Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
158. Sama-sama Ngambek


__ADS_3

"Tuan,"ucap Ferdi menghampiri Alva setelah Alva keluar dari restoran, selesai bertemu dengan klien baru.


"Rik, kamu kembali ke kantor duluan!"titah Alva pada Riky yang ada di sampingnya.


"Baik, Tuan. Aku duluan Fer,"ucap Riky seraya menepuk pundak Ferdi dan dianggukki oleh Ferdi. Riky kemudian berjalan menuju parkiran, dimana mobilnya berada.


"Ada apa?"tanya Alva.


"Ini tentang Nyonya, Tuan,"sahut Ferdi.


"Tentang Disha? Kita bicara di dalam mobil saja!"ajak Alva.


"Baik, Tuan,"sahut Ferdi kemudian mengikuti Alva yang melangkah menuju mobilnya.


"Ada apa dengan istri ku?"tanya Alva setelah mereka berada di dalam mobil.


"Tadi Nyonya menemui Tuan Radeva di sebuah kafe,"lapor Ferdi yang membuat Alva terkejut.


"Untuk apa istriku menemuinya?"tanya Alva dengan wajah dan suara yang berubah menjadi datar.


"Saya dengar Nyonya mengancam Tuan Radeva agar Nona Trisha tidak menggangu keluarga Tuan lagi,"jawab Ferdi.


"Mengancam Radeva? Bagaimana cara istri ku mengancam Radeva?"tanya Alva agak terkejut.


"Nyonya bilang akan menyebarkan video yang dimilikinya jika Trisha masih menganggu keluarga nya," sahut Ferdi.


"Vidio tentang apa?"tanya Alva seraya mengernyitkan keningnya.


"Saya juga tidak tahu, Tuan,"sahut Ferdi.


"Apa mungkin vidio panas Trisha dan Hery?"tanya Alva seraya menatap Ferdi.


'Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu, vidio apa yang dimaksud oleh Nyonya Disha,"jawab Ferdi.


"Lalu sekarang istri ku ada di mana?" tanya Alva.


"Nyonya sudah pulang ke rumah, Tuan," jawab Ferdi.


"Ya sudah, kamu boleh pergi,"ucap Alva.

__ADS_1


"Baik Tuan,"sahut Ferdi kemudian keluar dari mobil Alva dan sedikit menundukkan kepalanya saat Alva membunyikan klakson, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir restoran itu.


Alva merasa kesal kepada Disha karena Disha telah berani menemui seorang pria tanpa izin darinya.


Alva tidak bisa menyusul Disha untuk pulang ke rumah karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan nya. Alva terpaksa kembali ke kantor dan pulang ke rumah saat waktu makan malam hampir tiba.


Alva masuk ke dalam kamar dan melihat Disha sedang menyusui Kaivan. Tanpa sepatah kata, Alva langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Kenapa dia? Kok tidak seperti biasanya?" gumam Disha yang melihat Alva masuk ke dalam kamar tanpa menyapanya.


Tidak lama kemudian, Alva keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melilit di pinggangnya hingga bentuk tubuhnya dengan dada bidang, serta perut sixpack nya terekspos sempurna.


Walaupun setiap hari melihatnya, Disha tidak pernah bosan untuk memandang dan meraba tubuh seksi suaminya itu. Sedangkan Alva yang ditatap Disha nampak acuh dan malah memakai pakaiannya di depan Disha.


'𝙄𝙨𝙨𝙝.. 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙗𝙖𝙟𝙪 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙩𝙪, 𝙨𝙞𝙘𝙝? 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙤𝙙𝙖 𝙠𝙪?"batin Disha kemudian memalingkan wajahnya dari Alva.


Alva menghampiri Disha dan Kaivan yang baru saja selesai menyusu,"Jagoan papa, papa kangen sekali sama jagoan papa ini,"ucap Alva mengambil alih Kaivan dari pangkuan Disha kemudian menciumi wajah putranya itu tanpa menyapa Disha. Sedangkan Kaivan terkekeh karena dicium oleh Alva.


Alva kemudian menggendong Kaivan keluar dari kamar di susul oleh Disha yang bertambah kesal kepada Alva karena Alva malah mendiamkan dirinya.


Setelah sampai di ruang makan, Alva memberikan Kaivan kepada Bik Inah, karena mereka sekeluarga akan menyantap hidangan makan malam. Disha langsung duduk di sebelah Alva seperti biasanya melayani Alva.


"Iya, pa,"sahut Alva.


"Apa yang dilakukan Trisha, Al?"tanya Ratih.


"Dia meminta pertanggung jawaban dari ku," jawab Alva.


