
Beberapa jam setelah kejadian Trisha yang membuat huru hara di kantor Alva, akhirnya Disha pergi meeting bersama Riky disebuah perusahaan. Sedangkan Alva akan berangkat beberapa jam setelah Disha dan Riky pergi.
"Silahkan, Nyonya!"ucap Riky saat membukakan pintu mobil bagian penumpang di belakang kemudi.
"Aku duduk di samping kursi kemudi aja, Rik,"ucap Disha.
"Baik, Nyonya,"ucap Riky kemudian membuka pintu mobil bagian penumpang di sebelah pengemudi dan Disha segera masuk.
Setelah menutup pintu, Riky berjalan memutari mobil kemudian masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Setelah memakai sabuk pengaman, Riky pun melajukan mobilnya.
"Rik, sudah berapa kali kamu kencan sama Yessie?"tanya Disha dengan tatapan lurus melihat jalan didepan nya.
"Nggak sempat, Nyonya. Saya harus menyelesaikan semua tugas kantor sebelum ngambil cuti buat nikah nanti. Kami cuma berkomunikasi lewat handphone saja,"sahut Riky.
"Memang mau cuti berapa hari, Rik?"tanya Disha menatap Riky sekilas.
"Sepuluh hari, Nyonya. Dua hari sebelum hari pernikahan dan satu Minggu setelah pernikahan,"jawab Riky.
"Aku akan memberikan kamu paket honeymoon sebagai hadiah pernikahan kalian,"ucap Disha tersenyum tipis.
"Yang bener, Nyonya?"tanya Riky dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja benar. Aku punya banyak saham, jadi tidak akan membuat aku bangkrut jika hanya memberikan hadiah paket honeymoon untuk orang kepercayaan sekaligus sahabat suamiku. Apalagi yang kamu nikahi juga sahabat baikku,"ujar Disha.
"Iya, saya percaya, kalau cuma mengeluarkan hadiah buat bulan madu kami, itu pasti hanyalah uang recehan bagi, Nyonya,"sahut Riky kemudian terkekeh.
"Bisa saja kamu, Rik,"tukas Disha ikut terkekeh.
Setelah satu jam mengemudi, akhirnya Riky dan Disha pun sampai di perusahaan tempat mereka akan melakukan meeting. Setelah semua peserta meeting hadir, meeting pun segera di mulai. Dan ternyata meeting berjalan dengan lancar, sehingga meeting itu cepat selesai.
Riky dan Disha pun segera meninggalkan perusahaan tempat mereka mengadakan meeting dan menyusul Alva ke sebuah restoran tempat Alva bertemu dengan klien baru mereka.
"Meeting tadi berjalan dengan lancar, jadi saya rasa kita bisa datang tanpa terlambat ke restoran tempat Tuan bertemu klien baru, Nyonya,"ucap Riky.
"Iya, kamu benar, Rik. Tapi tidak apa-apa kan jika aku tidak ikut dengan mu menyusul Alva untuk meeting di restoran itu,"sahut Disha seraya menatap layar ponselnya.
"Kenapa, Nyonya?"tanya Riky.
"Aku turun di minimarket depan sana saja. Aku ingin pulang,"sahut Disha masih fokus pada layar handphonenya.
"Apa Nyonya tidak enak badan?"tanya Riky menatap Disha sekilas dan nampak khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja. Cuma aku merasa lelah saja,"sahut Disha.
"Apa anda marah pada Tuan karena kejadian di kantor tadi?"selidiki Riky.
__ADS_1
"Tidak usah dibahas soal tadi, Rik,"tukas Disha yang wajahnya berubah datar mendengar pertanyaan Riky itu.
"Baiklah, saya akan menurunkan anda di minimarket depan,"sahut Riky seraya menghela nafas berat.
Akhirnya Riky menurunkan Disha disebuah minimarket,"Saya akan mencari taksi untuk anda,"ucap Riky akan melepaskan sabuk pengaman nya.
"Tidak usah, Rik. Aku sudah pesan taksi online, sebentar lagi datang,"ucap Disha sudah melepas sabuk pengaman nya, lalu segera turun dari mobil.
"Hati-hati Nyonya!"ucap Riky.
"Iya sahut Disha kemudian Riky kembali melajukan mobil nya. Tak lama kemudian taksi yang dipesan Disha pun sudah datang dan Disha langsung masuk ke dalam taksi itu.
Riky tiba disebuah restoran bersamaan dengan Alva yang juga baru sampai. Alva pun menghampiri mobil yang dikendarai oleh Riky.Namun Alva mengernyitkan keningnya saat Riky hanya turun sendirian tanpa Disha.
"Rik, mana istriku?"tanya Alva melihat ke dalam mobil Riky.
"Nyonya pulang, Tuan,"sahut Riky.
"Pulang? Kenapa?"tanya Alva.
"Nyonya bilang dia capek,"sahut Riky berjalan mendekati Alva.
Alva menghela nafas panjang kemudian berjalan menuju restoran diikuti Riky,"Apa menurut mu, Disha marah padaku?"tanya Alva.
"Sial sekali aku hari ini,"gerutu Alva meraup wajahnya kasar.
"Dan saya pastikan, malam ini anda benar-benar tidak akan mendapatkan jatah. Boro-boro dapat jatah, masih beruntung kalau malam ini anda tidak diusir Nyonya dari kamar,"imbuh Riky kemudian tertawa terbahak-bahak menertawakan kesialan Alva.
"Riky.!!"pekik Alva.
"Kawin....kawin..!!!" Riky menyenandungkan sedikit lirik lagu sambil berlari meninggalkan Alva diparkiran itu kemudian kembali tertawa.
"Sial.!! Sial.!!"umpat Alva menendang- nendang udara.
***
Di kafe xx, tempat Disha berjanji bertemu dengan seorang.
Disha nampak berjalan masuk kedalam kafe tersebut dengan mata menelisik mencari orang yang sudah diajak nya bertemu. Seseorang yang sedang duduk di pojok ruangan kafe itu melambaikan tangan nya pada Disha. Disha pun segera berjalan kearah pria yang melambaikan tangan pada nya itu.
"Apa anda sudah menunggu lama?"tanya Disha setelah duduk di depan seorang pria tampan yang tak lain adalah Radeva.
"Tidak, baru juga, kok.Oh ya, bisakah memanggil aku dengan sebutan kakak saja? Orang tuaku dan orang tua Alva sudah seperti keluarga,"sahut Radeva.
Disha menghela nafas panjang lalu menatap Radeva,"Oke,"sahut Disha singkat.
__ADS_1
"Pesanlah minuman terlebih dahulu,"ucap Radeva kemudian memanggil seorang pelayan kafe dan Disha hanya memesan jus alpukat.
"Apa ada hal yang penting sehingga kamu mengajak ku bertemu secara mendadak seperti ini?"tanya Radeva setelah pelayan kafe pergi, menatap wajah cantik di depan nya itu.
"Ini soal Trisha,"ucap Disha membuang nafas berat.
"Ada apa dengan Trisha?"tanya Radeva mengernyitkan keningnya.
"Bisakah kamu mengendalikan adik mu itu? Aku sudah muak dan jengah dengan tingkah Trisha,"sahut Disha.
"Apa dia berbuat ulah lagi?"tebak Radeva.
"Iya, tadi dia datang ke ruangan Alva dan meminta pertanggung jawaban Alva atas hilangnya kesuciannya,"jawab Disha menatap Radeva datar.
"Apa?! Dimana otak anak itu? Kenapa dia melakukan hal itu,"ucap Radeva yang tidak mengerti dengan jalan pikiran adiknya.
'Bukan cuma sebatas itu yang dia lakukan saat dia datang keruangan Alva tadi,"ucap Disha menatap Radeva datar.
"Permisi, ini minumannya Nona,"ucap seorang pelayan yang membawa jus alpukat pesanan Disha lalu meletakkan gelas jus itu dimeja yang tepat berada di depan Disha.
"Terimakasih,"ucap Disha tersenyum tipis.
"Apa lagi yang dia lakukan?"tanya Radeva setelah pelayan itu pergi.
"Dia berusaha...."Disha menjeda kata-katanya sebentar membuat Radeva semakin penasaran,"Aku tidak tahu apa namanya, memaksa atau kah menggoda," sahut Disha kemudian meminum jus alpukat nya.
"Maksud nya?"tanya Radeva yang belum bisa menebak apa yang dimaksud Disha.
"Trisha mencoba mencium Alva, bahkan dia melepaskan hampir seluruh pakaiannya di depan Alva,"sahut Disha membuang nafas kasar.
"Apa?!"pekik Radeva spontan berdiri dari duduknya, membuat para pengunjung kafe langsung menatapnya.
"Maaf!"ucap Radeva pada para pengunjung kafe itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya kemudian kembali duduk dan membuang nafas kasar.
"Jujur aku sudah jengah dan muak dengan tingkah laku adik kamu itu. Aku juga manusia biasa dan sabar ku juga ada batasnya. Jangan sampai aku nanti melakukan sesuatu yang membuat adik mu itu hancur,"ucap Disha menatap tajam pada Radeva.
"Aku mengerti. Aku akan mengawasi dia lebih ketat lagi,"sahut Radeva.
"Jika dia berbuat ulah untuk menganggu keluarga ku lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan adikmu itu,"ucap Disha dengan tatapan mata tajam dan mengintimidasi.
...🌟"Ada orang yang tidak bisa diperlakukan dengan lembut, ada pula orang yang tidak bisa diperlakukan dengan kasar, karena sifat orang berbeda- beda."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1