Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
98. Siapa Disha?


__ADS_3

"Saya tidak bersalah atas meninggalnya kedua orang tua anda! Saya hanya mengantar Beni dan saya tidak tahu jika dia akan membakar rumah Anda. Jika saya tahu dia akan melakukan tindakan kejahatan, saya tidak akan mau mengantar Beni,"sergah paman Disha.


"Apa kamu punya bukti untuk mendukung alibi mu itu?"tanya Bramantyo meremehkan.


"Ijinkan saya menelepon istri saya, agar anda mendengar cerita yang sesungguhnya. Istri saya tidak tahu jika saya anda tangkap dan dia juga pasti sangat khawatir karena sudah semalam ini saya belum juga pulang,"


"Melalui sambungan telepon, saya tidak akan bisa bersekongkol dengan istri saya untuk membuat kebohongan,"pinta paman Disha.


"Pakai handphone saya saja,"ucap Alva lalu mengambil handphone nya dari dalam saku jaketnya.


Tanpa meminta persetujuan dari Bramantyo terlebih dahulu, Alva langsung memberikan handphonenya yang sebelumnya sudah dibuka kunci layarnya. Paman Disha nampak terkejut saat melihat wallpaper layar handphonenya Alva yang menampilkan Alva, Disha, dan seorang bayi yang terlihat tampan dan lucu.


"Cepat hubungi istri kamu!"bentak Bramantyo yang membuat paman Disha terkejut dan langsung menekan nomor telepon istrinya dan mengaktifkan mode loud speaker.


"Halo, ini siapa ya?!"tanya suara seorang perempuan dari sambungan telepon.


"Bu, ini bapak,"sahut paman Disha.


"Bapak?! Bapak kemana saja ? Kenapa jam segini belum pulang? Ibu sangat khawatir dengan bapak,"cerocos bibi Disha.


"Ibu tidak usah khawatir! Bapak ada urusan dengan seorang teman lama. Jadi malam ini, bapak belum bisa pulang, Bu,"sahut paman Disha.


"Oh, begitu. Ibu jadi lega sekarang,"sahut bibi Disha.


"Bu, ibu ingat tidak dengan Beni?"tanya paman Disha.


"Beni? Beni pacarnya Nety teman sepanti asuhan dengan bapak itu?"tanya bibi Disha balik.


"𝐀𝐩𝐚 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐍𝐞𝐭𝐲 𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐛𝐮 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐤𝐮?"batin Alva.


"Iya Bu,"sahut paman Disha.


"𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐍𝐞𝐭𝐲 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐜𝐚𝐫 𝐁𝐞𝐧𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐜𝐚𝐫 𝐥𝐚𝐤𝐢-𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢?" batin Bramantyo.

__ADS_1


"Kenapa bapak bertanya soal bajingan itu? Jangan bilang bapak sedang bersama Beni! Bapak jangan berurusan lagi dengan bajingan itu! Kita harus bersembunyi dan lari dari polisi gara-gara si Beni itu,"


Gara-gara Nety yang pacaran sama Beni, bapak jadi ketemu sama si Beni dan bapak harus merubah penampilan bapak menjadi pria brewok berambut gondrong. Bahkan bapak harus merubah identitas bapak dan bersembunyi di daerah terpencil seperti sekarang,"


"Seharusnya kalau Beni sakit hati pada Nety karena sudah diporotin habis-habisan dan ditinggalkan di hari mereka akan menikah, Beni tidak perlu melibatkan bapak. Bukankah dulu bapak sudah mengingatkan Beni agar tidak menuruti semua keinginan Nety?"


"Giliran bangkrut dan ditinggalkan Nety, dia malah balas dendam dan membawa bapak dalam aksi balas dendamnya. Dia yang membunuh dan merampok, malah bapak dituduh sekongkol dengan dia. Padahal dia cuma bayarin biaya operasi ibu doang,"cerocos bibi Disha terdengar kesal,"Apa bapak beneran sedang bersama Beni?"tanya bibi Disha terdengar curiga.


"Enggak, Bu. Bapak enggak bersama Beni kok,"sahut paman Disha.


"Kalau begitu, kenapa bapak bertanya soal Beni kepada ibu?"tanya bibi Disha.


"Ada orang yang menuduh bapak pacaran sama Nety Bu,"sahut paman Disha menatap Bramantyo yang nampak jadi salah tingkah.


"Apa? Bapak pacaran sama Nety? Ha ..ha...ha...ha...mana mau si Nety pacaran sama bapak yang dulu cuma seorang supir taksi. Apa lagi sekarang hanya seorang petani. Jangankan jadi pacarnya, bapak ngaku sebagai temannya pun nggak bakalan dia akui,"ucap bibi Disha sambil tertawa.


