
Pagi bersinar cerah, memberikan sinar hangat pada sang bumi dengan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Ratih nampak sudah berada di ruang makan bersama Bramantyo.
"Mana, Disha? Tumben belum turun untuk sarapan,"ucap Ratih seraya mengambil piring Bramantyo.
"Kata satpam di depan, semalam Tuan Muda pulang, Nyonya,"ucap Art yang sedang meletakkan lauk pauk.
'Ohh... pantesan belum turun. Biarkan saja mereka, Bik, tidak usah dibangunkan,"ujar Ratih seraya mengambilkan makanan untuk Bramantyo.
"Iya, Nyah,"sahut Art itu.
"Dan jangan beri tahu Kaivan, jika papanya sudah pulang! Dia akan membuat kehebohan dan menganggu kedua orang tuanya jika tahu papanya sudah pulang,"imbuh Bramantyo.
"Baik, Tuan,"sahut Art itu lagi.
Bramantyo sangat tahu bagaimana dekatnya cucunya dengan putranya. Apalagi sudah satu Minggu mereka tidak bertemu, Kaivan pasti akan langsung mencari papanya jika tahu papanya sudah pulang.
Sementara di dalam kamar Alva, sepasang suami istri itu nampak masih terlelap. Dari celah-celah gorden yang tertiup angin, sinar matahari nampak masuk ke dalam kamar itu.
"Emm..gumam Disha, nampak menggeliat dalam dekapan suaminya. Perlahan Disha membuka mata dan ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Disha merasa sangat konyol sekali dengan sikapnya sendiri yang marah dan menuduh Alva tanpa mendengarkan penjelasan dari Alva terlebih dahulu. Padahal suaminya pulang dengan keadaan lelah, tapi dia malah membuat keributan dan menuduh suaminya yang bukan-bukan.
Kenapa dia tidak berpikir lebih dulu dan mengingat semua yang sudah terjadi selama dia bersama suaminya itu. Seharusnya dia tidak pernah meragukan cinta dan kesetiaan suaminya. Pria yang sedang mendekapnya itu bahkan memberikan apapun untuk dirinya sebelum dirinya meminta. Lalu dengan bodohnya dirinya menuduh suaminya selingkuh. Sungguh tindakan yang sangat konyol dan memalukan.
Perlahan Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. Wajah yang selalu tersenyum hangat kepadanya. Tangan Disha terulur untuk mengusap lembut rahang kokoh suaminya,"Maaf,"ucap Disha menghela napas panjang menatap lekat wajah suaminya.
"Sudah ku maafkan,"ucap Alva tiba-tiba membuka matanya dan memegang jemari tangan Disha kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Ka..kamu sudah bangun?"tanya Disha tergagap karena tidak menyangka jika Alva sudah bangun.
"Hem,"sahut Alva kemudian mengecup lembut kening Disha,"I love you,
forever and until my last breath. Will you always be by my side and accompany me until death do us part?(Aku mencintai mu, selamanya sampai akhir napas ku. Maukah kamu selalu ada di sisiku dan menemaniku hingga maut memisahkan kita?),"ucap Alva
membuat mata Disha berkaca-kaca.
__ADS_1
"Yes, I do,"sahut Disha tersenyum lembut dan hampir meneteskan air matanya.
"Don't cry! I don't like to see it. (Jangan menangis? Aku tidak suka melihatnya)," ucap Alva saat melihat mata Disha yang berkaca-kaca, kemudian mengecup kedua kelopak mata Disha dan kembali membawa Disha dalam pelukannya. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis,"ucap Alva kemudian mengecup puncak kepala Disha beberapa kali.
"Maaf, aku telah menuduhmu yang bukan-bukan,"ucap Disha dalam pelukan Alva.
"Tidak, apa-apa. Semua pasti akan berpikir sama seperti dirimu jika menemukan semua bukti seperti yang kamu temukan. Aku berharap tidak bertemu lagi dengan waria itu. Dia agresif sekali. Aku bisa trauma untuk berciuman, jika dia sampai mencium ku,"ucap Alva jadi bergidik saat mengingat tentang waria yang mengejar-ngejar dirinya di bandara kemarin malam.
"Al, apa kamu benar-benar menginginkan anak lagi?"tanya Disha, membuat Alva merenggangkan pelukannya, dipegangnya pipi Disha kemudian mengangkatnya agar Disha menatap dirinya.
"Aku memang menginginkan nya. Tapi, jika kamu memang belum menginginkannya, aku tidak akan memaksamu,"ucap Alva dengan senyum yang dipaksakan, karena sejujurnya Alva sangat menginginkan anak kedua dari Disha.
"Apa aku egois?"tanya Disha menatap lekat manik mata suaminya.
"Mungkin aku yang terlalu egois, aku tidak memikirkan perasaan mu. Aku tahu, mengandung itu tidak mudah. Maaf, aku terlalu egois,"ucap Alva mengusap pipi Disha lembut, tatapannya begitu teduh.
Disha menghela napas, menundukkan kepalanya. Merasa bersalah? Iya, itulah yang dirasakannya. Suaminya hanya meminta sesuatu yang wajar diminta oleh seorang pria yang sudah beristri, tapi diri nya malah membuat suaminya merasa kecewa.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kata ku?"tanya Alva yang melihat istrinya menunduk.
"Lalu kenapa kamu terlihat sedih seperti itu, hem?"tanya Alva menegang dagu Disha dengan jari telunjuk dan jempolnya kemudian mengangkat wajah Disha agar kembali menatapnya.
"Tidak apa-apa, sayang,"ucap Disha dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya, sudah. Kita mandi, yuk! Setelah itu kita makan. Kamu pasti sudah lapar, kan? Ini sudah siang,"ucap Alva kemudian beranjak dari pembaringannya dan tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Disha.
"Al.!"pekik Disha yang terkejut dengan gerakan cepat Alva, wajahnya memerah menahan malu, karena setelah bercinta semalam, mereka tidak mengenakan pakaian mereka lagi. Dan saat Alva mengangkat tubuhnya dari dalam selimut, tidak ada lagi yang menutupi tubuh polosnya.
Saat bercinta dengan Alva, tidak ada rasa malu walaupun tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Namun saat seperti ini, tentu saja Disha merasa malu karena Alva menggendongnya ala bridal style sehingga tubuh polosnya terpampang jelas di depan mata Alva.
"Kita mandi bersama,"ucap Alva seraya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Issh..genit!"celetuk Disha dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Aku cuma genit sama kamu, sayang. Aku nggak pernah genit pada perempuan lain, selain kamu,"ucap Alva seraya mendudukkan Disha ke dalam bathtub dan mengisi air hangat kedalam bathtub, kemudian menyusul Disha masuk ke dalam bathtub dan duduk dibelakang Disha. Alva kemudian menggosok tubuh Disha dengan lembut.
"Sayang, aku bisa mandi sendiri,"ucap Disha mencoba menghentikan Alva, namun Alva tidak mau berhenti.
"Tidak apa, sayang. Aku senang melakukannya. Apalagi kalau dikasih hadiah,"ucap Alva mengulum senyum dengan tangan yang masih terus menggosok punggung Disha.
"Hadiah? Hadiah apa?"tanya Disha seraya mengernyitkan keningnya, menengok kebelakang, ke arah Alva yang duduk dibelakang nya.
"Memangnya kamu mau memberikan aku hadiah?"Alva malah balik bertanya dengan senyuman yang menghias bibirnya.
"Hadiah apa dulu?"tanya Disha lagi, namun Alva malah memeluknya dari belakang dan mengecup leher Disha.
"Sayang, hentikan!"ucap Disha mencoba menjauhkan lehernya dari Alva yang terus saja mengecupnya bahkan menggigit kecil telinga Disha.
"Kamu tahu, sayang, waria itu mengedipkan sebelah matanya padaku dengan genit. Bahkan berani mencubit kedua pipiku dan dua kali memelukku. Hii..kok bisa ya, pisang suka sama pisang,"ucap Alva bergidik ngeri saat mengingat dipeluk oleh waria kemarin. yang membuat Disha malah tertawa.
"Kok, kamu malah tertawa, sich, sayang,"ucap Alva dengan wajah ditekuk.
Disha pun menghentikan tawanya kemudian menoleh ke arah suaminya. "Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi mu kemarin, saat dipeluk waria,"ucap Disha kemudian kembali tertawa.
"Issh..kau ini! Aku kemarin hampir saja mengira kalau dia benar-benar perempuan. Bodynya, cara berjalannya, semua mirip dengan perempuan. Bahkan wajahnya juga terlihat cantik, walaupun dandanan nya menor. Aku baru sadar jika dia seorang waria, saat melihat dia memiliki jakun,"ujar Alva.
"Ohh.. jadi, sebelumnya kamu tertarik padanya karena mengira dia wanita tulen, begitu?"tanya Disha dengan tatapan mengintimidasi.
"Eh, mana ada yang seperti itu sayang?" ucap Alva yang merasa sudah salah bicara,"Bagiku hanya kamu yang paling cantik dan menarik,"ucap Alva langsung mengeratkan pelukannya pada Disha.
"Gombal!"ketus Disha dengan bibir yang mengerucut.
"Itu, bibir kenapa? Pengen dicium?"bisik Alva dengan suara sensual.
"Issh..dasar mesum!"umpat Disha yang malah membuat Alva tertawa.
...🌟"Cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang, curiga karena takut kehilangan."🌟...
__ADS_1
..."Zivilia"...
To be continued