang dengan suara desa Han dan lenguhan yang memenuhi kamar itu.


...🌸❤️🌸...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2