Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
219. Siapa Yang Lebih Takut


__ADS_3

Hery berdiri di balkon kamarnya, matanya menatap ke arah taman dimana Sandy dan Anjani nampak bersenda gurau dengan Ruzian yang baru belajar bicara dengan berceloteh tidak jelas. Anjani nampak bahagia bersama Sandy, dan Hery pun tidak pernah mendengar apalagi melihat sepasang suami istri itu bertengkar.


Sandy dan Anjani selalu terlihat mesra, berbanding terbalik dengan dirinya dan Trisha yang sama sekali tidak ada mesra-mesranya dan hampir setiap hari rumah tangga mereka diwarnai dengan perdebatan dan pertengkaran. Entah rumah tangga macam apa yang mereka jalani itu.


"Jika aku dulu bersikap lembut pada Anjani, mungkin Anjani akan menyukai aku, seperti dia menyukai Sandy saat ini. Ayu tidak mungkin aku miliki, tapi seharusnya Anjani bisa aku miliki. Dulu dia pernah berusaha mencintai aku,kan? Tapi waktu itu aku benar-benar tidak bisa menerimanya, karena aku masih mencintai Ayu. Sekarang aku menyadari, jika aku tidak akan pernah bisa memiliki Ayu. Apapun yang aku lakukan tidak bisa membuat aku memiliki Ayu. Bahkan semua yang aku lakukan selama ini malah membuat Ayu semakin membenci aku dan membuatnya tidak respek kepada ku,"


"Dan Trisha...hidup macam apa yang aku jalani dengan Trisha? Dia tidak lebih baik dari ku. Anak pungut yang serakah dan tidak tahu malu, dia sama buruknya seperti aku. Kami hanya dua insan yang hanya saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologis kami saja, tidak lebih. Hubungan kami hanya karena napsu semata.Akan jadi apa jika kami memiliki anak nanti?"gumam Hery tertawa tanpa suara, menertawakan dirinya sendiri.


"Seandainya saja tidak ada Alva dalam hubungan ku dengan Ayu, maka Ayu sekarang pasti sudah menjadi milikku. Tapi apakah benar seperti itu? Dari awal hubungan kami, Ayu memang terlihat tidak mencintai aku. Dia berpacaran dengan ku, tapi terasa cuma seperti teman. Bahkan aku malah mirip dengan tukang ojek yang mengantar dan menjemput dia sekolah,"gumam Hery kembali menertawakan dirinya sendiri mengingat gaya pacaran dirinya dan Disha dulu sewaktu mereka masih sekolah.


"Tidak mungkin selamanya aku hidup dengan Trisha. Aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan jika aku tetap bertahan dengan perempuan seperti dia. Aku juga ingin bahagia seperti Alva, bermain dan bercanda dengan darah daging ku sendiri. Sepertinya aku harus melenyapkan Sandy, jika dia mati, kekayaan Darmawan akan menjadi milikku. Aku akan menceraikan Trisha dan menikahi Anjani kembali,"


"Setelah Sandy mati, aku akan memberikan perhatian pada Ruzian dan Anjani. Aku akan bersikap baik dan manis kepada Ruzian, Anjani dan papa. Aku yakin jika aku melakukan itu semua, aku akan mendapatkan cinta dan kepercayaan mereka. Jabatan ku sebagai CEO HD Group pun akan kembali. Tapi agar semua cita-cita ku itu terwujud, aku harus melenyapkan Sandy terlebih dahulu,"gumam Hery kemudian menyeringai menatap Sandy, Anjani dan Ruzian yang ada di taman dari balkon kamarnya.


***


Di kediaman Mahendra.


Pagi-pagi sekali, Bramantyo datang ke kediaman Mahendra. Kabar dari Vicky bahwa Dita telah ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penculikan membuat Bramantyo ingin bertemu langsung dengan Alva. Bramantyo ingin mendengar cerita dari mulut putra semata wayangnya itu sendiri.


"Tyo, kebetulan kami baru saja mau sarapan, ayo, sarapan bersama kami!" ajak Mahendra seraya merangkul pundak Bramantyo yang baru saja masuk itu ke rumah nya itu, menggiring Bramantyo menuju ruangan makan.


"Kebetulan sekali, aku tadi buru-buru ke sini, jadi belum sempat sarapan. Tidak apa-apa kan, numpang sarapan di rumah besan?"sahut Bramantyo bercanda, kemudian terkekeh.

__ADS_1


"Kamu seperti siapa saja, kita dulu bersahabat dan sekarang kita berbesan, kita adalah satu keluarga,"sahut Mahendra.


"Papa? Papa sendirian?"tanya Disha saat melihat Bramantyo masuk ke ruangan makan, kemudian matanya berpendar mencari Ratih.


"Papa sendirian, mamamu ada di rumah. Papa mau memeriksa hotel kita yang ada di jalan xx, dan papa ingin mampir dulu ke sini untuk numpang sarapan di rumah besan papa,"ucap Bramantyo kemudian terkekeh, merasa geli mendengar kata-katanya sendiri yang mau numpang makan di rumah besan.


"𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙤𝙩𝙚𝙡 𝙙𝙞 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙭𝙭? 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙤𝙙𝙚 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚 𝙨𝙖𝙣𝙖? 𝘽𝙖𝙞𝙠𝙡𝙖𝙝, 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙤𝙙𝙚 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙪 𝙏𝙮𝙤. 𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙜𝙞-𝙥𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙠𝙤𝙙𝙚 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝙢𝙪 𝙙𝙞 𝙝𝙤𝙩𝙚𝙡 𝙢𝙪? 𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧- 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪.𝘼𝙠𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙖," batin Neda percaya diri.


Akhirnya mereka pun sarapan bersama- sama, sesekali Neda mencuri pandang ke pada Bramantyo. Sedangkan Bramantyo yang memang sudah tidak mencintai Neda lagi pun, sama sekali tidak memperhatikan Neda.


Setelah selesai sarapan, Bramantyo pun memulai pembicaraan,"Al, papa dengar, anak buah kamu berhasil menjebloskan Dita ke penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan penculikan, apa itu benar?"tanya Bramantyo membuat semua orang yang ada di meja makan itu terkejut kecuali Alva, Disha dan Bramantyo tentunya.


"Iya, pa. Itu benar. Temanku yang bernama Kristian telah berhasil mengumpulkan bukti bahwa Dita telah mengatur rencana untuk melenyapkan aku. Dan ditambah dengan kasus penculikan kemarin, rasanya sudah cukup untuk membuat Dita mendekam cukup lama di penjara,"ujar Alva dan semua yang ada di meja makan itu pun mendengarkan dengan seksama.


"Itu yang ingin papa tanyakan, siapa yang diculik oleh Dita kemarin?"tanya Bramantyo menatap Alva serius.


"Apa?"pekik Bramantyo, Mahendra, Ghina dan Radeva bersamaan, sedangkan Nalendra, Niko dan Neda pun agak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alva.


"Bagaimana bisa?"tanya Mahendra.


"Kamu sungguh tidak becus menjaga adikku!"geram Radeva menatap tajam kearah Alva.


"Sabar! Kita dengar kan dulu penjelasan Alva. Cepat jelaskan, Al,"pinta Ghina mencoba meredakan emosi para pria itu.

__ADS_1


"Semenjak aku mengalami kecelakaan di negara xx kemarin, Dita terus mengawasi keluarga kita. Sepertinya dia mencari celah untuk mencelakai keluarga kita. Aku sudah lama mencari cara untuk menguak kejahatan nya agar bisa menjebloskan dia ke penjara. Aku tidak ingin lagi Dita menganggu keluarga kita. Dan kemarin sore aku mendapat informasi dari anak buah ku bahwa Dita ingin menculik Disha. Agar aku bisa menyeret dia ke penjara, aku mengumpankan Disha..."kata-kata Alva terpotong.


"Brakk!!"Radeva mengebrak meja dan spontan berdiri.


"Apa? Apa kamu sudah tidak waras? Berani-beraninya kamu menjadikan adikku sebagai umpan!!"bentak Radeva menatap Alva tajam dan penuh amarah.


"Kak, tenanglah dulu! Biarkan suamiku menjelaskan semuanya!"bujuk Disha pada kakaknya.


"Iya, Dev. Benar kata adikmu. Biarkan Alva menjelaskan semuanya. Duduklah dengan tenang! Bukankah sekarang adikmu juga tidak apa-apa?"timpal Mahendra yang takut akan terjadi perkelahian diantara Alva dan Radeva. Walaupun sejujurnya Mahendra juga marah saat mendengar Alva menjadikan Disha sebagai umpan untuk tindak penculikan.


"Tapi pa..."Radeva tidak melanjutkan kata-katanya saat Mahendra memberinya isyarat agar dia duduk dan tenang. Radeva pun tidak punya pilihan, dan kembali'duduk dengan menahan emosi nya.


"Kakak tidak perlu emosi seperti itu. Disha adalah istriku, ibu dari anak ku. Tidak mungkin aku membuatnya berada dalam situasi berbahaya. Akulah orang yang menjaga, memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang pada Disha sebelum kalian menemukannya,"


"Jika ada orang yang paling mencintai Disha, itu adalah aku, jika ada orang yang paling takut kehilangan Disha itu adalah aku. Bicara buruknya, yang akan menemani seorang suami dalam suka dan duka adalah istri. Yang akan menjaga dan merawat suami saat sakit adalah istri. Istri bisa berbagi segalanya dengan suami, dari berbagi kamar, berbagi ranjang, maaf... bahkan berbagi saliva dan berbagi peluh di atas ranjang,"


"Semua itu tidak akan bisa di bagi oleh seorang istri dengan orang tua, anak atau pun saudara. Jadi intinya, akulah orang yang akan merasa paling menderita dan kehilangan jika sampai terjadi sesuatu pada Disha,"ujar Alva panjang lebar membuat semua orang terdiam, karena semua yang dikatakan oleh Alva adalah benar. Sedangkan Disha pun hanya diam dan membenarkan semua yang diucapkan oleh Alva, karena Disha tahu jika Alva memang sangat mencintai nya dan tidak mungkin mencelakai dirinya.Begitu pula dengan Nalendra, Niko dan Neda, mereka hanya menjadi pendengar saja.


"Baiklah, sekarang jelaskan apa yang terjadi kemarin!"pinta Bramantyo mencoba kembali pada inti masalah.


...🌟"Ada yang tidak bisa kita bagi dengan orang lain, selain dengan pasangan hidup yang kita cintai."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


...🌸❤️🌸...


To be continued


__ADS_2