
Disha berdiri di samping ranjang, mengambil obat kontrasepsi dari laci nakas. Untuk beberapa saat, Disha menatap obat di tangannya itu, obat yang sudah sekitar dua tahun ini ia konsumsi, kemudian menggenggam erat obat itu. Disha berjalan ke arah tempat sampah yang ada di dalam kamar itu, kemudian membuang obat kontrasepsi itu.
"Aku tidak akan membuat Alva kecewa padaku lagi, aku tidak akan membiarkan cintanya padaku pudar, apalagi membuat celah untuk orang ketiga masuk ke dalam rumah tangga kami,"gumam Disha seraya menatap obat kontrasepsi yang baru saja dibuangnya.
"Ceklek"Disha langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi saat mendengar pintu itu terbuka. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat Alva keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana boxer, hingga menampilkan dada bidang dan perut sixpack nya dengan otot-otot yang tercetak sempurna.
Alva tersenyum menatap Disha kemudian menghampiri istrinya yang memakai baju tidur model kimono itu. Alva pun langsung memeluk mesra istri nya itu,"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Kamu terpesona melihat wajahku yang tampan dan bentuk tubuh ku yang seksi ini?"ucap Alva narsis seraya tersenyum dan menaik turunkan sebelah alisnya menatap Disha dengan tatapan genit.
"Issh.. genit, narsis lagi!"cibir Disha.
"Jangan suka berbohong! Aku tahu, kamu sangat suka melihat tubuh ku, kan? Dan juga sangat suka merabanya,"ucap Alva penuh keyakinan. Alva tahu persis jika istri nya itu sangat mengagumi bentuk tubuhnya itu, karena Disha selalu meraba tubuhnya setiap hari, khusus nya saat mereka sudah berbaring di atas ranjang atau saat mereka sedang bercinta.
"Benarkah?"tanya Disha tersenyum genit mengalungkan tangan kirinya ke leher Alva, kemudian tangan kanannya mengelus rahang kokoh Alva.
Tentu saja. Kamu sangat menyukai nya , kan?"ujar Alva memegang tangan Disha yang mengelus rahangnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih melingkar di pinggang Disha. Alva mengecup telapak tangan Disha dengan lembut dengan tatapan mata yang tidak beralih dari manik mata Disha.
Disha menarik tangannya dari genggaman Alva kemudian kembali mengelus rahang kokoh Alva. Namun jemari Disha itu perlahan merayap turun ke leher, kemudian turun lagi ke dada bidang Alva membuat Alva memejamkan kedua matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya.
Alva membuka matanya saat jemari lentik Disha berhenti menyentuh tubuh nya, dan Disha melepaskan tangan Alva yang melingkar di pinggang nya. Alva mengernyitkan keningnya saat melihat Disha berjalan mundur lima langkah dari nya, dengan tersenyum menggoda kearahnya, Disha menarik tali baju kimono yang dikenakannya kemudian menanggalkan baju itu hingga baju itu teronggok di lantai.
Mata Alva langsung membulat sempurna saat melihat Disha menanggalkan baju tidur kimono nya, karena setelah baju kimono itu teronggok di lantai, Alva melihat tubuh seksi istri nya yang hanya berbalut lingerie tipis yang menampilkan bentuk tubuh istrinya yang bak gitar Spanyol itu. Dengan susah payah Alva menelan kasar salivanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Alva menghampiri Disha dan langsung memeluk Disha,"Kamu yang menggodaku, jadi jangan salahkan aku jika malam ini aku akan menerkam mu sampai tidak tersisa,"bisik Alva di telinga Disha kemudian mencium leher Disha beberapa kali dan berpindah memagut bibir Disha yang selalu membuatnya candu untuk menciumnya lagi dan lagi.
Malam itu pun mereka gunakan untuk memadu kasih, Disha nampak lebih agresif dari biasanya, membalas ciuman Alva bahkan memberikan banyak tanda kepemilikan nya di tubuh Alva, membuat Alva menggila diatas ranjang.
Peluh pun bercucuran membanjiri tubuh mereka, menikmati penyatuan mereka hingga merasakan puncak surga dunia beberapa kali.
