
Waktu terus berputar, hari pun berganti, tak terasa satu Minggu semenjak pesta pernikahan Radeva sudah berlalu. Waktu berbulan madu sudah selesai, dan mereka harus kembali pada rutinitas sehari-hari. Seluruh anggota keluarga Mahendra pun saat ini sudah berkumpul di ruang makan menikmati makan malam mereka dengan tenang.
"Dev, Niko mengundurkan diri dari perusahaan,"ucap Mahendra memulai pembicaraan setelah mereka semua selesai makan malam dan berkumpul di ruang keluarga.
"Mengundurkan diri? Bukannya selama ini dia sangat berambisi memperoleh jabatan yang tinggi di perusahaan? Kenapa tiba-tiba mengundurkan diri? Apa papa tahu alasan Niko mengundurkan diri?"tanya Radeva merasa heran dengan keputusan Niko yang mengundurkan diri dari perusahaan mereka.
"Papa tidak tahu soal itu. Papa juga merasa heran, selama ini mereka selalu meminta posisi yang tinggi di perusahaan, padahal kemampuan mereka dalam berbisnis tidak dapat diandalkan. Tapi sekarang malah mengundurkan diri. Papa juga menanyakan masalah ini pada paman mu, tapi pamanmu bilang, mungkin Niko hanya ingin berhenti untuk sementara waktu. Paman mu mengatakan, tidak tahu alasan Niko,"ujar Mahendra.
Sebenarnya Nalendra mengatakan bahwa Niko hanya ingin berhenti untuk sementara waktu, karena Nalendra masih berharap Niko berubah pikiran dan mau kembali melanjutkan rencana mereka untuk menguasai harta Mahendra. Setelah bertahun tahun mencoba, mereka belum juga menemukan celah untuk mengambil alih harta Mahendra.
Mahendra dan Radeva sangat teliti dalam mengelola perusahaan hingga sangat sulit untuk melakukan korupsi. Belum lagi, orang-orang yang ada di dalam perusahaan juga merupakan orang-orang kepercayaan Mahendra yang sangat setia pada Mahendra.
"Aku penasaran, kenapa Niko sampai memutuskan untuk berhenti dari perusahaan,"ucap Radeva nampak berpikir.
"Tidak usah dipikirkan soal itu. Sekarang papa ingin membicarakan soal harta yang papa miliki. Papa akan membaginya menjadi dua, setengah untuk kamu dan setengah untuk Disha,"cetus Mahendra membuat semua orang menatapnya.
"Pa, aku sudah memiliki banyak aset. Papa tidak perlu membaginya padaku. Lagi pula, aku tidak pernah berkontribusi dalam perusahaan papa, aku tidak pantas mendapatkan bagian,"ujar Disha mengemukakan pendapatnya.
Jujur, Disha merasa aset yang diberikan Alva padanya sudah banyak, jadi Disha tidak pernah mengharapkan apapun lagi dari kedua orang tua kandungnya. Bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya sudah merupakan kebahagiaan terbesar untuk Disha. Selain itu, Disha juga tidak pernah ikut serta dalam mengelola dan memajukan perusahaan kedua orang tuanya itu. Jadi, Disha merasa tidak berhak mendapatkan bagian.
Radeva menatap satu-satunya adik kandungnya itu, lalu berkata,"Tidak bisa begitu, sayang. Kamu adalah anak kandung papa dan mama. Kamu berhak mendapatkan warisan dari papa dan mama,"
Ghina memegang tangan Disha yang duduk di samping nya,"Kakakmu benar, sayang. Kamu adalah anak papa dan mama, jadi kamu berhak mendapatkan warisan dari kami. Apalagi...sejak kecil kamu terpisah dari kami, kamu tidak pernah merasakan harta yang kami miliki. Bahkan sampai sekarang pun, kamu lebih suka menggunakan uangmu sendiri dari pada uang kami. Biarkan kami mengganti apa yang seharusnya kami berikan kepada mu,"ucap Ghina dengan wajah sendu. Sedangkan Alva dan Icha memilih untuk diam karena merasa tidak berhak ikut bicara dalam perbincangan kali ini.
