
Waktu bergulir begitu cepat, hari pun terus berganti. Saat di luar negeri, Radeva selalu menyempatkan dirinya untuk menghubungi istrinya. Sebagai pengantin baru yang saling mencintai, tentu saja rasa rindu begitu mendera di hati mereka berdua. Berbeda dengan dengan Alva dan Disha yang berpisah dalam keadaan sedang berselisih paham. Kenapa kesibukannya, Alva tidak sempat menghubungi Disha, sedangan Disha merasa gengsi untuk menghubungi Alva.
Hingga hari itu pun tiba, Alva akan pulang, kembali berkumpul dengan keluarganya, terutama anak dan istrinya. Walaupun merasa kecewa terhadap Disha, namun rasa cintanya pada Disha sama sekali tidak berubah atau pun berkurang. Dengan hati yang bahagia, tidak sabar bertemu dengan anak dan istrinya, Alva pun segera memesan taksi online untuk pulang.
Hari sudah menjelang tengah malam saat Alva tiba di depan kediaman Bramantyo. Alva nampak terkantuk-kantuk di dalam taksi itu.
"Tuan, kita sudah sampai,"ucap sang supir taksi membuat Alva terhenyak dari rasa kantuknya.
"Oh iya, terimakasih, Pak! Ini untuk bapak, karena telah mengantar saya sampai rumah, walaupun harus lama terjebak macet,"ucap Alva memasukkan beberapa lembar uang ke saku kemeja supir taksi, kemudian segera bergegas turun dari taksi itu.
"Terimakasih, Tuan!"ucap supir taksi senang, sempat terkejut dengan nominal uang yang diberikan Alva padanya, dan Alva hanya mengangguk kemudian menutup pintu taksi itu.
Satpam yang menjaga pintu gerbang pun segera membukakan pintu untuk, saat melihat majikannya pulang. "Selamat malam, Tuan!"sapa satpam itu pada Alva.
"Malam, Pak!"sahut Alva menepuk pundak satpam itu kemudian melangkah menuju pintu utama. Namun seperti biasanya, pintu itu terkunci rapat. Alva membuang napas kasar, tidak ingin membangunkan penghuni rumah yang sedang beristirahat, Alva pun memilih ke belakang rumah mengambil tangga, kemudian memanjat ke balkon kamarnya dengan tangga itu.
Saat memasuki kamarnya Alva tidak mendapati Disha di atas ranjang. Namun tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
"Sayang, kamu sudah pulang?"tanya Disha saat melihat Alva.
"Hemm,"sahut Alva dengan wajah lelahnya.
__ADS_1
"Biar aku bantu melepaskan baju mu,"ucap Disha seraya menghampiri Alva yang terlihat begitu lelah.
"Nggak usah, sayang. Tolong buatkan air jahe saja, aku lelah sekali,"ucap Alva seraya melepaskan jas yang dikenakannya.
"Baiklah,"ucap Disha tidak jadi menghampiri Alva dan bergegas keluar dari kamar itu untuk membuatkan minuman yang diinginkan oleh Alva.
Alva melepaskan seluruh pakaiannya dan meletakkan nya di keranjang baju kotor di samping pintu kamar mandi, kemudian segera membersihkan diri. Tak lama kemudian Disha masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir air jahe hangat untuk Alva. Disha meletakkan secangkir jahe hangat itu diatas nakas sebelah tempat tidur yang dekat dengan tempat Alva biasa berbaring. Melihat ada pakaian Alva ada yang tidak masuk ke dalam keranjang, Disha pun menghampiri keranjang pakaian kotor itu. Namun Disha mencium aroma parfum yang berbeda dari pakaian suaminya itu.
Disha penasaran dan mendekatkan pakaian itu ke hidung nya dan mencoba mencium aroma parfum yang melekat di pakaian Alva,"Ini... kenapa seperti aroma parfum wanita,"gumam Disha dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang..
Karena penasaran Disha memeriksa pakaian yang baru saja dilepaskan oleh Alva. Mata Disha seketika membulat saat melihat noda lipstik dengan cap bibir di di kemeja Alva. Disha meremas kemeja itu dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang terasa diremas-remas. Disha melepaskan pegangannya pada kemeja Alva kemudian dengan langkah gontai berjalan ke arah ranjang.
Disha membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi sisi ranjang yang lain tempat Alva biasa berbaring.
Tak lama kemudian Alva keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar. Seperti biasanya, Alva hanya menggunakan celana boxer saat akan tidur. Alva melihat Disha yang sudah berbaring diatas ranjang, kemudian Alva pun berjalan menuju nakas. Alva mengambil secangkir jahe hangat yang dibuatkan Disha, kemudian duduk di tepi ranjang dan meminum air jahe itu. Tak berapa lama, Alva sudah menghabiskan secangkir air jahe hangat itu.
Alva tersenyum tipis melihat Disha, perlahan Alva naik ke atas ranjang, kemudian mendekati Disha yang berbaring memunggunginya. Disha yang belum tidur pun merasakan ranjang pergerakan di atas ranjang itu. Beberapa saat kemudian Disha terhenyak saat merasakan tangan Alva melingkar di perutnya. Dengan cepat Disha menyingkirkan tangan Alva yang melingkar di perutnya.
Alva menghela napas panjang menatap istrinya yang sedang berbaring memunggunginya itu,"Sayang, aku merindukan mu, apa kamu tidak rindu padaku?"tanya Alva kembali mencoba memeluk Disha. Namun Disha kembali menyingkirkan tangan Alva,"Sayang, kamu masih marah soal kemarin? Maaf jika aku terlalu egois, aku tidak akan memaksamu untuk hamil lagi,"ucap Alva mengelus kepala Disha namun kembali di tepis oleh Disha membuat Alva mengernyitkan keningnya.
"Sayang, apa kamu juga tidak mau lagi aku sentuh? Lalu buat apa aku buru-buru pulang jika kamu seperti ini?"tanya Alva membuang napas kasar. Dengan perasaan kecewa, Alva beranjak dari ranjang itu dan berjalan menuju lemari pakaian.
__ADS_1
Disha yang melihat Alva sedang memilih pakaian pun segera bangkit dari ranjang kemudian duduk,"Mau kemana kamu?"tanya Disha dengan nada ketus.
"Mau keluar. Untuk apa aku di sini, jika kamu tidak menginginkan kehadiran ku? Aku tidak akan menganggu mu lagi," ucap Alva tanpa menoleh kepada Disha.
"Alasan! Itu hanya alasanmu saja untuk bisa pergi,"tuduh Disha.
Alva membuang napas kasar dan berbalik menatap wajah Disha yang nampak suram,"Sayang, aku pulang, kamu nampak tidak suka, aku ingin pergi kamu malah marah, terus aku harus bagaimana?"tanya Alva nampak frustasi menghadapi istrinya itu.
"Cih, tidak usah sok-sokan frustasi seperti itu! Dalam hati, kamu pasti merasa senang kan, bisa mendapatkan alasan untuk keluar?"tanya Disha dengan mata yang berkaca-kaca.
Alva kembali membuang napas kasar,"Sayang, aku lelah sekali. Aku benar-benar tidak ingin bertengkar dengan mu,"ucap Alva mencoba bersabar menghadapi istrinya itu.
"Iya, aku tahu kamu pasti lelah kan, setelah bercinta dengan selingkuhan mu,"tuduh Disha dengan nada suara tinggi.
"Selingkuhan? Kamu ngomong apa, sich, sayang? Jangan mengada-ada, dech!" ucap Alva yang benar-benar tidak mengerti dengan istrinya itu.
"Mengada-ada kamu bilang?"sergah Disha.
"Iya, kamu mengada-ada, menuduhku yang bukan-bukan. Jika kamu memang tidak ingin melayani ku, ya sudah! Aku tidak akan memintanya lagi dari mu, jangan mencari alasan yang nggak masuk akal!"ucap Alva agak meninggikan suara nya, tersulut emosi karena kata-kata Disha.
"Aku tidak mengadakan-ada. Kamu memang berselingkuh dari ku! Kamu tega mengkhianati aku! Aku benci kamu, aku benci!"sambar Disha kemudian melempari Alva dengan bantal yang ada di atas ranjang, air matanya pun menetes tanpa bisa ditahannya lagi.
__ADS_1
To be continued