Alva membaringkan tubuhnya di samping Disha kemudian memeluk Disha,"Sayang, malam ini kamu benar-benar membuatku gila,"ucap Alva kemudian mengecup bibir Disha beberapa kali. Saat ini Disha berada dalam pelukan Alva dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya begitu pula dengan Alva. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
"Kamu suka?'tanya Disha seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya dan memegang rahang kokoh suaminya.
"Hum, suka, sangat suka. Kamu sangat berbeda malam ini,"ucap Alva kembali mencium bibir Disha berkali-kali.
"Sayang, sudah!"ucap Disha menutup bibir Alva dengan telapak tangan nya.
"Kenapa semakin lama, kamu semakin pintar berkata-kata manis? Aku jadi takut,"ucap Disha tanpa mengalihkan tatapannya pada Alva, meraba dada bidang suaminya.
Alva mengernyitkan keningnya lalu bertanya,"Takut apa?"
"Takut terkena diabetes, karena kata-kata mu terlalu manis,mengandung banyak gula,"ucap Disha kemudian terkekeh.
"Oh, ya? Benarkah? Kalau begitu, aku akan mencicipi tubuhmu yang mengandung banyak gula ini,"ucap Alva tersenyum smirk dan detik berikutnya langsung menindih tubuh Disha.
__ADS_1
"Al!"pekik Disha yang terkejut dengan gerakan cepat Alva itu.Namun Alva malah langsung mencium bibir Disha dan melum mat nya dengan penuh hasraat. Mengulangi lagi pergulatan panas mereka yang belum lama selesai.
***
Icha menatap pintu kamar mandi dengan wajah sendu. Sungguh, dia tidak tega sekaligus merasa bersalah melihat suaminya nampak kesal dan kecewa. Namun apa daya, semua bukanlah keinginan nya. Perlahan Icha turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari pakaian.
"Huff...menyebalkan sekali! Kenapa tamu bulanan ku datang hari ini sich?! Seharusnya kan dua hari lagi. Aku sungguh tidak tega melihat wajah suamiku kecewa seperti itu,"gumam Icha sambil berjalan menuju lemari pakaian.
Icha membuka salah satu pintu lemari pakaian yang mempunyai empat pintu itu dan mendapati pakaian kerja Radeva yang tersusun rapi. Icha kemudian membuka pintu disebelahnya dan mendapati pakaian kasual, pakaian tidur dan beberapa pakaian sehari-hari lain nya. Icha kemudian mengambil baju piyama untuk suaminya dan meletakkan nya di atas ranjang.
Icha membuka pintu disebelahnya lagi dan mendapati gaun-gaun yang begitu indah tersusun rapi,"Wah..semua gaun ini terlihat indah semua,"ucap Icha berdecak kagum melihat semua gaun yang ada di dalam lemari itu. Icha kemudian membuka pintu lemari yang terakhir dan matanya langsung membulat sempurna saat melihat jejeran baju tidur yang ada di dalam lemari yang baru dibuka nya itu, pasalnya, seperempat dari isi lemari yang baru dibuka nya itu isinya adalah lingerie.
Icha menelan ludahnya kasar, lalu mengambil salah satu baju piyama dan segera mengganti gaun yang ia pakai dengan baju piyama itu.
"Hah..aku jadi haus,"gumam Icha kemudian mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar itu, tapi tidak mendapati air minum di kamar itu. Dengan ragu, Icha keluar dari kamar itu kemudian turun ke lantai satu. Icha mengingat letak dapur rumah itu, karena Icha melihat nya saat acara pertunangan kejutan yang dibuat Radeva waktu itu.
Suasana ruangan-ruangan di rumah besar itu nampak sepi karena malam telah larut. Hanya ada lampu dinding dengan cahaya temaram yang menyinari setiap ruangan. Icha pun berjalan menuju kulkas dan mengambil satu botol air mineral kemasan kemudian membawa nya ke meja makan dengan gelas yang diambil nya dari lemari piring.
Icha duduk di salah satu kursi, menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meminumnya dengan tenang, hingga suara seseorang terdengar.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini? Kamu menginap di sini?"tanya seorang itu, membuat Icha langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
To be continued