
"Whatt..?!!"pekik Alva yang tidak percaya mamanya mengajak Disha makan siang untuk mencari informasi karena mencurigai dirinya belok.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan apa yang kamu lakukan? Kenapa mama mu sampai berpikir seperti itu tentang kamu?"tanya Disha penasaran.
"Aku yakin ini karena Anjani mengadu pada mama. Waktu itu dia masuk kedalam ruangan ku dan tak sengaja melihat aku yang sedang mengintimidasi Riky. Tapi posisi kami waktu itu terlalu dekat bahkan terlihat seolah-olah kami akan berciuman. Karena itu dia menganggap aku belok,"jelas Alva.
"What ?!! Oh ya amplop..!!! Aku benar-benar tidak mengerti dengan tingkah laku dan pemikiran kalian semua,"ucap Disha sambil memijit batang hidungnya.
"Tidak usah memikirkan mereka sayang, pikirkan kita saja,"ucap Alva langsung memeluk tubuh Disha kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Disha.
"Kamu mau apa?"tanya Disha langsung menahan dada Alva agar tubuh mereka tidak semakin dekat.
"Mau membuktikan kalau aku tidak belok,"ucap Alva kembali mendekatkan wajahnya.
"Jangan macam-macam Al, ini di kantor,"ucap Disha mendorong dada Alva hingga wajah Alva tidak sedekat tadi.
"Oke..oke.. tapi nanti setelah pulang ya?"ucap Alva menaik turun kan alisnya.
"Apa kamu tidak bosan melakukan itu,"ucap Disha yang Herman..eh heran dengan suaminya itu.
"Bagaimana aku bisa bosan sayang, itu adalah mood booster ku,"ucap Alva
mengusap pipi Disha.
"Sudahlah, aku mau bekerja,"ucap Disha menjauhkan tangan Alva dari wajahnya.
Disha beranjak dari duduknya tapi tiba-tiba Alva menarik pinggang Disha dan mendudukkan Disha di atas pangkuannya.
"Al..!!"pekik Disha,"Jangan macam-macam Al.!! ucap Disha memperingati Alva.
"Aku tidak akan macam-macam sayang, aku hanya minta DP saja,"ucap Alva.
"DP apaan?"tanya Disha tidak mengerti.
__ADS_1
"DP untuk nanti malam,"ucap Alva langsung mencium Disha tanpa aba-aba.
Disha terkejut dengan gerakan cepat Alva, namun belum hilang keterkejutan Disha tiba-tiba...
"Tok..tok...tok..."
Dengan cepat Disha bangkit dari pangkuan Alva kemudian merapikan pakaiannya, demikian juga dengan Alva.
"Masuk.!"ucap Alva, segera kembali ke kursi kebesarannya sedang Disha berjalan kearah pintu.
Pintu itu pun terbuka dan menampilkan Riky yang tampak menatap Disha dan Alva berganti, memandang penuh curiga.
"Permisi Pak, saya mau lewat,"ucap Disha karena Riky berdiri di depan pintu.
"Oh, iya. Silahkan.!"ucap Riky penuh senyuman, memberikan jalan untuk Disha.
"Ada apa?"tanya Alva dengan ekspresi yang tidak senang karena menganggu kemesraan nya dengan Disha.
"Kau..!!"geram Alva yang malah ditanggapi dengan senyuman oleh Riky.
"Tuan besok akan ada beberapa perusahaan yang ingin bekerjasama dengan kita. Mereka tertarik untuk bekerjasama dengan kita dalam pembangunan resort yang akan kita bangun di daerah xx.Kita bisa memilih perusahaan mana saja yang akan menjadi supplier untuk kebutuhan bahan-bahan dalam pembangunan resort itu nantinya,"ucap Riky.
𝐑𝐞𝐬𝐨𝐫𝐭 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐥𝐚𝐧𝐜𝐬𝐜𝐚𝐩𝐞 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐥𝐮𝐚𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐚𝐬𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐠𝐚𝐫, 𝐝𝐢𝐤𝐞𝐥𝐢𝐥𝐢𝐧𝐠𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐝𝐚𝐡 & 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐩𝐨𝐡𝐨𝐧𝐚𝐧. 𝐋𝐨𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐟𝐚𝐯𝐨𝐫𝐢𝐭 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐫 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐩𝐞𝐠𝐮𝐧𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧. 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐩𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐮𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐠𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐮𝐚𝐧𝐬𝐚 𝐧𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐜𝐢𝐩𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐫𝐞𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧.
"Baiklah, aku akan memilih supplier yang bisa menyediakan bahan-bahan yang berkualitas untuk pembangunan resort kita nanti.Dan tolong kamu selidiki perusahaan mana saja yang bisa dipercaya dalam mensuplai bahan bangunan yang berkualitas,"ucap Alva.
"Baik Tuan. Tapi ngomong-ngomong kenapa Tuan tertarik untuk membangun resort? Sebelumnya kita kan tidak pernah membangun resort dan sekedar berinvestasi saja,"tanya Riky.
"Aku hanya ingin menunjukkan kepada orang tua ku jika uang yang selama ini mereka berikan aku simpan untuk membangun resort itu,"
"Dan kamu harus tetap merahasiakan bahwa aku memiliki saham. Aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku sedikit demi sedikit telah berinvestasi di banyak perusahaan hingga aku memiliki saham di dalam dan luar negeri,"ujar Alva.
"Kenapa anda merahasiakan kekayaan anda?"tanya Riky.
__ADS_1
"Dari dulu papa selalu melarang aku dekat dengan gadis dari kalangan menengah ke bawah. Kemudian terlintas di benak ku, bagaimana jika suatu hari aku jatuh cinta pada gadis dari kalangan menengah ke bawah? Papa pasti akan menyingkirkan gadis yang aku cintai itu,"
"Untuk mengantisipasi hal itu terjadi, aku mati-matian memperkaya diriku dengan cara berinvestasi. Agar saat aku jatuh cinta dengan wanita dari kalangan menengah kebawah aku tidak perlu takut di ancam mau pilih warisan atau wanita yang aku cintai,"
"Dan yang pastinya dengan harta yang aku miliki, aku akan bisa menjaga dan melindungi orang yang aku cintai dari siapapun yang berniat jahat kepadanya," jelas Alva.
"Karena itu Tuan kabur dari pernikahan Tuan waktu itu, walaupun sudah diancam akan dicoret dari daftar ahli waris?"tanya Riky.
"Iya,"jawab Alva singkat.
"Feeling anda kuat sekali, buktinya anda sekarang mempunyai istri dari kalangan menengah ke bawah," ucap Riky sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Menurut ku kekayaan seseorang itu tidak diukur dari banyaknya harta yang dimilikinya, tapi dari hatinya. Buat apa kaya jika tidak bisa menghargai orang lain? Jangan menilai orang dari kekayaannya, karena orang kaya belum tentu baik hatinya,"
"Kita tidak bisa memilih mau dilahirkan dari rahim siapa apalagi memilih takdir yang akan kita jalani. Tidak ada manusia di dunia ini yang ingin ditakdirkan miskin dan menderita. Namun semua telah ditentukan oleh-nya tanpa bisa kita memilih apalagi menawarnya,"ujar Alva panjang lebar.
"Tuan bijak sekali. Terimakasih Tuan. Terimakasih karena anda memiliki pemikiran seperti itu, jika tidak, saya hanya akan menjadi lulus SMU dan tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Saya tidak akan bisa membantu dan menyenangkan orang tua saya seperti sekarang,"ucap Riky terharu.
"Itu karena kamu pintar dan bisa aku manfaatkan. Jika kamu tidak pintar, buat apa aku membiayai kuliahmu,"ucap Alva enteng.
"Tuan.. Kata-kata Tuan itu membuat respect saya pada Tuan hilang. Saya pikir selama ini tuan membiayai kuliah saya dan memperkerjakan saya karena tuan menyayangi saya sebagai seorang teman sekaligus sahabat, bukan karena saya ingin Tuan manfaatkan,"ucap Riky dengan wajah kecewa kemudian meninggalkan ruangan Alva.
"Apa aku salah bicara, hingga wajahnya sedih begitu? Dia tidak boleh salah paham padaku,, dia satu-satunya orang yang mengerti aku dan setia padaku"gumam Alva kemudian segera bangkit dari duduknya dan menyusul Riky yang sudah agak jauh dari ruangannya.
"Riky, jangan salah paham! Aku hanya bercanda! Walaupun kamu tidak pintar, aku akan tetap menyayangimu,"teriak Alva.
"Alva..?!!"
...🌟"Terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar belum tentu benar dan sama seperti apa yang kita pikirkan."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1