"Pertanggung jawaban apa? Kamu tidur dengan dia?"tanya Ratih seraya mengernyitkan keningnya.


"Enggak lah, ma. Aku bukan pria brengseek yang bisa tidur dengan siapa saja. Dia tidur dengan Hery, ma. Bukan dengan ku,"sahut Alva.


"Lalu kenapa dia meminta pertanggung jawaban dari mu?"tanya Bramantyo.


"Karena anak buah ku lah yang telah menjebak dia, hingga dia tidur dengan Hery,"jelas Alva.


"Masih masalah yang kemarin? Papa kira ada masalah baru lagi,"celetuk Bramantyo.


"Bukannya Mahendra sudah memutuskan untuk menikahkan mereka, dan Darmawan pun setuju. Lalu kenapa dia malah meminta pertanggung jawaban dari kamu?"tanya Ratih tidak mengerti.

__ADS_1


"Karena dia tidak mau menikah dengan Hery, ma,"sahut Alva.


"Tidak mau menikah dengan Hery? Terus maunya nikah sama kamu, gitu?! Enak saja, orang lain yang makan nangkanya kenapa kamu yang harus kena getahnya?!"cetus Ratih nampak kesal.


"Apa benar dia sampai melepas pakaiannya di ruangan kamu, Al?"tanya Bramantyo.


"Apa?! Apa bener, Al?"tanya Ratih yang terkejut mendengar kata-kata Bramantyo.


"Iya, pa, ma. Dia benar-benar tidak punya malu, atau mungkin dia itu sudah tidak waras lagi hingga berani berbuat seperti itu,"sahut Alva terlihat kesal.


"Tingkah laku anak itu semakin menjadi. Padahal keluarga Ghina sudah mendidik dan membesarkan dia sebaik mungkin. Tapi sifat dan tingkah lakunya malah berlawanan dengan apa yang ditanamkan dan diajarkan oleh keluarga Ghina,"


"Jika terus menerus seperti itu, mama takut dia tidak hanya akan mencoreng nama baik keluarga Ghina, tapi bisa jadi dia akan menghancurkan keluarga Ghina," ujar Ratih menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya, mama benar. Mereka terlalu sabar menghadapi tingkah laku anak itu,"timpal Bramantyo.


"Aku tidak menyangka, Om Mahendra dan Tante Ghina yang baik bisa mempunyai anak yang seperti itu. Padahal Radeva saja orangnya baik, kenapa punya adik yang kelakuannya seperti itu? Trisha itu seperti bukan bagian dari keluarga Om Mahendra saja," celetuk Disha yang membuat ekspresi wajah Alva menjadi datar.


"𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙟𝙞 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖𝙠𝙪?! batin Alva yang merasa tidak suka mendengar Disha memuji pria lain.


"Dia memang bukan anak kandung Mahendra dan Ghina. Dia adalah anak angkat Mahendra dan Ghina,"cetus Ratih yang membuat Alva dan Disha terkejut.


"Dia anak angkat? Pantesan sikap dan tingkah lakunya tidak sama dengan keluarga Mahendra,"sahut Disha.


"Karena itu mama tidak mau menjodohkan Alva dengan dia. Selain karena dia bukan anak kandung Mahendra dan Ghina, tapi juga karena dari kecil mama sudah melihat watak anak itu keras dan juga sombong,"ujar Ratih.


Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya mereka semua pun masuk kedalam kamar mereka masing-masing.


Alva duduk dengan bersandar di headboard ranjang sambil memainkan handphonenya. Seperti biasanya, Alva hanya akan memakai celana boxer jika dia tidur sehingga tubuh bagian atas nya yang berotot terekspos sempurna.


Disha keluar dari kamar mandi, melirik Alva sekilas, kemudian duduk di depan meja riasnya. Disha memakai skincare di wajahnya, kemudian memakai losion di tangan dan kakinya hingga aroma harum dari losion itu menyeruak di dalam kamar itu.


"𝘿𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙚𝙠? 𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙚𝙠? 𝙃𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙟𝙪𝙠𝙠𝙪 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙚𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙖𝙢𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞.𝙉𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩!!"gerutu Disha dalam hati.


Alva melirik Disha yang sedang mengusapkan losion di pahanya yang putih mulus membuat Alva menelan salivanya dengan susah payah.


Tak lama kemudian Disha berbaring di samping Alva dengan memunggungi Alva. Disha masih ngambek gara-gara kejadian tadi siang ditambah lagi sekarang Alva yang malah mendiamkan dirinya.


"Kenapa kamu menemui Radeva tanpa izin dari ku?"

__ADS_1


To be continued


__ADS_2