
Disha memakai skincare untuk merawat wajah dan tubuhnya. Kemudian terdengar pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan Alva yang bertelanjang dada. Entah mengapa Disha tidak pernah bosan melihat wajah tampan suaminya dan juga tubuh berotot suaminya itu. Semua itu karena Alva selalu menyempatkan diri berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya, sehingga otot tubuhnya terbentuk sempurna, selalu sehat dan bugar.
Alva tersenyum melihat istrinya menatap dada yang berotot dan perutnya yang sixpack. Alva menunduk, kemudian berbisik di telinga Disha. "Kenapa melihatku seperti itu? Kamu boleh meraba tubuh ku sesuka hatimu," ucap Alva langsung menggendong Disha.
"Eh, Al!"pekik Disha karena terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh Alva.
Alva membaringkan tubuh Disha dan langsung menindihnya,"Kamu mau apa?"tanya Disha sambil menahan dada Alva.
"Issh.. sayang. Apa aku harus menjawabnya?"tanya Alva tanpa menjawab pertanyaan dari Disha, kemudian menundukkan wajahnya ke wajah Disha.
"Eits.! Jawab dulu mau apa?"titah Disha seraya menahan wajah Alva dengan telapak tangannya agar tidak semakin dekat dengan wajahnya.
Alva menyingkirkan tangan Disha,"Aku ingin memakan mu,"ucap Alva kembali ingin mencium bibir Disha.
"Tidak boleh!"sergah Disha kembali menahan pergerakan Alva.
"Sayang, kok nggak boleh, sich? Boleh, ya? Please!"pinta Alva dengan wajah memelas.
"Pil kontrasepsi ku ketinggalan di rumah orang tua ku,"ucap Disha kembali mendorong tubuh Alva.
__ADS_1
"Cuma nggak minum sekali, nggak bakalan hamil, sayang. Mau, ya?"bujuk Alva masih dengan wajah memelas.
"Aku nggak mau mengambil resiko, sayang,"sahut Disha memalingkan wajahnya membuang napas kasar.
"Aku suami mu. Kalaupun kamu hamil, aku pasti akan bertanggungjawab, sayang. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Alva menghela napas panjang.
"Aku belum siap memiliki anak lagi, Al," ucap Disha tanpa mau menatap Alva.
"Kenapa?"tanya Alva dengan menahan rasa kecewa karena jawaban itu selalu saja menjadi alasan Disha.
"Aku belum siap,"jawab Disha lagi.
"Kamu mau kemana?"tanya Disha yang melihat Alva akan pergi.
"Mencari kesenangan di luar,"ucap Alva tanpa menghentikan langkahnya ataupun menoleh ke arah Disha, langsung berjalan keluar dari kamar itu.
Disha nampak terkejut mendengar kata-kata dari Alva, hingga tanpa disadarinya Alva telah keluar dari kamarnya.
"Apa maksudnya mencari kesenangan di luar? Dia tidak bermaksud mencari wanita penghibur untuk pelampiasan, kan?"gumam Disha. Entah mengapa hatinya menjadi gelisah saat mengingat perkataan Alva tadi. Sudah satu jam sejak kepergian Alva, namun Disha tidak juga bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian hujan nampak turun dengan deras, suasana malam terasa semakin dingin. Disha meringkuk di balik selimut, tidak bisa tidur sama sekali. Biasanya jika cuaca dingin seperti ini, Disha akan merasa hangat jika berada dalam dekapan suaminya. Tapi malam sudah larut seperti ini, Alva belum juga pulang.
"Kemana dia pergi? Kenapa sudah larut malam belum pulang juga?"gumam Disha, berkali-kali menghela napas.
Sampai pukul 2 dini hari dan hujan masih terus menggunakan bumi, Disha belum juga bisa memejamkan matanya, hingga suara kenop pintu yang diputar dari luar terdengar di telinganya. Dengan cepat, Disha pun langsung berpura-pura tidur dengan posisi terlentang.
Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup lagi. Terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam kamar, kemudian terus melangkah menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka dan Disha masih berpura-pura sudah tidur. Disha merasakan ranjang yang bergerak menandakan Alva naik ke atas ranjang. Beberapa menit kemudian Alva sudah tidak bergerak lagi, Disha pun memberanikan diri untuk membuka matanya dan menatap Alva.
Alva nampak tidur terlentang, dengan tangan kirinya diletakkan di atas perut, sedangkan lengan kanannya diletakkan di atas dahinya, sehingga menutupi sebagian wajahnya. Disha menghela napas panjang, tidak bisa melihat wajah suaminya dari samping kanan karena tertutup lengan. Ditatapnya dada bidang dan perut rata suaminya dengan otot-otot yang tercetak sempurna itu. Ingin rasanya Disha menyentuh otot-otot yang tercetak sempurna itu kemudian berbaring memeluk tubuh suaminya itu. Namun kejadian dirinya menolak untuk melayani suaminya tadi, membuat Disha tidak berani melakukan hal itu.
Hujan diluar sana belum juga berhenti, membuat udara menjadi semakin dingin. Perlahan Disha kembali memejamkan matanya, namun setelah satu jam berusaha menyusul suaminya ke alam mimpi, Disha belum juga bisa terlelap. Sedangkan Alva nampak tidur dengan nyenyak. Karena putus asa tidak bisa tidur, akhirnya Disha memberanikan diri untuk mendekati suaminya dan memeluknya. Alva yang terbiasa memeluk Disha pun, reflek mulai bergerak dan membawa Disha ke dalam pelukannya. Disha menyunggingkan senyuman kemudian mencari posisi yang nyaman dalam dekapan suaminya. Hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan nya, hingga akhirnya Disha terlelap dalam dekapan suaminya.
...π"Semakin besar harapan kita, maka akan semakin besar pula kemungkinan untuk merasakan kecewa."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued
__ADS_1