
Di apartemen Disha.
Alva dan Disha baru saja tiba di apartemen mereka.
"Sayang, mandi bareng, yuk?!"ucap Alva masih setia memeluk Disha dari belakang.
"Kamu mandi di kamar mandi lain saja, Al,"sahut Disha.
"Nggak mau, aku maunya mandi sama kamu,"ucap Alva yang tiba-tiba mengangkat tubuh Disha ke dalam kamar mandi.
"Al...aku nggak mau.!! Dasar alien tukang maksa.!!"pekik Disha sambil memukul-mukul dada bidang Alva.
"Diam sayang!,"ucap Alva lembut.
"Al, kalau kamu macam-macam di kamar mandi, akan aku pastikan kamu nanti malam bakal tetap puasa,"ancam Disha.
"Berarti kalau aku nggak macam-macam didalam kamar mandi, aku boleh buka puasa dong, nanti malam?!"ucap Alva sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
"𝐇𝐚𝐝𝐞𝐡𝐡.. 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐠𝐨𝐦𝐨𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐡. 𝐊𝐚𝐭𝐚-𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐬𝐮𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐦𝐩𝐮 𝐡𝐢𝐣𝐚𝐮 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐩𝐮𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦. 𝐀𝐜𝐡.. 𝐛𝐨𝐝𝐨𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮.!!"gerutu Disha dalam hati.
Akhirnya Alva dan Disha benar-benar hanya mandi bersama. Alva benar-benar menahan diri untuk tidak menerkam istrinya, dan itu sungguh menyiksa.
"Sayang, kamu ingin makan apa? Biar aku pesankan,"tanya Alva saat mereka sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai.
"Aku ingin makan nasi bebek dua porsi plus lalapan, dan jus melon,"sahut Disha yang membuat Alva mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Disha.
"Beberapa porsi, sayang?"tanya Alva untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar tidak salah.
"Dua porsi,"sahut Disha sambil menyisir rambutnya yang panjangnya sebahu..
"𝐀𝐩𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐚𝐤𝐤𝐮? 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐧𝐚𝐟𝐬𝐮 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡. 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐚𝐜𝐚, 𝐢𝐛𝐮 𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥 𝐢𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐜𝐚𝐦-𝐦𝐚𝐜𝐚𝐦. 𝐀𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐬𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧, 𝐚𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐟𝐬𝐮 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤, 𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚,"
"𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐥𝐚𝐭 𝐡𝐚𝐢𝐝 𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢. 𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠,"batin Disha.
Setelah makanan datang, Alva dan Disha pun segera menyantap makanan mereka. Dan seperti biasanya, sebelum tidur Alva selalu membuatkan susu untuk Disha.
"Sayang, ayo minum susunya!"ucap Alva menyodorkan segelas susu untuk Disha.
"𝐖𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐬𝐮 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐮, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐦𝐮, 𝐀𝐥. 𝐌𝐚𝐚𝐟𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮, 𝐀𝐥,"batin Disha yang termangu menatap gelas susu yang disodorkan oleh Alva.
"Sayang, kenapa diam? Ayo diminum, mumpung masih hangat. Nanti kalau sudah dingin nggak enak lagi loh!"ucap Alva lembut sambil mengelus rambut Disha.
__ADS_1
Akhirnya Disha pun meraih gelas yang disodorkan oleh Alva dan meminumnya hingga tandas dengan sejuta perasaan bersalah.
"Aku mencintaimu,"ucap Alva mengecup bibir Disha,"Rasa susunya manis,"ucap nya lagi, merasakan bekas susu yang masih menempel di bibir Disha.
"Al..."ucap Disha tapi tidak dilanjutkan. Disha bingung harus berkata apa mengenai anak yang diinginkan Alva.
"Ada apa? Katakanlah!"ucap Alva seraya mengelus lembut pipi Disha.
"Ach.. tidak jadi,"sahut .
"Kalau begitu..... boleh ya, aku minta sekarang?!"tanya Alva sambil merapikan anak rambut Disha.
"Hemm,"sahut Disha sambil memalingkan wajahnya karena malu.
Alva yang sudah mendapatkan lampu hijau pun tidak menunggu lama. Alva langsung memulai aksinya mengeksekusi istrinya. Perlahan mencium dan menanggalkan helai demi helai benang yang menutupi tubuh mereka.
Menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya dengan tangan dan juga bibirnya dan perlahan menyatukan tubuh mereka, mencari kenikmatan surga dunia hingga merasakan sesuatu yang hangat di bagian inti mereka saat pergulatan itu mencapai puncak.
Alva membaringkan tubuhnya disamping Disha, kemudian merengkuh wanita itu kedalam dekapannya, mencium puncak kepala dan kening Disha beberapa kali, kemudian mengeratkan dekapannya.
"Aku bahagia bersamamu, tetaplah bersamaku, hingga akhir waktuku. Tidurlah.!"ucap Alva sambil membelai rambut Disha yang berada dalam dekapannya dengan tubuh yang sama-sama masih polos dan basah oleh keringat usai kegiatan panas mereka beberapa saat yang lalu.
Sedangkan Disha yang nampak kelelahan pun mencari posisi yang nyaman di dada bidang suaminya, dan tak lama kemudian Disha pun terlelap.
"Halo, ma,"sahut Alva pelan karena takut mengganggu Disha yang baru saja terlelap dalam dekapannya.
"Al, kamu dimana? Seharian handphone kamu tidak aktif? Sudah mama bilang istirahat dulu di rumah malah ngeyel pergi ke kantor,"oceh Ratih.
Setelah memesan taksi online tadi siang, Alva memang mematikan handphone nya dan baru menghidupkan nya saat akan memesan makanan tadi sore.
"Aku di kantor, ma. Aku sudah tidak apa-apa,kok,"bohong Alva.
"Kenapa suara kamu kecil sekali? Kamu seperti takut seseorang terbangun karena mendengar suaramu?"tanya Ratih curiga.
"𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞 𝐞𝐧𝐚𝐦 𝐚𝐩𝐚? 𝐔𝐝𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐲𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐧𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐣𝐚, 𝐭𝐚𝐡𝐮 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚,"gumam Alva dalam hati.
"Ma, besok aku telpon lagi ya?! Aku harus memeriksa pekerjaan yang sudah lama aku tinggalkan,"sahut Alva.
"Ya sudah. Tapi jangan dipaksakan, kalau capek berhenti,"ucap Ratih.
"Iya, ma,"ucap Alva kemudian memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
"𝐇𝐮𝐟𝐟... 𝐬𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐥𝐚𝐡, 𝐦𝐚𝐦𝐚 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐧𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚𝐤𝐮. 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐜𝐚𝐫𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤? 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐬 𝐤𝐞𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞 𝐝𝐨𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧,"batin Alva.
Keesokan harinya, seperti biasanya, setelah sarapan, Alva membuatkan susu untuk Disha. Dan semua itu semakin membuat Disha tidak enak hati.
"Sayang, apa ada skedul penting hari ini?" tanya Alva pada Disha.
"Nanti jam sepuluh ada meeting dengan HD Group,"jawab Disha.
"Kamu nanti masuk ke ruangan pribadiku saja,"ucap Alva pada Disha.
"Iya. Dasar alien posesif.!"cibir Disha.
"Apa tidak boleh posesif kepada istriku sendiri?"tanya Alva sambil memegang dagu Disha dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Aku akan berangkat,"ucap Disha mencoba melepaskan tangan Alva dari dagunya. Namun secepat kilat Alva langsung mencium bibir Disha.
"Al, jangan buat aku kesiangan ke kantor," ucap Disha mendorong pelan tubuh Alva menjauh darinya setelah Alva melepaskan ciumannya.
Di kantor, setengah jam sebelum rapat dengan HD Group dimulai, Alva menyuruh Disha masuk ke dalam ruangan pribadinya. Alva benar-benar tidak mau Disha bertemu dengan Hery.
Seperempat jam sebelum rapat dimulai, Hary sudah datang ke Bramantyo Group. Hery bertanya tentang Disha kepada beberapa karyawan Bramantyo Group. Jawaban mereka semua sama, bahwa Disha masih bekerja sebagai sekretaris di Bramantyo Group, tapi Hery sama sekali tidak bisa menemuinya.
Meeting yang diadakan pagi itu berjalan dengan lancar dan berlangsung selama satu jam, walaupun Alva duduk agak jauh dari peserta meeting karena merasa mual jika mencium aroma parfum orang lain selain Ratih dan Disha. Bahkan Riky pun dimarahi Alva jika terlalu dekat dengan Alva.
Semua orang pun mulai membereskan barang-barang mereka dan segera keluar dari ruang meeting itu satu persatu hingga tersisa Alva, Riky, Hery dan Sasa. Sasa adalah sekretaris Riky yang ditugaskan untuk menggantikan Disha jika ada pertemuan dengan Hery.
"Maaf Tuan Rendra, bolehkah saya bicara dengan sekretaris anda?"tanya Hery dengan sopan.
Hery memang tidak mengetahui jika Alva adalah suami Disha. Saat Alva bersama Disha, Hery tidak bisa melihat wajah pria yang mengaku sebagai suami Disha itu, karena orang itu selalu memakai masker, kacamata hitam dan topi.
"Silahkan!" ucap Alva, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar diikuti oleh Riky.
"Apa yang ingin anda bicarakan Tuan Hery,"tanya Sasa menatap Hery.
"Tuan Rendra, saya tidak ingin berbicara dengan sekretaris anda yang ini,"ucap Herry agak mengeraskan suara pada Alva yang sudah hampir mendekati pintu keluar.
"Lalu?!"
...🌟"Tempat yang akan membuat mu merasa nyaman dan bahagia adalah tempat dimana kamu dan orang yang kamu cintai bisa selalu bersama."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued