
"Tampan, jangan khawatir! Kami akan membuat mu merasa puas dan melayang-layang di surga kenikmatan," ucap seorang wanita dengan wajah standar mengelus bagian intim tubuhnya bahkan tidak segan memainkannya dengan mulut dan lidahnya.
"Aku ingin memiliki anak darinya,"ucap seorang wanita yang berusia 23 tahun.
"Aku juga,"ucap wanita yang berusia 25 tahun.
"Aku ingin bercinta sampai puas dengan nya. Aku tidak pernah bercinta dengan pria setampan ini,"ucap wanita yang berusia 30 tahun.
"Ahh... hentikan!"ucapnya mencoba berontak dari tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya, namun bibirnya langsung dibungkam oleh bibir seorang wanita paruh baya, menyesap, menggigit kecil bibirnya hingga dia tanpa sadar membuka mulutnya dan langsung diakses oleh wanita paruh baya itu.
Dirinya hanya bisa memejamkan mata ketika bagian inti tubuhnya dipermainkan, leher,dada dan perutnya diberi cum mbuan dari tiga wanita yang berbeda. Nikmat? Tentu saja, walaupun mereka bukan wanita cantik seperti tipenya, tapi seluruh tubuhnya dibuai dengan kenikmatan tanpa henti, naluri nya sebagai lelaki normal tentu menikmati. Lagi pula, apa saat itu dirinya memiliki pilihan? Sama sekali tidak ada pilihan dan tidak ada jalan menghindari semua itu, apalagi untuk melarikan diri.
Memejamkan mata membayangkan bahwa yang sedang menikmati tubuhnya dan membuat dirinya melayang menikmati surga dunia adalah wanita-wanita cantik, hanya itu yang bisa dia lakukan. Digilir lima wanita semalaman karena diberi obat perang sang plus obat kuat hingga bisa bertahan sampai pagi dinikmati lima wanita berbeda-beda generasi hingga ke lima wanita itu merasa puas.
Setelah kelima wanita itu puas, dirinya ditinggalkan di dalam kamar hotel yang dia pesan untuk melecehkan Icha. Namun kenyataannya, dirinya lah yang dilecehkan habis-habisan oleh kelima wanita yang sungguh-sungguh bukanlah tipenya, dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
"Arrgh.!!"Niko terbangun dari mimpi buruknya, wajahnya dibanjiri oleh keringat dingin. Semenjak kejadian di hotel saat dirinya digilir oleh lima wanita beda generasi waktu itu, Niko selalu bermimpi tentang kejadian itu. Mimpi yang sama persis dengan kejadian aslinya, seolah terus berputar dalam ingatan nya.
"Pranng,"Niko melempar gelas yang dia ambil dari atas nakas. Bayangan para wanita yang begitu berhasraaat mengge rayangi seluruh tubuhnya, dan berkali-kali menyatukan tubuh mereka dengan tubuhnya begitu menyiksanya. Bahkan para wanita itu meninggalkan jejak di tubuhnya berupa tanda merah keunguan dan gigitan dari paha sampai lehernya. Tanda merah keunguan itu hampir memenuhi seluruh tubuhnya dan sudah berhari-hari, tapi tidak kunjung hilang. Hal itu membuat Niko semakin sulit melupakan kejadian itu.
"Sial! Siapa sebenarnya orang yang telah menjebak ku? Rasanya tidak mungkin jika Radeva, dia tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Aku harus mencari tahu siapa yang telah menjebak ku,"gumam Niko seraya meremas kain sprei. Dirinya benar-benar merasa terhina, pria tampan bertubuh atletis yang digilai banyak wanita berakhir dilecehkan habis-habisan oleh kelima orang wanita beda usia dengan wajah standar. Sungguh, Niko merasa harga dirinya benar-benar di injak-injak.
Niko berjalan menuju dapur hingga terdengar suara...
"Prang,"
Niko pun menghentikan langkahnya di depan kamar Nalendra yang pintunya tidak tertutup rapat.
"Katakan padaku! Untuk apa kamu menemui Bramantyo di hotel?"tanya Nalendra pada Neda penuh amarah, mencengkram kedua lengan Neda.
"A..aku..aku..hanya menanyakan dimana putra kami dulu,"jawab Neda ketakutan.
__ADS_1
"Bohong!"bentak Nalendra membuat Neda memejamkan matanya karena ketakutan,"Kamu ingin merayunya agar dia kembali padamu, kan? Jangan harap kamu bisa melakukan itu! Jika kamu berani menemuinya lagi, aku akan memotong kakimu!"ancam Nalendra mendorong Neda hingga Neda terjatuh di lantai.
"Aku..aku tidak akan menemui lagi,"ucap Neda dengan suara bergetar karena ketakutan.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤. 𝙇𝙖𝙜𝙞 𝙥𝙪𝙡𝙖, 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙖𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤? 𝘿𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙜𝙞,"gumam Neda dalam hati.
"Lalu untuk apa kamu menemui si Alva menantu Mahendra itu, hah? Jawab!" bentak Nalendra lagi membuat tubuh Neda terlonjak karena kaget dan takut..
"A..aku ha..hanya memastikan, Alva itu anakku atau bukan,"jawab Neda seraya meremas ujung baju yang dipakainya.
"Lalu, apa dia benar-benar anakmu, hah?"tanya Nalendra dengan tatapan tajam mengintimidasi.
"Bu..bukan,. Di...dia bukan anakku," jawab Neda ketakutan.
"Lalu, anak siapa si Alva itu?"tanya Nalendra duduk berjongkok di depan Neda dan kembali mencengkram sebelah lengan Neda.
"Ra.. Ratih. Di..dia..a..anak Ratih,"ucap Neda sambil meringis menahan sakit di lengannya karena cengkraman dari Nalendra.
"A..aku tidak tahu. Mu.. mungkin ada yang salah transfer,"ucap Neda yang semakin kesakitan.
"Plak"
"Akkh" pekik Neda saat tangan Nalendra yang satunya menampar wajahnya.
"Bohong! Mana mungkin seperti itu! Kamu jangan coba-coba membodohi aku! Jika aku sampai tahu, kamu membohongiku aku...."Nalendra menghentikan kata-katanya seraya mengulurkan tangannya yang baru saja menampar Neda ke wajah Neda, kemudian mencengkram wajah Neda,"Aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan,"ucap Nalendra kemudian mendorong Neda hingga Neda terlentang di lantai.
Nalendra pun berjalan menuju pintu, mengetahui Nalendra akan keluar, Niko pun bergegas pergi dari depan pintu kamar Nalendra dan bergegas ke dapur, dimana tempat tujuan nya semula. Nalendra menutup pintu kamar itu dengan kuat sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
"Dasar brengseek! Beraninya cuma sama perempuan. Jika aku tidak takut membusuk di penjara, sudah aku lenyapkan kamu dari dulu. Seharusnya aku dulu tidak meninggalkan Bramantyo. Dia laki-laki yang paling mencintai ku dan laki-laki yang paling menyayangi ku, dari sekian banyak laki-laki yang pernah aku temui. Cintanya padaku begitu tulus,"gumam Neda yang tanpa terasa menangis mengingat betapa dirinya diperlakukan bagai seorang ratu oleh Bramantyo, namun diperlakukan seperti hewan peliharaan oleh Nalendra.
"Jika dulu aku tidak meninggalkannya, aku sekarang pasti sudah bahagia hidup bersama Bramantyo dan Alva.Bahkan sekarang Alva sudah memiliki anak. Anak yang sangat lucu, menantu dari keluarga kaya. Hidup Ratih sungguh sempurna, seharusnya aku yang ada di posisi Ratih sekarang. Tapi kenyataannya, putraku yang aku kandung dan aku lahirkan malah mencintai Ratih dari pada aku ibu kandung nya sendiri,"
__ADS_1
"Sekarang aku hidup terkurung dan dikekang pria brengseek yang miskin itu. Dasar pria sialan! Aku berdo'a agar kamu cepat mati dan masuk neraka jahanam,"gumam Neda dalam isak tangis nya.
Sifat Bramantyo tidak jauh berbeda dengan Alva, keras, tapi sangat penyayang dan sangat menghargai orang yang dicintai. Mereka rela melakukan apapun untuk orang yang mereka cintai dan akan selalu membuat orang yang mereka cintai bahagia. Neda sangat menyesal telah meninggalkan Bramantyo. Namun itulah penyesalan, dia selalu datang terlambat, karena kalau datangnya duluan, namanya bukan penyesalan, tapi pendaftaran.
Sedangkan di dapur, Nalendra nampak menghampiri Niko yang baru saja menutup lemari es, setelah meneguk air dingin yang berasal di dalam lemari es.
"Nik, waktu itu, kamu kemana? Kenapa tidak pulang selama sehari semalam,"tanya Nalendra membuat raut wajah Niko seketika berubah. Ingatannya saat digilir lima wanita beda usia dengan wajah standar waktu di hotel itu kembali terbayang.
"A..aku bersenang-senang dengan teman kencan ku,"jawab Niko dengan kedua tangan yang mengepal, kemudian menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi.
"Bagaimana dengan tunangan Radeva itu? Apa kamu sudah berhasil mendekati nya?"tanya Nalendra seraya membuka lemari es kemudian meminum air dalam kemasan botol dari dalam lemari es.
"Dia sangat susah didekati, karena dia jarang sekali keluar rumah," jawab Niko kembali teringat kejadian saat dirinya membawa Icha ke hotel dan tinggal sebentar lagi bisa menikmati tubuh Icha. Namun nyatanya, dirinya yang malah dinikmati lima wanita beda usia, yang bahkan salah satu dari mereka sudah berusia empat puluh tahunan.
"Kamu lakukan apa saja agar Radeva gagal menikahi gadis itu,"titah Nalendra ikut duduk di salah satu kursi.
Keluarga Nalendra memang tidak diundang dalam acara pernikahan dadakan Radeva, jadi mereka belum mengetahui jika Radeva sudah menikah dengan Icha.
"Akan aku usahakan, pa,"sahut Niko yang sebenarnya juga masih penasaran dengan Icha.
"Papa percaya padamu, selama ini, kamu selalu berhasil menggaet wanita yang disukai oleh Radeva. Kali ini kamu pasti juga berhasil,"ucap Nalendra penuh keyakinan dengan seringai licik di wajahnya.
Niko menggaet semua wanita yang disukai Radeva bukan hanya karena disuruh oleh papanya, tapi juga karena merasa iri dengan Radeva yang menurut Niko, hidup Radeva sangat sempurna dan selalu bahagia. Rasa iri itulah yang membuat Niko terobsesi untuk menghancurkan kebahagiaan Radeva.
...🌟"Jadikanlah penyesalan sebagai cambuk untuk memperbaiki diri, agar suatu hari tidak terjatuh di lubang yang sama lagi."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
To be continued
__ADS_1