
"Apa? Pamannya Disha tertangkap oleh papa?!"tanya Alva merasa kaget.
"Iya, Tuan,"sahut Ferdi.
"Apa Kamu sudah tahu kemana anak buah papaku membawa pamannya Disha?"tanya Alva dengan wajah yang terlihat tegang.
"Anak buah saya masih terus mengikuti anak buah papa, Tuan,"sahut Ferdi.
"Tunggu disini sebentar, saya akan berganti pakaian,"ucap Alva kemudian kembali kedalam kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Alva langsung mengganti celana pendeknya dengan celana panjang, tanpa mengganti kaos oblong yang dikenakannya. Alva langsung memakai jaket kemudian meraih handphonenya dari atas nakas lalu mencium Disha dan Kaivan bergantian.
Alva segera keluar dari dalam kamarnya dan bergegas pergi bersama Ferdi.
"Bagaimana kalian bisa kecolongan?"
tanya Alva yang nampak tegang, duduk dalam mobil yang sedang melaju dengan kencang.
"Maafkan kami Tuan. Anda tau sendiri kan, anak buah papa anda juga termasuk orang-orang yang handal dalam mencari informasi?"ucap Ferdi yang sedang duduk di samping kursi kemudi.
"Iya, aku tahu. Bagaimana pun dan serapat apapun kita menutupi masalah ini, cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga,"ucap Alva membuang nafas kasar, tidak mau menyalahkan Ferdi dan anak buahnya. Alva tahu, Ferdi dan anak buahnya pasti sudah bekerja sebaik mungkin untuk melakukan tugas mereka.
"Maafkan kami, Tuan,"ucap Ferdi sekali lagi dengan wajah penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kalian sudah bekerja dengan baik. Apa kamu tahu kemana kira-kira papaku akan membawa paman Disha?"tanya Alva yang duduk di bangku penumpang dibelakang kursi pengemudi.
"Melihat GPS dari anak buah kita yang mengikuti mobil anak buah papa anda, sepertinya mereka akan membawa paman Nyonya Disha ke pinggir kota, Tuan,"sahut Ferdi sambil mengamati handphonenya untuk melihat dimana keberadaan anak buahnya melalui GPS dari handphone anak buahnya.
Setelah beberapa jam akhirnya Alva dan Ferdi tiba di pinggir hutan dan di sana sudah ada beberapa orang anak buah Ferdi yang menunggu.
"Tuan, kita turun di sini. Kita harus berjalan kaki dari sini agar anak buah papa anda tidak mengetahui kedatangan kita.
__ADS_1
"Iya,"sahut Alva, kemudian turun dari mobil yang ditumpanginya.
"Kalian sembunyikan semua kendaraan kita. Jangan sampai ada yang tahu dengan kedatangan kita,"perintah Ferdi kepada anak buahnya.
"Tunggu! Jika kita harus adu fisik dengan anak buah papaku, jangan sampai ada yang terbunuh dari pihak papaku atau pun dari pihak kita,"ucap Alva memberi perintah sekaligus peringatan kepada anak buahnya.
"Baik, Tuan,"ucap mereka dan langsung bergerak sesuai instruksi atasan mereka.
Alva dan anak buahnya mendekati sebuah rumah sederhana di tepi hutan dengan hati-hati. Diam-diam mereka melumpuhkan satu persatu anak buah Bramantyo tanpa membunuh mereka.
Anak buah Alva hanya membuat mereka pingsan kemudian mengikat dan menutup mulut mereka dengan lakban agar mereka tidak mengeluarkan suara untuk meminta pertolongan atau pun membuat suara untuk memberi tahu teman-teman mereka tentang keberadaan Alva dan anak buahnya.
Setelah masuk ke dalam ruangan itu, sayup-sayup Alva mendengar suara papanya yang terdengar sangat emosi.
"Katakan! Kenapa kamu membakar kedua orang tuaku?"tanya Bramantyo di salah satu ruangan dalam rumah itu.
"Saya tidak membunuh kedua orang tua anda, Tuan,"ucap pria yang nampak terduduk di lantai dengan wajah yang sudah babak belur.
"Saya tidak mau mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan, Tuan,"ucap pria itu masih tetap tidak mau mengakui apa yang dituduhkan oleh Bramantyo.
