Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
162. Bik Anah


__ADS_3

"Pa, mama pengen sekali ke rumah Ratih. Mama kangen dengan cucunya Ratih," ucap Ghina saat mobil mereka baru saja meninggalkan kantor catatan sipil.


"Papa juga kangen dengan bayi montok itu, ma. Papa jadi ingat waktu Radeva masih bayi dulu. Radeva juga sangat menggemaskan seperti Kaivan,"sahut Mahendra tersenyum.


"Kalau begitu kita ke sana saja, ma,.pa. Aku juga kangen dengan Kaivan,"celetuk Radeva nampak antusias.


"Ya sudah, sekarang saja, ya?!"ucap Ghina nampak bahagia mengingat Kaivan yang sangat menggemaskan.


"Sebentar lagi Kaivan pasti sudah bisa berjalan ya, ma?!"cetus Mahendra.


"Iya, pa. Pasti lucu sekali ya kalau dia berlarian dengan tubuhnya yang montok itu,"timpal Ghina yang membuat mereka semua tertawa saat membayangkan Kaivan berlarian dengan tubuhnya yang montok dan menggemaskan itu.


"Ciiitttt....."tiba-tiba Radeva mengerem mobilnya mendadak.


"Dev..!!!"pekik Mahendra dan Ghina bersamaan.


"Ada apa Dev?"tanya Mahendra yang terkejut, begitu pula Ghina yang memegangi dadanya karena terkejut. Untung saja mereka semua memakai sabuk pengaman sehingga mereka baik- baik saja.


"Ada seorang wanita yang jatuh di depan mobil kita, pa,"sahut Radeva seraya melepaskan sabuk pengaman dan bergegas keluar dari mobilnya menghampiri wanita yang hampir ditabraknya. Mahendra dan Ghina pun melakukan hal yang sama dengan Radeva dan iku melihat wanita yang hampir ditabrak oleh Radeva.


Radeva segera membalikkan tubuh wanita yang tertelungkup di aspal itu, hingga terlihatlah wajah seorang wanita paruh baya yang sedikit lebih muda dari Ghina.


"Anah?!"pekik Ghina saat melihat wanita yang sedang dipegang oleh Radeva. Namun nampaknya wanita yang dipanggil Anah itu sudah tidak sadarkan diri.


"Kita bawa ke rumah sakit, ma, pa,"ucap Radeva setelah memeriksa nafas wanita paruh baya itu.


"Iya, ayo!"sahut Mahendra yang segera membukakan pintu mobil.


Radeva pun segera mengangkat tubuh wanita paruh baya itu masuk kedalam mobil di bangku penumpang bagian belakang yang sudah dibuka oleh Mahendra, disusul Ghina. Mahendra kemudian duduk di sebelah kursi kemudi dan Radeva pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


"Anah, bangun Anah!"ucap Ghina dengan tangan tremor menepuk pelan pipi Bik Anah. Air mata Ghina menetes begitu saja saat menemukan pengasuh putrinya yang menghilang 26 tahun yang lalu itu. Ada secercah harapan untuk bertemu dengan putrinya.

__ADS_1


"Jangan memaksa membangunkannya, ma. Biar dokter yang memeriksanya nanti,"ujar Mahendra.


"Pa, bukankah Anah nama pengasuh dari Shahira?"tanya Radeva yang masih mengingat nama pengasuh sang adik yang menghilang 26 tahun yang lalu.


"Iya, Dev. Dia pengasuh adikmu yang selama ini kita cari,"sahut Mahendra dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan. Begitu pula dengan Ghina yang diam menatap wajah pengasuh putri nya yang sekarang kepalanya ada di pangkuannya itu.


"Semoga kita bisa menemukan Shahira lewat Bik Anah,"ucap Radeva penuh harap.


"Papa juga berharap demikian,"sahut Mahendra.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit terdekat dan mereka langsung membawa Bik Anah ke UGD. Ketiga orang itu pun menunggu dengan cemas.


"Kenapa tiba-tiba kamu tadi bisa menabrak Anah, Dev?"tanya Mahendra saat mereka menunggu Bik Anah ditangani di UGD.


"Aku tidak menabraknya, pa. Aku lihat bibi tadi ditabrak seseorang yang sedang berlari hingga bibi hilang keseimbangan dan terjatuh di jalan tepat di depan mobil kita. Bibi tadi jatuh membentur aspal, untung aku cepat mengerem,"jelas Radeva.


"Semoga dia baik-baik saja. Mama sangat berharap Anah tahu dimana keberadaan putri kita, pa,"sahut Ghina.


"Papa juga, ma,"sahut Mahendra.


"Dok, bagaimana keadaannya?"tanya Mahendra tidak sabar.


"Ibu Anah tidak apa-apa, Tuan. Cuma kelelahan saja dan ada sedikit luka karena benturan di kepalanya,"ucap dokter.


"Syukurlah,"ucap ketiganya lega.


"Terimakasih, dok!"ucap Mahendra.


"Sama-sama. Sebentar lagi ibu Anah akan di pindahkan ke ruang rawat. Saya permisi, karena masih harus meriksa pasien yang lain," ucap dokter tersebut kemudian meninggalkan ketiga orang itu.


Tak lama kemudian Bik Anah dipindahkan ke ruang rawat. Mahendra, Ghina dan Radeva nampak gelisah menunggu Bik Anah sadar. Bik Anah menggerakkan tangannya dan memegang kepalanya dan perlahan-lahan mengerjap-ngerjabkan matanya menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Nyo... Nyonya Ghina! Anda benar-benar Nyonya Ghina, kan? Saya tidak sedang bermimpi kan?"ucap Bik Anah langsung menangis saat melihat Ghina.


"Iya, ini saya. Tenang dulu, Anah. Kamu minum dulu, ya?"ucap Ghina lalu membantu Bik Anah duduk untuk minum. Ghina merasa senang karena Bik Anah masih mengenalinya.


"Akhirnya saya menemukan anda, Nyonya. Sudah dua Minggu ini saya mencari anda,"ucap Bik Anah sambil mengusap air matanya.


"Kamu tenang dulu, Anah!"ucap Mahendra.


Setelah merasa tenang, Bik Anah menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu,"Nyonya, siapa pemuda ini?" tanya Bik Anah.


"Ini Radeva, Anah. Kamu ingat kan dengan Radeva?"sahut Ghina sambil tersenyum demikian pula Radeva.


"Tuan muda... Tuan muda sudah tumbuh dewasa dan sangat tampan,"ucap Bik Anah tersenyum tapi air matanya mengalir. Tanpa sungkan, Radeva memeluk perempuan paruh baya itu yang membuat wanita itu kembali menangis karena terharu.Beberapa saat kemudian Bik Anah pun sudah tenang.


"Anah, kemana saja kamu selama ini?" tanya Ghina.


"Nyonya saya akan menceritakan semua yang terjadi dari kejadian kebakaran di villa sampai sekarang. Jika Nyonya ingin marah atau pun ingin menghukum saya, saya akan terima,"ucap Bik Anah yang membuat Radeva dan keluarganya menjadi tegang. Saat inilah yang sudah lama mereka tunggu.


"Ceritakan lah, Anah!"ucap Mahendra.


"Waktu itu saya sedang tidur dan saya merasa terkejut saat terbangun ada suara gaduh orang berkelahi. Saat saya keluar dari kamar Nona Muda, saya melihat ada beberapa orang pelayan sedang dihajar beberapa orang bertopeng, bahkan mereka menjarah barang-barang berharga di villa,"


"Saat saya melihat mereka akan naik ke lantai dua, saya langsung membawa Nona muda bersembunyi di kolong ranjang. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar Nona muda dan mengacak-acak kamar Nona. Sepertinya mereka mencari barang-barang berharga,"


"Karena ketakutan, saya tidak berani keluar dari kolong ranjang, walaupun mereka semua sudah keluar dari kamar Nona. Namun tidak lama kemudian saya melihat api sudah membakar villa yang kita tempati itu. Saya berusaha keluar dari tempat itu dan tidak sengaja menginjak kalung Nyonya yang sepertinya tercecer oleh para perampok,"


"Saya berhasil keluar dari kebakaran itu, namun saya mendengar ada seorang perampok yang memerintahkan temannya untuk membunuh saya dan Nona muda. Saya melarikan diri membawa Nona Muda bersembunyi di dalam mobil pick up yang penuh dengan sayuran,"


"Saya turun dari mobil itu tapi ternyata para perampok itu masih mengejar saya hingga saya berlari tak tentu arah dan menemukan dua orang pria yang sedang duduk tidak jauh dari sebuah rumah sakit"


"Karena takut tertangkap maka saya meminta tolong pada dua pria itu untuk menyelamatkan Nona. Saya mengambil batu kemudian saya gendong dan berlari sejauh mungkin agar mereka tetap menyangka Nona masih saya gendong,"

__ADS_1


"Mereka terus mengejar saya hingga saya terpeleset dan jatuh kedalam sungai sampai tidak sadarkan diri. Setelah saya sadar saya tidak bisa mengingat apapun, bahkan saya tidak tahu siapa nama saya," cerita Bik Anah panjang lebar.


To be continued


__ADS_2