
Seseorang nampak berdiri di dekat box kue Icha dan tersenyum smirk melihat Niko yang sedang menggendong Icha. Orang itupun langsung menelpon seseorang,"Halo ketua, saya melihat Niko, sepupu Nyonya Disha membawa Nona Icha dalam keadaan tidak sadarkan diri ke dalam mobilnya,. Saya ada toko kue yang ada di jalan xx. Motor Nona Icha juga ada di sini,"ucap seseorang itu sambil berjalan menuju motornya.
"Ikuti dia dan hidupkan GPS mu! Aku akan menyuruh orang untuk mengambil motor Nona Icha,"perintah orang yang tidak lain adalah Ferdi.
"Baik, ketua,"ucap anak buah Ferdi.
Beberapa menit kemudian Ferdi sudah sampai di hotel tempat Niko membawa Icha,"Bagaimana situasinya?"tanya Ferdi pada anak buahnya.
"Saat Niko masuk ke kamar sambil menggendong Nona Icha dan belum menutup pintunya, saya sempat menempelkan kamera di dekat pintu tuan. Ini, ketua lihat! Dia sedang memasang kamera di beberapa sudut kamar. Saya juga sudah menempatkan seseorang untuk berjaga di depan pintu kamar Niko, dan siap mendobrak pintu jika keadaan mendesak,"sahut anak buah Ferdi.
"Bagus, awasi terus! Aku akan meminta kunci cadangan kamar Niko itu,"ucap Ferdi, kemudian berjalan menuju meja resepsionis. Karena hotel itu adalah milik Bramantyo, dengan mudah Ferdi mendapatkan kunci cadangan kamar Niko. Ferdi juga memesan dua kamar lagi.
"Ketua, apa wanita seperti mereka ini yang ketua inginkan,"ucap seorang anak buah Ferdi yang baru datang dengan membawa lima wanita berbeda-beda usia.
"Bagus! Kalian semua memang bisa diandalkan. Sekarang ikut aku!"ucap Ferdi setelah melihat lima wanita yang dibawa anak buahnya dan mereka semua pun mengikuti Ferdi.
Setelah melihat Niko masuk ke kamar mandi melalui kamera yang di pasang anak buahnya, Ferdi langsung masuk ke kamar itu dan memindahkan Icha ke kamar lain. Ferdi menyuruh salah satu wanita bayaran itu masuk dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Setelah itu Ferdi segera menghubungi Alva.
"Halo, Fer. Ada apa?"tanya Alva yang terdengar dari sambungan telepon.
"Tuan, Niko sepupu Nyonya Disha membawa Nona Icha ke hotel dengan keadaan tidak sadarkan diri. Tapi saya sudah mengamankan Nona Icha dan sedang mengurus Niko. Sebaiknya Tuan menyuruh Tuan Radeva untuk kesini. Saya takut, Niko memberikan obat perang sang pada Nona Icha. Saya ada di hotel Tuan Bramantyo yang ada di jalan xx,"lapor Ferdi.
Alva sempat terkejut mendengar apa yang dilaporkan oleh Ferdi lalu membuang napas kasar,"Baiklah, kamu urus si Niko itu. Akan ku suruh kakakku ke sana,"sahut Alva.
"Baik, Tuan,"sahut Ferdi dan panggilan telepon pun diakhiri.
Alva langsung menuju kamar Radeva yang baru pulang seperempat jam yang lalu.
"Tok! Tok! Tok!'
__ADS_1
"Ceklek" pintu kamar Radeva pun terbuka.
"Ada apa?" tanya Radeva seraya mengernyitkan keningnya saat melihat Alva di depan pintu kamarnya.
Alva menatap Radeva yang nampak sudah rapi karena ingin berkencan dengan Icha,"Kak, sekarang juga, kakak pergi ke hotel yang ada di jalan xx. Icha sekarang ada di hotel itu dalam keadaan tidak sadarkan diri karena ulah Niko,"ucap Alva to the point.
"Apa?"pekik Radeva langsung menyambar kunci motornya dan bergegas pergi tanpa memperdulikan Alva. Alva hanya membuang napas kasar melihat Radeva yang sudah pergi dengan tergesa-gesa. Alva segera memberitahu papa mertuanya tentang kejadian ini dan menyuruh Mahendra untuk menghubungi orang tua Icha dan mengatakan bahwa Icha akan menginap di kediaman Mahendra. Mahendra nampak geram mendengar kabar itu.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Radeva mengendarai motornya sehingga dia cepat sampai di hotel yang diberi tahukan Alva. Anak buah Ferdi yang menunggu Radeva di depan hotel pun langsung memberi tahu nomor kamar Icha pada Radeva. Saat Radeva tiba di kamar yang dikatakan oleh anak buah Ferdi, seorang anak buah Ferdi pun menghampirinya.
"Tuan, ini kunci kamar Nona Icha, didalam kamar mandi kami sudah meletakkan satu box besar es batu. Siapa tahu anda membutuhkan nya. Dan jika ada apa-apa, anda bisa mengandalkan saya. Saya akan standby di sini,"ucap anak buah Ferdi seraya memberikan kunci kamar pada Radeva.
"Terimakasih!"ucap Radeva langsung membuka kamar Icha dan masuk kedalam kamar. Radeva langsung menghampiri Icha di atas ranjang saat melihat Icha nampak bergerak memegangi kepalanya dan perlahan membuka matanya.
"Cha, bagaimana keadaan mu?"tanya Radeva seraya duduk di pinggir ranjang dan menggenggam salah satu tangan Icha.
"Kak, Dev? Kita di mana?"tanya Icha menatap sekeliling kemudian berusaha duduk, dan Radeva pun membantu Icha duduk.
"A..apa? Ho.. hotel?"tanya Icha tergagap seraya memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Kamu kenapa?"tanya Radeva nampak khawatir yang melihat Icha nampak kesakitan.
"Kepalaku pusing sekali, kak. Bisakah kakak atur suhu AC-nya? Ruangan ini terasah panas sekali,"ucap Icha.
"Panas?"tanya Radeva seraya mengernyitkan keningnya dan Icha pun mengangguk membenarkan.
"π ππ£πππ£-πππ£πππ£, ππππ πππ£ππ§-πππ£ππ§ πππππ§π π€πππ© π₯ππ§ππ£π π¨ππ£π π€π‘ππ πππ π€," gumam Radeva dalam hati melihat Icha yang nampak kepanasan, sedangkan menurutnya, udara di kamar itu sudah dingin.
"Kak, cepat atur suhu AC -nya, tambah panas ini kak!"ucap Icha yang semakin kepanasan, bahkan mulai membuka kemeja yang dipakainya.
__ADS_1
"Eh, kenapa kamu membuka kancing kemeja mu,"ucap Radeva berusaha menahan tangan Icha yang hampir membuka kancing ketiga bagian atas dari kemejanya
"Kak, panas sekali,"ucap Icha.
Tanpa aba-aba Radeva langsung menggendong Icha ke kamar mandi dan mendudukkan icha ke dalam bathtub.dan segera mengisi bathtub dengan air dingin,"Kak, kenapa semakin panas?"tanya Icha.
Radeva melihat sebuah box dan mengingat kata-kata pria yang ada di depan pintu tadi. Radeva pun langsung membuka box itu, dan benar, isinya adalah es batu. Radeva langsung memasukkan semua es batu itu ke dalam bathtub.
"Lumayan, kak. Tapi bajuku basah semua, kak,"ucap Icha.
"Kamu tunggu di sini,"ucap Radeva, kemudian keluar dari kamar mandi itu dan meminta pria yang berjaga di depan kamarnya membeli pakaian untuk Icha.
Akhirnya Icha keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang diberikan oleh Radeva.
"Bagaimana? Apa sudah baikan?"tanya Radeva.
"Kak, rasanya panas lagi,"ucap Icha yang kembali kepanasan dan kembali ke kamar mandi. Setiap baru keluar dari kamar mandi Icha kembali merasakan panas ditubuhnya. Hingga Icha berendam di bathtub sampai tubuhnya memucat. Radeva pun tidak tega melihat Icha seperti itu.
"Maaf, aku tidak tega melihat mu seperti ini,"ucap Radeva menatap Icha lekat, dengan jantung yang berdetak kencang Radeva memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Icha tak disangka langsung direspon Icha dengan agresif. Radeva pun semakin terhanyut saat merasakan bibir Icha, ingin memagut, menyesap dan menggigit bibir itu lagi dan lagi. Jantungnya berdetak semakin kencang, tangan kanannya memegang tengkuk Icha untuk memperdalam ciumannya tangan kirinya memeluk pinggang Icha erat hingga menempel dengan tubuhnya. Ichal mencengkeram erat kemeja yang di pakai Radeva
Deru napas yang tidak beraturan, tubuh yang semakin memanas, tangan yang sama-sama saling menyentuh, menginginkan lebih dan lebih dari sekedar sentuhan dan ciuman.Radeva mengangkat tubuh Icha dan membaringkan nya di atas ranjang, kemudian kembali mencium Icha.Entah mengapa setelah merasakan bibir Icha, Radeva ingin lagi dan lagi. Helai demi helai pakaian mereka pun tanpa sadar mereka tanggalkan hingga tiada bersisa. Tubuh yang semakin panas dan gelisah menginginkan sesuatu yang sesuatu sebagai pelampiasan.
Icha yang memang terkena pengaruh obat menjadi agresif dan Radeva sebagai seorang laki-laki normal, tentu saja sangat sulit menahan diri jika wanitanya agresif seperti itu. Akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan. Mereguk kenikmatan surga dunia yang seharusnya belum boleh mereka nikmati. Namun memang benar, tubuh sering kali mengkhianati pikiran. Pikiran tahu jika itu salah, tapi tubuh tidak mau tahu.
Malam itu, sepasang insan itu pun bergulat di atas ranjang hingga suara-suara laknat pun keluar dari bibir mereka memenuhi ruangan itu, hingga akhirnya mereka kelelahan dan terlelap saling berpelukan tanpa sehelai benangpun yang membalut tubuh mereka. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
...π"Seringkali tubuh mengkhianati pikiran, karena tubuh selalu bergerak reflek dengan apa yang dirasakan dan tanpa terpengaruh oleh pikiran."π...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued