Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
230. Masih Proses


__ADS_3

Hari ini Alva memilih untuk pulang ke rumah Bramantyo. Selain agar adil pada kedua orang tua dan juga kedua mertuanya, Alva juga tidak suka dengan kehadiran Trisha di rumah mertuanya.


"Jagoan nenek!"seru Ratih segera mengambil alih Kaivan dari gendongan Disha. Bayi montok itu nampak masih mengantuk karena bangun dari tidurnya. Kaivan tertidur saat dalam perjalanan menuju kediaman Bramantyo.


"Kalian akan menginap di sini kan?"tanya Ratih penuh harap.


"Iya, ma,"ucap Alva kemudian mengecup pipi Ratih sekilas,"Papa mana, ma? Ada hal penting apa yang ingin papa bicarakan dengan ku?"tanya Alva.


"Nanti kalian juga tahu. Ayo masuk! Sebentar lagi kita makan malam bersama. Bik Inah, ayo masuk!"ajak Ratih kemudian berjalan menuju ruangan makan seraya menciumi cucunya karena merasa rindu, sudah beberapa hari tidak bertemu dengan cucunya itu. Sedangkan Alva, Disha dan Bik Inah mengikuti dibelakangnya.


"Kalian sudah datang?"tanya Bramantyo yang baru melihat anak, cucu dan menantunya. Nampak kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya saat melihat mereka datang.


"Iya, pa. Baru saja sampai,"sahut Alva.


"Jagoan kakek! Kok lemes?"tanya Bramantyo seraya mengambil alih Kaivan dari gendongan Ratih.


"Tadi pas dalam perjalanan ke sini ketiduran, pa, dan pas nyampe kebangun,"sahut Disha.


"Ohh..pantesan lemes,"ujar Bramantyo.


"Gimana kabar Radeva, Dis?"tanya Bramantyo menatap Disha sekilas kemudian mencium cucunya.


"Kemarin menginap di rumah mertuanya. Nggak tahu, malam ini menginap dimana,"sahut Disha.


"Anak buah kamu memang benar-benar bisa diandalkan, Al. Nggak tau gimana jadinya jika Ferdi tidak mengetahui aksi si Niko itu,"ujar Bramantyo sambil mengelus kepala cucunya.


"Iya, Ferdi memang tidak pernah mengecewakan aku, pa. Aku menyuruh Ferdi menjaga Icha karena aku melihat gelagat Niko yang tidak baik. Saat pertunangan kakak kemarin aku melihat tatapan matanya pada Icha nampak penuh arti. Dan firasat ku benar, dia ingin mencelakai Icha karena memang dia suka merebut semua wanita yang didekati oleh kakak,"jelas Alva.


"Makan malamnya sudah siap. Ayo makan dulu!"ajak Ratih, dan Bramantyo pun memberikan Kaivan pada Bik Inah.

__ADS_1


Setelah makan malam, mereka pun pergi ke ruang keluarga dimana Kaivan sedang bermain. Ratih dan Bramantyo begitu bahagia saat berinteraksi dengan Kaivan, mendengar celotehan cucu mereka yang sudah lancar berbicara.


"Kapan kalian akan memberikan papa dan mama cucu lagi? Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting kami dapat cucu lagi,"ucap Bramantyo menatap Alva dan Disha bergantian.


"Iya, betul kata papa kalian. Kaivan sudah besar, sudah tidak minum ASI lagi. Sebaiknya kalian mulai program hamil,"timpal Ratih.


"Mama dan papa tenang saja. Cucu mama dan papa masih dalam proses. Iya kan, sayang?"tanya Alva pada Disha seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Issh.. genit!"celetuk Disha seraya mencubit pinggang Alva.


"Auwh.! Sakit, sayang! Kamu suka sekali KDRT sama suami sendiri,"keluh Alva membuat Bramantyo dan Ratih geleng-geleng kepala melihat sisi lain dari putra mereka setiap bersama dengan istrinya.


"Eh, cucu nenek sudah mengantuk, ya? Ayo, bobok sama nenek! Mau kan, bobok sama nenek?"tanya Ratih pada Kaivan.


'Mau,"sahut Kaivan. Mendengar jawaban dari Kaivan, Ratih pun segera membawa Kaivan ke kamarnya.


"Pa, apa yang ingin papa bicarakan dengan kami?"tanya Alva setelah Ratih pergi dari ruangan itu.


"Al, papa ingin membicarakan soal ibu kandung mu,"ucap Bramantyo kembali menghela napas panjang.


"Kenapa tiba-tiba papa membahas soal itu?"tanya Alva nampak curiga.


"Karena sekarang dia telah muncul kembali. Bahkan dia sudah menemui papa di tepat kerja papa,"jelas Bramantyo.


"Apa? Dia muncul kembali?"tanya Alva nampak terkejut, begitu pula dengan Disha.


"Dimana dia sekarang, pa?"tanya Alva datar.


"Dia di kota ini dan katanya ingin menemui kamu. Dia sekarang mengubah namanya menjadi Neda,"ucap Bramantyo membuat Alva dan Disha terkejut.

__ADS_1


"Jangan bilang yang papa maksud adalah Tante Neda, istri dari Om Nalendra,"celetuk Disha.


"Sayangnya, dugaan mu itu adalah benar,"sahut Bramantyo.


"Apa?"ucap Alva dan Disha bersamaan.


"Papa tidak bisa menutupinya lagi, cepat atau lambat kamu pasti akan bertemu dengan nya. Mungkin dia akan menemui mu, entah kapan dan apa yang dia inginkan darimu, papa tidak tahu,"ucap. Bramantyo membuang napas kasar.


"Mama sudah tahu soal ini?"tanya Alva dengan raut wajah khawatir.


"Sudah, mamamu sudah tahu. Kamu tidak perlu khawatir, mamamu baik,-baik saja.


"Apa papa membencinya?"tanya Alva datar.


"Papa ingin hidup dengan tenang dan tentram dengan membuang semua rasa benci di hati papa. Bagaimana pun, dia telah melahirkan kamu, kamu adalah anugerah terindah dalam hidup papa. Papa akan berusaha memaafkan dia,"ujar Bramantyo membuang napas kasar.


"Papa sudah banyak berubah,"celetuk Alva.


"Saat ini, papa merasa hidup papa sudah cukup bahagia. Papa dikelilingi anak, cucu, istri dan menantu yang menyempurnakan kebahagiaan papa. Papa akan semakin bahagia jika kalian memberikan seorang cucu lagi,"ucap Bramantyo tersenyum penuh harap pada Alva dan Disha.


"Kalau sudah waktunya, papa pasti mendapatkan cucu lagi,"ucap Alva seraya tersenyum.


"Papa harap secepatnya. Ya sudah, papa ingin tidur. Sudah lama papa tidak tidur dengan cucu papa,"ucap Bramantyo berlalu pergi meninggalkan anak dan menantunya.


"Ayo kita ke kamar!"ucap Alva memeluk pinggang Disha dan membawanya masuk ke kamar mereka.


...🌟"Saat tiada dendam, iri, dan dengki dalam hati, maka kita tidak akan merasakan sakit hati."🌟...


..."Nana 17 Oktober'...

__ADS_1


...🌸❀️🌸...


To be continued


__ADS_2