Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
217. Kelakuan Ferdi


__ADS_3

"Lepaskan ikatan perempuan itu! Kita akan bersenang-senang malam ini. Aku sudah tidak sabar,"ucap pria berkepala plontos itu seraya menggosok- gosokkan kedua tangannya.


Orang yang memakai masker yang dari tadi berdiri di sebelah Disha pun melepaskan ikatan Disha. Namun tiba-tiba pintu gudang itu dibuka dan ada sebelas orang pria bertopeng masuk ke dalam gudang itu.


"Si..siapa kalian?"tanya Dita nampak terkejut.


"Jangan bergerak!"ucap salah dari kesepuluh orang itu mengacungkan pistol ke arah Dita, sedang sembilan dari teman pria itu yang juga memegang pistol pun nampak mengepung tempat itu. Hanya satu orang saja dari kesebelasan orang itu yang tidak memegang pistol. Semua orang yang ada di tempat itu pun diam membeku.


"Mari kita pulang, sayang!"tiba-tiba suara bariton itu terdengar berbisik di telinga Disha.


"Al.!!"pekik Disha saat menoleh ke belakang dan melihat Alva melepaskan topengnya. Disha pun langsung memeluk pria itu erat-erat.


"Al.. Alva,"ucap Dita yang terkejut melihat kehadiran Alva.


"Aku serahkan mereka semua padamu Fer,"ucap Alva menepuk pundak pria yang memakai masker itu tanpa memperdulikan Dita.


"Baik, Tuan,"ucap pria yang memakai masker, ternyata pria itu adalah Ferdi. Ferdi membuka topi dan masker yang menutupi wajahnya kemudian tersenyum penuh misteri menatap Dita dan sekretarisnya. Sedangkan Alva dan Disha sudah meninggalkan tempat itu, meninggalkan suasana tegang di dalam bangunan itu.


"Sekarang kalian pilih! Kalian nikmati tubuh kedua perempuan itu secara bergantian, atau kalian kami tembak di tempat,"ucap Ferdi dengan suara dingin yang terdengar menakutkan.


"Jangan dengar apa katanya! Aku akan membayar kalian sepuluh kali lipat jika kalian menghabisi mereka!"sergah Dita.


"Dor!" suara tembakan yang mengenai botol air minum Dita tadi, membuat semua orang terperanjat.


"Cepat tentukan pilihan kalian! Aku akan menghitung sampai tiga. Jika dalam hitungan ketiga kalian tidak menikmati tubuh kedua perempuan itu...."belum sempat Ferdi menyelesaikan kalimatnya, orang -orang suruhan Dita langsung menyeret Dita dan sekretarisnya menuju kasur lantai yang sudah mereka bentangkan.


"Kalian! Aku akan membunuh kalian!"


"Lepaskan! Bajingan!"


"Lepaskan! Aku tidak akan mengampuni kalian!"


Pekik Dita dan sekretarisnya terus meronta, namun tidak dihiraukan para pria itu. Dengan cepat mereka melucuti pakaian kedua perempuan itu.


"Kamu telah berani mencelakai majikan ku, bahkan ingin menggilir majikan ku. Sekarang, kamu rasakan bagaimana jika rencana mu itu berbalik kepadamu sendiri. Bukan Nyonya kami yang akan mereka gilir, tapi kalian,"ucap Ferdi dengan senyuman menyeringai.


***

__ADS_1


Alva membawa Disha keluar dari gudang tempat Dita menyekap Disha. Dibukanya pintu mobil di sebelah kursi kemudi untuk Disha. Setelah itu Alva berjalan menuju sisi mobil yang lain dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi.


"Maaf, karena aku tidak memberitahu tentang rencana penculikan ini. Aku akan menjelaskan semuanya nanti di rumah. Sekarang kita pulang dulu, ya?!" ucap Alva seraya mengelus kepala Disha.


"Iya,"sahut Disha singkat seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil lalu memejamkan matanya. Alva mengusap pipi Disha kemudian mendekatkan wajahnya pada Disha, dan mengecup lembut kening Disha.


Satu jam kemudian, mereka pun tiba di kediaman Mahendra. Saat akan menaiki tangga mereka berpapasan dengan Mahendra,"Kalian baru pulang?"tanya Mahendra.


"Iya, pa. Kami membersihkan diri dulu ya, pa?"ucap Alva.


"Kami, naik dulu, pa,"ucap Disha.


"Iya,"sahut Mahendra tersenyum tipis. Alva dan Disha pun menaiki tangga dan langsung menuju kamar mereka.


"Sayang, kamu terlihat sangat capek. Aku mandikan, ya?"tawar Alva saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Sayang, jangan modus! Aku benar- benar capek,"sahut Disha seraya membuka pintu kamar mandi.


"Aku tidak modus, sayang. Aku benar- benar hanya ingin membantu mu mandi, tidak akan macam-macam. Sumpah!" ucap Alva dengan sebelah kakinya menahan pintu kamar mandi agar tidak tertutup dan mengangkat tangannya dengan jari jempol, kelingking dan jari manis yang di lipat, meninggalkan jari tengah dan jari telunjuknya yang membentuk huruf v.


"Biar aku yang mengisi bathtub nya, sayang,"ucap Alva dan Disha pun menurut. Setelah menanggalkan pakaian mereka, Alva dan Disha pun masuk kedalam bathtub. Sesuai janjinya, Alva benar-benar hanya memandikan Disha, bahkan Alva juga mencuci rambut Disha dan memijit tubuh Disha, hingga wanita itu merasa nyaman.


Selesai mandi, mereka pun mengenakan pakaian mereka kemudian Disha duduk di atas ranjang dengan meluruskan kakinya dan bersandar di headboard ranjang. Alva menyusul Disha dan duduk di sebelah Disha.


"Sekarang katakan! Apa semua yang terjadi tadi adalah rencana mu?"tanya Disha pada Alva yang baru saja duduk.


"Bukan, sayang. Semua itu adalah rencana Dita. Kita hanya mengikuti permainan nya saja, agar kita bisa meringkus perempuan itu. Semenjak kejadian di negara xx kemarin, dia membayar beberapa orang untuk mengawasi keluarga kita. Orang- orang kita belum menemukan bukti yang kuat untuk menyeret Dita ke penjara karena telah mencoba melenyapkan aku kemarin. Jadi saat Ferdi mengetahui bahwa Dita ingin menculik mu, kami sengaja membiarkan aksinya itu, tapi kamu tahu sendiri, kalau aku selalu melindungi kamu,"ujar Alva.


"Tapi aku tadi sempat ketakutan, Al. Untung saja Ferdi memberitahu ku,"ucap Disha seraya mengingat saat dua pria yang memakai masker masuk ke dalam mobilnya yang ternyata adalah Ferdi dan anak buahnya.


"Bagaimana cara Ferdi memberitahu kamu?"tanya Alva.


"Dia mengetik di handphonenya kemudian menunjukkannya padaku secara sembunyi-sembunyi. Dia menyuruh agar aku tidak melawan serta mengikuti permainan mereka, dia bilang akan selalu ada di samping ku. Aku melakukan apa yang disuruh Ferdi. Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia itu Ferdi karena dia memakai topi dan masker, tapi saat dia menunjukkan tato bulan sabit di telapak tangannya, aku baru tahu kalau dia Ferdi. Ferdi juga pura-pura memaksa aku untuk meminum obat perang sang,"ujar Disha.


"Maaf ya, tadi aku terpaksa menjadikan kamu umpan untuk membuktikan kejahatan Dita,"ucap Alva seraya memegang tangan Disha.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku ngerti kok. Selama ini kamu pasti cemas karena Dita selalu mengintai keluarga kita. Jika dengan cara seperti ini kita bisa menyeret Dita ke penjara, why not?"ujar Disha.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, kamu selalu mengerti aku,"ucap Alva seraya merengkuh tubuh Disha ke dalam pelukannya, seraya mengelus punggung wanitanya.


"Bukankah sudah seharusnya kita berusaha untuk saling mengerti dan saling memahami?"tanya Disha dalam dekapan Alva.


"Iya,"sahut Alva kemudian mencium puncak kepala Disha beberapa kali.


Keesokan paginya, Alva terbangun karena mendengar suara handphonenya yang terus berdering. Dengan mata terpejam, Alva meraih handphone di atas nakas dengan tangan kirinya, tangan kanannya masih memeluk tubuh Disha. Sedangkan Disha nampak masih enggan melepaskan pelukannya pada tubuh Alva.


"Halo!"sahut Alva dengan suara serak, khas suara orang yang baru bangun tidur.


"Tuan, saya sudah menyerahkan Dita dan anak buahnya ke kantor polisi bersama bukti-bukti yang kita miliki. Bahkan tadi malam, Tuan Kristian juga mendapatkan bukti-bukti kejahatan Dita di negara xx waktu dia berusaha melenyapkan Tuan, Tuan Kristian langsung mengirimkan bukti-bukti itu kepada saya,"jelas Ferdi dalam sambungan telepon.


"Bagus! Terimakasih Fer! Kamu sudah bekerja dengan baik. Aku akan memberikan bonus pada kalian,"ucap Alva puas dengan kinerja Ferdi dan anak buahnya.


"Terimakasih, Tuan! Saya juga ada bonus Vidio untuk Tuan,"ucap Ferdi.


"Bonus Vidio? Video apa?"tanya Alva yang masih memeluk Disha, mengernyitkan keningnya.


"Saya akan mengirimkan nya pada Tuan. Tuan bisa lihat sendiri,"ucap Ferdi.


"Oke. Kirimkan lah! Aku akan melihatnya,"ucap Alva penasaran dan langsung mengakhiri panggilan telepon itu.


Tak lama kemudian, Alva mendapatkan notifikasi pesan video dari Ferdi. Karena penasaran, Alva pun langsung memutar video itu. Seketika matanya terbelalak saat melihat video itu.


"Astaga..!! Kelakuan si Ferdi ini! Apa dia hobi nonton video yang seperti ini? Apa Vidio ini juga ada suaranya?"gumam Alva yang memang suara di Vidio itu di silent nya, Alva kemudian membuang napas kasar.


"Kenapa, sayang?"tanya Disha tanpa membuka matanya.


"Sepertinya Ferdi memberikan obat perang sang pada Dita dan sekretarisnya, lalu menyuruh anak buah Dita sendiri untuk menggilir Dita dan sekretarisnya,"


"What?"pekik Disha langsung membuka matanya dan spontan duduk.


...🌟 Jangan suka berbuat jahat, jika tidak ingin orang lain berbuat jahat pula kepada kita."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2