Sejak Bramantyo datang, pria itu sudah mendapatkan banyak pukulan dan tendangan dari Bramantyo karena tidak mengakui apa yang dituduhkan Bramantyo kepadanya.
"Hentikan, pa! Yang papa lakukan ini melanggar hukum,"ucap Alva yang tiba-tiba muncul.
"Kamu?! Kamu benar-benar melindungi orang ini hanya karena atas nama cinta?"sergah Bramantyo menatap Alva tajam.
"Dia hanya supir taksi yang mengantarkan penumpang, pa!"sahut Alva.
"Dia adalah orang yang telah merencanakan untuk membakar rumah kita hingga menyebabkan kakek dan nenek mu meninggal, Al !!"sergah Bramantyo berapi-api.
"Itu tidak benar! Itu fitnah!" sangkal paman Disha.
__ADS_1
"Saya tidak memfitnah kamu, kenyataannya kamu ada di lokasi kejadian dan telah membawa orang yang telah membakar rumah saya pergi,"bentak Bramantyo sedangkan Alva hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
"Itu tidak membuktikan kalau saya yang telah merencanakan membakar rumah anda. Saya tidak pernah punya niat untuk menyakiti siapapun, apalagi sampai membunuh orang. Saya memang bukan orang yang taat beribadah, tapi saya tidak akan melakukan apa yang dilarang oleh agama yang saya anut,"
"Saya tidak punya alasan dan juga tidak punya keuntungan dengan membakar rumah anda!"sangkal paman Disha.
"Jangan coba-coba mengelak. Saya sudah tahu semuanya. Kamu menyuruh temanmu si Beni itu untuk membakar rumah saya karena kamu tidak terima dan sakit hati karena Nety lebih memilih menikah dengan saya dari pada dengan kamu. Dan kamu juga merampok uang serta barang-barang berharga saya malam itu,"tuduh Bramantyo.
"Apa? Sakit hati? Merampok harta anda? Siapa yang mengatakan omong kosong itu kepada anda?"tanya paman Disha tak percaya, masih duduk dilantai.
"Beni yang mengatakan semuanya pada saya,"sahut Bramantyo.
"Ya Tuhan... Nety itu itu bukan pacar saya, Tuan. Nety adalah teman satu panti asuhan dengan saya. Pacar Nety bukan saya tapi Beni,"jelas paman Disha sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya karena dihajar oleh Bramantyo.
"Jangan memutar balikkan fakta!"bentak Bramantyo.
"Saya tidak memutar balikkan fakta! Apa yang saya katakan adalah benar. Malam itu istri saya melahirkan dan harus dioperasi Cesar karena bayinya sungsang. Saya tidak mempunyai uang untuk membayar biaya untuk operasi itu,"
"Beni datang dan membayar separuh uang untuk operasi istri saya dan mengatakan akan membayar sisanya setelah saya mengantar dia ke rumah majikannya untuk meminjam uang agar dia bisa melunasi sisa biaya operasi istri saya,"
"Tapi anehnya saat saya menunggu dia masuk ke rumah majikannya, saya disuruh berdiri di luar taksi tanpa mau memberi tahu alasannya. Dan sekarang saya baru mengerti jika dia menyuruh saya untuk berdiri di luar taksi agar dia bisa mengambing hitamkan saya atas tindak kejahatannya,"
"Karena keesokan harinya saya baru mengetahui lewat televisi bahwa saya menjadi buronan polisi karena telah membakar rumah tempat saya mengantar Beni malam itu. Saya berpikir jika saya ditangkap polsi, maka tidak akan ada yang mengurus istri saya, karena itu saya melarikan diri,"jelas paman Disha panjang lebar.
"Saya tidak tahu cerita siapa yang benar antara kamu dan Beni. Tapi yang pasti kalian yang sudah menyebabkan orang tua saya meninggal dan kalian harus menerima hukuman!!"sergah Bramantyo.
...🌟Jika ada dua orang yang saling menyalahkan, maka jangan hanya mendengarkan pembelaan dari salah satu pihak saja. ...
...Dengarkan alasan, pembuktian dan pembelaan diri dari kedua belah pihak, agar kita bisa tahu siapa yang salah dan siapa yang benar." 🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued