Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
198. Kematangan


__ADS_3

"Apa papa juga akan mengundang paman Nalendra untuk hadir di pesta itu nanti?"tanya Radeva pada Mahendra.


"Iya. Dia adalah saudara papa, tidak mungkin papa tidak mengundangnya. Memangnya kenapa?"tanya Mahendra.


"Tidak apa-apa, pa. Aku hanya malas saja bertemu dengan paman. Apalagi kalau harus bertemu dengan Niko,"sahut Radeva terlihat malas.


"Kenapa? Kalian itu sepupu, tapi dari dulu sepertinya sulit sekali untuk akrab,"sahut Ghina.


"Dia itu selalu iri dengan apa yang aku milik, ma. Bahkan jika ada cewek yang aku sukai, cewek itu langsung dipacarinya,"sahut Radeva nampak kesal.


"Jadi kakak menjadi perjaka tua gara-gara belum start tapi selalu kena tikung? Dan belum pernah pacaran? Kasihan sekali," ucap Alva kemudian tertawa.


"Haish.. dasar adik ipar nggak punya akhlak!"umpat Radeva yang tidak suka ditertawakan Alva.


"Aku beri saran ya kak, kalau suka sama cewek langsung selidiki aja tuch cewek. Kalau cocok langsung lamar, nggak usah sok-sokan mau pacaran segala. Udah ketuaan tau! Ibarat buah, kakak itu udah kematangan, sebentar lagi jatuh, busuk, nggak laku dech,"ucap Alva kemudian kembali tertawa.


"Dasar adik ipar lak natt!"sergah Radeva langsung melempar bantal sofa pada Alva, namun langsung ditangkap oleh Alva, membuat semua orang yang ada di ruangan itu geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya yang susah akur.


"Tapi yang dikatakan oleh Alva itu ada benarnya, Dev,"sahut Mahendra.


"Maksud papa aku udah kematangan dan sebentar lagi busuk gitu? Emang aku buah apa,"sahut Radeva sewot.


"Bukan begitu, maksud papa, kalau ada yang kamu suka langsung lamar saja, biar nggak ditikung orang,"ujar Mahendra.


"Mama setuju,"sahut Ghina.


"Tante sependapat. Kamu tahu Dev, asisten Alva juga nggak pernah pacaran. Begitu ada gadis yang dia suka, langsung dia selidiki dan dia lamar, terus langsung nikah dech,"sahut Ratih.


"Benar begitu, Al?"tanya Mahendra.


"Iya, pa. Itu benar. Mereka juga sekarang bahagia, kok. Pacaran setelah menikah itu lebih seru, mau ngapain aja boleh," sahut Alva mengulum senyum.


"Mama setuju dengan pendapat adikmu, Dev,"sahut Ghina antusias.


"Om juga setuju, Dev,"sahut Bramantyo.


"Aku juga setuju, kak,"sahut Disha.

__ADS_1


"Oke, aku udah punya incaran kok, kalian tunggu aja kabar baiknya,"sahut Radeva santai karena memang sudah punya incaran.


"Sayang, sepertinya Kaivan sudah mengantuk,"ucap Alva yang duduk disebelah Disha. Alva melihat Kaivan sudah mulai gelisah di pangkuan Ghina.


"Aku akan menidurkannya,"sahut Disha kemudian menghampiri Kaivan.


"Sini jagoan mama! Sudah mau bobok, kan?"tanya Disha mengambil alih Kaivan dari gendongan Ghina. Balita itu tidak menjawab, tapi mengulurkan tangannya pada Disha.


"Iya, sepertinya Kaivan memang sudah mengantuk, sayang,"ucap Ghina.


"Iya, ma. Aku akan membawanya ke kamar,"sahut Disha.


Disha membawa Kaivan ke kamar Kaivan sendiri, karena Ratih kadang membawa Kaivan tidur bersamanya. Sedangkan mereka yang berada di ruangan itu masih melanjutkan obrolan mereka.


Tak lama kemudian, keluarga Mahendra pun pamit pulang, karena malam sudah semakin larut. Bramantyo dan Ratih masuk ke dalam kamar mereka, dan Alva pun masuk ke dalam kamarnya. Baru beberapa langkah memasuki kamarnya, handphone Alva berdering. Alva pun mengangkatnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.


Tak lama kemudian Disha masuk kedalam kamar itu dan mendengar Alva yang sepertinya sedang bicara dengan rekan bisnisnya melalui sambungan telepon. Disha masuk kedalam kamar mandi dan tidak lama kemudian keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan baju yang sudah berganti.


Disha berjalan menuju balkon dan mendekati Alva yang baru saja menutup teleponnya. Pria itu nampak menengadah menatap langit yang mendung dengan kedua tangan memegang pagar pembatas balkon, hanya ada beberapa bintang yang berkedip dan sinar rembulan yang nampak redup.


Grep


"Aku merindukan mu,"ucap Disha masih dengan tangan yang melingkar di perut sixpack Alva. Sudut bibir Alva tertarik keatas mendengar kata-kata Disha.


"Apa dalam hukuman ini hanya aku yang tidak boleh menyentuh mu? Tapi kamu bebas menyentuhku?"tanya Alva tanpa membalikkan tubuhnya, masih pada posisi yang sama.


"Ck, bahkan semalam kamu sudah bercinta dengan ku,"sahut Disha dengan wajah cemberut melepaskan pelukannya.


"Tapi semalam kamu yang memulainya. Aku tidak akan menyentuh mu jika kamu tidak menginginkannya,"ucap Alva menghela napas panjang, berbalik tanpa menatap Disha kemudian berjalan menuju pintu.


"Aku yang memulainya?"gumam Disha. "Kamu mau kemana?"tanya Disha membuat Alva yang sudah memegang handle pintu berhenti.


"Aku akan ke ruangan kerja ku,"sahut Alva seraya memutar handle pintu.


"Tunggu!"cegah Disha membuat Alva kembali menghentikan pergerakan nya. "Apa kamu ingin tidur di ruangan kerjamu lagi?"tanya Disha seraya berjalan mendekati Alva.


"Iya,"sahut Alva singkat tanpa menoleh ke arah Disha.

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin tidur di sana? Aku cuma menghukum mu agar tidak menyentuhku, bukan pisah ranjang dengan ku,"ucap Disha terlihat kesal.


Alva menghela napas panjang kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Disha yang juga sedang menatap nya.


"Kamu tahu kan, aku tidak bisa mengendalikan diriku saat dekat denganmu? Aku tidak akan bisa menjalani hukuman yang kamu berikan jika aku tidur satu ranjang dengan mu. Aku akan tersiksa jika tidur seranjang dengan mu tapi kamu tidak mengijinkan aku untuk menyentuhmu,"ujar Alva panjang lebar.


Mendengar apa yang dikatakan Alva, Disha pun langsung menghambur memeluk suaminya itu. Merasa bersalah telah menghukum suaminya seperti itu.


"Maaf! Aku tidak akan menghukum mu seperti itu lagi,"ucap Disha masih memeluk Alva


Sudut bibir Alva tertarik keatas kemudian membalas pelukan istrinya,"Benarkah? Hukuman ku sudah selesai?" tanya Alva.


"Hemm.."sahut Disha kemudian merenggangkan pelukannya dan mendongak menatap suaminya,"Apa lukanya masih sakit?"tanya Disha, memegang dahi suaminya yang diperban.


"Tidak,"sahut Alva seraya membelai lembut pipi Disha, menatap manik mata istrinya lekat,"Yang sakit bukan dahi ku, tapi ini,"ucap Alva meraih tangan Disha dan meletakkannya di dadanya.


"Apa saat kamu melompat dari mobil, dada mu terbentur sesuatu?"tanya Disha nampak khawatir.


"Tidak, tapi dadaku terasa sesak,"sahut Alva menatap manik mata indah milik istrinya.


"Kita periksa ke dokter, ya?!"tawar Disha.


"Tidak perlu. Dadaku sesak karena aku sangat merindukan mu,"ucap Alva seraya mengusap pipi Disha yang halus membuat Disha tersipu.


Perlahan Alva menundukkan kepalanya mendekatkan bibirnya pada bibir Disha, membuat Disha memejamkan matanya. Bibir Alva pun perlahan melum mat bibir Disha dan Disha pun membalasnya. Tangan kirinya memeluk pinggang Disha erat hingga tubuh mereka saling menempel.Tangan kanannya memegang tengkuk Disha untuk memperdalam ciumannya.


Disha mengalungkan tangannya di leher kokoh suaminya. Saling menautkan lidah bertukar saleva, sesekali menggigit kecil dan saling memagut hingga terdengar decapan decapan yang memenuhi ruangan. Hingga akhirnya Alva melepaskan tautan bibir mereka saat Disha terlihat mulai kesulitan untuk bernapas.


"Aku sangat merindukan mu,"ucap Alva mengusap lembut bibir Disha yang basah karena nya, kemudian memegangi pipi istrinya itu,"Aku tidak pernah ragu apalagi takut untuk mencintai mu, aku hanya takut kehilangan mu. Selama aku masih hidup, aku akan selalu mencintaimu. Dari sekarang sampai napas terakhir ku, aku berharap akan selalu ada di sisimu,"


"Aku ingin saat aku membuka mataku, aku bisa melihat wajah mu, mendekap mu dalam pelukan ku. Percayalah! Tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu di hatiku, kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai dalam hiduku. Akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaan mu, aku berjanji padamu,"ucap Alva membuat mata Disha berkaca-kaca.


"I'll love you till the end,"ucap Disha menarik tengkuk suaminya kemudian memejamkan matanya dan mencium bibir suaminya dengan lembut dan penuh perasaan. Alva pun membalasnya dengan perasaan bahagia.


...🌟"Cinta, satu kata yang tersusun dari lima huruf namun bisa membuat hati jungkir balik karenanya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2