Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
148. Mencuri Ciuman


__ADS_3

"Kamu bukan putraku!!"sentak Darmawan dengan suara menggelegar di ruangan itu.


"Apa maksud papa?"tanya Hery nampak sangat terkejut.


Darmawan mengambil dua amplop dari laci Buffett yang ada di ruangan itu kemudian membanting dua amplop itu di atas paha Hery,"Baca itu!"titah Darmawan.


Dengan cepat Hery membuka salah satu amplop yang menyatakan bahwa Sandy adalah putra kandung Darmawan. Kemudian Hery membuka amplop satunya dengan tanggal yang berbeda dengan isi amplop yang sebelumnya dia baca. Dan betapa terkejutnya dia saat membaca isi amplop itu yang menyatakan bahwa dirinya bukanlah putra dari Darmawan.


"Kamu bukan putraku! Sandy lah putra kandung ku. Kamu hanyalah keponakan ku. Orang tuamu telah menukar mu dengan putraku dan berusaha melenyapkan Sandy, putra kandung ku. Aku tidak mengira jika sifat buruk ayah kandung mu benar-benar mengalir dalam darah mu,"ucap Darmawan menatap Hery dengan segudang rasa kecewa.


"Tidak! Papa bohong kan? Itu tidak benar kan?"tanya Hery menggelengkan kepalanya pelan merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Darmawan dan juga hasil tes DNA yang baru saja di bacanya.


"Itu adalah kenyataannya. Selama ini aku selalu bertanya-tanya kenapa kamu sama sekali tidak memiliki persamaan sifat dengan ku atau pun almarhum istriku. Aku ragu apakah kamu benar-benar anakku hingga sikap dan tingkah laku mu bertolak belakang dengan ku,"


"Padahal aku merasa sudah merawat, membesarkan dan mendidik mu dengan baik. Kini terjawab sudah semua pertanyaan ku itu. Kamu bukan anak kandung ku, tapi kamu hanya lah keponakan ku,"


"Mulai detik ini juga, jika kamu tidak mau mendengarkan dan menurut apa kataku, kamu boleh angkat kaki dari rumah ini. Lakukan apapun yang kamu suka, tapi jangan pernah bawa-bawa namaku. Dan jangan bawa apapun dari rumah ini selain pakaian mu. Aku sudah tidak sanggup lagi mendidik mu,"ujar Darmawan kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Sandy.


"Pa..!!!"panggil Hery tapi tidak dihiraukan oleh Darmawan.


Darmawan berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Hery yang memanggil nya.Darmawan benar-benar sangat kesal dan sudah muak dengan kelakuan Hery.


"Pa, apa papa baik-baik saja?"tanya Sandy yang berjalan di belakang Darmawan, nampak khawatir dengan keadaan Darmawan,


Darmawan menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Sandy,"Papa tidak apa-apa. Papa hanya butuh waktu untuk istirahat dan menenangkan diri. Kamu tidak perlu khawatir, papa sudah biasa menghadapi Hery,"ucap Darmawan


Di ruang tamu,"Tidak...ini tidak mungkin!! Aku sekarang pasti sedang bermimpi! Ya aku sedang bermimpi!"ucap Hery meyakinkan dirinya sendiri dengan menepuk-nepuk pipinya sendiri, namun dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


Semakin hari kelakuan Hery memang semakin membuat Darmawan kesal. Hery tidak takut lagi dengan ancaman Darmawan yang mengatakan semua hartanya akan diberikan pada putranya atau pada panti asuhan jika sampai putra Hery meninggal.


Hery merasa itu tidak mungkin dan hanya gertakan Darmawan saja. Mana mungkin seorang ayah akan memberikan hartanya pada orang lain sedangkan putranya masih hidup. Itulah yang ada di pikiran Hery akhir-akhir ini hingga Hery kembali berbuat semaunya dan membuat Darmawan pusing.


Dan sekarang apa kenyataannya? Dirinya bukan anak kandung dari Darmawan pemilik HD Group? Dirinya hanyalah keponakan seorang Darmawan dan sekarang putra kandung Darmawan sudah muncul.


Hery benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi hingga dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu membanting pintu dengan keras dan melajukan mobilnya menuju klub malam.


Sandy dan Darmawan menengok ke arah pintu utama saat mendengar suara pintu yang dibanting dan tak lama kemudian terdengar suara deru mobil meninggalkan rumah itu.


"Papa tidak usah khawatir! Aku akan menyuruh orang untuk mengikuti nya, pa,"ucap Sandy yang seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Darmawan.


"Terimakasih, Nak! Kamu memang pengertian seperti almarhum mamamu. Kalian tahu apa yang papa pikirkan tanpa harus papa mengatakannya,"ucap Darmawan memeluk Sandy sebentar kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Sandy hanya menatap punggung pria yang teryata adalah ayah kandungnya itu dengan tatapan sendu sampai tubuh pria paruh baya itu menghilang di balik pintu.


Sandy membuka pintu kamar dengan perlahan dan mendapati Anjani dan putra sambungnya sudah terlelap di atas ranjang yang berukuran besar itu.


Sandy kemudian menggendong dan memindahkan putra sambungnya itu ke dalam box bayi. Kemudian menyelimuti Anjani yang sudah terlelap itu.


Sandy menatap wajah Anjani yang sudah terlelap itu kemudian menyingkir kan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu dengan senyum yang menghias bibirnya.


"Cantik! Kamu selalu terlihat cantik di mata ku. Aku tidak pernah menyangka bisa memilikimu. Aku bahkan tidak berani bermimpi apalagi berharap untuk memiliki mu.Aku merasa kamu terlalu tinggi untuk ku gapai,"


"Namun sekarang kamu menjadi milikku dan aku merasa sangat beruntung dan bahagia karena bisa memilikimu,"gumam Sandy seraya membelai rambut Anjani lembut kemudian mengecup kening Anjani beberapa saat.


Sandy kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan tidak lama kemudian keluar dan sudah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendek.

__ADS_1


Perlahan Sandy naik ke atas ranjang, tidak ingin membuat Anjani yang sedang terlelap itu terbangun.Sandy membaringkan tubuhnya di sebelah Anjani dan memiringkan tubuhnya menatap wajah Anjani yang tengah terlelap.


Sandy mengamati wajah Anjani, alisnya, matanya yang sedang terpejam, hidungnya yang mancung hingga terakhir tatapan mata Sandy berakhir pada bibir Anjani yang mungil. Bibir atas yang tipis tapi tebal di bagian bawah dan nampak menggoda di mata Sandy.


Dengan perlahan Sandy mendekatkan wajahnya ke wajah Anjani. Dengan hati-hati Sandy menempelkan bibirnya ke bibir Anjani hingga jantungnya berdetak dengan kencang.


Niat Sandy yang awalnya hanya ingin mengecup bibir Anjani, namun nyatanya saat bibirnya menempel dengan bibir Anjani, Sandy malah melum mat bibir Anjani.


Anjani yang merasa ada benda basah yang menempel bahkan melum mat bibir nya pun mulai terusik tidurnya hingga terbangun. Anjani terkejut saat menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mencium serta melum mat bibirnya dan reflek mendorong tubuh Sandy.


"Maaf... maaf kan aku?"ucap Sandy salah tingkah saat Anjani mendorong tubuhnya.


"Maaf kak, a..aku hanya terkejut. Aku.. aku tidak bermaksud... tidak bermaksud menolak kakak,"ucap Anjani tanpa berani menatap wajah Sandy dengan jantung yang berdetak kencang.


"Sebaiknya kita tidur,"ucap Sandy kemudian segera berbaring di sebelah Anjani dan memejamkan matanya. Anjani mengulum senyum melihat Sandy nampak salah tingkah saat kepergok sedang mencuri ciuman darinya.


Akhirnya Anjani pun ikut memejamkan matanya dan kembali' terlelap dengan senyum yang menghias bibirnya sedangkan Sandy cukup lama memejamkan matanya hingga akhirnya dia ikut terlelap.


Hery meminum alkohol untuk melupakan semuanya. Melupakan datangnya hari yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Hari dimana dia mengetahui bahwa dirinya bukanlah putra dari seorang Darmawan. Dirinya hanyalah seorang anak yatim-piatu.


"Teryata aku bukan siapa-siapa. Aku hanya yatim-piatu. Aku hanya anak angkat,"gumam Hery tertawa dengan air mata yang membasahi pipinya.


Setelah menegak beberapa botol minuman beralkohol akhirnya Hery pun tidak sadarkan diri. Mengetahui Hery sudah tidak sadarkan diri, orang-orang suruhan Sandy pun segera membawa Hery pulang dan membaringkan Hery di kamarnya.


...🌟"Sering kali manusia merasa bangga dengan apa yang dimilikinya tanpa mau mengingat bahwa semua yang ada di dunia ini adalah titipan dan suatu saat akan diambil pemilik-Nya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2