"Mamamu benar, sayang. Kami merasa sangat bersalah karena selama ini kamu terpisah dengan kami, hingga kami tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan. Ijinkanlah kami memberikan itu sekarang, dan jangan menolaknya, atau kami akan merasa bahwa kamu tidak mengganggap kami sebagai orang tua kamu,"imbuh Mahendra penuh harap agar putrinya itu menerima apa yang memang seharusnya dia dapatkan.
Disha menatap Alva seolah bertanya apa yang harus dia lakukan. Alva yang mengerti arti tatapan mata Disha pun menghela napas kemudian menegakkan posisi duduknya dan berkata,"Maaf, aku tahu ini urusan keluarga mama dan papa, tapi...apa boleh jika aku mengemukakan pendapat?"tanya Alva menatap Mahendra, Ghina dan Radeva bergantian. Karena sebagai menantu, Alva merasa tidak berhak ikut bicara mengenai harta keluarga istrinya.
__ADS_1
"Silahkan! Katakan saja apa pendapatmu, jangan ragu!"ucap Mahendra yang sama sekali tidak keberatan jika Alva ikut berpendapat dalam diskusi keluarga mereka saat ini, begitu pula dengan Ghina dan Radeva yang nampak tidak keberatan jika Alva ikut berpendapat.
"Terimakasih, pa,"ucap Alva lalu diam sejenak kemudian mulai berbicara," Saat ini, Disha sudah memiliki banyak aset, tapi jika kalian memang bersikeras membagi harta kalian pada Disha, sebaiknya Disha diberikan saham saja. Mama dan papa tidak perlu membagi setengah dari harta yang mama dan papa miliki pada Disha, selain karena Disha adalah anak perempuan, juga karena kakak yang selama ini telah bekerja keras untuk perusahaan,"
"Tidak adil rasanya jika harus dibagi sama dengan Disha yang tidak pernah berkontribusi dalam perusahaan papa dan mama. Biarkan kakak mendapatkan bagian yang lebih banyak dari Disha dan mengurus perusahaan seperti sebelumnya,"ujar Alva kemudian menatap Disha,"Bagaimana, sayang? Apa kamu setuju dengan pendapat ku?"tanya Alva.
"Iya, aku setuju dengan pendapat suamiku, pa, ma, kak,"jawab Disha menatap kedua orang tuanya dan juga kakaknya bergantian.
Mahendra kemudian menatap Radeva,"Bagaimana, Dev? Apa kamu setuju dengan pendapat Alva?"tanya Mahendra.
"Aku terserah papa. Harta itu adalah milik papa. Kalau pun bagian Disha lebih banyak dari ku, aku pun tetap akan setuju. Benar kata mama, selama ini Disha tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan dari mama dan papa. Jadi, aku tidak masalah jika bagian Disha lebih banyak dari bagian ku,"jawab Radeva mantap, tanpa keraguan sedikitpun.
"Mana boleh seperti itu, kak! Selama bertahun-tahun Kakak telah bekerja keras untuk perusahaan, kenapa bagian ku yang lebih banyak dari bagian Kakak? Sedangkan aku tidak pernah berkontribusi apapun untuk perusahaan papa. Itu tidak adil untuk kakak,"ujar Disha tidak setuju dengan pendapat Radeva.
Mahendra kembali menatap Alva, kemudian bertanya,"Bagaimana menurutmu, Al? Tolong berikan papa pendapat mu agar papa bisa bersikap adil. Papa tahu, kamu adalah orang yang bijak dan selalu mengambil keputusan dengan hati-hati dan tepat,"ujar Mahendra meminta pendapat Alva sekaligus memuji menantunya itu.
"Bagaimana, Dev? Apa kamu keberatan jika papa memberikan Disha 40% harta papa pada Disha?"tanya Mahendra pada Radeva.
"Sebenarnya aku kurang setuju jika papa memberikan 40% pada Disha. Aku lebih setuju jika dibagi sama rata,"sahut Radeva.
"Tapi benar kata suamiku kak, 40% sebenarnya masih terlalu banyak untuk ku,"ucap Disha.
"Ya sudah, papa akan putuskan. Papa akan memberikan 60% untuk Radeva dan 40% persen untuk Disha. Ini keputusan mutlak papa, dan kalian tidak bisa mengajukan keberatan lagi,"ucap Mahendra memutuskan.
"Mama setuju,"timpal Ghina.
Akhirnya semua pun setuju dengan keputusan Mahendra, yang mereka anggap memang adil untuk semua. Setelah mengobrol cukup lama, mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Alva berjalan ke dapur dan melakukan rutinitasnya sebelum tidur, yaitu membuatkan susu untuk istrinya tercinta.
"Sedang apa kamu?"tanya Radeva yang baru saja masuk ke dapur dan melihat Alva membawa gelas dan sendok.
"Tentu saja membuat susu untuk istriku tersayang,"ucap Alva santai kemudian membuka kulkas dan mengambil sekotak susu bubuk.
Radeva mengambil sebotol air mineral dalam kulkas, kemudian meneguknya langsung dari botol nya,"Kamu rajin sekali membuatkan susu untuk Disha,"ucap Radeva kembali meneguk air dalam kemasan botol.
"Aku harus membuat adikmu bertenaga, sebelum nanti aku menguras tenaganya untuk melayaniku di atas ranjang,"ucap Alva dengan santai mengaduk bubuk susu dengan air hangat dalam gelas.
"Uhuk..uhuk...uhuk..."Radeva langsung tersedak mendengar kata-kata adik iparnya itu.
"Dasar mesum! Kamu itu sungguh tidak punya malu! Selalu bicara dengan kata-kata yang fulgar padaku. Apa kamu itu tidak ingat kalau aku ini kakak ipar mu?"sergah Radeva yang merasa adik iparnya itu sangat konyol jika sudah bicara dengannya.
"Aku bicara jujur, tapi malah kakak umpat. Lagian, semua orang juga mesum, termasuk kakak. Jika kakak tidak mesum, mana mungkin ada banyak stempel kakak di leher kakak ipar,"ucap Alva santai seraya membuka kulkas untuk meletakkan kotak susu dan mengambil sebotol air mineral.
"Kau! Berani-beraninya melihat kakak ipar mu!"sergah Radeva.
"Iss..aku tidak sengaja melihatnya, kak. Lagi pula, aku juga tidak tertarik dengan perempuan manapun selain istri ku. Kakak tahu, istri ku itu selalu terlihat seksi di mataku, dia selalu saja membuat aku bergairah dan susah untuk menahan diri untuk tidak menerkamnya,"ucap Alva menggigit bibirnya sendiri dengan gaya sensual.
Radeva bergidik melihat adik ipar nya itu,"Dasar tidak tahu malu!"umpat Radeva.
"Jangan munafik! Kakak pasti juga langsung bergairah kan, jika mengingat bagaimana istri kakak Mende sahh diatas ranjang? Seperti saat aku teringat Disha membelai dadaku, memberi tanda cinta di tubuh ku, menjambak rambutku dan meracau karena merasakan kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mengingat betapa nikmatnya berlayar menuju nikmatnya surga dunia. Bermandikan peluh menikmati puncak surga dunia,"ujar Alva menampilkan wajah yang seolah sedang menikmati saat bercinta dengan istrinya dengan suara yang dibuat se-sensual mungkin, membuat Radeva tidak tahan mendengarnya.
"Dasar tidak waras! Tidak tahu malu! Bisa-bisanya adikku mencintai orang seperti mu,"umpat Radeva dengan wajah memerah karena terpengaruh dengan kata-kata, ekspresi dan suara Alva yang terdengar sensual. Radeva kemudian berlalu meninggalkan adik iparnya yang konyol itu dengan wajah seperti kepiting rebus.
Alva tertawa terbahak bahak melihat kakak ipar nya yang kabur dari nya dengan wajah yang memerah. Entah mengapa, Alva benar-benar merasa senang jika berhasil menggoda kakak iparnya itu. Setelah kakak ipar nya kabur, Alva pun meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya dengan membawa segelas susu untuk istrinya.
__ADS_1
To be continued