
"Teryata mama Ratih bukanlah ibu kandung ku, dan ibu kandung ku telah meninggalkan aku setelah dia melahirkan aku,"ucap Alva mendekap erat tubuh Disha.
"Apa?!"tanya Disha kemudian mengurai pelukannya dan menatap wajah Alva.
"Teryata mama Ratih adalah ibu yang telah menyusui aku, bukan ibu kandung ku. Aku tidak sengaja mendengar kenyataan itu dari mama,"jelas Alva.
"Lalu dimana ibu kandung mu, Al?"tanya Disha penasaran.
Alva menggeleng pelan,"Aku tidak tahu, bahkan papa juga tidak tahu. Papa bilang ibu kandung ku meninggalkan aku setelah melahirkan aku karena waktu itu papa hampir bangkrut,"jelas Alva dengan raut wajah sedih dan kecewa.
"Sekarang aku tanya, apa selama ini mama Ratih menyayangi mu dan membesarkan kamu seperti dia membesarkan anak kandungnya sendiri?"tanya Disha.
"Iya, mama sangat menyayangi aku, bahkan aku merasa rasa sayang mama kepadaku lebih besar dari pada rasa sayang papa kepada ku. Dan karena kasih sayang mama yang begitu besar padaku, aku rasanya tidak percaya jika beliau bukanlah ibu kandung ku,"jawab Alva.
"Jika kamu merasa seperti itu, seharusnya kamu tidak perlu bersedih, Al. Seharusnya kamu bersyukur karena walaupun mama Ratih bukanlah ibu kandung mu tapi beliau menyayangi mu seperti anak kandungnya sendiri,"ucap Disha.
"Aku memang sedih dan kecewa karena tahu kenyataan bahwa mama Ratih bukanlah ibu kandung ku, sayang. Tapi aku lebih sedih dan kecewa karena ibu kandung ku yang tega meninggalkan aku setelah melahirkan aku, bahkan tidak pernah sekalipun menemui aku sampai sekarang,"jelas Alva.
Disha nampak tersenyum tipis saat mendengar kata 'sayang' sudah mulai keluar dari bibir Alva. Kata yang selama ini dianggapnya biasa tapi ternyata sangat dia rindukan saat suaminya tidak mengucapkan nya.
"Jangan berjalan, tapi terus menengok ke belakang atau kamu akan masuk ke dalam lubang. Jangan terus-terusan mengingat masa lalu dan mengabaikan masa depan, karena itu akan menghancurkan masa depanmu," ucap Disha seraya mengelus pipi Alva.
"Aku tahu, sayang. Saat ini aku hanya merasa masih shock saja,"ucap Alva.
"Ya sudah, jangan memikirkan nya lagi, panjatkan saja doa terbaik untuk ibumu. Karena bagaimanapun juga beliau adalah ibu kandung mu.Terlepas apapun kesalahannya, dia tetap ibu yang telah mengandung dan melahirkan kamu,"
"Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana agar kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk putra kita. Dan memberikan cinta, serta kasih sayang yang terbaik untuk putra kita,"ucap Disha.
"Berjanjilah akan tetap bersamaku dan tidak akan pernah meninggalkan aku sampai akhir,"ucap Alva seraya menangkup wajah Disha.
"Aku berjanji akan tetap bersamamu dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kita,"ucap Disha.
"Aku mencintaimu,"ucap Alva kemudian mencium bibir Disha dengan lembut. Disha pun membalas ciuman Alva agar pria itu merasa lebih tenang.
"Aku juga mencintaimu,"ucap Disha setelah ciuman mereka terlepas.
"Setelah melahirkan, kamu terlihat semakin cantik, sayang,"ucap Alva.
"Gombal!"sahut Disha.
"Tapi kamu suka kan?!"bisik Alva ditelinga Disha kemudian menggigit leher Disha.
"Al..!"pekik Disha sambil mendorong dada Alva kemudian memukul lengan Alva tapi Alva malah terkekeh.
"𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐥𝐚𝐡, 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐚𝐰𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢,"batin Disha.
"Sayang, berapa lama aku harus berpuasa?"tanya Alva sambil mengusap bibir Disha dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Sekitar empat puluh hari,"jawab Disha.
"Lama sekali sayang. Apa tidak bisa dipercepat?"tanya Alva.
"Ini bukan proyek, Al. Jadi tidak bisa dipercepat atau pun diperlambat,"ujar Disha.
"Kalau begitu beri aku kompensasi, sayang,"ucap Alva.
"Kompensasi?" Maksudnya?"tanya Disha tidak mengerti.
"Kompensasi untuk menunggu, hingga aku bisa berbuka puasa,"sahut Alva.
"Apa kompensasi nya?"tanya Disha mengernyitkan keningnya.
"Ciuman panas,"bisik Alva ditelinga Disha.
Tidak mau!!"pekik Disha sambil mendorong dada Alva.
"Sayang, jangan pelit!" rengek Alva.
",Aku tidak mau kamu kebablasan, Al,"jelas Disha.
"Kamu kan bisa memuaskan aku dengan cara yang lain sayang,"rengek Alva.
"Kenapa otak kamu selalu saja mengarah ke sana sich, Al?!"ujar Disha sambil menghela nafas panjang.
"Itu semua karena kamu, sayang,"kilah Alva sambil mencubit pipi Disha dengan gemas.
"Karena aku langsung kesetrum jika dekat dengan kamu, sayang,"jawab Disha.
"Emang aku listrik mangkanya bisa nyentrum?"ucap Disha.
"Iya, kamu itu listrik bertegangan tinggi, jadi setiap aku dekat sama kamu pasti aku kesetrum,"ucap Alva sambil tersenyum manis.
"Gombal.!! Sudah berapa banyak perempuan yang kamu gombalin?"tanya Disha memicingkan mata.
"Cuma dua,"sahut Alva.
"Siapa? Siapa yang sudah kamu gombalin?!"tanya Disha seraya mencengkram kerah kemeja Alva dengan kencang.
"Sayang, kamu pengen jadi janda?"ucap Alva saat Disha semakin kuat mencengkram kerah kemeja Alva hingga Alva merasa tercekik.
"Katakan siapa?!"hardik Disha.
"Cuma mama sama kamu, sayang!"ucap Alva.
"Awas saja kamu berani macam-macam dibelakang ku! Akan aku potong burung kebanggaan mu itu!"ucap Disha melepaskan kerah kemeja Alva sambil melirik barang kebanggaan Alva.
__ADS_1
"Keris ku ini nggak akan masuk ke sarung yang lain, sayang!!"bisik Alva ditelinga Disha kemudian menggigit leher Disha gemas.
"Alien.!!"pekik Disha sambil mendorong dada Alva namun malah membuat Alva terkekeh.
***
Di Bramantyo Group.
"Alva.!!"panggil Anjani menerobos masuk ke dalam ruangan Alva tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa lagi kamu kemari?"tanya Alva dengan wajah datarnya.
"Aku tidak mau kamu ceraikan!"seru Anjani.
"Mau tidak mau, kamu akan tetap aku ceraikan,"ucap Alva menatap tajam pada Anjani.
"Tinggalkan wanita katrok itu, ceraikan dia dan batalkan gugatan cerai mu padaku di pengadilan!"perintah Anjani.
"Siapa kamu berani memerintah aku? Dan siapa yang kamu sebut wanita katrok? "tanya Alva menatap Anjani dengan rasa tidak suka.
"Apa mata mu sudah buta, Al? Kamu menceraikan aku hanya demi wanita katrok itu?"cibir Anjani.
"Mata ku tidak buta, karena itu aku bisa membedakan mana yang cantik alami dan mana yang cantik imitasi seperti kamu!"ucap Alva seraya menunjuk pada wajah Anjani.
"Kamu sudah tidak waras, Al! Mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan wanita katrok itu?!"ucap Anjani tidak suka.
"Kamu memang tidak pantas dibandingkan dengan istri ku. Karena istriku terlalu sempurna jika dibandingkan dengan kamu yang penuh kekurangan,"cibir Alva.
"Kau..!! Aku akan mempersulit proses perceraian kita dan kalau pun kamu berhasil bercerai dengan ku, aku akan menuntut harta gono-gini,"ucap Anjani kesal.
"Kamu sudah menandatangani surat pernyataan bahwa kamu tidak akan menuntut sepeserpun harta yang aku miliki jika kita bercerai. Lagi pula selama kita menikah kita tidak memiliki harta yang kita cari bersama. Yang ada aku yang rugi karena harus menafkahi mu setahun lebih,"ujar Alva.
"Jangan mengada-ada! Aku tidak pernah menandatangani surat pernyataan semacam itu!"sergah Anjani.
Alva berjalan ke lemari tempat menyimpan berkas-berkas kemudian mengambil selembar kertas dan di sulurkan kepada Anjani.
"Ini adalah surat pernyataan yang kamu tandatangani,"ucap Alva.
"Anjani langsung meraih kertas itu dan segera membacanya. Mata Anjani membulat saat membaca isi surat itu dan isinya sama seperti yang dikatakan oleh Alva.
"Kamu pasti sudah menipuku! "teriak Anjani kemudian merobek-robek kertas itu hingga menjadi sobekan kertas yang kecil-kecil dengan penuh emosi.
"Percuma kamu merobek kertas itu, karena itu hanya foto copy-nya saja,"ucap Alva tersenyum miring.
"Kau...!!! Aku tidak akan membiarkanmu menceraikan aku dengan mudah,"ucap Anjani menatap tajam pada Alva.
"Jika kamu tidak mau bercerai dengan ku secara baik -baik, aku akan memberikan bukti Vidio perselingkuhan kamu di sidang perceraian kita nanti. Atau kamu ingin aku menyebarkan Vidio panas kamu itu ke dunia maya?"ancam Alva dengan tatapan dingin dan mengintimidasi.
__ADS_1
"Vidio?! Vidio panas apa maksud kamu?!" tanya Anjani.
To be continued