Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
118. Jadi Pengen


__ADS_3

"Aku jahat? Memangnya apa yang aku lakukan padamu sayang?"tanya Alva tidak mengerti.


"Kamu sudah memberikan hadiah yang banyak dan lengkap untuk mereka. Lalu aku harus memberikan hadiah apa untuk sahabat ku?"keluh Disha.


"Masih ada,"sahut Alva menatap Disha mengerucutkan bibirnya.


"Apa?"tanya Disha penasaran.


" Mau tahu?'tanya Alva seraya mengelus bibir Disha yang sangat menggoda di matanya.


"Hemm.."sahut Disha.


"Al .!!"pekik Disha membuat Riky dan supir mobil itu melirik kaca di dashboard mobil.


Tiba-tiba Alva meraih tubuh Disha, mendudukkan Disha di pangkuannya dan langsung mencium bibir Disha yang dari tadi sudah menggodanya. Disha berusaha melepaskan ciuman Alva tapi Alva malah menekan tengkuk Disha untuk memperdalam ciumannya.


"Al, apa yang kamu lakukan?"ucap Disha setelah Alva melepaskan ciumannya. Disha menekan suaranya agar dua orang pria yang duduk di depan tidak mendengarnya.


"Akan aku beri tahu, tapi tidak gratis,"ucap Alva berbisik di telinga Disha seraya menyesap leher Disha dan memeluk tubuh Disha yang sekarang ada dalam pangkuannya.


"Jangan macem-macem, atau nanti aku akan tidur di kamar Kaivan,"ancam Disha yang takut suaminya tidak bisa menahan diri untuk mencumbunya, sedangkan Disha sadar jika saat ini ada orang lain di dalam mobil yang mereka tumpangi itu.


"Aku tidak akan membiarkan kamu tidur dengan nyenyak malam ini,"bisik Alva seraya meremas pelan salah satu bukit kembar milik Disha, tidak takut dengan ancam istrinya.


"Al..!!"pekik Disha.


"Auwh.. sakit, sayang!"pekik Alva karena Disha mencubit pinggangnya.


"Sudah, biarkan aku duduk sendiri,"ucap Disha berusaha turun dari pangkuan suaminya.


"Tidak mau! Aku ingin memeluk mu seperti ini,"ucap Alva tidak mau melepaskan pelukannya dan hidung serta bibirnya masih saja bergerilya di leher Disha.


"Al..."ucap Disha berusaha menahan tangan suaminya yang mulai nakal.


"Sayang, aku suka wangi tubuhmu,"ucap Alva dan Disha hanya bisa menghela nafas berat menghadapi tingkah suaminya itu.


Sedangkan Riky dan pak supir jadi panas dingin mendengar kasak kusuk sepasang suami-isteri yang duduk di belakang mereka. Sesekali mereka melirik kaca di dashboard mobil dan melihat keintiman majikan mereka membuat mereka jadi salah tingkah.


"𝐎𝐡 𝐲𝐚 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧𝐤𝐮𝐮𝐮..!!! 𝐀𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠? 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢. 𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐦𝐚𝐣𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧.!! 𝐏𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐚𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧," batin Riky.


"𝐀𝐡, 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐮 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭-𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠. 𝐀𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧 𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐣𝐚𝐭𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐢𝐧𝐢,"batin si supir.

__ADS_1


***


Di rumah Adiguna.


Bel rumah itu berbunyi dan seorang Art membuka pintu itu.


"Tuan.?!"ucap Art itu nampak terkejut. "Tuan..Tuan mau kemana?"tanya Art itu mengejar pria yang tidak lain adalah Hery. Begitu pintu dibuka, Hery langsung nyelonong masuk tanpa permisi.


"Saya ingin bertemu istri saya,"ucap Hery tanpa menghentikan langkahnya.


"Tapi Tuan tidak diijinkan menemui Nona Anjani, Tuan!"seru Art itu namun Hery tidak memperdulikannya.


"Diam di situ atau saya akan berbuat kasar padamu!"ancam Hery dengan tatapan tajam. Art itu akhirnya tidak berani lagi mengejar Hery.


"Tok..!! Tok.!! Tok !!"Hery mengetuk pintu kamar Anjani.


"Masuk!"sahut Anjani dari dalam.


Hery melangkah masuk ke dalam kamar Anjani dan melihat Anjani yang memakai daster tanpa lengan sedang duduk di depan meja riasnya sambil mengusapkan losion di tangannya. Tubuh yang putih mulus dan berisi karena sedang mengandung, membuat Anjani terlihat seksi di mata Hery.


"Ada apa Bik?" tanya Anjani tanpa melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya.


Hery berjalan mendekati Anjani kemudian mengusap kedua lengan Anjani dengan lembut hingga membuat Anjani terperanjat dan berdiri mendadak bahkan hampir saja terjatuh jika Hery tidak menangkap tubuh Anjani.


"Aku merindukan mu,"ucap Hery malah memeluk Anjani dan mencium leher Anjani. Hery yang tadinya datang untuk meminta agar Anjani membatalkan gugatan cerai padanya. Tapi entah setan apa yang merasuki nya hingga saat melihat tubuh Anjani tiba-tiba saja Hery menginginkan untuk menyatukan tubuh mereka.


"Lepaskan!! Jangan sentuh aku!!"pekik Anjani berusaha melepaskan diri dari pelukan Hery.


"Kenapa? Aku masih suamimu,"ucap Hery masih tidak mau melepaskan Anjani dan malah menyesap leher Anjani.


"Lepaskan!! Sebentar lagi kita akan resmi bercerai. Aku sudah tidak ingin lagi bersamamu! Aku benci kamu!!"pekik Anjani terus meronta dalam pelukan Hery.Tapi bukannya melepaskan Anjani malah seperti orang yang kesurupan. Hery menjamah tubuh Anjani membuat banyak tanda di leher Anjani.


Anjani semakin ketakutan dan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari Hery hingga tiba-tiba perutnya terasa sakit.


"Sssst..."desis Anjani merasakan sakit di perutnya yang tiba-tiba muncul.


"Kamu menikmatinya, kan?" bisik Hery di telinga Anjani. Hery mengira Anjani mendesis karena sudah terpancang hasraatnya hingga Hery tetap melanjutkan aksinya dan semakin erat memeluk tubuh Anjani hingga Anjani tidak bisa bergerak sama sekali.


Anjani mencengkram lengan Hery yang mengunci pergerakannya untuk melampiaskan rasa sakit yang semakin lama semakin terasa di perutnya hingga Hery merasa kesakitan namun Hery tidak menghiraukannya.


"Akkhh..!!"pekik Anjani dengan keringat dingin yang mulai keluar dari tubuhnya dan semakin mencengkram tangan Hery hingga kuku-kuku Anjani terasa menancap di lengan Hery.

__ADS_1


Hery meringis, lengannya terasa sakit karena kuku Anjani terasa begitu menusuk kulitnya. Hery pun akhirnya menyadari ada yang salah pada Anjani dan menatap wajah Anjani dari kaca yang ada di depannya. Hery melihat Anjani nampak kesakitan.


"Ka..kamu kenapa?"tanya Hery kaget.


"Sakit.."ucap Anjani lirih tapi masih bisa di dengar oleh Hery.


"Apa perutmu sakit?"tanya Hery yang mulai khawatir. Anjani tidak menjawab, hanya mengangguk seraya memejamkan matanya karena merasakan sakit di perutnya semakin menjadi.


Dengan cepat Hery menggendong Anjani dan membawanya keluar dari kamar itu dan bergegas menuju mobilnya.


"Nona.!! Nona kenapa?"tanya Art dirumah itu yang melihat Anjani nampak kesakitan tapi tidak dijawab oleh Hery.


Akhirnya Art itu memilih menghubungi Adiguna dan menceritakan apa yang terjadi. Adiguna yang mendengar cerita dari Art di rumahnya itu pun langsung pergi ke rumah sakit yang dekat dengan rumahnya karena beberapa kali menghubungi Hery tapi tidak diangkat.


Saat sampai di rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya, Adiguna melihat Hery yang menggendong Anjani keluar dari mobil.Tebakan Adiguna benar bahwa Hery pasti akan membawa Anjani ke rumah sakit terdekat.


Anjani langsung dinaikkan Hery di atas brankar yang sudah disediakan perawat dan langsung dilarikan ke UGD diikuti oleh Hery dan Adiguna.


"Pa..."panggil Anjani mengulurkan tangannya pada Adiguna dan Adiguna pun langsung memegangnya.


"Tenanglah sayang, kamu pasti kuat! Papa akan selalu ada di samping mu,"ucap Adiguna memberi semangat pada putrinya.Sedangkan Hery berada di sisi lain brankar itu.


Sesampainya di depan UGD," Suaminya boleh menemani pasien di dalam,"ucap seorang dokter.


"Tidak dok, saya ingin papa saya yang menemani saya. Pa, tolong temani aku!" pinta Anjani.


"Iya, papa akan menemanimu,"sahut Adiguna dan akhirnya Adiguna masuk ke ruangan UGD untuk menemani Anjani melahirkan.


Hery pun hanya bisa menunggu di luar dan tidak lama kemudian Darmawan sudah ada di depan UGD itu.


"Bagaimana keadaan Anjani?"tanya Darmawan yang baru sampai.


Saat di jalan tadi Adiguna menghubungi Darmawan bahwa Anjani yang sedang kesakitan dibawa Hery. Adiguna yakin Hery membawa Anjani ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumah nya dan ternyata dugaan Adiguna benar.


"Aku tidak tahu, pa. Anjani masih ada di dalam,"sahut Hery.


"Kenapa kamu tidak menemani Anjani melahirkan?"tanya Darmawan menatap Hery.


"Anjani tidak mau aku temani, dia ingin ditemani oleh papanya,"sahut Hery.


"Apalagi kali ini yang kamu lakukan pada Anjani? Kenapa dia tiba-tiba harus masuk rumah sakit? Harusnya satu setengah minggu lagi, Anjani baru akan melahirkan. Apa kamu melakukan sesuatu pada Anjani?"ucap Darmawan menatap tajam pada Hery.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2