Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
262. Maafkan Aku!


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan di kantor polisi, dan makan siang di restoran yang tidak jauh dari kantor polisi, Alva melajukan mobilnya menuju ke kediaman Mahendra. Disha memeluk lengan suaminya yang sedang menyetir mobil seraya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


Sedangkan di kediaman Mahendra, nampak Bramantyo dan Ratih ada di sana. Tadi pagi, Mahendra, Ghina , Ratih dan Bramantyo mengantarkan Trisha ke tempat peristirahatan terakhir nya.


Mahendra memang sengaja tidak mengabari kedua anaknya tentang meninggalnya Trisha. Mahendra tidak ingin merusak momen bahagia Radeva sebagai pengantin baru dan juga tidak mau menganggu momen kebersamaan Alva dan Disha.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, Alva dan Disha pun tiba di kediaman Mahendra. Saat Alva dan Disha akan memasuki rumah, di pintu utama nampak Ghina menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan senyum yang mengembang.


"Kalian sudah pulang? Apa kalian sudah makan?"tanya Ghina dengan suara lembut nya.


"Sudah, ma. Tadi kami mampir di salah satu restoran dekat kantor polisi,"sahut Alva yang sedang merangkul pinggang Disha.


"Bisa papa bicara dengan kalian berdua di ruangan keluarga?"tanya Mahendra yang tiba-tiba muncul.


"Dengan aku saja, pa. Biarkan Disha istirahat, dia sangat lelah,"sahut Alva yang sudah menebak apa yang akan dibicarakan oleh kedua mertuanya itu. Alva takut Disha akan terus mengingat peristiwa semalam jika terus mendengar orang-orang disekitarnya membicarakan masalah itu. Sudah cukup bagi Alva melihat wajah pucat pasi dan ketakutan Disha semalam, dan Alva tidak ingin hal itu terulang lagi.


'Baiklah,"ucap Mahendra menurut saat melihat tatapan serius Alva, seolah tidak mengijinkan Disha ikut dalam pembicaraan mereka.


Alva menatap Disha dengan pandangan teduh, kemudian berkata,"Kamu istirahatlah dulu di kamar! Nanti, aku menyusul,"ucap Alva mengelus lembut kepala Disha kemudian mengecup sekilas bibir istrinya itu, tanpa malu di lihat oleh kedua mertuanya. Sedangkan Ghina dan Mahendra yang sudah sering melihat keromantisan anak dan menantunya itu pun nampak sudah terbiasa dengan ke bucinan menantu mereka itu.


"Hum,"ucap Disha mengulas senyum manis untuk suaminya kemudian menatap kedua orang tuanya,"Pa, ma, aku ke kamar dulu!"pamit Disha dan ditanggapi dengan anggukan kepala serta senyuman oleh kedua orang tuanya.


Setelah Disha pergi, Alva berjalan mengikuti kedua mertuanya yang sudah lebih dulu berjalan ke ruang keluarga. Sesampainya di ruang keluarga, Alva melihat kedua orang tuanya sudah berada dalam ruangan itu. Alva sama sekali tidak heran ataupun terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya di rumah itu, karena anak buahnya sudah memberitahu dirinya bahwa kedua orang tuanya ikut dalam proses pemakaman Trisha. Bahkan saat Alva memarkirkan mobilnya tadi, Alva juga melihat mobil papanya.


Alva sangat yakin jika kedua mertua dan juga orang tuanya pasti akan membicarakan soal Trisha, karena Alva sudah menerima segala informasi tentang Trisha dari anak buahnya. Bahkan jam berapa Trisha di makamkan pun, Alva sudah tahu.


"Al, apa kamu sudah tahu kabar tentang Trisha?"tanya Mahendra to the point dan sesuai dengan dugaan Alva.

__ADS_1


Alva menghela napas panjang, kemudian menatap Mahendra,"Sudah, Trisha terjatuh dari roof top hotel karena ingin membunuh Disha dan Ferdi,"ucap Alva datar tanpa ekspresi. Sungguh, Alva merasa sangat kesal jika harus mengingat kejadian semalam.


"Apa?"ucap Bramantyo, Ratih, Mahendra dan Ghina bersamaan. Mereka sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alva.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Mahendra menatap lekat mata tajam menantunya.


"Tolong ceritakan pada kami, Al!"pinta Bramantyo yang nampak penasaran.


Alva menghela napas kasar, kemudian mulai bercerita,"Trisha berencana membunuh Disha dengan membawa Disha ke roof top hotel, lalu Trisha menodongkan pisau ke pada Disha, agar Disha berdiri di pinggir roof top. Setelah Disha berdiri di pinggir roof top, Trisha segera mendorong Disha. Tapi dengan cepat Ferdi bisa menangkap tangan Disha walaupun sempat menabrak Trisha hingga Trisha terjatuh di lantai. Trisha memaksa Ferdi melepaskan Disha agar Disha jatuh dari roof top dengan cara memukuli punggung Ferdi, tapi karena tampak tidak berefek apapun pada Ferdi, Trisha menghujam punggung Ferdi dengan pisau yang dipakai Trisha untuk mengancam Disha sebelumnya, bertepatan dengan kedatangan ku di roof top hotel itu,"


"Karena dilukai oleh Trisha, dengan gerakan refleks Ferdi mendorong tubuh Trisha hingga Trisha terjatuh dari roof top, tapi masih bisa berpegangan pada pinggiran roof top. Sedangkan Disha hampir saja terjatuh ke lantai dasar hotel jika aku tidak berhasil menangkap tangannya. Ferdi tanpa sengaja melepaskan pegangan tangan nya pada Disha karena diserang Trisha, tapi aku berhasil menyelamatkan Disha. Dan akhirnya, Trisha sendiri yang jatuh dari roof top hotel itu,"cerita Alva panjang lebar.


Kedua orang tua dan juga kedua mertua Alva nampak terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh Alva itu. Mahendra dan Ghina sungguh tidak menyangka, Trisha yang mereka rawat dan besarkan dengan penuh kasih sayang , akan melakukan semua itu pada putri kandung mereka. Ternyata selama ini, mereka memelihara ular di dalam keluarga mereka sendiri.


"Apa polisi sudah tahu tentang kejadian yang kamu ceritakan ini?"tanya Mahendra.


"Lalu kenapa polisi mengatakan bahwa kejadian ini masih diselidiki?"tanya Mahendra seraya mengernyitkan keningnya. Mahendra yakin jika menantunya ini telah melakukan sesuatu hingga polisi tidak mengungkapkan apa yang telah terjadi dan memilih menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.


"Aku menyuruh anak buah ku untuk mengatasi kekacauan yang dibuat oleh Trisha secara diam-diam agar tidak menganggu pesta pernikahan kakak. Anak buah ku memberikan bukti Vidio yang berhasil direkamnya saat peristiwa percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Trisha itu terjadi. Rekaman video itu sudah bisa menjelaskan apa yang terjadi,"


"Saat Disha diminta datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, aku meminta penangguhan waktu dengan alasan Disha masih shock. Dan aku meminta polisi agar tidak mengekspos kejadian sesungguhnya ke publik. Aku ingin menjaga nama baik keluarga kita. Saat ini pasti mereka sudah mengadakan konferensi pers untuk mengatakan bahwa Trisha memang sengaja bunuh diri karena suaminya meninggal beberapa waktu yang lalu,"jelas Alva santai tapi penuh kharisma dan wibawa.


"Lalu bagaimana keadaan Disha semalam?"tanya Ghina nampak khawatir.


"Semalam Disha sempat shock, tapi sekarang sudah baik-baik saja, ma. Mama tadi sudah melihat Disha, kan? Bahkan tadi siang, Disha bisa memberikan keterangan kepada polisi tanpa gugub sama sekali. Meskipun begitu, aku tidak ingin dia terlibat pembicaraan mengenai peristiwa semalam. Aku ingin semua orang melupakan kejadian itu. Walaupun Disha terlihat baik-baik saja, tapi jika kejadian itu terus dibicarakan, aku takut akan mempengaruhi suasana hatinya,"ujar Alva terlihat begitu tenang.


"Mama setuju dengan pendapatmu, Al. Sebaiknya kita tidak usah membahas masalah ini lagi, apalagi di depan Disha,"timpal Ratih.

__ADS_1


"Lagi pula, Trisha sudah meninggal, walaupun kasus ini diungkapkan, tidak akan merubah apapun dan tidak akan membawa keuntungan apapun bagi keluarga kita. Yang ada, cerita yang tidak mengenakkan tentang keluarga kita ini akan menjadi konsumsi publik untuk mendapatkan keuntungan,"imbuh Bramantyo.


"Kamu benar, Tyo,"ucap Mahendra kemudian menatap Alva,"Kamu memang selalu bisa diandalkan, Al. Pantas, putri kami sangat mencintai mu, kamu memang selalu mengambil tindakan dengan matang dan melihat segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya,"puji Mahendra yang memang sangat mengagumi segala tindakan dan cara berpikir menantunya. Sayang, menantunya itu nampak tidak terlalu berambisi dalam dunia bisnis. Mahendra yakin, jika Alva benar-benar berambisi dalam dunia bisnis, maka Radeva pun akan kalah dari Alva. Buktinya, semenjak Bramantyo Group dipegang oleh Alva, perusahaan itu berkembang dengan pesat. Padahal Alva nampak santai dalam mengelola perusahaan Bramantyo Group.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku ingin ke kamar dulu, pa, ma,"pamit Alva dan dua pasang suami istri itu pun mempersilahkan Alva untuk pergi ke kamarnya.


Alva masuk ke kamarnya dan melihat Disha yang berbaring di ranjang dengan wajah yang agak pucat. Melihat itu, Alva pun menghampiri Disha dan duduk di tepi ranjang,.di dekat Disha berbaring.


"Sayang, kamu kenapa?"tanya Alva seraya mengelus kepala Disha.


"Kepalaku pusing sekali, sayang,"ucap Disha tanpa membuka matanya.


'Apa perlu aku ambilkan obat?"tanya Alva nampak khawatir.


"Nggak usah, aku ingin tidur saja,"sahut Disha yang merasa kepalanya sangat pusing dan berdenyut.


"Baiklah, akan aku menemani, mu,"ucap Alva kemudian ikut berbaring di samping Disha sambil memijit kepala Disha, hingga Disha akhirnya terlelap.


"Maaf! Ternyata aku belum bisa menjagamu dengan baik. Seharusnya kamu tidak mengalami kejadian seperti semalam. Kamu semalam terlihat sangat ketakutan dan shock,"ucap Alva seraya membelai kepala Disha dengan lembut,"Maafkan aku!"ucap Alva lagi, kemudian mengecup kening Disha dengan lembut, merasa bersalah saat mengingat betapa shock nya Disha semalam.


...🌟"Saat hatimu tulus mencintai seseorang,...


...maka sakitnya adalah sakitmu, sedihnya adalah kesedihan mu, dan bahagianya adalah kebahagiaan mu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2