Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
132. Restu Ibu


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana namun terlihat asri. Rumah tempat tinggal Sandy keluarga Sandy selama bertahun-tahun. Nampak Sandy duduk di samping ibunya yang sedang duduk bersandar di headboard ranjang.


"Bu, aku ingin menikah,"ucap Sandy seraya menggenggam tangan keriput yang telah merawat dan membesarkan dirinya.


"Menikah? Dengan siapa, Nak?"tanya wanita yang sudah berusia lima puluh tahun itu.


"Dengan anak majikan ku , Bu,"ucap Sandy.


"Anak majikan mu? Apakah dia mau menerima kita sebagai bagian dari keluarga mereka? Kita hanya orang dari kalangan menengah ke bawah, Nak,"ujar wanita tua itu.


"Mereka mau menerima aku apa adanya, Bu. Tapi...."ucap Sandy, nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kenapa, Nak?"tanya wanita tua itu nampak penasaran.


"Wanita yang akan aku nikahi adalah seorang janda yang sudah mempunyai anak satu, Bu,"ucap Sandy menundukkan kepalanya.


"Apa kamu mencintai nya?"tanya ibu Sandy menatap wajah putra semata wayangnya.


"Aku sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami bertemu.Bahkan aku melamar kerja di tempat ku bekerja selama ini karena aku ingin dapat melihat dia, Bu. Aku tidak berani mengungkapkan cinta ku apalagi melamarnya karena aku merasa tidak pantas bersanding dengan nya, Bu,"jelas Sandy.


"Jika kamu memang mencintai dia, ibu menyetujui nya. Asalkan kamu bahagia, ibu juga akan bahagia,"ucap ibu Sandy.


"Terimakasih kasih atas restu nya, Bu!" ucap Sandy mencium telapak tangan ibunya berkali-kali dengan perasaan bahagia.


"Maafkan ibu. Seharusnya kamu tidak hidup kesusahan bersama ibu yang penyakitan seperti ku. Harusnya kamu hidup berkecukupan. Kamu hidup menderita karena keegoisan ibu. Maafkan ibu,"ucap wanita itu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Apa maksud ibu? Aku adalah anak ibu, aku pasti merawat ibu semampu ku,"ucap Sandy seraya mengusap air mata ibu nya.


"Uang hasil kerja kerasmu habis hanya untuk mengobati penyakit ibu. Tapi ibu tidak kunjung sembuh juga, malah semakin parah. Mungkin ini karma atas dosa-dosa ibu di masa lalu,"ucap perempuan itu semakin terisak.


"Ibu bicara apa, sich? Aku tidak pernah keberatan untuk menjaga, merawat, dan mengobati penyakit ibu. Itu semua adalah kewajiban dan tanda bakti ku sebagai seorang anak. Ibu Jangan merasa menjadi beban bagiku,"


"Selama ini ibu dan ayah sudah memberikan yang terbaik untuk ku hingga aku bisa lulus S2. Uang yang aku dapat saat ini adalah karena ibu dan ayah membiayai kuliah ku. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus seperti sekarang ini,"ujar Sandy.


"Itu karena kamu cerdas hingga kamu bisa mendapatkan beasiswa walaupun tidak full. Jika tidak, mana mungkin ibu dan ayah mu bisa membayar semua biaya kuliah kamu. Lagi pula, waktu itu kamu juga bekerja paruh waktu untuk membantu ayah dan ibu membayar uang kuliah mu,"ujar Ibu Sandy.


"Tetap saja, jika ibu dan ayah tidak mendukung ku, aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini,"sahut Sandy.


"Kamu memang anak yang baik. Jika memang benar ada kehidupan selanjutnya, maka ibu ingin kamu menjadi putra ibu,"ucap wanita itu.


"Ibu ini bicara apa, sich?! Bukankah dari dulu sampai sekarang aku juga putra ibu?"tanya Sandy yang merasa kata-kata ibunya dari tadi terdengar ambigu.


"Kapan kamu akan menikah?"tanya perempuan itu mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Mungkin dalam Minggu ini, Bu. Do'akan agar semua nya berjalan dengan lancar ya, Bu?"pinta Sandy.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan mu walaupun kamu tidak memintanya sekali pun,"ucap ibu Sandy mengelus kepala Sandy. Anak satu- satunya yang menemani, merawat, dan mengobati penyakitnya selama ini.


"𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐝𝐨𝐬𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥? 𝐀𝐤𝐮 𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢,"batin ibu Sandy.


Setelah suaminya meninggal lima tahun yang lalu, perempuan itu sering sakit-sakitan dan setahun yang lalu divonis menderita kanker. Sandy sudah memberikan pengobatan yang terbaik semampunya, tapi wanita itu tak kunjung sembuh juga dan semakin parah.


