
Icha mengekor di belakang Radeva meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamar. Icha benar- benar merasa sikap Radeva berubah sejak meninggalkan dirinya di atas ranjang tadi. Setelah mengumpulkan keberanian, dengan ragu-ragu Icha mendekati suami nya itu dan memegang lengannya,"Kak, a...apa kakak marah padaku? A..apa kata-kataku tadi ada yang menyinggung atau menyakiti hati kakak?"tanya Icha mendongakkan kepalanya menatap Radeva yang lebih tinggi darinya.
"Aku harus segera pergi, aku tidak mau terlambat menemui klien,"ucap Radeva melepaskan pegangan tangan Icha di lengannya tanpa menjawab pertanyaan dari Icha langsung membawa map yang ada di atas nakas, lalu keluar dari kamar itu.
Icha menghela napas menatap punggung Radeva yang akhirnya menghilang di balik pintu. Icha duduk di tepi ranjang dengan wajah lesu, tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap suaminya yang tiba-tiba acuh padanya.
Sedangkan Radeva, bibirnya langsung melengkung ke atas setelah menutup pintu kamarnya. Berjalan menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Alva. Sedangkan Icha mengejar Radeva untuk memberikan handphone Radeva yang ketinggalan.
"Wajah kakak terlihat senang sekali, seperti mau ketemuan sama pacar saja,"celetuk Alva tersenyum tipis, sedangkan Icha yang baru keluar dari kamar, wajahnya yang tadinya sendu, sekarang malah bercampur rasa takut dan khawatir mendengar kata-kata Alva. Bagaimana tidak, Icha tadi melihat Radeva yang terlihat seperti berbalas pesan dengan seseorang, cukup lama.
"Hais..kau ini! Kenapa tidak bisa diam, sich!"ketus Radeva.
"Habis, wajah kakak itu kayak orang yang sedang jatuh cinta,"ucap Alva mengulum senyum.
"Sudah, pergi sana! Jangan menggangguku terus,"ketus Radeva ingin melanjutkan langkahnya.
"Kak, handphone kakak tertinggal,"Radeva tidak jadi melanjutkan langkahnya saat mendengar Icha memanggilnya. Spontan Radeva dan Alva pun menoleh ke arah Icha.
Icha berjalan mendekati Radeva dengan wajah sendu, kemudian menyerahkan handphone di tangannya pada Radeva, kemudian langsung berbalik menuju kamarnya.
Alva mengernyitkan keningnya menatap Icha yang sudah berbalik, kemudian menyodokkan sikunya pada Radeva. "Kakak ipar kenapa? Apa kakak sudah membuat kakak ipar sedih?"tanya Alva kemudian menatap Radeva.
"Aku hanya pura-pura ngambek saja, karena ingin tahu bagaimana cara dia membujukku,"ujar Radeva santai.
"Tapi sepertinya kakak ipar terlihat sangat sedih. Kakak jangan banyak tingkah, jika masih ingin dapat jatah! Jangan membuat kakak ipar sedih apalagi merasa tersakiti. Perempuan itu memorinya seperti buku sejarah. Mereka tidak akan pernah lupa apa yang telah kita lakukan pada mereka dari awal sampai akhir, baik itu sedih atau senang. Semuanya akan tercatat rapi di memory mereka seperti buku sejarah. Hati para wanita itu seperti kaca, jika kakak membuatnya pecah, walaupun kakak menyatukannya kembali, maka kaca itu tidak akan pernah menampilkan bayangan yang sempurna lagi. Jadi jangan sampai kakak membuat rekam jejak yang buruk. Sangat susah untuk membujuk mereka, jika hati mereka sudah sangat terluka,"ujar Alva panjang lebar, kemudian berlalu meninggalkan Radeva.
"Apa benar seperti itu?"gumam Radeva seraya menoleh ke arah kamarnya yang pintunya tertutup, kemudian melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya,"Nanti saja aku urus soal itu, sekarang aku harus segera pergi, atau aku akan terlambat,"gumam Radeva, kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
Radeva mengendarai mobilnya menuju sebuah kafe yang tidak jauh dari sebuah mall. Radeva langsung masuk ke dalam kafe itu dan menghampiri seseorang di salah satu meja yang letaknya tepat di sebelah dinding kaca. Dari tempat itu mereka bisa melihat keadaan di luar kafe dengan jelas, begitu pun orang yang ada di luar kafe, mereka juga bisa melihat dengan jelas pengunjung kafe itu karena dinding kaca kafe itu transparan.
"Permisi, apa anda perwakilan dari Eagle company?"tanya Radeva pada seorang wanita cantik yang sedang duduk memainkan handphonenya.
Wanita itu pun mendongakkan kepalanya menatap Radeva kemudian tersenyum,"Iya, benar. Mari, silahkan duduk!"ucap perempuan itu ramah.
Radeva duduk di depan wanita itu, kemudian memesan minuman. Mereka langsung membicarakan kerjasama yang sudah terjalin dan akan memutuskan, apakah mereka akan melanjutkan kerjasama itu atau tidak. Setelah lama berdiskusi dan saling mengemukakan pendapat, akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan kerjasama itu.
"Oke, saya rasa pembicara kita sudah selesai. Kalau begitu saya permisi,"ucap Radeva pada wanita di depannya bermaksud meninggalkan tempat itu.
"Kakak tidak mengenali aku lagi?"tanya wanita tiba-tiba, membuat Radeva yang sudah berdiri itu menatap kembali wanita di depannya.
"Maaf, saya rasa, sebelumnya kita memang belum pernah bertemu,"jawab Radeva.
"Kakak yang menyelamatkan aku, saat aku hampir dilecehkan oleh beberapa pria,"ucap wanita itu, mendongakkan kepalanya menatap wajah Radeva lekat.
"Aku Jessi, waktu itu kakak memberikan jaket kakak padaku dan mengantarkan aku kembali ke apartemen ku. Wajar jika kakak tidak mengenaliku lagi, aku sudah melakukan operasi plastik, wajahku rusak karena sebuah kecelakaan.
"Jadi, ini kamu?"tanya Radeva setelah mengingat wanita yang dulu pernah dia selamatkan.
"Iya, ini aku, kakak sudah mengingat aku, kan?"sahut Jessi tersenyum manis.
Radeva kembali duduk di kursinya tadi,"Maaf, aku benar-benar tidak mengenalimu. Tapi sungguh, aku tadi merasa familiar sekali dengan suara dan gaya bicara mu. Ternyata kamu memang orang yang aku kenal,"ujar Radeva tersenyum tipis pada wanita di depannya itu. Akhirnya mereka pun mengobrol dan sesekali tertawa bersama.
"Nyonya, bukankah yang ada di kafe itu, Tuan Radeva,"ucap supir yang mengantar Icha dan Disha ke mall. Sedangkan Ferdi yang duduk di sebelah kursi pengemudi pun memicingkan matanya menatap kearah yang sama dengan sang supir.
Kebetulan mobil mereka berhenti di depan kafe itu karena terjadi kemacetan lalu lintas. Icha dan Disha pun langsung menoleh ke arah kafe yang berdinding kaca itu.Wajah kedua perempuan itu seketika berubah saat melihat Radeva yang sedang tertawa bersama seorang wanita cantik. Sayangnya, mereka tidak bisa lama melihat Radeva, karena mobil mereka kembali melaju.
__ADS_1
"𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙧𝙖𝙗. 𝘼𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙝𝙖𝙩𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙩𝙖𝙙𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙚𝙡𝙞𝙣𝙜𝙠𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙪? 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙜𝙚𝙣𝙖𝙥 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣,"gumam Icha dalam hati dengan wajah tertunduk.
"𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙧𝙖𝙗 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙡𝙞𝙣𝙜𝙠𝙪𝙝! 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙞𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙞𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙞𝙩𝙞 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙨𝙖𝙝𝙖𝙗𝙖𝙩𝙠𝙪,"gerutu Disha dalam hati.
"𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙧𝙖𝙨𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠. 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘿𝙚𝙫, 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙨𝙞𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙪𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞,"gumam Ferdi dalam hati saat melihat wajah dua wanita yang duduk di kursi penumpang di belakangnya, dari kaca dasbor mobil yang mengarah pada kedua wanita itu.
Tak lama mereka pun tiba di mall yang mereka tuju. Kedua wanita itu nampak tidak seceria saat mereka berangkat tadi.
Sedangkan di kafe,"Kak, temani aku untuk mencari hadiah ulangtahun, yuk!"ajak Jessi penuh harap.
"Hadiah ulangtahun? Untuk siapa?"tanya Radeva.
"Untuk kakakku. Kalian sama-sama pria, jadi selera kalian pasti tidak akan jauh berbeda. Mau, ya? Please!"ucap Jessi memohon.
"Oke, dimana kita akan mencari hadiah untuk kakak mu?"tanya Radeva setelah menyetujui permintaan Jessi.
"Aku baru datang di negara ini, jadi aku belum tahu banyak tentang negara ini. Tapi aku dengar, di dekat sini ada mall yang besar, Kakak pasti tau, kan? Kita cari di sana saja, ya?"pinta Jessi.
"Oke, aku akan mengantarmu ke sana dan membantu mu untuk mencari hadiah,"ujar Radeva dan mereka pun segera meninggalkan kafe itu menuju mall yang dekat dengan tempat itu, yang ternyata juga mall yang dituju oleh Icha dan Disha.
...🌟"Wanita adalah makhluk paling unik dan rumit di dunia, ...
...meskipun begitu, para pria tetap menyukainya,"🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
To be continued