"Iya, ibu benar. Nety memang tidak mau mengakui orang miskin seperti kita sebagai temannya,"ujar paman Disha, membuang nafas kasar.


"Iya, pak. Mangkanya ibu merasa lucu jika ada yang mengatakan bapak adalah pacar Nety. Sampai dunia kiamat sekalipun, Nety tidak akan mau berteman, pacaran apalagi menikah dengan orang dari kalangan menengah ke bawah," ujar bibi Disha.


'Iya pak, hati-hati!"sahut bibi Disha dan paman Disha pun menutup teleponnya.


Setelah panggilan telepon berakhir, Paman Disha kemudian mengembalikan handphone Alva.


"Tuan dengar sendiri kan jika Nety adalah pacar dari Beni dan bukan pacar saya? "tanya paman Disha.


"Tapi kamu tetap bersalah karena membantu orang yang sedang melakukan kejahatan,"sahut Bramantyo.


"Saya tidak tahu kalau Beni akan melakukan tindakan kriminal, Tuan. Jika saya tahu, maka saya tidak akan mau membantu Beni,"ucap paman Disha.


"Tapi ka...."ucapan Bramantyo langsung dipotong oleh Alva.


"Sudahlah, pa! Paman Disha tidak bersalah. Papa juga tidak bisa melakukan apapun pada paman Disha. Kasus itu terjadi hampir 30 puluh tahun yang lalu. Jika papa menyiksa paman Disha disini sampai mati, maka papa yang akan dipenjara,"ucap Alva.

__ADS_1


"Tapi kata-kata tidak bisa menjadi bukti kalau dia tidak bersalah,"ucap Bramantyo.


"Apa papa melihat dengan mata kepala papa sendiri dan punya bukti yang kuat kalau paman Disha adalah otak dibalik rumah papa yang dirampok dan di bakar?! Jika papa ingin melanjutkan tuduhan papa itu, sebaiknya kita datang saja ke kantor polisi. Kita akan buktikan paman Disha bersalah atau tidak!" ujar Alva.


"Saya bersedia. Dulu saya takut berurusan dengan polisi karena takut meninggalkan istri saya yang saat itu kondisinya sangat membutuhkan saya. Tapi sekarang walaupun saya tinggalkan, saya yakin istri saya bisa hidup dengan layak,"


"Jadi, jika Tuan memang berniat mencari keadilan saya akan mendukungnya. Agar saya bisa membuktikan bahwa bahwa saya tidak bersalah dan saya hanya dikambinghitamkan. Saya ingin membersihkan nama baik saya,"ucap paman Disha mantap.


"Tentu saja kamu berani, karena kasus itu sudah ditutup. Apa kamu pikir saya bodoh,"sergah Bramantyo.


"Lalu apa yang sebenarnya papa inginkan?"tanya Alva curiga.


"Papa akan melepaskannya. Tapi kamu juga harus menceraikan Disha. Dia itu hanya perempuan dari kalangan menengah kebawah, dia tidak pantas bersanding dengan mu!"sergah papa Alva.


"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah bercerai dengan Disha. Papa boleh mencoret aku dari daftar penerima warisan, tapi aku tidak akan pernah menceraikan Disha,"ucap Alva berapi-api.


"𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚?"batin paman Disha.


"Kamu sudah dibutakan oleh cinta! Selamanya papa tidak akan pernah menerimanya sebagai menantu papa. Suatu saat dia akan meninggalkan kamu jika dia menemukan laki-laki yang lebih kaya dan lebih segalanya dari mu!"


"Seperti ibu kandung mu, yang meninggalkan kita disaat perekonomian papa terpuruk. Wanita dari kalangan menengah kebawah hanya akan setia pada uang!"ucap Bramantyo berapi-api dan penuh emosi.


"Itu ibu kandung ku, bukan Disha!"kilah Alva.


"Mereka sama saja, orang dari kalangan menengah kebawah tidak akan pernah bisa setia. Mereka hanya setia pada uang dan kekuasaan,"ucap Bramantyo tidak mau kalah.


"Jika masalahnya adalah status Disha, saya ingin mengatakan satu hal. Sebenarnya Disha bukanlah anggota keluarga kami. Disha bukan putri dari kakak ipar saya. Dan saya yakin jika Disha adalah anak orang dari kalangan menengah ke atas,"ucap paman Disha menyela perdebatan ayah dan anak itu.


"Apa maksud paman?"


"Disha??!


...🌟"Jangan menilai orang dari harta dan tahtanya, tapi nilai lah seseorang dari sifat, tingkah laku dan kepribadiannya."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2