Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
112. Kapan Dilamar?


__ADS_3

Di kamar Alva dan Disha.


Disha menggeliat dalam pelukan Alva dan perlahan membuka matanya. Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva yang masih terlelap.


"Sayang, lepaskan pelukan mu, aku ingin bangun!"pinta Disha seraya menepuk-nepuk pipi Alva pelan.


"Sebentar lagi sayang!"ucap Alva seraya mengeratkan pelukannya.


"Ayolah sayang, nanti kita kesiangan. Jarak dari rumah ini ke kantor memakan waktu hampir satu jam kalau macet. Beda kalau dari apartemen kita yang lebih dekat dengan kantor, sayang,"bujuk Disha.


"Sebentar lagi, sayang. Aku masih ingin memeluk mu,"ucap Alva masih enggan untuk membuka mata.


"Esss sayang, ini keluarnya tambah banyak, aku takut pembalut ku nggak bisa menampung lagi, nich!"desis Disha yang merasakan darah haidnya semakin banyak yang keluar.


"Kamu ingin ke kamar mandi?"tanya Alva seketika membuka matanya.


"Hemm..iya,"ucap Disha.


Dengan berat hati, Alva pun melepaskan pelukannya dan Disha pun bergegas menuju kamar mandi. Alva hanya bisa menghela nafas panjang melihat istrinya bergegas ke kamar mandi.


Alva menoleh ke arah box bayi Kaivan, kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan membuka gorden jendela kamar itu. Kemudian berjalan menuju box bayi untuk melihat putranya.


"Jagoan papa nyenyak banget sih boboknya,"ucap Alva kemudian menciumi wajah putranya hingga membuat bayi montok itu menggeliat, kemudian mulai membuka matanya.


"Ba!"ucap Alva hingga membuat bayi yang baru membuka matanya itu terkekeh.


"Jagoan papa tumben bangun kesiangan,"ucap Alva seraya meraih tubuh Kaivan dan menggendongnya.


"Pa..pa...pa...ma..ma..ma..."celoteh Kaivan yang sepertinya mencari dimana keberadaan sang mama.


"Mama masih dikamar mandi, sayang. Jagoan papa haus ya? Lapar?'tanya Alva pada Kaivan.


"Ma..ma..ma.."sahut Kaivan.


"Iya, sebentar, ya sayang?!"ucap Alva mengelus rambut putranya yang berada dalam gendongannya dengan penuh kasih sayang.


"Ceklek"pintu kamar mandi terbuka dan Disha keluar dengan menggunakan bathrobe.


"Eh, jagoan mama sudah bangun, ya? Pasti bangun gara-gara digangguin sama papa, kan?"ujar Disha sambil berjalan mendekati anak dan ayah itu.


"Ma...ma..ma..."celoteh Kaivan mengulurkan tangannya pada Disha.


"Uhh.. jagoan mama sayang,"ucap Disha mengambil alih Kaivan dari gendongan Alva kemudian membawa Kaivan duduk di tepi ranjang dan menyusui Kaivan.


Alva yang melihat salah satu dari bukit kembar Disha dikeluarkan dari balik bathrobe pun susah payah menelan salivanya. Karena tidak ingin hasraatnya semakin terpancing, Alva kemudian pergi untuk menghindar dengan segera masuk ke dalam kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower.


Beberapa menit kemudian Alva sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Sedangkan Disha sudah rapi dengan baju kerjanya dan Kaivan berdiri di di box bayinya dengan berpegangan pada pinggiran box bayinya.


"Sayang, kok tumben kamu nggak mandi bareng Kaivan?"tanya Disha kemudian menghampiri Alva dan membantu Alva untuk memakai kemeja yang sudah disiapkan olehnya.

__ADS_1


"Habisnya aku nggak kuat lihat kamu menyusui Kaivan. Bukit kembar mu yang montok itu benar-benar menggoda iman,"jawab Alva jujur.


"Plakk"


"Auwh "


"Dasar messum!"ucap Disha setelah memukul lengan Alva.


"Sakit, sayang. Kamu jangan nyalahin aku dong, kalau aku messum. Tubuh kamu itu emang bikin aku jadi messum,"kilah Alva sambil mengusap lengannya yang di pukul Disha tadi.


"Alasan!"ucap Disha sambil mengancingkan kemeja Alva.


"Kenyataan, sayang,"ucap Alva seraya memeluk pinggang istrinya.


"Sudah, pakai celana sendiri,"ucap Disha.


"Pakaikan, sayang!"rengek Alva.


"Pakai sendiri, sayang! Aku akan mengantarkan Kaivan pada Bik Inah agar di mandikan,"ucap Disha kemudian menghampiri dan menggendong Kaivan keluar dari kamar itu.


***


Di meja makan, Bramantyo, Ratih, Alva dan Disha memulai sarapan pagi mereka.


"Papa dan mama berangkat pagi ini?"tanya Disha pada mertuanya sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Untuk sementara, tolong kamu pantau hotel papa ya, Al?!"pinta Bramantyo.


"Iya, pa,"sahut Alva.


Beberapa menit kemudian, mereka pun menyelesaikan sarapan mereka. Alva dan Disha langsung berangkat ke kantor, sedangkan Bramantyo dan Ratih menuju bandara.


Setibanya di kantor, Alva dan Disha pun disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing seperti biasanya. Dua jam kemudian Riky nampak keluar dari ruangannya dan berjalan menghampiri Disha.


"Nyonya, apa Nyonya masih banyak pekerjaan?"tanya Riky yang sudah berdiri di depan meja kerja Disha.


"Tidak terlalu. Ada apa Rik?"tanya Disha yang sedang menyusun berkas-berkas yang ada di atas mejanya.


"Saya ingin bertanya sesuatu pada Nyonya,"ucap Riky.


"Tanyakan saja , tidak usah sungkan begitu,"ucap Disha menatap Riky sekilas.


"Bisa kita bicara di ruangan saya saja, Nyonya,"ujar Riky seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Disha menghentikan aktivitasnya kemudian menatap wajah Riky.


"Oke, ayo kita keruangan kamu!"ucap Disha yang dapat melihat ada sesuatu yang menganggu pikiran asisten suaminya itu.


Riky pun berjalan menuju ruangannya diikuti Disha dari belakang,"Ada apa Rik?"tanya Disha setelah duduk berhadapan dengan Riky yang dipisahkan oleh meja kerja Riky.

__ADS_1


"Nyonya, saya ingin menanyakan sesuatu di luar masalah kantor,"ucap Riky.


"Boleh, silahkan saja tidak apa-apa,"sahut Disha.


"Ini tentang Yessie Nyonya,"ucap Riky


"Ada apa dengan Yessie?"tanya Disha nampak khawatir.


"Begini Nyonya, saya tertarik dengan Yessie, jadi saya ingin tahu apa yang menjadi alasan Yessie menjomblo?" tanya Riky nampak serius.


"Ohh itu. Yessie menjomblo karena belum ada yang cocok aja dan nggak mau pacaran. Pengennya kalau ada yang serius langsung lamar aja,"jelas Disha.


"Ohh..begitu, ya?!"sahut Riky seraya manggut-manggut,"Menurut Nyonya Yessie itu orangnya gimana? Tapi Nyonya jangan menilai dari kacamata sebagai sahabat Yessie, ya?!"lanjut Riky.


"Menurut ku anaknya baik, kalem, nggak neko-neko, penyayang, pengertian, perhatian, cuma... ada satu minusnya," jelas Disha.


"Ada satu minus? Minus apa maksud Nyonya?"


"Minusnya, dia itu anaknya polos banget. Mungkin karena efek belum pernah pacaran kali,"ucap Disha berasumsi.


"Sepertinya menarik Nyonya,"


"Apa kamu menyukainya?"


"Ya, saya memang tertarik dengan sikapnya yang kalem dan dan lebih memilih menunduk jika bertemu pria,"jelas Riky.


"Wahh..ternyata kamu sudah memperhatikan dia, ya?"


"Ya ini gara-gara kata-kata Nyonya kemarin. Kata Nyonya dia naksir sama saya? Tapi setiap ketemu sama saya, dia nampak biasa saja dan malah menunduk,"ucap Riky.


"Terus kamu maunya dia bagaimana? Merayu kamu? Mana bisa? Anaknya aja pemalu gitu,"ujar Disha.


"Ya nggak gitu juga kali. Saya malah ilfil kalau lihat cewek merayu laki-laki, apalagi kalau sampai mengejar-ngejar laki-laki," jelas Riky.


"Ya sudah, berarti kamu cocok sama dia. Kapan dilamar? Nanti keburu di ambil orang lho!"tanya Disha mengulum senyum bermaksud agar Riky cepat-cepat mendekati Yessie.


"Memang ada yang naksir dia Nyonya?"


"Aku dengar, orang tuanya akan menjodohkan dia,"kata Disha jujur.


"Benarkah?"


"Iya,"sahut Disha mengangguk mantap.


...🌟"Jodoh tidak akan tertukar, tidak datang terlambat atau pun lebih cepat. Jodoh akan datang di waktu yang tepat."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2