
Siang itu akhirnya Radeva bisa bernapas lega, karena Icha mau pulang bersamanya. Walaupun saat dalam perjalanan Icha hanya diam saja, bahkan duduk pun menjauhinya, tapi setidaknya istrinya ikut pulang dan nanti Radeva bisa mencari cara untuk membujuknya.
"Sayang, akhirnya kamu pulang. Mama sudah kangen banget sama kamu,"Ghina menyambut kepulangan menantunya dengan senyum lebar, tapi langsung menunjukkan wajah sinis saat menatap putranya.
Melihat dua wanita di depannya itu, Radeva hanya bisa menghela napas panjang sambil bergumam pelan,"Aku berasa seperti anak tiri,"
"Kamu bilang apa tadi?"tanya Ghina langsung menoleh ke arah Radeva dengan tatapan tajam.
"Nggak ma, aku akan ke kantor,"ucap Radeva kemudian menatap Icha,"Sayang, aku pergi dulu, ya!"ucap Radeva kemudian bergegas keluar dari rumah itu. Ingin mencium istrinya, takut kena amuk lagi,"Lebih baik pergi, dari pada diterkam macam betina,"gumam Radeva seraya masuk ke dalam mobilnya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Radeva belum juga pulang. Icha pun memilih tidur lebih dulu. Namun baru saja Icha memejamkan matanya, terdengar suara pintu yang terbuka. Icha pun memilih diam dan pura-pura tidur.
Radeva menatap istrinya yang berada di balik selimut seraya melepaskan jas dan dasi nya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Radeva keluar dari kamar mandi dan menyusul istrinya berbaring di atas ranjang. Radeva masuk ke dalam selimut kemudian memeluk istrinya yang memunggunginya itu dari belakang. Namun baru juga tangannya yang besar menempel di perut Icha, wanita itu langsung menyingkirkan tangannya.
"Sayang, kamu belum tidur?"tanya Radeva lembut
"Jangan dekat-dekat! Aku masih marah sama kakak,"ketus Icha tanpa membalikkan tubuhnya.
"Aku harus bagaimana agar kamu bisa memaafkan aku?"tanya Radeva lesu.
"Pikirkan saja sendiri!"ketus Icha.
Radeva membuang napas kasar, berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya. Satu jam berlalu, tapi Radeva masih belum bisa memejamkan matanya. Akhirnya Radeva keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur. Saat di kantor tadi, karena ingin cepat-cepat pulang, Radeva melewatkan makan malamnya. Jadi, sekarang Radeva merasa sangat lapar.
"Tuan Muda sedang apa?"tanya Bik Anah saat melihat Radeva sedang memanasi lauk.
"Aku tadi sibuk banget bik, jadi tidak sempat makan malam,"sahut Radeva tersenyum tipis.
"Biar saya saja Tuan Muda,"ucap Bik Anah ingin menyiapkan makanan untuk Radeva.
"Tidak usah, Bik. Sudah mau selesai, kok! Bibi istirahat saja,"ucap Radeva. Bik Anah pun terpaksa menuruti perintah Radeva.
"Kakak sedang apa?"tanya Alva yang tiba-tiba muncul.
"Makan,"sahut Radeva singkat, seraya meletakkan piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauk nya di atas meja, kemudian duduk dan mulai menyantap makanannya.
"Kenapa selarut ini baru makan?"tanya Alva seraya mengambil air mineral dari dalam lemari es, kemudian duduk disebelah Radeva.
"Tadi nggak sempat,"sahut Radeva seraya menyantap makanannya, tapi nampak kurang berselera.
"Kakak belum baikan sama Kakak ipar?"tanya Alva setelah meneguk air dalam kemasan botol.
__ADS_1
"Kamu jangan sok tahu!"ketus Radeva nampak bersungut-sungut.
"Dari wajah kakak juga sudah kelihatan. Kakak tidak bisa menyembunyikan nya dari ku. Huff...aku sedih dan prihatin pada kakak. Masih pengantin baru, tapi harus bolak-balik puasa. Mana puasanya nggak tanggung-tanggung lagi. Pertama puasa dua Minggu dan sekarang sudah tiga Minggu masih puasa juga,"ujar Alva kemudian menertawakan Radeva.
"Siapa yang puasa? Aku sudah buka puasa kemarin ma..."Radeva tidak melanjutkan kata-katanya saat sadar kalau dirinya keceplosan.
Alva tertawa terbahak-bahak kemudian berbisik pada Radeva,"Jangan- jangan kakak mengeksekusi kakak ipar saat kakak ipar sedang tidur? Kalau tidak, mana mungkin kakak ipar melayani kakak? Orang tadi aja aku lihat kakak masih dicueki kakak ipar. Wahh..kakak benar - benar parah. Orang tidur masih kakak gerayangi juga,"ujar Alva kembali tertawa, tidak berkaca bahwa dirinya juga begitu.
"Berisik!"sergah Radeva yang merasa malu. Kenapa adik iparnya ini bisa tahu segalanya? Radeva benar-benar tidak berkutik jika sudah berhadapan dengan adik iparnya ini.
"Tidak usah malu, kak! Kita ini sama-sama laki-laki normal. Wajar jika tidak bisa menahan diri jika sudah berada di dekat istri. Yang tidak wajar itu, jika tidak bisa menahan diri melihat wanita lain tapi malah tidak berselera saat melihat istri sendiri. Itu bahaya! Dan perlu dipertanyakan apa penyebabnya,"ujar Alva nampak serius.
"Perempuan memang rumit,"ucap Radeva menghela napas sedangkan makanan di piring nya hanya dimakan nya sedikit.
"Perempuan itu kumpulan dari tanda tanya kak. Dan kita sebagai para pria dituntut untuk memecahkan nya,"ujar Alva menghela napas panjang.
"Kamu benar. Wanita memang susah ditebak apa maunya,"timpal Radeva yang kali ini sependapat dengan Alva.
"Jadi beneran ya, semalam kakak nyuri jatah?"tanya Alva kemudian kembali tertawa.
"Issh..diam!"bentak Radeva karena merasa malu dengan kelakuannya sendiri yang meniduri istrinya saat istrinya sedang tidur.
"By the way, gimana rasanya bercinta dengan orang tidur, kak? Kakak dapat berapa ronde start dari dini hari?"tanya Alva kembali tertawa.
"Kakak mau aku kasih tahu gimana caranya menghadapi istri yang lagi ngambek, nggak?"tanya Alva santai.
"Bagaimana caranya?"tanya Radeva nampak serius. Radeva tahu, walaupun Alva sangat tengil, dan selalu membuat nya kesal sekaligus malu, tapi Alva juga selalu memberikan solusi setiap diri nya menghadapi masalah. Jadi walaupun Radeva dibuat malu dan kesal setengah mati oleh Alva, Radeva tidak pernah membenci Alva. Apalagi Radeva tahu kalau adiknya sangat mencintai Alva.
"Pertama, jika dia masih mau tidur seranjang dengan kakak, rang sang agar tidak bisa menolak bercinta dengan kakak. Biasanya setelah diajak bercinta, hati perempuan menjadi luluh, apalagi kalau kakak sedikit merayunya, dan berkata-kata manis padanya,"
"Kedua, kalau masih mau tidur seranjang tapi nggak mau di sentuh, pas dia tidur pepet aja. Kalau dia biasa tidur dalam pelukan kakak, dia bakal masuk sendiri dalam pelukan kakak. Jika dia sudah masuk dalam pelukan kakak, tapi pas bangun pengen lepasin pelukan kakak, kakak jangan melepaskan nya. Saat dia sudah dalam pelukan kakak, rayu dia habis-habisan, buat suasana seromantis mungkin dengan kata-kata kakak dan minta maaf padanya,"
"Ketiga, jika dia tidak mau tidur seranjang dengan kakak. Kakak turuti saja. Kakak bisa tidur, di sofa, di lantai atau di ruang kerja,"ujar Alva panjang lebar.
"Kenapa tidak tidur di kamar lain saja,"celetuk Radeva.
"Kalau kakak tidur di kamar lain, dia akan merasa kakak tidak perduli padanya. Tapi kalau kakak tidur di sofa, di lantai atau di ruang kerja, dia akan kasihan pada kakak, dan lama kelamaan akan memaafkan kakak,"
"Bagaimana jika semua itu tidak berhasil?"tanya Radeva lagi.
"Kalau semua jurus itu tidak mempan, kakak pakai jurus pamungkas,"jawab Alva menatap Radeva serius.
"Jurus pamungkas? Apa jurus pamungkasnya?"tanya Radeva nampak antusias.
__ADS_1
"Silent,"jawab Alva singkat.
Radeva mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan maksud Alva,"Silent? Maksudnya gimana?"tanya Radeva menatap serius pada Alva.
"Silent, kakak diamkan dia balik. Acuhin dan cuekin dia. Ntar dia sendiri yang bakal deketin kakak,"jelas Alva.
"Kenapa nggak langsung pakai jurus itu saja? Kenapa musti pusing -pusing dengan jurus yang lain?"tanya Radeva seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Alva membuang napas kasar,"Kalau kakak langsung pakai jurus itu, yang ada dia tambah marah sama kakak. Dia akan berpikir kakak benar-benar tidak perduli dan tidak mencintai dia. Karena kakak sama sekali tidak berusaha untuk membujuknya,"tukas Alva terlihat kesal.
"Begitu ya? Huff... wanita memang rumit dan merepotkan,"keluh Radeva dengan ekspresi wajah yang lesu.
"Wanita memang rumit dan merepotkan, tapi tanpa wanita, hidup kita tidak akan berwarna,"sahut Alva.
"Kamu benar,"timpal Radeva sependapat dengan Alva. Karena selama dirinya bersama Icha, Radeva memang merasa hidupnya lebih berwarna.
"Sedang apa kalian di sini?"tanya Mahendra yang tiba-tiba muncul, membuat dua pria itu terkejut.
"Tidak ada, pa. Hanya menemani kakak makan,"sahut Alva kemudian menoleh pada Radeva,"Iya kan, Kak?"tanya Alva.
"Iya. Alva hanya menemani aku makan, pa,"sahut Radeva membenarkan kata-kata Alva.
"Tumben sekali kalian berdua akur. Papa jadi curiga,"ujar Mahendra seraya berjalan ke arah lemari es.
"Aku ke kamar dulu, pa, kak,"pamit Alva, kemudian langsung beranjak pergi dari tempat itu.
"Aku juga mau kembali ke kamar, pa,"ucap Radeva ikut pergi meninggalkan ruangan itu.
"Eh..? Kenapa mereka kompak sekali pergi?"gumam Mahendra merasa aneh, karena biasanya anak dan menantunya itu tak pernah akur. Tapi tadi Mahendra melihat mereka bicara serius dan nampak akrab.
...π"Sejatinya, bahagia atau tidaknya pasangan suami-istri, tergantung dari seberapa besar mereka saling mengerti dan saling memahami."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Terimakasih semuanya!πππππ Tanpa kalian, aq bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dukungan dan komentar positif kalian adalah mood booster buat aq. Terus terang, aq pernah beberapa kali sakit selama menulis novel ini, bahkan pernah sakit sampai empat hari cm bisa diam di atas kasur. Tapi aq ttp nulis, untuk kalian semua yang selalu nungguin aq update. Aq g bisa ngasih apa-apa buat membalas semua dukungan kalian.Tapi, sebagai ungkapan terima kasih aq pada kalian semua, aq akan berusaha menulis sebaik mungkin yang aq bisa.
Burung Irian Jaya, burung Cendrawasih, Pada kalian semua, aq ucapkan banyak-banyak terima kasih. πππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued
__ADS_1