***


Di kediaman Bramantyo.


"Jagoan papa belum kenyang juga?"ucap Alva seraya mengelus kepala Kaivan kemudian menciumi pipi Kaivan yang sedang menyusu itu. Kaivan yang merasa terganggu dengan ulah papanya itu pun menjambak rambut lebat sang papa.


"Awhh...sayang! Kaivan menjambak rambut ku!"pekik Alva mengadu pada Disha.


"Kamu kan tahu kalau Kaivan tidak suka di ganggu kalau sedang menyusu,"ucap Disha seraya mencoba melepas rambut Alva yang di jambak oleh Kaivan.


"Kamu tega sekali sama papa. Masih kecil sudah mau memonopoli mamamu,"ucap Alva seraya mencubit gemas pipi putranya.


"Plakk"


"Ish... dasar galak!"cetus Alva saat tangannya di pukul oleh Kaivan karena mencubit pipi Kaivan. Sedangkan Kaivan masih terus mengenyot ASI sambil menatap tajam ke arah paparnya.


"Iya,"sahut Alva kemudian mencium bibir Disha sekilas.


Setelah Kaivan kenyang, Alva dan Disha pun bersiap -siap untuk pergi ke pesta rekan bisnis mereka.


Disisi lain, Riky nampak melajukan mobilnya menuju rumah Yessie. Setelah beberapa menit, Riky sampai di depan rumah Yessie. Dengan wajah sumringah , Riky pun langsung turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah calon istrinya itu.


Tok..tok..tok .


"Eh Nak Riky! Masuk, Nak!"titah pak Budi.


"Iya Pak, makasih,"ucap Riky tersenyum ramah.


"Nak Riky, Yessie nya nggak jadi ikut ke pesta,"ucap Bu Budi yang baru saja masuk ke ruang tamu.


"Lhoh..kenapa, Bu? Bukannya tadi sudah siap-siap mau pergi, ya?'tanya Pak Budi.


"Itu Pak, tiba-tiba perutnya sakit,"sahut Bu Budi.


"Boleh saya lihat, Bu?"tanya Riky.

__ADS_1


"Ach, iya Nak. Yessie ada di kamarnya. Mari ibu antar!"sahut Bu Budi.


"Iya, Bu. Permisi, Pak!"ucap Riky.


"Oh iya, silahkan, Nak!"ucap pak Budi.


Riky pun beranjak mengikuti Bu Budi menuju kamar Yessie. Bu Budi kemudian membukakan pintu kamar Yessie.


"Masuk, Nak!"ucap Bu Budi lalu meninggalkan kamar itu dengan pintu kamar yang terbuka.


"Iya, Bu,"ucap Riky kemudian berjalan mendekati ranjang tempat Yessie berbaring.


Yessie yang mendengar suara ibunya dan juga Riky sempat terkejut, kemudian berusaha untuk duduk.


"Tidak usah bangun, aku hanya mau melihat kondisi kamu saja,"ucap Riky kemudian duduk di tepi ranjang.


"Maaf, aku jadi tidak bisa menemani Kakak ke pesta,"ucap Yessie yang sudah duduk di atas ranjang dengan wajah yang agak pucat.


"Kita ke dokter, yuk! Aku antar,"ucap Riky


"Tidak usah, Kak. Tadi sudah minum obat, kok,"tolak Yessie.


"Kita ke dokter saja, biar di periksa dokter, agar cepat sembuh," ucap Riky nampak khawatir.


"Tidak usah, kak. Sudah biasa kok, sakit seperti ini,"ucap Yessie.


"Jangan menyepelekan penyakit! Apalagi kalau sudah biasa, berarti kan udah lama penyakitnya. Ayo kita ke dokter!" ajak Riky bangkit dari duduknya.


"Tidak usah kak, nanti juga sembuh,"ucap Yessie.


"Jangan membantah! Ayo aku antar ke dokter!"ajak Riky seraya menarik tangan Yessie lembut.


"Kak, aku sakit perut karena datang bulan, jadi tidak perlu diperiksakan,"ucap Yessie menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu.


"Hah?!!"Riky nampak terkejut sekaligus malu mendengar jawaban dari Yessie.


...🌟"Kebahagiaan terbesar bagi seorang ibu adalah saat melihat anak-anaknya hidup dengan bahagia."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


Terimakasih atas dukungan para reader sekalian yang telah memberikan like, gift,vote dan komen.🙏🙏🙏🙏🙏


Bagi yang belum, goyang jempolnya dong, buat mendukung author biar semangat update. Terimakasih! 🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


To be continued


__ADS_2