
Ratih bangun di bantu Alva, sedangkan Alva... wajah pucat nya semakin pias saat mengingat dan menyadari apa yang baru saja terjadi.
"𝐌𝐚𝐦𝐩𝐮𝐬 𝐚𝐤𝐮!! 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡. 𝐀𝐤𝐮 𝐤𝐢𝐫𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚. 𝐀𝐩𝐚 𝐦𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐜𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐝𝐢?"batin Alva menjadi gelisah.
"Kenapa wajahmu pucat sekali, Al? Seperti maling yang kepergok mencuri jemuran saja,"ucap Ratih yang kini duduk di depan Alva duduk.
"Mama apaan sich? Wajahku pucat karena tidak enak badan dan kurang tidur,"sahut Alva.
"Oh ya?! Apa kamu punya WIL di luar sana?"tanya Ratih menatap curiga.
"WIL?? Maksud mama apa? Apa itu WIL?"tanya Alva tidak mengerti.
"WIL, Wanita Idaman Lain,"jelas Ratih.
"Maksud mama selingkuhan?"tanya Alva sambil mengerutkan dahinya.
"Iya,"jawab Ratih singkat
"Ha..ha..ha...mama bercanda? Mana mungkin aku selingkuh?!"sahut Alva sambil tertawa.
"Lalu siapa yang kamu panggil sayang?"tanya Ratih.
"Yang aku panggil sayang?"tanya Alva balik.
"Iya. Siapa yang kamu panggil sayang?"tanya Ratih lagi.
"Mama salah dengar kali?!"kilah Alva.
"Tidak, mama tidak salah dengar. Katakan siapa wanita yang kamu panggil sayang itu?"tegas Ratih.
"Aku mencintai seseorang wanita,"jawab Alva yang tidak bisa lagi berkelit.
"Siapa wanita itu?"tanya Ratih.
"Hanya gadis biasa tapi sangat sulit untuk mendapatkan hatinya,"sahut Alva sambil menghela nafas panjang.
"𝐘𝐚, 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐤𝐮. 𝐁𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐤𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐭𝐢𝐤𝐮,"batin Alva.
"Gadis biasa? Sudah berapa lama kamu menyukai nya?"tanya Ratih.
"Satu tahun,"jawab Alva singkat.
"Maksudmu, kamu sudah selama satu tahun kamu mendekati gadis itu?"tanya Ratih penasaran.
"Iya,"sahut Alva singkat.
"Dia tidak mencintaimu sampai sekarang?"tanya Ratih.
"Huff... sudah lah ma, aku tidak ingin membahasnya. Yang pastinya, aku ini pria normal, tidak seperti yang mama pikirkan,"ucap Alva kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.
Ratih menatap punggung putranya yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
"Apa dia patah hati? Siapa gadis yang yang dicintainya? Sudah satu tahun? Apakah saat dia melarikan diri dari pernikahannya dulu? Siapa gadis yang tidak tertarik dengan putraku itu? Aku jadi penasaran, siapa gadis yang bisa menolak putraku itu?"gumam Ratih.
"Ceklek "
Pintu kamar mandi pun terbuka, menampilkan Alva yang sudah rapi dengan setelan kantornya, namun dengan wajah yang terlihat pucat.
"Mama masih ada di sini?"tanya Alva yang masih melihat mamanya duduk di atas ranjang tapi ranjang itu nampak sudah rapi, sepertinya Ratih yang telah membereskannya.
"Iya. Al, kenapa wajahmu pucat sekali?"tanya Ratih.
"Aku sudah bilang ma, aku tidak bisa tidur jika berada di rumah ini. Jadi tolong izinkan aku tidur di kantor ya, ma?! Please!!"ucap Alva memohon.
"Ya sudah lah. Tapi apa gadis yang kamu sukai itu cantik?"tanya Ratih yang masih penasaran dengan gadis yang dicintai oleh Alva.
"Sangat cantik, bahkan tanpa makeup sekalipun,"jawab Alva jujur," Aku berangkat, ma!"pamit Alva sambil mengecup pipi Ratih.
"Nggak sarapan dulu?"tanya Ratih.
"Nggak usah, ma,"sahut Alva sambil berjalan cepat keluar dari rumah.
"Al..."panggil Anjani mengejar Alva.
"Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu,"ucap Alva melihat Anjani sekilas tanpa menghentikan langkahnya.
Alva langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumah itu. Anjani hanya bisa menahan rasa kesalnya, sedangkan Ratih hanya bisa menghela nafas panjang.
"𝐀𝐩𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐬𝐞𝐮𝐭𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚? 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐤𝐮, 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐮. 𝐃𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧 𝐭𝐞𝐦𝐛𝐨𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚,"batin Anjani.
"𝐌𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚. 𝐁𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐣𝐚𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐝𝐮𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐬𝐢𝐧𝐠. 𝐋𝐚𝐥𝐮 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚?"batin Ratih.
"Sayang..."panggil Alva saat sudah memasuki ruangan Disha dan melihat Disha duduk bersandar di headboard ranjang.
"Kenapa wajahmu pucat sekali, Al?"tanya Disha saat melihat Alva.
"Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu,"ucap Alva yang langsung memeluk Disha, dan menggosok-gosokkan hidung mancung nya di leher Disha sambil mencium aroma tubuh Disha.
"Gombal.!!"sahut Disha mendorong tubuh Alva pelan.
"Beneran sayang, aku nggak bohong. Semenjak kamu mengandung, setiap pagi perutku terasa mual jika tidak mencium aroma tubuhmu. Bahkan aku sensitif dengan aroma parfum orang lain selain aroma parfum kamu dan mama,"jelas Alva menatap wajah istrinya.
"Serius?"tanya Disha memastikan.
"Serius, sayang. Kasih obat dulu dong, sayang!!"ucap Alva sambil mengusap bibir Disha dengan ibu jarinya.
"Obat?"tanya Disha sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, obat,"sahut Alva masih terus menatap Disha.
"Obat apa?"tanya Disha bingung.
"Mau tau?"tanya Alva sambil mendekat kearah Disha.
__ADS_1
"Hemm.."sahut Disha seraya mengangguk.
Alva meraih pinggang dan tengkuk Disha kemudian mencium bibir Disha, menggigit kecil bibir Disha hingga Disha membuka mulutnya. Disha memejamkan matanya menikmati ciuman dan tautan lidah mereka.
Tangan kanan Disha mencengkeram bahu Alva sedangkan tangan kiri Disha meremas rambut Alva. Suara decapan pun terdengar diruang itu hingga Disha memukul-mukul bahu Alva saat Disha sudah mulai kesulitan bernafas.
"Terimakasih, itu tadi adalah obat mual," ucap Alva sambil tersenyum menatap bibir istrinya yang basah karena ulahnya kemudian mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Modus,"ucap Disha.
"Modus sama istri sendiri tidak berdosa kan? Dan kamu juga suka kan?"tanya Alva sambil tersenyum.
"Al, kamu tidak kekantor?"tanya Disha untuk mengalihkan pembicaraan, sambil melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Tadi aku kesiangan, sayang. Karena semalam tidak bisa tidur dan tadi pagi muntah-muntah. Dan dari rumah aku langsung ke sini,'jelas Alva.
"Kamu belum makan?"tanya Disha.
"Aku makan di kantor saja. Aku ke kantor, ya? Nanti sore aku akan menjemputmu,"ucap Alva kemudian mengecup kening dan bibir Disha beberapa kali. Alva juga tidak lupa mencium perut Disha, setelah itu Alva pun segera pergi ke kantor.
***
Di perusahaan Bramantyo Group. Alva nampak mengeluarkan beberapa dokumen dari brankas kemudian memanggil Riky melalui panggilan interkom.
"Halo Rik, ke ruangan saya sekarang,"ucap Alva tanpa menunggu jawaban dari Riky.
"Aduh... mampus aku!! Tuan pasti marah. Bagaimana ini? Masa bodo' lah, aku hadapi saja. Semangat!!"monolog Riky menyemangati diri sendiri.
"Tuan,"sapa Riky saat sudah berada di dalam ruangan Alva.
"Rik, aku ingin kamu mengerjakan sesuatu,"ucap Alva nampak serius.
"Apa yang harus saya lakukan untuk Tuan?"tanya Riky.
Alva memberikan setumpuk dokumen kepada Riky kemudian menjelaskan semua yang harus dilakukan oleh Riky.
"Tuan, Tuan yakin akan melakukan semua ini?"tanya Riky yang merasa terkejut dengan perintah yang diberikan Alva kepadanya.
"Aku yakin, dan aku harap, semua sudah seperti yang aku inginkan setelah Disha melahirkan nanti. Aku tahu ini butuh waktu, jadi kamu harus bergerak cepat,"ucap Alva.
"Tapi Tuan, Tuan tidak akan memiliki apa-apa lagi jika ...jika Nyonya Disha meninggalkan anda,"ucap Riky hati-hati.
"Aku tidak perduli, bagiku uang bukan segalanya. Aku masih bisa mencarinya. Walaupun papa tidak mewariskan apapun padaku, aku tidak takut. Aku masih punya harta berharga yang tidak akan bisa diambil oleh orang lain,"ucap Alva penuh keyakinan.
"Harta berharga? Memangnya Tuan masih punya harta berharga apa lagi selain warisan dari Tuan Besar dan saham-saham yang anda miliki?"tanya Riky penasaran.
"Otakku. Dengan otakku, aku bisa mencari uang,"jawab Alva.
"Ah iya, saya lupa. Anda benar sekali,"ucap Riky sambil tersenyum lebar.
...🌟"Kamu mungkin bisa membohongi orang lain tentang perasaan mu, tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongi hati nurani mu"🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued