
"Jadi siapa ibu kandung ku, ma, pa?"tanya Alva memandang wajah Bramantyo dan Ratih bergantian.
"Mama tidak tahu, Al,"jawab Ratih jujur.
"Anggap saja dia sudah mati, karena papa juga tidak tahu dimana dia sekarang berada. Lagi pula dia tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Dia meninggalkan kamu saat kamu baru lahir hanya karena waktu itu papa hampir bangkrut,"
"Orang dari kalangan menengah ke bawah memang tidak bisa dipercaya, contohnya perempuan itu. Dia mencintai papa saat papa kaya, dan membenci bahkan meninggalkan papa saat papa hampir bangkrut,"jelas Bramantyo dengan aura kebencian.
"Setidaknya beritahu padaku, siapa namanya dan juga fotonya, pa. Jika aku bertemu dengannya, aku akan bertanya kepadanya, kenapa dia meninggalkan aku, pa?!"tanya Alva.
"Papa tidak mempunyai fotonya lagi. Papa sudah membuang semua hal yang berkaitan dengan perempuan itu. Papa sama sekali tidak ingin mengingat tentang perempuan itu,"ucap Bramantyo.
"Kalau begitu, tolong beri tahu padaku, siapa nama ibu kandung ku, pa!!"pinta Alva.
Bramantyo nampak membuang nafas kasar mendengar permintaan putranya itu," Papa tidak tahu nama aslinya, karena setelah papa selidiki, dia beberapa kali berganti nama sebelum menikah dengan papa. Papa tidak tahu identitas aslinya,"sahut Bramantyo.
"Apa dia mempunyai ciri khas tertentu?" Mungkin seperti tanda lahir?"tanya Alva lagi.
"Dia mempunyai tanda lahir di telapak tangan kanannya yang berwarna merah. Sudahlah, papa tidak ingin membahasnya lagi. Ayo kita keruang kerja!"ucap Bramantyo yang nampaknya benar-benar tidak ingin membahas masa lalunya.
***
Di kediaman Adiguna.
"Pa, bagaimana? Apa papa sudah menarik saham papa dari Bramantyo Group?"tanya Anjani saat melihat Adiguna pulang.
"Sudah,"sahut Adiguna singkat.
"Lalu bagaimana keadaan perusahaan itu sekarang, pa?"tanya Anjani antusias.
"Walaupun papa sudah menarik saham papa dari Bramantyo Group, nyatanya itu sama sekali tidak berpengaruh pada Bramantyo Group,"ucap Adiguna lesu.
"Kenapa bisa begitu, pa? Bukankah papa pemegang saham terbesar di Bramantyo Group? Kenapa bisa tidak berpengaruh apa-apa saat papa menarik semua saham papa? Bagaimana nanti Alva mau mengemis untuk kembali padaku jika seperti itu?"cecar Anjani nampak kecewa.
"Sebelum Alva menceraikan kamu, ternyata Alva sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, sayang,"ucap Adiguna.
"Maksud papa?"tanya Anjani tidak mengerti.
Adiguna menghela nafas panjang kemudian menatap wajah putrinya semata wayangnya dalam-dalam.
"Sebegitu papa menarik seluruh saham papa, istri Alva langsung menanam saham di Bramantyo Group menggantikan saham yang papa tarik. Bahkan dia menanam saham lebih banyak dari saham yang papa tanam di Bramantyo Group,"
__ADS_1
"Dan yang lebih membuat papa terkejut adalah, kenyataannya istri Alva sekarang adalah pemegang saham terbesar di perusahaan papa,"jelas Adiguna.
"Apa? Maksud papa wanita katrok itu kaya-raya?"tanya Anjani tidak percaya.
"Iya, sayang. Sebaiknya kamu lepaskan saja Alva, sayang! Carilah pria lain yang bisa mencintai dan menerima kamu apa adanya!"saran Bramantyo.
"Aku tidak mau, pa! Aku hanya ingin Alva, pa! Aku tidak terima jika aku dikalahkan oleh perempuan katrok itu! Aku akan menuntut Alva karena telah menikah tanpa izin dari ku. Aku tidak akan membiarkan mereka bersatu dan hidup bahagia diatas kesedihan ku!"ucap Anjani meninggikan suaranya.
"Kamu tidak bisa menuntut Alva, sayang!"ucap Adiguna.
"Kenapa? Apa papa tidak mau membantu aku?"tanya Anjani.
"Bukan papa tidak mau membantu mu. Tapi memang posisi kamu tidak bisa menuntut Alva,"ucap Adiguna.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menuntut Alva? Alva telah menikah diam-diam dibelakang ku, jadi aku bisa menuntut Alva bahkan bisa mengajukan pembatalan pernikahan mereka,"ujar Anjani.
"Itu jika kamu di posisi sebagai istri pertama Alva, sayang,"ucap Adiguna.
"Maksud papa apa? Aku adalah istri pertama Alva, pa,"sahut Anjani.
"Kamu bukan istri pertama Alva, sayang. Kenyataannya kamu adalah istri kedua Alva. Alva sudah menikah dengan perempuan itu delapan bulan sebelum Alva menikah dengan kamu,"jelas Adiguna.
"Apa?? Tidak.!! Itu tidak mungkin, pa!!"pekik Anjani.
"Papa bohong!!" pekik Anjani berurai air mata.
"Berhentilah mencintai orang yang tidak mencintaimu sayang! Carilah dan hiduplah dengan orang yang benar-benar mencintai kamu, sayang!"pinta Adiguna memeluk putri semata wayangnya dengan perasaan sedih.
Adiguna begitu sedih mendapati kenyataan bahwa putrinya masih saja mencintai orang yang tidak pernah mencintainya bahkan tidak pernah menganggap Anjani sebagai seorang istri.
Selama ini Adiguna selalu positif thinking, berharap dengan berjalannya waktu Alva akan menerima dan mencintai Anjani. Tapi kenyataannya Alva tidak sedikit pun bisa mencintai Anjani.
***
Di rumah sakit.
"Al, malam sekali kamu baru kembali?"tanya Disha saat Alva memasuki ruangan rawatnya.
"Iya,"sahut Alva singkat sambil berusaha memberikan senyuman untuk Disha.
Alva merasa sangat kecewa saat mengetahui bahwa ibu yang telah mengandung dan melahirkan nya ternyata tidak menginginkan dirinya. Bahkan wanita itu dengan teganya meninggalkan dirinya yang baru lahir dan sampai saat ini tidak pernah menemuinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Al?"tanya Disha yang melihat Alva tidak seperti biasanya.
Biasanya pria itu akan langsung memanggil dirinya dengan panggilan 'sayang' saat melihatnya dan akan mencium kening, pipi atau pun bibinya. Tapi kali ini pria itu tidak menyapanya dengan panggilan sayang ataupun menciumnya.
Pria itu langsung masuk kekamar mandi tanpa berkata apapun bahkan menjawab pertanyaannya dengan kata yang singkat. Membuat Disha sangat heran dan penasaran.
"𝐀𝐝𝐚 𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐯𝐚? 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐬𝐢𝐤𝐚𝐩𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐧𝐞𝐡 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢?"batin Disha.
"Al, kemari lah!"pinta Disha saat Alva sudah keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?"tanya Alva seraya mendekati istrinya.
"Duduklah di sini!"pinta Disha sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?"tanya Alva nampak mulai khawatir kemudian duduk di sebelah istrinya.
"Aku rindu padamu,"ucap Disha tiba-tiba memeluk tubuh Alva.
Alva sempat terkejut karena pelukan dari Disha, apalagi saat Disha mengatakan bahwa dia merindukan Alva yang baru beberapa jam meninggalkannya. Sungguh, jika saat itu perasaan Alva sedang baik-baik saja, Alva pasti akan sangat bahagia dan akan langsung menggoda istrinya itu.
"Apa kamu benar-benar mencintai aku?"tanya Disha masih memeluk Alva.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah semua yang aku lakukan selama ini belum bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu?"tanya Alva yang terdengar emosional.
Disha merenggangkan pelukannya kemudian menatap wajah Alva lekat dan mengelus rahang kokoh Alva.
"Jika kamu benar-benar mencintai aku, kamu pasti akan membagi kesedihan mu padaku,"ucap Disha menatap manik mata suaminya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"tanya Alva sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kekecewaannya.
"Aku sudah bersamamu selama hampir dua tahun Al, dan kamu tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya. Jika terlalu berat bagimu, jangan menyimpan nya sendiri. Bagilah dengan ku! Bukankah kita suami istri? Kita akan berbagi suka dan duka kita bersama,"pinta Disha.
Alva langsung mendekap tubuh Disha kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.
"Teryata mama Ratih bukanlah ibu kandung ku, dan ibu kandung ku telah meninggalkan aku setelah dia melahirkan aku,"ucap Alva mendekap erat tubuh Disha.
"Apa?!"
...🌟"Masa lalu mungkin pernah menyakitkanmu, tapi jangan sampai masa lalu mu menghancurkan masa depanmu,"🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued