Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
87. Panas Hati


__ADS_3

"Kau.!!!" Hery benar-benar kesal karena asisten Alva. Karena takut tidak bisa mengontrol diri jika terus berhadapan dengan Riky, akhirnya Hery memilih pergi dari tempat itu. Sementara Alva dan Disha juga beranjak pergi dari tempat itu.


"𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧!! 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐰𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐚-𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧,"gerutu Hery dalam hati seraya berjalan tak tentu arah.


Riky pun segera menyusul Alva dan Disha, berjalan dibelakang kedua majikannya menuju tempat berbagai macam makanan di hidangkan.


"Sayang, kamu mau makan apa?"tanya Alva pada Disha.


"Aku mau makan ayam bakar dan satai saja, sayang,"sahut Disha dan Alva pun segera mengambilkan makanan yang diinginkan oleh istrinya, kemudian duduk bersama Disha dan Riky.


"Tuan, sebentar lagi mantan kalian akan menikmati malam pengantin mereka di hotel bintang lima dengan fasilitas presidential suite. Apa anda tidak ingin ikut menyewa salah satu kamar juga?!"tanya Riky berbisik disebelah kiri Alva yang sedang duduk diantara Riky dan Disha.


"𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐝𝐞 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬,"batin Alva seraya mengusap punggung Disha yang sedang memakan makanan yang diambilkan oleh Alva, dan sesekali menyuapi Alva.


"Dulu Tuan nikah sama Nyonya karena digerebek, dan tidak saling mengenal satu sama lain. Entah bagaimana kalian melakukan malam pertama kalian. Apa anda mau saya pesankan kamar presidential suite juga?! tanya Riky lirih, sambil mengulum senyum kemudian memakan makanan yang di ambilnya tadi.


Walaupun Riky berkata lirih, tapi Alva masih bisa mendengar kata-kata Riky. Alva teringat bagaimana ia dan Disha menikah. Pernikahan dadakan yang sangat sederhana, bahkan sampai sekarang Disha dan dirinya tidak pernah mengadakan resepsi pernikahan.


Alva juga ingat bagaimana dia merenggut mahkota Disha. Dan semua hal itu meninggalkan rasa sesal dan bersalah di hati Alva untuk Disha.


"Pesankan aku satu kamar terbaik di hotel ini,"ucap Alva berbisik pada Riky.


"Uhuk..uhuk...uhuk,"Riky terkejut sampai tersedak makanan yang baru akan ditelannya saat mendengar perintah majikan nya. Riky tadinya hanya asal nyeplos saja untuk menggoda Alva dan tidak menyangka jika Alva malah menanggapi kata-kata nya dengan serius.


"Anda serius?"tanya Riky tidak percaya.


"Tentu saja serius,"ucap Alva santai.


"Ada apa sayang?"tanya Disha yang melihat wajah Riky yang nampak serius.


"Nggak apa-apa, sayang. Iya kan Rik?"tanya Alva sambil memberi kode agar Riky menjawab iya.


"Ach, iya nyonya,"sahut Riky sambil tersenyum,"Tuan benar-benar ingin saya pesankan kamar presidential suite?"tanya Riky lagi dengan cara berbisik pada Alva.

__ADS_1


"Apa aku harus membawamu ke dokter THT untuk memeriksa pendengaran mu?!"tanya Alva kesal.


"Tidak perlu Tuan, telinga saya masih normal dan tidak bermasalah,"sahut Riky.


"Ya sudah, kerjakan sana jika tidak ingin aku bawa ke dokter THT untuk mengebor telinga mu itu,"ucap Alva kesal.


"Tidak perlu ke dokter THT, Tuan. Telinga saya baik-baik saja, cuma agak tercemar karena mendengar decapan anda dan Nyonya dulu saat berciuman di ruangan anda,"ucap Riky santai.


"Riky..!!!"geram Alva menahan diri agar tidak berteriak di depan umum.


"Ampun, Tuan. Saya masih polos,"ucap Riky langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menjauh dari Alva.


"Sayang, ada apa sich?!"tanya Disha yang dari tadi melihat kasak kusuk atasan dan bawahan itu sampai akhirnya Riky ngibrit meninggalkan mereka.


"Nggak ada apa-apa sayang, kamu tahu sendiri kan, kalau Riky itu mulutnya suka bikin orang kesel,"sahut Alva sambil mengelap kecap yang melekat di sudut bibir Disha dengan ibu jarinya kemudian menjilat ibu jarinya itu.


Hery kembali memperhatikan mereka dari jauh merasa hatinya panas melihat Disha yang makan sambil menyuapi Alva, apalagi saat Alva mengelap bekas kecap di bibir Disha dengan menggunakan ibu jarinya kemudian menjilat nya.


"𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐭𝐚𝐡𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐮!! 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐤𝐚𝐩 𝐦𝐞𝐬𝐫𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐀𝐲𝐮 𝐝𝐢 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐮𝐦𝐮𝐦 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐭𝐮,"batin Hery semakin panas.


"Aku menikah dengan mu karena terpaksa, aku tidak mencintaimu, jadi jangan mengharapkan lebih dari ku!"ucap Hery dengan suara pelan pada Anjani namun penuh penekanan, kemudian berlalu meninggalkan Anjani dan menyapa para tamu undangan yang hadir.


"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐧𝐢? 𝐃𝐮𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢𝐤𝐮. 𝐀𝐩𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦𝐧𝐲𝐚? 𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐚,"batin Anjani menatap punggung Hery yang melangkah menjauh dari nya.


Anjani kemudian menatap Alva dan Disha yang nampak bahagia. Sesekali Alva mengelus rambut Disha dan mengecup pipi Disha, membuat Anjani merasa iri. Sebenarnya dari tadi Anjani juga memperhatikan Alva dan Disha yang nampak mesra. Anjani juga ingin suatu hari nanti bisa seperti Alva dan Disha, hidup dengan orang yang dicintai dan mencintai nya.


"𝐀𝐧𝐝𝐚𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐮𝐥𝐮𝐬 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚,"batin Anjani menatap Disha dan Alva dengan hati yang sedih.


"Nona, nona tidak apa-apa?"tanya seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Anjani.


"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa,"sahut Anjani.


"Jika anda lelah, saya bisa mengantarkan anda ke kamar anda,"tawar pria itu dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Ada apa, San?"tanya Adiguna yang tiba-tiba muncul.


'Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya menyarankan kepada Nona untuk lebih dulu kembali ke dalam kamarnya jika sudah merasa kelelahan,"jawab pria yang tidak lain adalah Sandy, asisten sekaligus orang kepercayaan Adiguna.


"Iya, sayang. Jika kamu merasa lelah, sebaiknya kamu kembali saja ke kamar mu. Tidak baik jika kamu kelelahan dalam keadaan sedang mengandung seperti ini,"ucap Adiguna.


"Iya, pa. Aku akan kembali ke kamar dan beristirahat,"sahut Anjani.


"Istirahatlah! Sandy tolong antar kan Anjani ke kamarnya!"pinta Adiguna pada Sandy.


"Sayang, ayo kita pulang! Sudah malam, aku mau istirahat,"ajak Disha menatap Alva yang sedang sibuk dengan handphone nya.


"Oke,"ucap Alva lalu memasukkan handphonenya ke dalam sakunya, kemudian merangkul pinggang Disha dan berjalan meninggalkan tempat diadakannya acara resepsi pernikahan itu.


"Sayang, kok kita malah naik sich? "tanya Disha saat berada dalam lift bersama Alva dan melihat angka pada lift menunjuk bahwa mereka bukannya turun tapi malah naik.


"Aku ingin kita menginap di hotel saja, sayang,"ucap Alva membelai pipi Disha kemudian mencium bibir Disha sekilas.


"Sayang.!! Jangan sembarangan mencium ku!"larang Disha.


"Kenapa?"tanya Alva.


"Kamu lupa kalau dalam lift ini ada cctv-nya?"tanya Disha.


"Nggak apa-apa, sayang! Toh kita juga sudah resmi menikah, malahan sudah punya anak,"ucap Alva santai dan Disha hanya bisa menghela nafas panjang.


Setelah keluar dari lift, Riky ternyata sudah menunggu mereka berdua kemudian menunjukkan kamar untuk Alva dan Disha. Hingga saat akan memasuki kamar mereka, pintu kamar di sebelah mereka terbuka.


"Kalian? Mau apa kalian kesini?"


...🌟"Katanya cinta sejati itu tidak harus memiliki, tapi nyatanya mudah diucapkan tapi sulit untuk dijalani."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2